
..."Saat ini saya tidak peduli lagi, saya baik-baik saja dengan apa pun yang terjadi, saya sudah berhenti mengeluh atau mengharapkan. Saya hanya akan mengikuti arus."...
..._The Qoutes Originals...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
13. Acara Peresmian
Seperti yang telah ditentukan, hari ini adalah acara penting yang ditunggu-tunggu. Peresmian Zero sebagai Presdir baru dari Anderson company.
Hampir dari pagi sekali, semua anggota keluarga sudah menyiapakan diri untuk menghadiri acara tersebut. Serta para pelaksana acara yang secara berkala, terus memeriksa segala persiapan agar berjalan lancar nantinya.
Waktu begitu cepat berlalu, dari pagi waktu terus berjalan. Sehingga tanpa terasa, sudah waktunya acara tersebut dimulai.
Dimana tepat pada Anderson company, sudah ada orang-orang yang Felix undang. Tidak lupa hampir semua karyawan ikut menghadiri acara tersebut.
Orang-orang yang diundang oleh Felix pun, hanya orang-orang yang menjadi rekan bisnisnya. Tidak lebih dari itu.
Tepat pada pukul 09:00 pagi, semuanya udah ada dan acara siap untuk dimulai.
"Selamat pagi. Selamat sejahtera untuk kita semua." Terdengar suara Felix yang mulai mengudara dan menjadi perhatian semua orang yang ada disana. "Pertama-tama saya ucapkan banyak terimakasih, kepala tamu undangan yang telah hadir. Tidak lupa para tamu yang lainnya. Acara ini dilaksanakan karena akan adanya peresmian, pemimpin baru dari Anderson company.
Saya Felix De Anderson, meresmikan anak sulung saya Zero De Anderson sebagai Presdir baru dari Anderson company."
Seketika terdengar riuh tepuk tangan dari para tamu, sebagai ucapan selamat atas peresmian tersebut.
"Saya harap kedepannya, perusahaan ini tetap berjaya dan berkembang. Meskipun para memimpin silih berganti, tapi saya percaya jika perusahaan ini dapat menjalankan dengan baik.
Saya harap bimbingan dan juga dorongan yang dapat diberikan dari para rekan-rekan sekalian, untuk dapat menambah wawasan kerja dari pemimpin selanjutnya.
Sekian terimakasih dan selamat menikmati acara." Setelah sederet kalimat yang diucapkan oleh Felix, dirinya segera kembali dan bergabung bersama yang lainnya.
Kini terlihat Zero yang hendak berbicara pada halayak banyak, dan sepertinya kita tidak boleh berharap banyak.
"Selamat pagi. Pertama-sama saya ucapkan terimakasih kepada Tuan Felix De Anderson selaku, Daddy saya karena sudah percaya kepada saya untuk memimpin perusahaan ini kedepannya.
Saya Zero De Anderson sekalu Presdir baru dari Anderson Company, akan menjalankan tugas dan kewajiban yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Mohon dukungannya, terimakasih."
Ya, seperti itulah kira-kira sambutan yang Zero berikan. Tidak lupa wajah datar yang selalu diperlihatkan didepan publik.
Acara tersebut pun dimulai dan berjalan dengan lancar. Kini Zero sudah secara resmi menjadi Presdir Anderson company dan akan mulai bekerja pada hari ini juga.
Sebenarnya sejak SMA, Zero pun sama seperti Jeano yang sudah ikut membantu urusan bisnis keluarganya. Namun hal itu belum secara resmi, dan hal itu hanya dipakai untuk bahan belajar saja.
Tapi mungkin setelah peresmian, Zero maupun Jeano nantinya harus dapat menjalankan perusahaan dengan baik. Dan juga dapat mengambil keputusan yang tepat untuk kemajuan perusahaan.
Tentu saja hal itu masih dibawah wawasan Felix, maupun Reno nantinya. Mereka sebagai orang tua, hanya akan ikut memantau kinerja kerja mereka.
Setelah peresmian, acara selanjutnya yaitu saling menyapa antar rekan bisnis dan juga memberikan selamat. Tidak lupa terdapat makanan dan minuman untuk menjamu para tamu yang hadir.
Mulai terlihat, jika Felix dan Zero mulai didatangi oleh rekan-rekan bisnisnya untuk memberikan selamat. Dimulai dari keluarga Xiallen dan Melix, selaku keluarga calon besan dan juga Adik kandung dari Felix.
"Selamat ya, Zero." Ucap Maura sambil memeluk tubuh tegap Zero, layaknya anak sendiri. Sejak kecil Zero dan Zean sudah dianggap anak oleh Maura maupun Reno.
"Terimakasih Bunda," kata Zero yang membalas pelukan Maura.
"Selamat Zer." Setelah terlepas dari pelukan Maura, Zero kembali dipeluk oleh Jeano seperti gaya laki-laki pada umumnya.
"Ya, terimakasih."
"Selamat ya, keponakanku yang ganteng. Semoga makin sukses terus deh ya." Ucapan tersebut berasal dari Ranti, selaku Ibu dari Andra yang merupakan Auntynya.
"Terimakasih." Setidaknya hanya balasan singat itu, yang dapat Zero berikan atas ucapan selamat dari orang-orang.
"Selamat my brother tercinta, makin sayang deh."
Sapaan alay tersebut bukan berasal dari Zeana selaku adik, tapi suara tersebut berasal dari Andra selalu adik sepupunya.
Seperti biasa Andra akan selalu menjadi perusuh dan juga pencair suasana. Dirinya secara nyeleh berkata tersebut dan langsung memeluk tubuh Zero dengan begitu erat.
Tentu saja hal tersebut mengundang tawa dari seluruh orang, karena hanya Andra yang mampu berbuat seperti itu pada Zero yang terkenal dingin.
