
..."Kecantikan yang abadi terletak pada adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya."...
..._Buya Hamka...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
43. Peresmian Jeano dan Zero
Waktu terus berlalu, setelah Zeana memberikan nomer ponsel Mora pada Zero. Tanpa disadari dan diketahui banyak orang, jika hubungan Mora dan Zero semakin dekat.
Mereka berdua sering menghabiskan waktu berdua, entah itu dalam bidang bisnis maupun urusan lainnya.
Entah seperti apa awal kedekatan mereka, namun secara singkatnya mereka sudah saling dan akrab satu sama lainnya. Namun dengan status yang belum jelas, dimana keduanya sama-sama belum mengungkapkan rasa suka mereka masing-masing.
Tak jarang juga, keduanya bertemu ketika Mora yang berniat bertemu dengan Zeana. Namun pada akhirnya, malah Mora yang berurusan dengan Zero.
Kedekatan keduanya, hanya disadari dan diketahui oleh orang-orang rumah saja. Termasui Jeano juga, namun tidak dengan kedua orang tuan Jeano.
Jeano yang memang sering bertemu dengan Zeana, menyadari kedekatan Mora dan Zero. Yang tentu saja, pada awal Jeano mengetahui itu, Jeano malah meledek dan menggoda Zero secara terus menerus.
Namun pada akhirnya, baik keluarga Mora maupun Zero ikut mendukung kedekatan keduanya. Selain rekan kerja, secara tidak langsung kekeluargaan mereka juga bisa terjalin.
Mereka tidak pernah menanyakan status dari keduanya, karena sempat ditanya seperti itu mereka berdua hanya menjawab sebatas kenal saja dan juga rekan bisnis.
Entahlah, hanya mereka berdua yang tau.
Agenda kali ini adalah acara peresmian Jeano sebagai penerus dari Xiallen Grup, yang dimana jabatan Jeano akan setara dengan Zero juga.
Seperti biasa, acara akan diakan dengan berupa pesta kecil-kecilan. Dengan mengundang rekan kerja dan juga keluarga terdekat juga.
Namun bedanya, acara kali ini diadakan dimalam hari. Disalah satu restotan terbesar yang ada dikota tersebut, dengan dibawah naungan keluarga Melix yang memang senaungi bidang kuliner.
Acara tersebut diadakan pada jam 8 malam, sehingga tidak akan pulang terlalu larut malam. Karena takutnya, akan mengganggu waktu istirahat yang lainnya juga.
Hampir semua tamu satu persatu sudah datang, dari tamu inti dan juga tamu yang lainnya.
Namun, tanpa disadari ada satu orang yang terlambat datang dalam acara tersebut.
Begitu jam sudah menunjukan tepat pukul 8, acara pun dimulai. Seperti biasa, sambutan-sanbutan akan diberikan sebagai pembuka acara dan diakhiri dengan salam menutup.
Kini, satu persatu mulai memberikan selamat pada Jeano. Namun untuk sekarang bukan hal itu yang menjadi pusat dan topik utama pembahasan. Nyatanya, mereka semua malah tertarik dengan Zero yang baru saja datang bersama Mora.
Tentu, mereka semua bertanya-tanya akan hubungan Zero dan Mora yang sebenarnya. Apalagi dengan Zero yang tidak pernah terlihat dekat dengan seorang gadis, kecuali keluarganya saja.
"Selamat Bro," kata Zero yang berjaba tangan dengan Jeano dan juga saling menepuk punggung satu sama lainnya.
"Makasih. Btw, gak mau dikenalin dan dijelasin nih?" Goda Jeano yang menaik turunkan kedua halisnya. Tentu saja ucapan dari Jeano mendapatka dukungan dari orang lain yang juga penasaran.
Jeano yang pada dasarnya sudah tau kedekatan Zero dan Mora, kini ingin menbantu sahabatnya, sekaligus calon Kakak iparnya itu untuk menyatakan perasaannya.
Terkadang yang tidak disengaja dan tidak direncana, lebih baik.
"Nah iya, siapa nih?" tanya Andra yang memang tidak tau siapa Mora, karena dirinya baru pertama kali bertemu.
"Ayo, dong Kak enalin! Secepetnya resmiin, keburu sama orang lain." Zeana pun tidak mau kalah ikut mendesak Zero agar menberi tahu hubungannya dengan Mora pada halayak banyak.
"Kita akan tunangan." Singkat, padat dan jelas. Tapi mampu membuat semua orang yang ada disana dibuat terkejut, termasuk dengan kedua orang tua Zero juga.
"Weh, yang benar?"
"Benaran Kak?"
"Zer beneran?"
"Kau serius?"
Bertanyaan beruntun tersebut datang dari orang-orang sekitar yang memang ada disitu.
Zero hanya bisa menghela napas lelah, kemudian menatap satu persatu dengan seriur. "Beneran, setelah kepulangan orang tua Mora, pertunangan akan diresmikan."
Memang lokasi kedua orang tua Mora sekarang itu, sedang berada diluar kota. Hal ini juga, yang mengakibatkan Mora datang sebagai perwakilan dari keluarganya untuk menghadiri acar Jeano.
Sebelum kedua orang tua Mora pergi, keduanya menitipkan Mora pada Zero. Dan saat itu juga, tanpa diketahui oleh siapapun. Zero dengan mandirinya dan juga beraninya, menyatakan ingin meresmikan hubungannya dengan Mora ke jenjang yang lebih serius.
Tentu saja, kedua orang tuan Mora bahagia dengan hal itu. Siapa yang tidak kau mendapatkan menantu seperti Zero, yang sudah mapan dan tampan juga:)
"Weh, selamat juga Bro. Doa'in gue ya biar cepet ketemu jodoh juga, gue juga kan pengen kawin..."
