Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 88



..."Ingat, jangan ikut-ikutan membenci orang lain hanya karena mendengar cerita buruk tentangnya karena apa yang kamu dengar belum tentu benar."...


..._Pepatah Kata...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


88. Dapat Menerimanya


Part ini kembali ke Zeana ya, semoga suka dan ngerti juga dengan alur cerita yang aku maksud.


***


Kini suasana hening menyelimuti Zeana dan juga Jeano. Keduanya diam setelah Zeana menayakan tentang perilah tersebut pada Jeano.


Zeana masih menatap harap-harap cemas pada Jeano, dia begitu berharap Jeano masih mau berdekatan dengannya. Mungkin jika nanti hubungan yang sekarang tidak dapat terus terjalin, dia masih berharap bisa menjadi sahabat dari Jeano kelak.


"Apakah sekarang kamu membenci ku? Kamu pasti membenci ku sekarang dan memang hal itu yang harus kamu lakukan padaku.


Aku sadar karena ini memang kesalahanku dengan berbohong tentang apa yang terjadi sesungguhnya. Maaf karena sudah membohongi mu Jeano." Zeana kembali berkata yang kini menarik perhatian Jeano untuk melihat kearahnya.


Dapat Jeano lihat jika sekarang Zeana tertunduk sedih setelah dari tadi menceritakan hal yang begitu panjang dan juga mengejutkan baginya.


"Apakah kamu ingin aku membencimu?" Kini Jeano malah berbalik bertanya pada Zeana, yang tentu saja hal itu tidak mau Zeana alami.


Zeana menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku tidak ingin kamu membenci ku."


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan membenci mu."


Seketika Zeana dibuat kaget dengan perkataan Jeano. Apakah semudah itu memaafkan semua kebohongannya?


"Apakah begitu mudah kamu memaafkan kebohongan ku?"


"Ya, karena aku tau semua ini bukan hal yang kamu inginkan dan juga alami. Kamu hanya mencoba untuk mengikuti apa yang sedang terjadi padamu, dan aku menghargai kejujuran mu yang mau membicarakan semuanya."


"Jadi apakah kita masih bisa berteman? Tidak apa jika kamu ingin memutuskan pertunangan ini." Setidaknya Zeana tidak mau serakah dengan masih berharap bahwa hubungannya dengan Jeano masih dapat baik-baii saja.


Namun kini Jeano yang dibuat terkejut dengan perkataan Zeana, dia juga berpikir apakah dirinya harus meneruskan hubungan ini.


Tapi entah kenapa hati kecil Jeano menolak untuk memutuskan hal itu. Dia mencintai Zeana yang dulu maupun yang sekarang. Apalagi dengan Zeana yang sekarang, rasa cintanya malah bertambah banyak.


Jeano malah berpikir negatif tentang Zeana sekarang. Apakah semua ini hanya akal-akalan Zeana agar dapat bersama Nico lagi?


Kini tatapan mata Jeano berubah menjadi menajam, "Apakah ini semua, hanya siasat yang kamu buat untuk dapat kembali pada Nico?"


"Hah?" Zeana langsung dibuat bengong, apakah selama ini dia berkata panjang lebar hanya dianggap kebohongan oleh Jeano?


Sungguh rasanya Zeana ingin menangis saat ini, "tidak Jeano. Aku bersungguh-sungguh mengatakan hal ini dan ini tidak ada urusannya dengan Nico sekalipun."


"Lalu kenapa kamu ingin memutuskan pertunangan?"


"Karena aku tidak mau serakah dengan masih berharap atas hubungan kita setelah kebohonganku selama ini."


"Dengan ini! Sampai kapanpu aku tidak akan pernah memutuskan pertunangan ini, meskipun aku sudah tau siapa dirumu yang sebenarnya. Kamu akan selalu menjadi milikku dan selalu disamping ku Anna. Oww..apakah mulai sekarang aku harus memanggilmu Riana juga?" Dengan penuh seringai Jeano mengatakan hal itu, entah mengapa melihat Jeano yang seperti ini malah membuata Zeana takut.


Zeana rasa, jika Jeano sudah begitu mencitai Zeana apapun kondisinya. Dan mungkin saja Jeano juga sudah menjadi sedikit gila jika mengenai Zeana.


"Tapi kamu hanya mencintai Zeana bukan diriku yang sekarang?"


"Tidak perduli. Aku mencintai mu dan juga Zeana yang dulu karena kalian sudah menjadi satu sekarang. Jadi, mulai sekarang jangan pernah berpikir bahwa kamu bisa pergi dan mutuskan hubungan ini dengan ku!!" Dengan penuh penekanan Jeano mengatakan semuanya.


Ya, Jeano sudah memutuskan untuk tetap mempertahankan Zeana apapun kondisinya. Dia akan membuat Zeana selalu bersama dengannya, apapun fakta yang sesungguhnya.


Zeana hanya terdiam setelah mendengarkan perkataan Jeano, jadi Jeano juga mencintai dirinya. Ada rasa senang setelah mengetahui jika Jeano mencintai dirinya dan mau menerima dirinya yang sebenarnya.


"Apa kamu dengan yang aku katakan, Riana?"


"Hm, ya. Aku mendengar apa yang kamu katakan, tapi kamu bisa tetap memanggilku dengan Anna karena nama panggilanku dan Zeana itu sama."


"Benarkah?"


"Benar, waktu itu aku juga sempat kaget dengan nama panggilan kita berdua yang sama."


"Jadi kamu tau kan, aku tidak akan pernah untuk memutuskan pertunangan ini. Mengerti?"


"Ya, aku mengerti. Terimakasih Jeano, sudah mau tetap menerimaku meskipun kamu sudah tau yang sebenarnya."


