
..."Bahkan disaat aku sudah melakukan yang terbaik, aku masih merasa tak perguna."...
..._Qoutes...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
64. Acara Perayaan 2
Ternyata acara perayaan berjalan begitu lancar sangat ramai, mungkin diawal terlihat canggung ketika salah satu orang membahas tentang Zeana dan Nico. Namun nyatanya kehadiran Zeana dapat mencairakan suasana, serta dapat merubah suasana hati Jeano.
Nyatanya setelah acara makan-makan selesai mereka semua suasana malah semakain ramai, dimana ada yang mengobrol, bercanda, beryanyi tak kadang mereka juga ada yang saling ejek yang berujuk bertengkar.
Namun tenang saja, itu hanya sebatas bercanda dan meramaikan suasana saja. Karena hal itu sudah sering terjadi dalam pertemana mereka, dan nanti pun setelah salih ejek dan berdebat ujung-unjungnya pasti akan kembali berbaikan lagi.
"Jeano?" Panggil Zeana sambil menyenggol pelan tangan Jeano.
Jeano terlihat tidak begitu menikmati acara malam ini, apalagi ditambah dengan obrolan tadi yang membuat moodnya tambaha hancur
"Hm?" Dengan sebelah alis yang dinaikkan Jeano kembali menatap Zeana seolah berkata 'apa'.
"Aku lihat kamu seperti tidak menikmati acara ini, kenapa?"
Sebelum menjawab Jeano terlihat menghela napas, dan seolah sedang berpikir tentang apa yang ingin dia katakan.
"Hanya terpikirkan beberapa hal saja."
"Apakah karena suasana diam tadi? Ouh iya, kamu belum bilang apa yang terjadi sebenarnya."
Dengan ragu Jeano mulai menceritakan hal yang membuat moodnya jadi seperti ini.
"Tadi anak-anak membahas tentang berita pertunagan kita yang tiba-tiba, juga ikut membahas malasah kedekatanmu dan Nico waktu dulu."
"Lalu?"
"Hanya itu saja, tapi aku tidak suka."
"Kenapa?"
Mendengar pertanyaan dari Zeana membuat kedua mata Jeano seketika membulat sempurna, apa hal itu mesti dijelaskan?
"Tentu saja karena mereka membawa-bawa nama Nico dalam hubungan kita yang sekarang, aku benci itu. Kamu tau? Rasanya aku ingin merobek semua mulut orang-orang yang selalu membicarakan tentang mu dan Nico." Terlihat bergitu berapi-api Jeano mengatakan itu semua, sangat terlihat jika Jeano sangat tidak suka dengan apa yang dikatakannya.
"Tidak bisakah mulai sekarang, orang-orang hanya membicarakan kamu dan aku saja? Tidak ada orang lain." Lanjut Jeano yang kini raut wajahnya berubah menjadi sedih, namun malah terlihat lucu jika melihatnya.
Zeana segera membawa Jeano kedalam pelukannya dan mengelus pelan kepala Jeano. Zeana merasa kasihan serta ingin ngakak juga melihat wajah Jeano yang sedang marah seperti sekarang.
Bagaimana tidak lucu? Jeano terlihat memanyunkan bibirnya kedepan serta kedua mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Dengar Jeano! Kita tidak bisa mencegah bahkan melarang semua orang untuk berbicara serta beropini tentang kita. Semua orang bebas untuk itu. Yang perlu kita lakukan hanya membuktikan, bahwa apa yang mereka bicarakan tentang kita itu tidak benar adanya.
Sekeras dan sebanyak apapun kita berbicara pada orang itu, itu hanya akan sia-sia saja serta membuang waktu. Oleh karena itu, kita tidak perlu mendengarkan semua perkataan orang tentang diri kita. Karena yang tau tentang diri kita yaitu hanya diri kita sendiri."
Sambil menjelaskan, tangan Zeana terus mengusap-usap kepala Jeano sedangkan Jeano hanya diam mendengar semua yang dikatakan oleh Zeana.
"Dengar tidak?" Tanya Zeana karena tidak merasakan pergerakan apapun dari Jeano, Zeana pikir Jeano mungkin saja tertidur mendegarkan perkataannya.
"Dengar." Jawab Jeano pelan namun masih dapat didengar oleh Zeana.
Saat Zeana hendak mengurai pelukan tersebut ternyata Jeano malah menguatkan pelukannya pada Zeana. "Aku masih ingin peluk."
"Tapi lama-lama pegal Jeano, ayo lepas dulu!"
"Tidak mau."
