
..."Hidup memang tentang berjuang keras. Orang-orang mungkin terlihat hidup dengan santai. Tapi mereka berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup."...
..._IDK...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
56. Rencana Pertunangan
Waktu terus melaju, tanpa terasa obrolan Zeana dan juga Jeano memakan waktu yang cukup lama. Dimana kini waktu bertambah menjadi semakin malam dan udarapun semakin bertambah dingin.
"Apakah semua yang aku ceritakan membuat mu mengingat sesuatu?" Tanya Jeano begitu dia menyelesaikan semua cerita masa kecilnya dengan Zeana.
"Tidak. Tapi aku tidak menyangka kita melewati waktu yang begitu menyenangkan serta menyedihkan secara bersamaan waktu kecil."
"Ya, sungguh tidak terduga."
"Jadi, apakah yang dikatakan oleh Nico benar atau salah?"
"Semua yang diceritakan oleh Nico juga benar. Mungkin setelah aku pergi, kamu bertemu dengan Nico dan berteman dengannya." Meskipun Jeano tidak suka mengatakan hal ini, tapi dia juga tidak mau membohongi Zeana lagi.
Biarlah semua terungkap untuk sekarang, dan mencoba memikirkan solusi apa yang terjadi kedepannya.
"Berarti kamu adalah sahabat baik ku yang sesungguhnya, dan Nico adalah sahabat baik setelah kamu. Tapi kenapa kalian semua melarangku bertemu dengan Nico?" Tanya Zeana penasaran karena jika memang benar Nico dan dirinya bersahabat sejak kecil lalu mengapa sekarang harus melarang dia bersama Nico?
"Itu karena kamu sangat mencintai Nico."
Sontak apa yang dikatakan oleh Jeano membuat Zeana terdiam karena terkejut. "Aku? Mencintai Nico?" Tanya Zeana tak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Jeano yang dintanya seperti itu mengangguk ragu, benar kan Zeana sangat mencintai Nico waktu dulu tapi mungkin tidak untuk sekarang.
"Bagaimana bisa aku mencintai Nico?"
"Mungkin karena kalian sering bersama."
"Sering bersama?"
Flashback On
Dari sejak pertemuan pertamanya dengan Nico, Zeana menjadi sedikit terhibur dengan kepergian Jeano. Zeana mulai tersenyum kembali dan bermain seperti biasa, serta mulai menjalani hidupnya seperti biasa meski tidak ada Jeano.
Diawal kepergian Jeano mereka berdua masih bisa berkomunikasi, namun entah hal apa Jeano jadi jarang menghubungi Zeana serta bisa dibilang tidak menghubungi Zeana lagi.
Kepergian Jeano yang melewati hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan bahkan sekarang genap dimana Jeano berpisah dengan Zeana.
Dimana mungkin ada sedikit purubahan, dimana kini Zeana yang mulai terbiasa hidup tanpa Jeano dan malah semakin dekat dengan Nico. Zeana terus menjadi akrab dengan Nico dan selalu ikut kemanapun Nico ikut, persis waktu dia dan Jeano waktu itu.
Seiring terus berjalannya waktu Zeana menjadi tidak rela jika Nico harus berjauhan bahkan bersama orang lain, karena dia takut hal bersama Jeano terulang kembali. Dimana dia berpisah dengan Jeano dan kini tidak tahu bagaimana serta dimana keberadaannya.
Dan mungkin seiring dengan bertambahnya umur yang mulai memasuki remaja, membuat Zeana tanpa sadar merasakan nyaman dan cinta pada seseorang.
Nico. Satu nama yang membuat Zeana bisa merasakan itu. Sedangkan untuk Jeano dulu, Zeana tidak bisa memastikan apa itu cinta atau hal lainnya karena mereka berdua masih sama-sama kecil.
Masih terlalu muda untuk paham apa arti cinta.
Tapi waktu itu Zeanapun tidak pernah mengungkapkan rasa pada Nico karena dia ingin memastikan perasaannya terlebih dahulu, ditambah Nico yang sepertinya tidak memiliki rasa sama seperti yang Zeana rasakan membuat Zeana menunda hal itu.
Saat mereka berdua mulai masuk kejenjang Sekolah Menengah Atas, disana juga Jeano kembali muncuk dihadapan Zeana.
