Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 61



..."Kita dilahirkan untuk menjadi nyata, bukan untuk menjadi sempurna."...


..._Min Yoongi...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


61. Tidak Menyangka


Setelah mengumumkan pertunangannya banyak orang yang tidak menyangka hal itu, bagaimana tidak? Zeana dan Jeano tidak terlihat seperti orang yang menjalin kasih bahkan sampai ke tahap tunangan, meskipun iya akhir-akhir ini mereka sering terlihat berdua namun masih tidak menyangka saja jikat hubungan mereka sudah ketahap seserius itu.


Sama halnya dengan Nico yang ikut tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Jeano, namun jika benar bagaimana? Secara pasti dia sudah tidak ada harapan jika Zeana memang sudah bertunangan dengan Jeano.


Nico saat ini sedang merenungkan masalah itu, semuanya terlambat.


Sudah terlambat jika ingin Zeana kembali padanya jika sudah seperti ini, dan semua ini karena kebodohannya wakti dulu yang dapat tertipu dengan mudah oleh sifat baik Sisqia yang ternyata lebih busuk dari sampah.


"Akh...sial*n." Umpat Nico dengan membanting barang-barang yang ada disekitarnya, emosinya benar-benar tengah tidak stabil untuk sekarang.


Brukkk


Pranggg


Semua benda yang ada dikamarnga mulai jatuh dan pecah. Setelah mendengar apa kata Jeano, Nico langsung pulang kerumahnya tanpa berpamitan terlebih dahulu pada yang lainnya. Dan begitu sampai dirumah lebih tepatnya kamarnya Nico langsung melambiaskan semua kemarahannya.


"Harusnya gue yang tunangan sama Zeana...gue! Bukanya malah Jeano." Nico terus berteriak serta dengan dada yang masih turun naik menandakan amarahnya belum reda.


"Sial*n...sial*n, pokoknya sebelum Zeana bener-bener jadi milik Jeano, gue pastiin bakal rebut Zeana dari lo Jeano!"


Terlihat seringai tipis di wajah Nico dan setelah itu tampak Nico yang langsung ternyum tipis namun terlihat mengerikan jika melihatnya.


"Tunggu aku Zeana." Lirih Nico pelan sambil melihat sebuah foto dirinya dan Zeana waktu dulu, dimana mereka berdua masih sangat akrab menjadi seorang sahabat.


***


Tidak jauh berbeda dengan keadaan yang Nico alami, kini Sisqia ikut emosi setelah mendengar apa yang dikatakan Jeano tadi setelah pertandingan. Apalagi ditambah dengan peringatan yang Jeano berikan agar tidak mengusik Zeana, menambah rumitnya usahanya.


Kini rasanya semua rencana yang sudah dia rencanakan menjadi berantakan, dimana awalnya dia akan terus memojokan Zeana dengan berita putusnya dia dan Nico. Serta akan menghalalkan segala cara agar dapat bersama Jeano.


Namun sepertinya kini dia harus menata ulang semua rencana yang harus dia lakukan kedepannya. Yang pasti dia harus segera mendapatkan orang kaya yang dapat dia peras kekayaannya.


"Sial*n, semua rencana gue berantakan karena lo Zeana. Selalu lo yang jadi penghalang semuanya." Maki Sisqia yang kini berada disalah satu toilet.


"Kalo kayak gini, gue bakal kena pukul lagi sama si brengs*k Harto. Akh...pokoknya sial*n...sial*n."


Sisqia terus berteriak dalam bilik toilet tersebut tanpa menghiraukan atau bahkan khawatir ada orang yang mendengar umpatannya.


Dan ya, apakah masih ada yang mengingat Harto?


Dia merupakan Ayah kandung dari Sisqia, namun kenapa Sisqia malah mengumpati Ayah kandungnya?


Karena Harto merupakan seorang yang gila akan harta, namun engan untuk usaha. Dia memilih memanfaatkan Sisqia untuk mencari para orang kaya yang dapat dimanfaatkan kartanya.


Tentu saja itu juga bukan hal baik, karena Harto mengajarkan Sisqia untuk menarik orang kaya tersebut dengan tubuhnya. Dan percaya atau tidak, Harto sendiri yang sudah mengambil keperawanan dari Sisqia. Serta yang lebih mirisnya hal itu terjadi ketika Sisqia masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama.


