Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 63



..."Kita selalu takut kalau merepotkan orang lain. Sebenarnya kadang yang kayak gitu perlu. Aku harap kamu tau cara 'Pegangin payung' buat orang lain, dan aku harap kamu punya seseoramg yang 'Pegangin payung' buat kamu."...


..._Zhong Chenle...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


63. Bisikan Aneh


Setelah putrinya meninggal hidup Sarah menjadi tidak menentu untuk mengekspesikan tentang perasaannya. Ketika teman-teman ditempat kerjanya mencoba untuk menghiburnya, Sarah masih belum bisa menghilangkan rasa sedihnya.


Sarah selalu mencoba untuk ikhlas dengan apa yang takdir Tuhan berikan padanya, namun entah mengapa rasanya Sarah masih berharap bisa bersama Riana yang sudah tidak ada didunia ini.


Memang suatu hal yang mustahil terjadi di dunia ini, namun dapat terjadi jika Sarah ikut menyusul Riana meninggal dunia.


Hari-hari yang dilewati Sarah sangat lah sepi dan juga menyedihkan, setiap malam Sarah akan terus menangis ketika melihat foto Riana.


Hanya sebuah foto yang penuh dengan kenangan yang mampu membuat dirinya senang ketika merindukan putrinya.


"Mamah kangen kamu An." Lirih Sarah yang terus saja menangis, sambil memeluk foto Riana.


Rasanya untuk bertahan hiduppun menjadi susah dan tidak berguna karena Sarah tidak menpunyai setupun kerabat yang ada. Karena memang pada dasarnya Sarah merupakan seorang Anak panti asuhan yang ketika menginjak dewasa mencoba untuk hidup mandiri.


Oleh karena itu dia tidak mempunyai keluarga satupun ditambah lagi tempat yang kini ditempati bukan tempat kelahirannya. Sarah hidup dikota ini karena mencoba menberikan yang terbaik untuk putrinya, agar terbebas dari bayang-bayang masa lalunya yang kelam.


Sebuah pernikahan yang tidak dapat bertahan lama serta kebodohan yang Sarah lakukan dimasa lalu.


Karena terlalu lelah menangis tanpa terasa Sarah mulai terlelap tidur, dan perlahan masuk kedalam dunia mimpi.


Dimana dalam mimpinya Sarah melihat ada seorang gadis yang seolah menunggu kehadirannya, serta tatapan sedih dari gadis itu. Gadis tersebut terlihat cantik namun dengan wajah yang murung, karena tidak tega Sarah mencoba untuk mendekati gadis tersebut.


Namun ketika Sarah mendekat bukannya semakin jelas wajah dari gadis itu, tapi sebaliknya tampak wajah gadis itu menjadi blur.


"Aku kangen Mamah." Meskipun terdengar seperti bisikan namun Sarah dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh gadis itu.


Entah mengapa melihat gadis tersebut membuat Sarah jadi teringat akan Riana, ketika tubuh Sarah semakin mendekat Sarah mendengar suara lagi namun bukan dari gadis tersebut.


"Pulanglah! Ada seseorang yang menanti dirimu disana." Seketika Sarah langsung bangun dari tidurnya dan menatap sekitar tidak ada seorangpun disana, namun entah mengapa bisikan itu terdengar sangat nyata ditelinganya.


Seketika Sarah langsung dibuat merinding, apakah tadi hantu? Dan apa maksud dari bisikan itu?


"Pulang kemana? Dan siapa yang menunggu ku?" Heran Saran pada dirinya sendiru yang mencoba memahampi arti pesan tersebut.


"Apakah yang dimaksud itu adalah Riana yang menungguku di Surga? Jadi aku harus ikut pergi juga?" Monolog Sarah kembali.


Sarah terus bergelut dengan pikirannya, otaknya kini hanya dipenuhi dengan mencoba memahami bisikan itu.


Untuk keesokan malamnya pun sama, Sarah kembali bermimpi tentang gadis itu. Tapi kini terlihat bahagia meskipun Sarah tidak bisa melihat wajahnya secara jelas, Sarah tau gadis itu bahagia.


"Pulanglah ketempat dimana awal hidupmu! Dimana senang dan sedih bertemu, dimana kamu sangat bahagia dan terluka secara bersamaan." Bisikan itu kembali muncul.