"Baiklah kalau begitu aku pulang saj-"
"Jangan!" Teriak Jeano yang langsung menyela perkataan Zeana.
Jeano segera melepaskan pelukannya dan menatap marah serta sedih pada Zeana.
"Aku masih ingin peluk dan kamu tidak boleh pulang!"
"Kalau aku tidak boleh pulang, bagaimana dengan Daddy?"
"Biarkan saja." Dengan acuh Jeano menjawab perkataan Zeana, yang membuat Zeana tidak suka dengan itu.
"Heh! Daddy akan khawatir kalau aku tidak pulang."
"Tapi kan kamu berada dirumah ku, jadi tidak apa-apa."
"Tetap saja kasihan Daddy hanya sendirian jika sarapan pagi nanti."
"Dia sudah dewasa, eh bukan. Dia sudah tua, jadi tidak apa."
Sontak Zeana langsung mecubit tangan Jeano ketika mendengar perkataan itu, jujur saja Zeana merasa tidak juga jika Daddy yang tampannya itu disebut tua.
Karena nyatanya Felix masih berlihat muda diumurnya yang menginjak kepala empat, apalagi ditambah dengan setatus dudanya . Semakin membuat Felix terlihat seperti Sugar Daddy.
"Awww...sakit." Rengek Jeano yang mengusap pelan tanganya yang tampak memerah sekarang.
Jeano tidak menyangkan bahwa Zeana menpunyai tenaga yang besar untuk mencubitnya, apalagi jika dilihat lebih detail cubitan tersebut mulai berubah menjadi membiru.
"Makannya jangan asal ngomong! Daddy tidak tua ya, malahan Daddy sangat tampan." Kata Zeana dengan wajah yang berbinar ketika membayangkan wajah Daddynya yang tidak kalah tampan dari Jeano.
Sedangkan kini Jeano yang tidak suka mendengar apa yang dikatakan oleh Zeana, meskipun Felix adalah Ayah dari Zeana tapi tetap saja Jeano tidak suka Zeana memuji pria lain didepannya.
"Jangan memuji pria lain didepanku! Aku tidak suka."
"Tetap saja aku tidak suka."
"Terserah." Acuh Zeana yang sudah lelah menghadapi salah satu sifat dari Jeano.
"Sayang! Jangan berkata seperti itu!" Marah Jeano, entahlah dia merasa tidak suka jika Zeana berkata acuh padanya.
"Iyaaaaa."
"Good Girl." Kata Jeano yang memberikan kedua jempol tangannya tepat didepan muka Zeana.
Keduanya terdiam sesaat, hingga akhirnya Jeano kembali bersuara. "Apakah kamu dapat berjanji padaku?"
"Berjanji apa?" Tanya heran Zeana.
"Berjanji untuk tidak bertemu lagi bahwa berbicara lagi dengan Nico."
"Aku tidak bisa berjanji seperti itu Jeano, karena bagaimanpun juga kita masih satu sekolah." Zeana sengaja menjeda perkataannya dan melihat bagaimana raut wajah Jeano, terbukti raut wajah Jeano terlihat mengelap. "Tapi aku akan berusaha untuk memenuhi janji ku pada mu." Lanjut Zeana yang mampu membuat Jeano bernapas lega.
"Dan jika suatu saat nanti ada malasah yang menghampiri hubungan kita, ku harap kita bisa menyelesaikannya bersama. Saling berbuka dan percaya satu sama lainnya. Serta tidak terbawa emosi, dan senantiasa mendengarkan terlebih dahulu penjelaskan yang hendak dikatakan. Janji?"
Setelah mengatakan itu Zeana mengacungkan jari kelingking pada Jeano, dan dengan cepat Jeano menyambutnya dengan saling mengaitkan jari mereka. "Janji."
Mereka berdua terus berlarut dalam suasana malam itu, tanpa memperdulikan orang lain yang menatap mereka dengan perasaan idi dan juga dengki.
"Gini amat nasih jomblo." Lirih Andra melihat kemesraan Jeano dan Zeana bersama yang lainnya.
"Dunia serasa milik berdua, yang lain mah cuman numpang aja." Tanpa sadar Bobby malah memeluk tubuh Andra saat mengatakan hal tersebut.
"Idihh..lo apa-apaan meluk gue segala?" Sentak Andra yang langsung mendorong tubuh Bobby agar manjauh darinya.
Yang tanpa sadar tubuh Bobby malah langsung terjatuh ketika didoromg cukup kuat oleh Andra. Tentu saja hal itu mengundang tawa semua orang yang ada disaana. "Hahahaha, anjir nyungsep tuh muka."
