
..."Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena tidak apa untuk melakukan sesuatu yang salah."...
..._Zhong Chenle...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
36. Nongki ala Duo AB
Setelah selesai dengan makanan mereka, segera mereka kembali ke kelas masing-masing namun dengan keheningan disetiap jalannya. Membuat duo AB bingung melihat suasana seperti ini. Tadi selepas selesai makan tanpa banyak kata Jeano langsung menarik tangan Zeana untuk kembali ke kelas dan langsung diikuti oleh yang lainnya tanpa bertanya.
"Ini pada kenapa sih?" Andra dengan pelan menyenggol tangan Bobby yang berada disampingnya dan berjalan dipaling belakang dari semuanya.
"Lah mana gue tau, gue kan sama lo tadi. Kalo lo tanya gue, terus gue tanya siapa?"
Benar juga. Kenapa dia harus tanya Bobby? Yang sudah jelas bersama dia, dan juga tidak tau apa yang terjadi selama mereka pergi. Akhirnya Andra menarik tangan Aqila yang tidak jauh berada didepannyaa.
"Ih apaan sih? Kenapa Abang tarik-tarik?" Kesal Aqila yang menghempaskan tangan Andra dari tanganya.
"Diem cil! Sini deketan dulu." Ajak Andra pada Aqila yang membuat mereka harus berhenti sebentar dan tertinggal dari yang lainnya.
"Hoi Bob!" Seru Andra memanggil Bobby karena melihat Bobby yang terus saja berjalan tanpa menghiraukan dia.
"Apaan?"
"Sini ego! Bukannya mau tau?"
Karena jiwa kepo yang hampir sama dengan Andra dengan segera Bobby berlari menghampiri Anda dan Aqila.
"Iya, gimana?"
"Gimana apanya?" Tanya heran Aqila dengan Bobby yang tiba-tiba bertanya padanya.
"Itu, soal Jeano sama Anna. Kenapa tuh mereka pada diem-dieman begitu?"
"Ouh soal itu, kalian ngerasain juga ya? Apalagi waktu tadi kalian ada, beuhhh bakal kerasa banget gimana liat si kutub es marah. Ihhhh resem banget tau gak."
"Emang kenapa Jeano marah? Gak dikasih jatah?"
Jatah apa nih? Otak readers jangan pada traveling ya!!
"Sekate-kate lo ngomong Bob, tapi bisa jadi juga sih. Hahahaha."
Andra dan Bobbypun langsung ketawa dengan terbahak-bahak dengan saling memukul satu samalainnya. Mereka menertawakan pikiran absurd mereka yang menang sudah sefrekuensi sejak lama. Sangat terlihat heboh sampai mengundang banyak perhatian orang lain yang berlalu di koridor tersebut.
Sedangkan Aqila sudah merasa malu melihat kelakuan 2 orang didepannya itu. Apalagi sekarang mereka sudah menjadi perhatian banyak orang.
"Diam kalian!! Gak malu apa diliatin banyak orang?" Teriak dengan kesal Aqila pada keduanya yang membuat seketika duo AB itu berhenti tertawa dan mulai menormalkan raut wajah mereka meskipun berusaha untuk menahan tawa.
"Eh gimana tadi?"
"Tau ah, aku mau kekelas aja." Kesal Aqila yang sudah tidak mau meladeni pertanyaan dari duo AB. Dia mulai melangkah untuk meninggalkan mereka berdua, namun dengan cepat juga Andra kembali menarik tangan Aqila.
"Tunggu dulu cil! Sekarang beneran nih, si Bos kenapa?"
"Jadi gini pas dikantin...."
Aqilapun menceritakan semua yang terjadi dikantin tadi dimana Andra dan Bobby tidak ada. Penyebab suasana inipun tak luput ikut diceritakan secara rinci-rincinya oleh Aqila.
"Gitu ceritanya."
Sedangkan Andra yang mendengar apa yang diceritakan oleh Aqila entah harus tertawa atau sedih. Ingin sekali mereka tertawa terbahak-bahak seperti tadi namun mereka sedih juga dengan Zeana yang tertekan karena paksaan Jeano.
"Si Bos sih, masa ngajak nikah gampang banget. Kayak mau beli gorengan aja."