Membuat Sarah kembali berpikir keras untuk itu, "Dimana tempat yang seperti itu?" Kini Sarah semakin penasaran dengan setiap teka-teki yang diberikan oleh orang tersebut dalam mimpinya.


Mimpi tersebut terjadi hampir setiap malam, dimana ketika Sarah ingin tidur mimpi itu langsung datang. Sarah selalu mencatat setiap perkataan yang ada dimimpinya, sampai akhirnya sebuah petunjul dari mimpi terakhir yang menentukan semuanya.


"Itu adalah sebuah tempat dimana dirimu dan putrimu lahir. Semoga bahagia." Itu adalah bisikan terakhir yang didapat Sarah dan kali ini Sarah langsung dapat menebaknya.


Kota xxx, dimana dia dan putrinya dilahirkan. Kota dimana ada sejuta kenangan serta kesedihan, dimana kota tersebut merupakan tempat.


Karena penasaran dengan siapa yang menunggunya, membuat Sarah memutuskan untuk mendatangi Kota itu meskipun nantinya harus kembali terluka karena keadaan.


"Semoga nanti aku dapat bertemu dengan gadis itu, dan ku harap tidak akan pernah bertemu dengan pria itu." Batin Sarah yang mencoba untuk menegarkan dirinya agar dapat pergi ke Kota itu dengan lapang dada.


Akhirnya Sarah kembali ke Kota itu demi menuntaskan rasa penasarannya.


***


Keesokan harinya Sarah sudah sampau di Kota itu, dimana banyak sekali yang sudah berubah. Wajar saja hampir kurang lebih 17 tahun Sarah meninggalkan tempat kelahirannya itu, karena dia meninggalka kota ini tepat setelah Riana lahir.


Sarah terus menyelusuri jalan-jalan yang ada disitu sambil terus melihat-lihat keadaan disekitarnya. Dan setelah berjaln cukup jauh Sarah sampai pada sebuah rumah minimalis kepunyaannya, yang sudah terlihat tidak layak pakai. Dimana atap dan keadaraan bagian rumah yang sewaktu-waktu dapat rubuh.


"Sepertinya aku harus menginap dipenginapan terdekat." Batin Sarah setelah melihat keadaan rumahnya sendiri, apalagi ketika melihat rumah yang berada disampingnya juga terlihat ikut kosong namun masih terawat.


Sebelum Sarah hendak pergi, terdapat seseorang yang mengahampirinya dengan wajah yang tidak percaya. Sama halnya dengan Sarah yang ikut tidak menyangka masih bisa bertemu dengan orang yang sudah dianggapnya sebagai orang tua, orang asing yang saling menganggap kerabat.


"Bi Julia?"


Tanpa banyak waktu orang yang dipanggil Bi Julia itu langsung menghampiri Sarah dan memeluknya. Tanpa disadar air mata jatuh dari keduanya karena merasa bahagia serta sedih secara bersamaan.


"Kamu kemana saja...hiks? Kenapa hiks tidak pernah pu-lang..? Tanya Bi Julia itu sambil menatap Sarah dengan sedih terbukti dari air matanya yang terus keluar.


Mereka terus saling berpelukan sambil menangis haru, "sudah. Ayo kita kedalam dulu!" Ajak Bi Julia pada Sarah, yang langsung saja mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah dengan.


"Duduk dulu disini? Bibi akan ambilkam air sebentar."


"Tidak usah Bi, takut merepotkan."


"Hei, kamu seperti kepada orang lain saja. Apakah kita sudah menjadi orang asing?" Kata Bi Julia dengan wajah yang kini sedikit marah ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Sarah.


"Bukan begitu maksud ku ha-"


"Sudah...sudah, tunggu sebentar!" Setelah mengatakan itu buru-buru Bu Julia pergi kedapur untuk mengambl air serta makanan.


Tidak membutuhkan waktu kama Bi Julia sudah kembali dengan sebuah nampan ditangnya.


"Aku bilang tidak usah Bi. Kenapa harus repot-repot?" Ucap Sarah tidak enak hati.


"Diam. Dan ayo minum dahulu, kamu pasti sangat lelah diperjalanan kemari."


Tidak ingin membuat Bi Julia marah, Sarah lekas langsung meminun air itu karena boleh jujur saja Sarah juga merasa haus tiba-tiba.


