Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 26



..."Meskipun melelahkan, jika kamu berusaha keras kelak kamu akan melihat cahaya."...


..._Lee Taeyong...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


26. Weekend dan Kepulangan


Weekend adalah hari yang sangat dituggu-tunggu oleh semua orang, hari dimana orang-orang dapat mengistirahatkan tubuh mereka serta beban pikiran yang mereka jalani di hari-hari biasanya.


Tepat hari ini, dimana waktu itu Jeano yang berjanji akan menemani Zeana untuk terapi, dan benar saja pagi-pagi sekali tepat waktu jam sarapan pagi Jeano sudah duduk manis di salah satu kursi meja makan kediama Anderson.


Zeana yang baru saja ingin bergabung untuk ikut sarapan merasa terkejut jika Jeano sudah ada dari pagi di rumahnya. Sedangkan untuk Felix dan Zero itu bukan suatu hal yang baru, sudah tau bukan bahwa Jeano sudah menganggap rumah Zeana itu sebagai rumah keduanya.


Namun tetap saja orang mereka sempat berpikir, apakah Jeano tidak punya rumah?


"Selamat pagi," sapa riang Zeana yang baru saja ikut bergabung bersama.


"Selamat pagi juga." Secara serempak 3 pria yang berbeda umur itu menjawab sapaan Zeana.


"Bagaimana tidurmu?"


"Baik Dad."


"Syukurlah, ayo cepat sarapan! Kamu ada jadwal terapikan?"


"Iya, meskipun weekend terapi ku terus berlanjut."


"Daddy akan menemani mu."


"Aku juga." Jeano beserta Zero secara bersama bersuara.


"Kenapa kalian berdua ingin ikut?"


"Tentu aku ingin menemani Anna Dad."


"Ya, lagian aku sudah berjanji pada Anna untuk menemaninya terapi jika itu weekend."


"Tap..."


"Sudah Dad, kalian semua boleh ikut." Lerai Zeana sebelum 3 pria yang ada dimeja makan ini ribut. "Sekarang ayo sarapan!" Titah Zeana yang langsung dituruti oleh ketiganya.


Jika waktu itu hanya Jeano dan juga Felix yang suka berdebat dan memperebutkan hal kecil tentang Zeana, kini harus bertambah 1 lagi dengan Zero.


Setelah berhari-hari melewati hari bersama kini Zero sudah yakin dengan Zeana yang amnesia, dan kini dia amat menyayangi Adiknya itu.


Dan tentu saja itu menambah beban untuk Zeana, kini dia mempunyai 3 bayi besar yang harus diurus.


Menjadi pelerai jika diantara ketiganya bertengar, harus selalu memperhatikan mereka serta selalu menghabiskan waktu bersama mereka jika sempat.


Daddy, Kakak, serta Tunangan yang possesif dan juga over protektiv.


Selesai dengan sarapan mereka, segara mereka bergegas menuju rumah sakit dan kini sedang memperebutkan siapa yang akan duduk di belakang bersama Zeana.


Karena untuk saat ini sangat khusus hanya akan ditemani oleh Felix, Jeano dan juga Zero saja. Tanpa bi Julia dan juga Paman Tono.


"Aku yang duduk dibelakang. Kau mengalah Zer!" Ucap Jeano sambil menarik kerah belakang baju Zero yang hendak masuk dan duduk dibangku belakang. Dimana disampingnya sudah terdapat Zeana yang duduk dengan tenang, namun dengan raut wajah kesal dan prustasi melihat berdebatan yang terjadi.


"Hei, kau yang mengalah. Aku kan calon Kakak iparmu, bagaimana kalau aku tidak merestui hubungan kalian? Cepat minggir!" Zero dengan kuat menarik tubuh Jeano kebelakang.


"Hei bocah sial*n! Minggir kalian berdua! Aku ini lebih tua dari kalian, jadi kalian harus mengalah. Aku yang akan duduk bersama Putriku." Kini Felix yang menarik baju Jeano dan Zero agar menyingkir dari jalannya.


Dan dengan santainya Felix langsung duduk dan menutup pintu belakang tak lupa langsung mengkuncinya.


"Daddy!"


Seru Jeano dan Zero bersamaa tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Felix, sedangkan sang pelaku sedang tertawa didalam mobil sambil mengejek kearah mereka berdua.