"Nah iya, emang sepupu gue apaan. Lagian gak salah juga sih kalo Zeana bilang gitu. Tapi harus banget ya, Zeana sampe mikir mau dibuang sama Om Felix."
Saat ingin kembali tertawa terlebih dahulu Aqila melarang mereka. "Jangan ketawa lagi!" Seketika mereka berusaha semaksimal mungkin untuk tidak tertawa.
"Tapi Anna lebih baik sama si Bos, daripada sama si Nico. Bener gak?"
"Bener banget, gue kasian sama si Bos kalo jadi sadboy. Masa ganteng-ganteng sadboy."
"Tapikan Anna sukanya sama Nico gimana? Cinta itu gak bisa dipaksakan."
"Alah, cinta bisa berkembang biak dengan sendirinya."
"Lo kira apaan berkembang biak? Kecebong?"
"Nah iya, kecebongkan bisa berkembang biak menjadi anak yang lucu."
"Pikiran lo kotor banget Dra, inget tuh didepan lo masih ada bocil!"
"Enak aja bocil, lagian gini amat gue punya Abang."
Mereka tidak menyadari jika bel masuk sudah berbunyi, dan hampir semua siswa sudah masuk kembali kedalam kelas masing-masing untuk pelajaran selanjutnya. Mereka bertiga terlalu asik dengan acara menggibah.
"Hei kalian! Kenapa belum masuk kelas?" Teriak sebuah suara dari arah belakang mereka yang diyakini merupakan salah satu Guru yang mengajar disekolah tersebut.
Sontak ketiganya langsung melihat kearah suara berasal, disana sudah berdiri seorang Guru yang berperawakan besar tinggi serta tak lupa kepala plontosanya. Ditambah kumis yang tebal yang menghiasi wajah garangnya, tak lupa sebuah tongkat kramat yang khusus untuk menghukum murid-murid yang nakal menambah kesan garang dari Guru tersebut.
"Andra. Bobby. Aqila. Ngapain kalian masih disitu?" Pak Dono selaku Guru paling galak seseantero sekolah sedang menatap mereka tajam sambil berkacak pinggang menunggu mereka untuk menjawab bertanyaanya.
"Lagi nongki dong Pak." Jawab Bobby dengan santai tanpa ada rasa takut sedikitpun karena memang baik Andra maupun Bobby sudah sering berurusan dengan Pak Dono.
"Kamu jatuh miskin?" Tanya Pak Dono yang langsung saja membuat Bobby tidak terima.
"Astagfirullah Pak, kalo ngomong suka sekate-kate. Bapak kok doainnya jelek banget? Saya masih tergolong rakyat mampu ya, meskipun Bapak saya cuman jadi Dokter."
"Lah Saya bukan doain kamu, Saya ngomong sesuai fakta kok. Tadi kamu bilang lagi nongki kan?"
"Iya, terus?"
"Itu kamu dongkinya sambil selonjoran di koridor, udah kaya gembel aja."
Seketika Bobbypun menyadari keadaanya. Dan ya, mereka bertiga tanpa sadar sudah duduk berselonjoran di koridor sambil terus menggibah.
Seketika merekapun langsung bangun dari duduk mereka. "Lah sejak kapan kita duduk disitu?" Tanya Andra heran. Perasaan banyak deh tempat duduk yang bersih yang berada di koridor tersebut, tapi kenapa mereka malah duduk dilantai?
"Mana Bapak tau. Kan kalian yang duduk disini."
"Lo pasti kan yang ngajak gue duduk di lantai? Ngaku lo!" Tuding Andra pada Bobby yang masih sama-sama bingung kenapa mereka bisa terduduk disitu.
"Mana gue tau, gue kan ikan."
Saat melihat Andra dan Bobby ingin bertengar, buru-buru Pak Dono mencegahnya.
"Sudah jangan bertengkar! Lagian Qila, kenapa kamu bisa ikutan sana dou AB ini?"
"Ini nih Pak, gara-gara Bang Andra yang mengajak gibah. Jadi Saya harus ikut terdampar deh sama mereka."
"Enak aja ngalahin gue."
"Emang benar kan?"
"Gak ya."
"Sudah. Sudah. Kalian cepat kembali kekelas!" Kini Pak Dono kembali melerai pertengkaran yang terjadi antara Adik Kakak itu.