Tentunya dengan suatu perubahan yang sangat beda, dimana waktu berpisah saat berumur 11 tahun untuk Jeano dan 10 tahun untuk Zeana. Dan kini mereka bertemu diumur 17 untuk Jeano dan 16 untuk Zeana. Ya, 6 tahun mereka harus berpisah tanpa kabar dan tanpa komunikasi apapun.
Hal itu tentunya membuat jarak serta kecanggungan akan hubungan mereka berdua.
Serta kedatangan Jeano bertepatan dengan awal masuk Zeana kejenjang SMA, dan dimana juga itu awal Nico dan Sisqia bertemu.
Dari sana Zeana tahu bahwa Nico tidak pernah mencintainya dan kini malah dengan mudah tertarik dengan orang lain yang baru ditemuinya. Hal itu membuat Zeana marah, dan langsung mengungkapkan perasaannya pada Nico yang dengan tanpa ragu langsung ditolak oleh Nico.
Dari situ juga awal Zeana selalu mengejar Nico dan selalu mengganggu Sisqia, tanpa sadar Zeana telah berubah karena keadaan yang memaksanya. Dari seorang gadis yang baik kini menjadi jahat dan manja.
Zeana terus mengejar Nico tanpa menghiraukan kehadiran Jeano yang mungkin kini kembali untuk bersamanya.
Serta Jeano yang mengetahui hal itu tentu saja merasa marah pada dirinya sendiri karena waktu itu harus meninggalkan Zeana dan berakibat seperti sekarang.
Hubungan yang canggung dan bahkan cenderung seperti orang yang saling tidak mengenal, itulah hubungannya dan Zeana sekarang. Serta disisi lain juga entah sadar atau tidak Zeana menjadi jauh dengan keluarganya, yaitu Felix dan Zero.
Mungkin memang dari kecil Zero dan Felix selalu dingin pada Zeana, tapi terlepas dari itu mereka berdua sangat menyayangi Zeana. Sudah dibilang bukan, jika mereka berdua tidak dapat menunjukan kasih sayang mereka secara langsung.
Zeana tanpa sadar menjauh dan acuh pada Felix dan juga Zero, namun setelah tau bahwa Nico yang ikut tidak suka padanya membuat Zeana malah berubah menjadi bunglon secara mendadak.
Yaitu mulai menjadi manja dan cerewet supaya mendapatkan perhatian Felix dan Zero serta mungkin Nico dibeberapa waktu.
Dan akan menjadi jahat ketika berhadapan dengan Sisqia dan orang lain yang dekat dengan Nico. Serta penampilan Zeana yang ikut berubah menjadi gadis dengan make up tebal bukannya malah tambah cantik, Zeana malah terlihat buruk.
Hal itu tentunya diketahui dan disadari oleh Felix dan juga Zero, dan itu juga menjadi alasan mereka tidak suka dengan Zeana yang sekarang.
Mungkin secara garis besar Zeana yang selalu terabaikan oleh keluarganya dan ditambah harus tidak disukai oleh orang yang dicintainya. Namun kenyataannya Zeana sendiri penyebab itu semua. Zeana adalah kunci dari masalah yang dia miliki dan hadapi.
Pernah dengar bahwa "Kita adalah pemeran utama dalan hidup kita." Hal itu menandakan jika hidup kita dijalani dan dipilih oleh kita sendiri.
***
"Kita tidak tahu jika Anna akan berubah seperti sekarang, lagian waktu itu bukan suatu kesengajaan." Kata Reno yang mencoba menjelaskan pada Jeano keadaan yang sekarang terjadi.
"Tapi bagaimana sekarang? Bahkan Anna seolah tidak mengenalku."
"Ya kamu coba lagi saja dekat dengan Anna, kalian berdua kan teman baik waktu kecil. Pasti tidak akan sulit untuk itu."
"Itu hanya mudah diucapkan tidak untuk dilakukan." Ketus Jeano menatap dingin Ayahnya.
"Terus kamu mau bagaimana lagi?" Reno sendiri tidak tahu harus melakukan apa, karena memang hal ini diluar yang mereka prediksi.
Semua ini terjadi karena waktu itu semua nomer penting serta kerabat terdekat harus terhapus karena ketidak sengajaan yang membuat Jeano tidak bisa menghubungi Zeana lagi.
"Aku ingin bertunangan dengan Anna!!"