Buggg
Aaww
Secara langsung Andra mendapatkan tendangan dari tulang kering sebelak kirinya, setelah menangatakan itu.
"Anji*g, sakit bego. Lo nendang kenceng banget, sangat tidak berperi ketemanan dan juga peri kecalon sepupuan." Ucap Andra sambil meringis menahan sakit dibagian kakinya, akibat tendangan Jeano
"Iya, Bang Andra ngomongnya kotor."
"Eh, enak aja gue ngomong kotor. Gue cuman ngomong kawin doang kok, gak lebih. Kalau ngomong kotor tuh kaya ngen-"
Dengan segera Jeano menbekap mulut Andra agar tidak dapat melanjutkan lagi perkataannya, yang mungkin saja dapat mencemari otak orang lain yang ada disana.
"-sial*n, gue enggap tau." kata Andra begitu terlepas dengan susah payahnya dari bekapan Jeano.
"Kamu beneran, sama apa yang kamu pilih?" Meninggalkan perdebatan antara Jeano dan Andra, kini Sarah sebagia Ibu sambung dari Zero mulai menatap dan bertanya dengan serius.
Zero pun tidak kalah memandang Sarah dengan pandangan serius, "Beneran Mah, Mamah pasti percaya sama aku kan?"
"Mamah percaya. Baiklah, jika sudah menjadi keputusan kamu begitu, kita hanya bisa ikut mendukung dan mendoakan yang terbaik saja."
"Ya, jika itu sudah menjadi keputusan mu, Daddy akan selalu mendukungnya."
"Makasih Mah, Dad." Secara langsung Zero memeluk tubuh Felix dan Sarah bergantian, tidak lupa membawa Mora untuk ikut berpelukan juga.
Jadi acara malam ini bukan hanya peresmian Jeano sebagai penerus perusahaan, tapi juga peresmian hubungan Zero dan Mora juga.
***
Terlepas dari acara itu, ada seseorang yang terlihat tidak suka dengan apa yang Zero katakan. Orang itu adalah Rara, sahabat Zeana.
Perlu diketahui, jika Rara sudah menyukai Zero saat masih kecil dan diperkuat saat memasuki usia remaja. Bahkan, sampai sekarang Rara masih saja menyukai Zero.
Bisa dibilang, Rara menyakai Zero dalam diam. Sifat Zero yang terlalu dingin membuat Rara engan untuk berdekatan lebih jauh dengan Zero, serta berpikir tidak akan bisa untuk itu.
Respon yang Zero berikan, seolah selalu membuat Rara sadar, jika Zero menganggapnya hanya sebatas sahabat dari Zeana saja tidak lebih.
Dan ini pertama kali juga, Rara melihat Zero dapat dengan mudah dekat dan suka dengan orang yang baru dikenalnya.
Jadi, apakah dirinya harus mengalah?
Saat sedang asik dengan lamunannya, Rara malah dikagetkan dengan tepukan kecil dibahunya. "Hei!"
Sontak saja Rara sedikit terkejut, dan melihat kearah asal suara. Terlihat Aqila yang memang sedari tadi berada disampinya, kini menatap Rara dengan wajah sedikit sedih.
"Kenapa?"
"Lo harus ikhlas ya, mungkin memang belum jodohnya."
Tentu saja Rara paham dengan benar perkataan dari Aqila, perkataan tersebut mengarah padanya.
Bisa dibilang, hanya Aqila yang mengetahui dan menyadari jika dirinya menyukai Zero. Sedangkan untuk Zeana, entahlah dia tidak bisa menebaknya.
Namun dari respon Zeana yang ikut senang ketika Zero berbicara tentang hubungannya dengan Mora, dapat disimpulan jika mungkin saja Zeana juga tidak mengetahui perasaanya pada Zero.
"Hmm..ya, mungkin dari awal kita emang gak akan pernah berjodoh." Rara mencoba tegar terhadap dirinya sendiri, meskipun pada kenyataannya dia ingin sekali menangis dengan kencang sekarang.
Aqila yang mendengarkan itu, tentu saja malah semakin sedih. Dia tahu sejak lama, bahwa Rara menyukai Kakak sepupunya itu. Namun sekarang, Rara malah mendapatkan ending yang buruk untuk urusan perasaannya.
Bisa dibilang, Rara sangat beruntung dalam urusan keluarga dan juga kariernya. Terlahir dari keluarga kaya raya dan juga memiliki otak yang cerdas.
Semua hal itu lancar dan juga berjalan dengan baik, namun mungkin sekarang Rara tidak beruntung dalam urusan percintaannya.
Aqila pun kembali mengusap punggung Rara, seolah menberi kekuatan untuk sahabat kecilnya itu. "Sabar ya, coba ikhlasin. Cowok diluar sama masih banyak yang belum berpawang."
"Lo pikir binatang buas berpawang?" Rara sedikit terkekeh kecil mendengar perkataan Aqila, dia tahu bahwa Aqila sedang mencoba menghiburnya.
"Hehehhe...kan orang-orang sering ngomong gitu. Atau lo mau sama Abang gue aja? Dia masih jomblo kok."
Tentu saja orang yang Aqila maksud adalah Andra, selaku Kakak kandung satu-satunya.
"Sekate-kate kalo ngomong."
"Ya gak papa kan, gue promosiin Abang gue sindiri. Dari pada malah galau mikiran ayang orang lain."
"Lo mendingan diem deh!!"
"Hehehe...maaf."
Perdebatan keduanya menbuat tidak menyadari, jika ada orang lain yang ikut bergabung bersama mereka. Lebih tepatnya, bergabung dengan Jeano dan Zero, serta yang lainnya juga.
"Loh, itu Kak Bobby bukan sih?"
"Apa?"
To Be Continue
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.