Sisqia yang sudah diajarkan hal seperti itu dari kecil, tentu saja akan menjadi terbiasa dan bahkan bisa saja kecanduan akan s*k. Jadi tidak salah bukan jika Sisqia menyebut Ayahnya sendiri dengan sebutan brengs*k?  Karena faktanya memang seperti itu.


Itu semua suatu hal yang tidak menyangka bukan?


Dan jika bertanya kemana Ibu dari Sisqia? Sisqia terlahir dari seorang pelac*r yang kabarnya langsung meninggal ketika melahirkan Sisqia.


Awalnya pun Harto akan membuat Sisqka namun dia mendapatkan hal lain yang dapat menguntungkan dirinya, yaitu persis seperti sekarang.


Setelah dirasa amarahnya mulai berkurang Sisqia pun mulai berjalan keluar dari toilet tersebut, namun sebelum itu terlebih dahulu ponsel yang berada disaku seragamnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


"Halo."


"Datang keruangan Saya sekarang!" Terdengar suara pria yang cukup berumur diserbang panggilan tersebut.


"Siap Om." Tanpa banyak tanya Sisqia mengiyakan hal itu karena memang sudah biasa untuknya.


Tut


Panggilan tersebut tidak memakan waktu lama karena setelah itu pria yang menelponnya langsung mematikan sambungan telponnya.


Sisqia pun mulai melangkah ketempat yang sudah diperintahkan untuknya, serta dia yang melihat kondisi sekitar agar orang lain tidak tahu kebusukannya.


"Aman." Ucap Sisqia pelan lalu masuk kesebuah ruangan yang sudah sering dia kunjungi.


Begitu membuka pintu dapat Sisqia lihat seorang baru baya yang mungkin umurnya 2x lipat dari Ayahnya, yang sudah menunggunya. Dia mulai mengunci pintu dan melangkan mendekati paruh baya itu.


"Cepat layani aku!"


Tanpa banyak bicara Sisqia langsung menjalankan tugasnya dengan suka rela, tanpa paskaan sedikitpun.


Dan perlu diingat jika mereka masih berada di area sekolah. Ya, orang tersebut adalah orang yang membantu Sisqia masuk kedalam sekolah elit ini dengan cara kotor.


***


Sangat berbeda dengan keadaan yang Nico dan Sisqia alami, kini pasangan yang sedang bucin ini malah sedang asik berbelanja disalah satu pusat berbelanjaan yang ada dikota itu. Yang tentunya letaknya tidak jauh dari rumah mereka.


Kini yang menjadi tempat pilihan mereka adalah sebuah tempat persediaan makanan, karena niatnya malam ini mereka akan mengadakan acara sederhana untuk merayakan kemenangan Jeano dan Timnya.


Jeano dan Zeana terlihat sangat cocok sekali serta begitu terlihat romantis, dimana Jeano yang mendorong troli serta Zeana yang berjalan disampingnya sambl melihat-lihat apa saja yang hendak mereka beli.


"Kita akan beli apa saja?" Tanya Jeano yang juga ikut melihat-lihat barang disekitarnya.


"Kita mulai dari mana dulu?"


"Bagaimana dari bagian daging dan sayuran terlebih dahulu?"


"Baiklah kalau begitu, ayo!"


Mereka berdua mulai melihat serta memilih daging dan sayur-sayuran yang segar untuk acara nanti.


"Ouh iya Jeano, apa makanan favorite mu?" Tanya Zeana penasaran, karena bagaimanapun juga Zeana yang sekarang sedang mencoba memahami diri Jeano.


"Tidak ada, apa saja yang enak dapat aku makan. Dan aku juga bukan tipe pemilih dalam hal makanan, apalagi jika masakan Bunda. Aku tidak akan menolaknya sedikitpun."


Zeana hanya mengangguk paham, ternyata Jeano bukan orang yang ribet dalam urusan makanan.


"Kalau kamu? Apa makanan favoritemu?" Sebenarnya Jeano sudah tau makanan kesukaan Zeana, namun sekarang dia memilih untuk menanyakan secara langsung pada Zeana. Karena takutnya dapat berubah atau bahkan tidak pasti.


"Ayam." Singkat Zeana dengan wajah yang begitu berbinar ketika mengatakannya.


Ya, Zeana sangat menyukai ayam. Mau itu ayam goreng, ayam geprek, pokoknya ketika itu masih sejenis ayam Zeana pasti menyukainya.


"Ternyata masih sama."


"Eh? Kamu tau?"


"Tentu, tenyata kesukaanmu dari kecil sampai sekarang tidak berubah."