"Apa??" Reno dibuat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Jeano. "Yang benar saja, kamu masih sekolah. Bagaimana bisa untuk menjalin hubungan kejenjang pertunangan?"
"Aku tidak perduli, pokoknya aku mau segera bertunangan dengan Anna apapun caranya."
Reno memijat pelipisnya yang sekarang terasa pusing secara mendadak. "Tapi bagaimana caranya?"
"Itu sih urusan Ayah." Ucap Jeano tanpa dosa melemparkan permasalahan ini pada Reno, yang membuat Reno langsung menatap Jeano dengan pandangan tak terduga.
"Hei sebenarnya siapa yang mempunyai masalah? Kenapa harus Ayah yang memikirkan semua?"
Jeano hanya menggidikan bahunya tanpa tidak perduli, serta Reno yang menatap jengah pada Anaknya itu. Mereka berdua cukup lama terdiam dengan pemikiran mereka masing- masing
"Apakah sudah ada ide?" Tanya Jeano tidak sabaran.
"Diam, biarkan Ayah berpikir dulu."
"Kenapa lama sekali?"
"Hei kalau begitu pikirkan sendiri."
Reno semakin dibuat kesal dengan kelakuan Anak semata wayangnya ini, sungguh anak yang durhaka. Sedangkan Jeano langsung kembali terdiam ketika melihat Reno marah, dia tidak mau sampai hai ini tidak terjadi.
Sampai akhirnya Reno memiliki suatu ide yang cemerlang. "Bagaimana kalau kita adakan suatu perjodohan saja? Kamu dan Zeana dijodohkan oleh kita para orang tua."
Jeanopun langsung mengangguk setuju, mungkin ini salah satu jalannya agar Zeana dapat kembali padanya.
Akhirnya Reno segara menelpon Felix untuk mengadakan perjodohan ini, dan tanpa diduga Felix langsung menyetuinya. Felix malah ikut senang jika kelak Jeano yang akan bersama Zeana, daripada harus terus bersedih karena mengejar Nico.
Karena bagaimanapun Jeano adalah Bocal Tengil kesayangan Felix, dimana sudah dari awal Felix tahu bagaimana Jeano begitu menyanyangi Zeana.
***
Disisi lain Felix sedang mencoba memberi tahu Zeana tentang perjodohan ini, dan dia harap Zeana akan menerimanya.
"Ada yang ingin Daddy bicarakan padamu Anna." Ucap Felix tiba-tiba setelah mereka selesai makan malam bersama.
Zeana yang mendengarkan itu sontak menatap tidak percaya pada Felix, sangat tidak biasa sekali.
"Bicara tentang apa Dad?"
"Daddy akan menjodohkan mu dengan Anak teman Daddy."
"Apa?" Teriak Zeana tidak percaya. "Tapi aku masih sekolah Dad." Lanjut Zeana mencoba untuk mencegah pertunangan ini terjadi, lagian dia mencintai Nico. Jadi bagaimana bisa dia melakukan perjodohan dengan orang lain?
"Ini hanya sebuah pertunangan bukan pernikahan jadi kamu bisa melakukan hal itu."
"Tapi-"
"Tidak ada penolakan!" Ucap Felix dengan cepat memotong perkataan Zeana, yang tentu setelah itu Zeana tidak dapat melawan lagi perkataan darinya.
"Siapa yang akan berjodoh dengan ku?"
"Liat saja besok, dan Daddy ingin kamu langsung menerima perjodohan tersebut."
"Baik Dad." Hanya itu yang Zeana dapat katakan, jika membujuk Felix tidak bisa dia akan mencoba membujuk calon tunangannya untuk membatalkan perjodohan mereka.
Sedangakan untuk Zero, tidak mungkin juga Zeana akan membujuk untuk membatalkan perjodohan ini melewati Zero karena dia tidak dekat dengan Kakaknya itu.
"Kalau begitu, aku pamit pergi kekamar Dad."
"Hm."
Hanya sebuah deheman yang Zeana dapatkan, karena memang biasa hal itu yang dia dapatkan.
"Selamat malam Dad, Kak." Ucap Zeana yang segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Felix maupun Zero karena hal itu tidak akan ada.
Felix dan Zeropun hanya diam menatap punggung Zeana yang mulai menghilang menaiki tangga menuju kamarnya.
***
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.