Dirinya menjadi kesal dan juga malu secara persamaan atas kelakuan random teman, yang merangkap menjadi sepupunya juga.
Melihat wajah Zero yang mulai kesal, membuat Andra dengan segera melepaska pelukan tersebut dan menyegir tanpa dosa.
"Kamu ini, suka banget ganggu Zero!" Ranti selaku Ibu dari Andra merasa heran dengan sikap anaknya yang begitu pecicilan, sangat berbeda dengan Zero yang kalem.
Sehingga dirinya selalu mewanti-wanti agar Andra tidak berlalu tidak menyeleneh, terutama didepan publik.
"Gak papa Mom, kapan lagi liat Kak Zero bisa ternistakan selain karena kelakuan random Bang Andra."
Perkataan dari Zeana nyatanya mampu membuat orang disekitarnya kembali tertawa. Sangat benar dan tepat, apa yang dibilang oleh Zeana.
Sedangkan Zero yang menjadi bahan ejekan, hanya bisa terdiam sambil menahan kesal. Berbeda dengan Andra sebagai tersangaka yang kini tertawa terpingkal-pingkal.
Orang lain yang melihat interaksi itu, merasa ikut bahagia. Sudah bukan rahasia lagi jika, kekeluargaan antara keluarga Anderson, Xiallen dan Melix sangatlah harmonis.
Pasti ada saja kelakuan random dan juga tawa yang mampu membuat orang disekitar mereka ikut bahagia juga. Namun disamping itu, 3 keluarga besar tersebut merupakan para pebisnis yang sangat berpengaruh dikota ini. Sehingga, hal itu menjadi keseganan bagi mereka sendiri.
Zero yang melihat ketidak hadiran Sarah dan Zion, seketika menjadi bingung. "Dimana Mamah dan Zion?" Tanyanya entah pada siapa, namun partanyaan tersebut mampu membuat orang-orang yang tadinya tertawa seketika terdiam dan menatap kearah Zero.
Semua orang mulai melihat keadaan sekitar, dan benar saja bahwa tidak ada Sarah dan Zion sejak pertama kali acara dimulai.
"Ahk- itu, Mamah dan Zion berada diluar ruangan ini. Tadi Zion sempat mengamuk karena tidak nyaman melihat banyak orang. Jadi Mamah mengajak Zion untuk berjalan-jalan sebenatar." Penjelasan dari Zeana mampu membuat lega semua orang, karena takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan pada Sarah dan Zion.
Baru saja dibahas, ternyata Sarah dan Zion sudah terlihat memasuki ruangan. Dan terliahat juga melangkah mendekat kearah mereka. "Nah, itu mereka." Tunjuk Zeana kearah Sarah dan Zion.
"Mamah dari mana saja?"
"Mamah dari luar, bersama Zion. Maaf ya, tidak bisa melihat acara dari awal dan juga selamat atas peresmian jabatan mu Zero." Kata Sarah yang mendeket kearah Zero, lalu memeluknya.
Zero pun langsung membalas pelukan tersebut, "makasih Mah." Kata Zero sambil tersenyum tipis, nyatanya kini Sarah merupakan bagian terpenting dalam hidupnya. Sehingga ketika Sarah tidak ada, Zero dibuat panik akan hal itu.
Kini Zero beralih pada Zion, adik kecilnya itu. Sekaligus musuhnya juga. "Apakah kamu tidak ingin memberikan selamat juga?" Tanya Zero sambil berlutut didepan Zion, supaya mensejajarakan tubuhnya.
"Selamat untuk apa?" Tanya Zion dengan wajah polos dan juga bingungnya. Tidak lupa dirinya yang malah fokus pada makanan yang sedang dimakan.
"Kak Zero sudah menjadi Presdir sekarang."
"Apa itu Presdir? Apakah seperti Spiderman?"
Perkataan polos dari Zion, kembali mengundang tawa. "Bukan seperti itu Zion. Sudahlah, intinya ucapkan selamat pada Kak Zero." Titah Sarah pada Zion, yang segera diangguki.
"Selamat Kak Zero."
"Terimakasih little brother." Kata Zero sambil mengacak pelan rambut lembut milik Zion.
"Ouh iya, aku lupa belum memberikan selamat juga pada Kak Zero." Kata Zeana yang menepuk hadinya pelan, "selamat Kak, maaf ya tadi aku lupa." Lanjut Zeana sambil meringis pelan.
"Tidak apa, terimakasih juga. Hug me?"
Dengan segera Zeana masuk kedalam pelukan Zero dan keduanya berpelukan dengan erat. Tidak lupa sesekali Zero mengecup pelan puncak kepala Zeana, dengan penuh kasih sayang.
"Sudah. Sudah. Sudahi acara pelukan tersebut, lebih baik kita lanjut melakukan hal lain saja." Jeano segera melepas pelukan Zero dan Zeana. Meskipun keduanya merupakan adik-kakak, tapi tetap saja Jeano merasa iri dan cemburu.
"Kau mengganggu saja." Kata Zero dengan kesal.
"Jeano cemburu pada calon Kakak ipar sendiri." Ucapan Andra dibenarkan oleh semua orang. Mereka tau, jika Jeano mungkin saja tidak suka melihat Zero dan Zeana berpelukan.
"Tidak. Siapa yang cemburu?" Elak Jeano.
"Sudahlah, lebih baik kita makan saja."
Untuk menghindari perdebatan lebih lanjut, mereka semua memilih untuk makan saja. Mereka mulai berjalan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Namun ketika mereka berjalan hendak pergi dari tempat itu, Zeana dapat melihat seseorang yang dikenalinya.
...To Be Continue...
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.