Mereka semua pun terus menikmat acara yang tanpa disadari waktu semakin larut, sehingga mengakibatkan Zeana menginap di rumah Jeano karena tentu saja dilarang Maura untuk pulang dan tidak dapat menolak.
***
Sedangkan ditempat lain Bi Julia sedang menginap dirumahnya karena merasa memiliki waktu luang, apalagi dengan tidak adanya Zeana dan Zero dirumah membuat tugas Bi Julia sedikit berkurang. Karena pada dasarnya tugas Bi Julia hanya menyiapan segala keperluan Zero dan juga Zeana, namun sesekali akan membantu tugas lainnya.
Tok tok tok
Bi Julia mulai mengetuk pintu rumahnya karena meskipun ini rumahnya tapi ada Sarah yang sekarang mengisi rumahnya, serta memegang kunci rumah ini.
Ceklek
Tidak lama langsung terlihat Sarah yang membukakan pintu dan menatap sedikit terkejut pada Bi Julia.
"Eh Bibi? Ayo masuk!"
Mereka berdua mulai masuk dan duduk diruang tamu, dengan Sarah yang lansung mengambil air untuk Bi Julia.
"Terimakasih." Ucap Bi Julia setelah meminum segelas air yang diberika oleh Sarah.
"Sama-sama. Apakah malam ini Bibi akan menginap dirumah?"
"Ya, karena pekerjaan Bibi tidak banyak dan sudah selesai. Titambah anak-anak sedang tidak ada dirumah sekarang."
"Memangnya kemana mereka berdua?"
"Sedang ada acara dirumah Den Jeano, dan sepertinya tidak akan pulang."
Sarahpun hanya dapat ber oh saja, dan tidak banyak bertanya lagi karena Sarah sudah tau yang dimaksud anak-anak dan orang bernama Jeano.
Karena sebelum-sebelumnya tidak jarang Bi Julia sering bercerita tentang anak dari majikannya, yaitu Zero dan Zeana. Serta Jeano tunangan dari Zeana, dan tidak jarang juga Bi Julia sesekali membawa nama Felix dalam ceritanya. Tapi jujur saja, Sarah hanya tau nama saja tidak dengan muka dari masing-masing nama tersebut.
Hal itu Bi Julia ceritakan pada Sarah hanya sekedar mencari topik pembicaraan dan juga saling bercerita hidup masing-masing. Serta mencoba mengalihkan dari kesedihan yang Sarah alami.
"Ouh iya Sar, kamu udah dapet kerjaan belum?" Seketika Sarah yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Bi Julia langsung overthinking.
Sarah pikir jika Bi Julia mau mengusirnya secara halus, mungkin Bi Julia tidak mau Sarah menumpang lagi dirumahnya.
"Belum Bi, ini juga masih nyari." Jawab Sarah dengan sedikit takut juga malu.
"Kalau gitu, kamu mau gak ikut kerja sama Bibi?"
Seketika raut wajah Sarah merubah menjadi berbinar menatap tidak percaya pada tawaran yang dikatakan Bi Julia.
"Mau Bi, mau banget."
"Tapi, gak papa kan cuman jadi pembantu aja?"
"Gak papa Bi, aku gak keberatan tentang itu. Yang penting kerjanya bener dan juga halal."
"Itu sih pasti. Dan lumayan juga buat kamu isi kegiatan sambil cari orang ada di mimpi kamu itu."
"Iya bener banget Bi. Makasih ya, dan maaf juga aku mengerepotin. Aku jadi gak enak sama Bibi, udah numpang eh sekarang malah sekalian dicariin kerja juga."
"Kamu ngomong apa sih? Bibi gak merasa direpotin sama kamu, malahan Bibi jadi seneng kamu pulang kesini. Semoga aja dengan kamu kerja disini, kamu jadi keterusan betah disini dan bakal sama-sama terus sama Bibi."
"Iya Bi, semoga aja."
"Dan semoga aja kamu juga dapat jodoh disini."
"Bibi ngomong apa sih? Gak ada jodoh-jodohan!" Tolak Sarah dengan langsung karena bagaiamanapun juga Sarah tidak terpikirkan lagi untuk menikah.
"Kamu gak boleh ngomong begitu! Siapa tau aja emang ada jodoh kamu disini? Jodoh yang dimana sampai tua akan sama kamu terus."
Sarah tidak mengatakan apapun lagi namun diam-diam dia ikut mengamini dalam hatinya.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.