Dengan segera merekapun langsung berlari menuju kelas masing-masing karena tidak ingin kena kuhuman oleh Pak Dono.
"Ada-ada aja kelakuan anak muda sekarang." Pak Dono menggeleng pelan melihat ketiganya yang sedang berlarian menuju kelas setelah nongki selonjoran sambil gibah dikoridor.
Kalian ada yang gitu juga gak? Selonjoran sambil gibah tanpa tau tempat.
***
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya satu sekolah namun beda kelas. Terdapat murid-murid yang sedang fokus mendengarkan penjelasan dari Guru didepan kelas, namun tidak dengan salah satu murid yang sedang melamun memikirkan beban hidup. Canda beban hidup.
Orang itu adalah Nico. Nico sedang tidak fokus untuk membelajaran hari ini, karena pikirannya terganggu sejak pagi dimana kedatangan Zeana yang kembali bersekolah.
Perubahan hari Zeana sangat jelas mengganggu Nico, dia merasa ada hal aneh didalam dirinya ketika melihat Zeana kini tidak melihatnya serta tidak mengejarnya lagi.
Entah perasaan sakit dan tidak lera. Apalagi setelah melihat bagaimana interaksi Zeana dengan Jeano, rasanya seperti cemburu mungkin? Tapi bukannya Nico harusnya bahagia karena kini Zeana tidak mengerjarnya lagi?
Nicopun merasa bimbang dengan pikirannya kali ini, ada apa dengan dirinya?
"Harusnya gue bahagia dong, kalo Zeana udah gak ngejar-ngejar gue lagi. Tapi kenapa gue malah gak rela liat dia bareng yang lain? Lagian bisa aja itu cuman akal-akalan Zeana supaya bisa narik perhatian gue." Batin Nico yang terus saja tidak dapat menyingkirkan Zeana dari pikirannya.
"Nic..Nico!" Teriakan tersebut dapat membuat Nico kembali dari kesibukan dengan pikirannya dan menatap orang yang berteriak tersebut dengan bingung.
"Ya, kenapa?"
"Yeee malah ngelamu lagi. Itu tuh, lo dipanggil sama Guru kesiswaan."
Buru-buru Nicopun berdiri dari kursi dudukny dan berlalu menuju keluar kelas. "Saya pamit izin dulu Pak." Sebelum benar-benar pergi Nico berpamitan terlebih dahulu pada Guru yang sedang mengajar dikelasnya.
"Iya, silahkan."
Setelah mendapat izin, Nicopun mulai melangkah kan kakinya menuju ruang kesiswaan. Sesampainya disana Nico berserta guru yang bersangkutan membahas suatu acara yang hendak diselenggarakan oleh sekolah setiap akhir taunnya. Dan Nico selaku KETOS tentu saja harus ikut dalam hal itu.
Butuh beberapa jam untuk membahas semua itu, dan ketika selesai Nicopun kembali bergegas untuk kembali masuk kedalam kelasnya karena tidak ingin terlalu banyak tertinggal dalam pelajaran.
Namun disaat baru menginjakan kaki dilantai 2 Nico harus bertabrakan dengan seseorang pas di sebuah tikungan. Dapat dilihat jika orang yang menabraknya itu sangat amat terburu-buru.
Dugh
Tubuh keduanya saling bertabrakan, namun keduanya tak sampai terjatuh karena mereka berdua masih bisa menjaga keseimbangan tubuh mereka.
"Aduh maaf ya, aku buru-buru sampai nabrak kamu. Sekali lagi maaf, permisi."
Deg
Suara itu? Suara yang selalu mengganggunya, suara yang tidak suka dia dengar. Namun kini sangat dia rindukan.
Tanpa menunggu respon yang ditabraknya orang tersebut langsung saja berlalu masuk kedalam kelas, yang memang dimana lantai 2 adalah letak kelasnya.
"Zeana," lirih Nico ketika sadar orang yang menabraknya adalah Zeana.
Untuk beberapa saat Nico masih berdiam disitu sambil menatap pintu kelas Zeana dengan pandangan tak percaya.
Apakah benar tadi itu Zeana? Kenapa rasanya sangat asing sekali?
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.
See you Next part.