"Terimakasih Bi."


"Sama-sama, tidak perlu sungkan. Kamu masih Bibi anggap sebagai anak sendiri. Ouh iya, dimana putrimu? Kenapa tidak ikut juga?"


Seketika Sarah langsung sedih teriangat dengan Riana yang sudah tidak ada beberapa bulan yang lalu, melihat raut wajah Sarah yang menjadi sedih membuat Bi Julia khawatir.


"Apa yang terjadi?"


"A-anna...su-dah hiks tidak...ada Bi hiks..."


Dengan sesegukan Sarah berbicara, terlihat kini bahu Sarah ikut bergetar.


"Kenapa bisa?" Tanya Bi Julia shok ketika mendengar kabar ini, begitu banyak hal yang terlewatkan selama 17 tahu ini.


Sarahpun mulai menceritakan bagaimana Riana mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal. Serta tidak lupa alasan yang membuatnya kembali kesini, karena sebuah mimpi yang terus menghampirinya disetiap malam.


Seseorang yang selalu memberi tahu Sarah untuk pulang ke kota ini, kota dimana tempat kelahiranya serta purtinya.


"Kamu yang sabar ya, kita doakan Anna semoga tenang dialam saja. Kamu jangan bersedih terus! Pasti diatas sana Anna tidak akan suka jika melihat kamu seperti ini." Kata Bi Julia yang mencoba menengakan Sarah serta mencoba menegarkan akan dapat menerima kenyataan ini dengan ikhlas.


"Tapi entah mengapa, aku rasa gadis yang selalu ada dimimpi ku adalah Anna putriku. Meskipun aku tidak dapat melihatnya secara jelas, tapi aku benar-benar yakin bahwa itu Anna Bi."


Ya, setelah beberapa kali pernah bertemu Sarah merasa juka gadis yang ditemuinya dalam mimpi seperti mendaing anaknya namun dengan wajah yang berbeda.


"Bagaimana bisa? Putrimu sudah tenang dialam saja, tidak mungkin masih ada didunia ini."


Perkataan dari Bi Julia mengembalikan pada kenyataan yang terjadi, memang diawal juga Sarah berpikir seperti itu. Tapi entah kenapa perasaannga tidak pernah bisa bohong jika dia masih sedikut menyakini bahwa itu adalah Riana namun dalan dir orang lain.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan! Sekarang kamu langsung istirahat dulu saja disini."


"Tidak, aku akan pulang kerumah ku sendiri."


"Dan membiarkan tubuhmu tertimpa teruntuhan." Sela Bi Julia dengan cepat, karena dia juga tahu bagaimana keadaan rumah Sarah.


Sarah yang mendegarkan itu, paham apa yang dimaksud oleh Bi Julia. Dan kini dia juga bingung harus mengatakan apa.


"Sudah. Kamu bisa tinggal dirumah ini, lagian Bibi dan Paman jarang pulang kerumah ini."


"Memang Bibi sekarang tinggal dimana?"


"Bibi lebih sering tinggal di rumah majikan Bibi, dan hanya sesekali pulang kesini."


"Apakah Bibi masih bekerja dimension itu?"


"Ya, tentu saja. Dari dulu Bibi tidak pernah pindah atau bahkan keluar dari sana, karena bagaimana pun juga Bibi mempunyai kewajiban untuk menjaga anak-anak dari majikan Bibi."


"Kenapa begitu?"


"Kamu tau? Dulu waktu sesudah kamu lahiran, Bibi pernah bilang bahwa majikan Bibi akan melahirkan. Dan majikan Bibi langsung meninggal setelah melahirkan putrinya, jadi dari hari itu Bibi diberi pesan untuk menjaga anaknya."


"Sangat kasihan sekali, pasti sekarang purtinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ibu."


"Ya, memang sudah takdir seperti itu. Sepertinya purtimu dan purti majikan Bibi seumuran, serta dia memiliki nama panggilan yang sama. Yaitu Anna, Riana nama putrimu sedangkan Zeana nama putri majikan Bibi."


"Zeana?" Lirih pelan Sarah, yang entah mengapa merasakan hal aneh ketika mendengar nama itu.


Setelah membicaraan itu Sarah langsung saja disuruh untuk mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu karena sudah melewati perjalanan yang cukup jauh.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.