Felix menurunkan kaca mobil itu sebentar, "Kasian sekali, aku yang menang." Lalu menutup kembali kaca tersebut dan kembali tertawa.


"Daddy sangat jahil sekali." Kata Zeana melihat tingakah Daddynya yang mungkin tidak adan dilihat oleh orang lain diluar sana.


"Tak apa sayang, anggap saja ini sebagai hiburan. Hahhahah."


"Daddy buka pintunya!" Zero berusaha membuka pintu tersebut, namun nyatanya tidak bisa karena sudah dikunci dari dalam oleh Felix.


"Pak Tua, cepat buka pintunya."


"Sudah Jeano, Kak. Aku akan terlambat jika harus menunggu kalian selesai bertengkar." Zeana mulai kehilangan kesabarannya melihat berdepatan yang selalu saja akan terjadi. "Cepat masuk!"


Mau tau mau, setelah Zeana yang berbicara membuat Zero dan Jeano langsung menuruti perkataannya.


"Kau yang menyetir!" Titah Jeano yang langsunh masuk dan duduk dikursi samping kemudi.


"Dasar, calon adik ipar sial*n." Maki Zero pelan sambil mulai berjalan kearah kursi pengemudi.


Akhirnya mobil hitam yang ditumpangi oleh mereka mulai melaju, dan menjauh dari perkarang kediaman Anderson menuju Rumah sakit.


***


Sedangkan ditempat lain, tepatnya di Bandara terdapat sepasang suami istri yang baru saja sampai dari perjalan jauh mereka.


Mereka baru saja kembali lagi, setelah beberapa bulan tinggal di negara orang lain karena urusan bisnis yang tidak dapat ditunda serta tidak dapat dialihkan kepada orang lain.


"Kemana Anak itu? Apakah dia lupa bahwa orang tuanya akan pulang?" Gerutu wanita dewasa yang masih cantik diusianya. Wanita berpakaian modis, serta mempunyai sifat yang sangat baik.


Seorang Istri serta Bunda yang baik untuk Suami beserta Anaknya, wanita yang sangat lembut dalam bertutur katanya, namun akan sangat menyeramkan saat sedang marah.


"Dia bilang ada urusan Sayang." Seorang pria yang melihat Istrinya kesal itu, mencoba untuk menenangkannya.


"Urusan apa? Apa lebih penting dari Orang tuanya?"


"Dia menamani Anna terapi." Seketika wanita itu menatap tak percaya Suaminya. "Benarkah?"


"Ya, dia bilang ini pertama kalinya dia dapat menemani Anna terapi. Karena kemarin-kemarin Anna tidak memperbolehkannya ikut karena takut akan mengganggu waktu sekolah. Dan kebetulan ini weekend, jadi hari ini lah kesempatannya." Jelas Reno.


Lebih tepatnya Reno Xiallen, seorang pengusaha yang bergerak dibidang tambang. Merupakan jajaran pebisinis yang sangat berpengaruh di negaranya. Serta Istri tercintainya Maura Isti Xiallen, seorang Ibu rumah tangga yang selalu ingin fokus hanya kepada keluarganya. Namun juga mempunyai usaha dibidang perbutikan.


Wajah yang tadinya kesal kini berubah berbinar menatap Suaminya. "Wawww, sejak kapan Anak itu menjadi sangat romantia?" Takjub sekaligus heran Maura dengan sifat Anaknya itu, tak lain adalah Jeano.


"Mana ku tau."


"Kenapa kamu menjadi menyebalkan? Ouh iya, bagaimana kalau kita berkunjung saja sekarang kerumah Felix?" Ajak Maura dengan begitu semangatnya


"Sudah ku bilang bukan, Anna sedang terapi yang mengomatiskan dia tidak akan ada dirumah."


"Benar juga. Bagimana setelah Anna selesai terapi, kita bergesas kesana untuk memberi kejutan? Aku sudah tidak sabar melihat calon menantu ku itu."


"Terserah kamu saja. Yang penting, sekarang kita pulang terlebih dahulu untuk istirahat."


"Baiklah, ayo!" Ajak Maura yang langsung menyatukan tangannya dengan Reno, keduanya berjalan dengan sangat mesra. Terlihat sekali bahwa mereka adalah pasangan yang harmonis.


To be continue


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.


See you Next part.