"Kalau tau kenapa bertanya?"


"Hanya ingin saja." Jeano langsung terkekeh ketika melihat wajah kesal Zeana, entahlah kini melihat wajah kesal Zeana menjadi hobi baru untuk Jeano.


Setelah dari rak daging dang sayuran kini mereka munuju ketempat makanan ringan dan minuman karena mereka ingin sekalin membeli cemilan untuk menemani nantinya.


Namun ketika Zeana yang ingin memasukan makanan ringan yang dia suka kedalam troli terlebih dahulu Jeano melarangnya.


"Tidak boleh banyak! Itu tidak baik."


"Tapi kan, nanti makananya bersama orang lain."


"Benarkah?" Tanya Jeano tidak percaya, pasalnya yang Zeana ambil merupakan semua cemilan yang Zeana suka.


Karena kini Jeano mulai tahu sedikit-sedikit tentang kesukaan Zeana, serta dirinya yang sudah sering menemani Zeana untuk membeli cemilan.


"Hmm...ya. Tentu saja aku akan membaginya, tapi hanya sedikit hehehhe."


Jeano langsung saja mencubit pelan ujung hidung Zeana karena merasa gemas melihat Zeana yang seperti sekarang.


"Ada-ada saja. Baiklah, untuk kali ini aku biarkan kamu mengambil sepuasnya apa yang kamu mau."


"Heyyy, terimakasih Jeano." Tanpa sadar Zeana langsung memeluk Jeano, yang seketika membuat Jeano juga ikut senang dengan hal itu.


"Sekarang kalau ingin berterimakasih harus dengan cara yang benar." Kata Jeano tiba-tiba, entah dari mana ide ini muncul dari dalam pikirannya.


"Bagaimana?" Tanya Zeana heran.


Jeano tidak menjawabnya malah menujuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya serta menekan pelan beberapa kali dipipi tersebut.


Zeana yang memang belum tahu serta tidak paham apa maksud dari gerakan yang dilakukan Jeano, hanya dapat mengerutkan dahinya.


"Kenapa?"


Melihat wajah Zeana yang tampak bingung menyadarkan Jeano bahwa Zeana yang sekarang sangat polos dan tidak mengetahui hal itu.


"Aku minta kecupan." Kata Jeano tanpa malu sedikitpun dan malah mendekatkan pipinya kearah Zeana.


"Apa?" Zeana langsung terkaget begitu mendengar apa yang dimaksud dari perkataan Jeano.


"Ayo!"


"Tidak. Ini tempat umum Jeano, bagaimana kalau ada yang melihat?" Sebenarnya ini hanya alasan Zeana saja karena dia tidak mungkin melakukan itu pada Jeano karena pasti akan sangat memalukan untuknya.


"Tidak ada orang disini, jadi ayo berikan aku kecupan!" Desak Jeano yang belum mendapatkan keinginanya.


"Tidak."


"Ayolah sekali saja! Kalau tidak, aku akan marah padamu."


Terlihat kini wajah Jeano sudah terlihat kesal yang entah kenapa dimana Zeana terlihat sangat mengenaskan jika Jeano seperri itu, dan apakah ada orang yang hendak marah tapi harus bilang terlebih dahulu? Sepertinya hanya Jeano seorang.


Karena tidak mau membuang waktu lagi Zeana segera mengecup pelan pipi kanan Jeano.


Cup


Seketika wajah Jeano kembali berseri lagi ketika Zeana sudah memberikan yang dia mau. "Terimakasih sayang."


"Hmmm...ayo cepat kita ke kasir! Aku rasa semuanya sudah dibeli." Jawab Zeana dengan sedikit kesal, pasalnya melihat bagaimana tingkah Jeano barusan.


Tidak ingin membuat Zeana tambah kesal Jeano dengan segera mendorong troli menuju kasih, namun saat mereka melangkah menuju kasir dapat Zeana lihat seluet tubuh seseorang yang sangat dia kenali.


"Mamah." Gumam Zeana kecil yang hanya mampu didengarnya sendiri, sambil menghentikan langkahnya.


"Ayo Anna!" Teriakan Jeano membuat Zeana tersadar dari lamunannya dan segera menyusul Jeano namun ketika dia melihat kearah tadi orang tersebut sudah tidak ada.


"Mungkin hanya halusinasi ku saja." Batin Zeana.


Zeana belum tahu saja jika mungkin hal itu bukan sekedar halusinasi.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.