"Tidak perlu berterimakasih. Mungkin ini semua memang sudah takdir yang Tuhan berikan pada kita." Kini Jeano manarik tubuh Zeana agar masuk kedalam pelukannya, keduanya menikmati momen yang sangat mengejutkan dan juga cukup menguras emosi untuk mereka.


"Ouh ya, apakah hanya aku saja yang baru tahu bahwa kamu Riana?"


"Tidak. Mamah Sarah dan Bi Julia sudah tahu lebih dulu tentang ku."


"Kenapa bisa?"


"Karena sebenarnya Mamah Sarah adalah Mamah kandung ku ditubuh Riana."


"Apa?" Jeano langsung dibuat terkejut lagi dengan fakta yang diberikan oleh Zeanan. Kenapa begitu banyak sekali kejutan yang disembunyikan oleh Zeana.


"Ini sebuah kebetulan atau memang disengaja? Jadi dari awal, apakah Mamah Sarah sudah tahu bahwa kamu Riana anaknya?"


"Tidak, Mamah tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya karena wajah ku yang berbeda. Tentu saja hal itu akan menbuat Mamah Sarah jadi ikut tidak mengenal diriku, serta awalnya tidak percaya bahwa aku anaknya.


Sebenarnya aku lahir di kota ini, namun tinggal dan tumbuh besar di kota xxx. Tapi setelah kematian ku, Mamah mendapatkan mimpi yang terus menyuruhnya agar pindah kesini.


Akhirnya Mamah menutuskan untuk pindah kesini dan memang secara kebetulan Bi Julia adalah orang yang sudah dianggap keluarga oleh Mamah. Jadi ketika dirumah membutuhkan maid baru, Bi Julia mengajak Mamah untuk bekerja dirumah.


Akhirnya kita bertemu, dan aku dengan segera menyakinkan Mamah bahwa aku Riana anaknya. Mamahpun percaya dan memberi tahu Bi Julia juga.


Namun percayalah Jeano, keadaan yang sekarang tidak ada sangkut pautnya dengan Mamah yang jadi istri Daddy, kejadian itu murni karena ketidak sengajaan Daddy dan Mamah."


"Aku percaya. Dari awal niat kalian hanya ingin bersama bukan?" Tanya Jeano yang langsung diangguki oleh Zeana.


"Jadi tidak perlu khawatir, jika nanti ada yang mencampur adukan kejadian yang menimpamu dengan Mamah Sarah, kamu tinggal jelaskan saja yang sebenarnya terjadi.


Aku akan selalu bersama dengan mu dan ikut mendukung mu nanti. Jadi kapan kamu akan memberi tahu orang lain juga?"


"Segera. Aku tidak mau menunda-nunda lagi."


"Baiklah, bagaimana kalau selesai makan malam kita jelaskan yang sebenarnya?"


"Iya. Terimakasih Jeano."


"Sudah ku bilang, tidak usah berterimaksih terus!"


"Baiklah, tapi bolehkan aku meminta bantuan mu sekali lagi?"


Terlihat dahi Jeano yang sedikit mengkerut, "bantuan apa?"


"Bisakah kamu temukan informasi tentang Ayahku kandungku yang sebenarnya? Aku ingin tahu semua hal yang berhubungan dengan Ayah kandung ku, serta kehidupan Mamah yang dulu."


"Kenapa tidak bertanya pada Mamah Sarah secara langsung? Bukannya itu akan lebih mudan dan akurat?"


"Tidak semudah itu Jeano. Mamah selalu sedih jika aku membahas tentang Ayah dan aku selalu tidak tega harus melihat Mamah menangis. Sepertinya terlalu banyak luka yang Mamah dapatkan ketika sebelum aku lahir, sehingga Mamah tidak mau aku tumbuh di kota kelahiran ku ini. Mau kah kamu membantu ku untuk itu?" Harap Zeana kepada Jeano karena untuk sekarang ini hanya Jeano yang dapat Zeana andalkan untuk bisa menuntaskan rasa penasarannya.


Melihat wajah penuh harap dari Zeana membuat Jeano tidak tega melihatnya. "Baiklah, akan aku bantu carikan."


"Yeayy."


Seketika Zeana tanpa sadar malah berteriak karena begitu senang dan juga memeluk tubuh Jeano begitu erat. Sedangkan Jeano hanya mampu tersenyum melihat tingkah Zeana yang seperti ini. Jujur dia lebih suka Zeana yang seperti sekarang, dibanding Zeana yang dulu selalu mengabaikan kehadirannya.


"Teri-"


"Eh, tidak boleh lagi. Jika ingin berterimakasih, lebih baik sekarang dengan tindakan saja."


Cup


Tanpa banyak bicara Zeana langsung mengecup pelan pipi kanan Jeano, dirinya sudah tau apa yang Jeano maksud.


"Ini kan yang kamu maksud?" Goda Zeana dengan terseyum yang membuat Jeano tambah suka padanya.


"Siapa bilang?"


"Tidak usah bohong!"


Jeano terkekeh kecil. "Kalau begitu bagaimana dengan pipi kiri? Apakah mendapatkan bagiannya juga?"


"Tentu saja." Tanpa malu Zeana kembali mengecup pelan pipi kiri Jeano yang membuat Jeano kembali tersenyum bahagia.


Keduanya kembali mengobrol seru dan mulai kembali saling mengenal satu-sama lainnya. Kini Jeano menjadi penasaran kedengan kehidupan Riana sebelum terdampar di tubuh Zeana yang sekarang. Dan tentu saja Zeana akan dengan senang hati menceritakan kehidupannya dulu sebagai Riana.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.