
..."Setiap orang mempunyai ceritanya masing-masing, setiap orang telah melewati yang membuat dia berubah. Jadi, tidak selayaknya kamu terlalu cepat menilai seseorang karena kamu tidak pernah tahu apa yang telah dilalui orang tersebut."...
..._Youth Mindset...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
๐ฑ
68. Alasan Tidak Suka Max
Khekm
Dengan sengaja Hans menbesarkan dehemannya dan membuat keluarga yang sedang berpelukan itu sontak saling melepasakan. Mereka semua mulai melihat siapa pelaku yang merusak suasana haru mereka, dan ternyata pelakunya hanya tersenyum merasa tidak berdosa.
Sontak Zero dan juga Felix langsung mengusap sudut mata mereka yang terlihat sedikit mengeluarkan air mata, mereka tidak mau orang lain melihat itu.
"Maaf, apakah aku mengganggu momen keluarga bahagia?" Hans sedikit mengeluarkan godaanya ketika sempat melihat kedua mata Zero dan Felix yang berkaca-kaca. Dan tentu saja kedua mata serta hidung Zeana terlihat memerah.
"Diam, jangan tertawa! Tidak ada yang lucu disini." Kata Felix memperingati Hans, apalagi setelah melihat Hans yang hendakan tertawa.
"Disini memang tidak ada yang lucu, namun hanya ada keluarga yang sedang menangis haru saja." Celetuk Hans yang langsung mengundang tatapan jatam dari Zero maupun Felix.
Tentu saja Hans tau bahwa keduanya akan marah, namun nyatanya Hans tidak merasa takut karena sudah kebal dengan tatapan tajam serta wajah datar dari keduanya.
Mendengar perkataan Hans membuat Zeana langsung melihat kearah Felix maupun Zero. Apakah benar yang dikatakan Hans, bahwa mereka menagis haru? Perasaan cuman dirinya saja yang menangis.
"Apakah Daddy dan Kak Zero juga ikut menangis?"
"Tidak!!" Secara cepat dan bersamaan Felix dan Zero menyangkal hal itu, keduanya langsung menggeleng cepat serta terlihat sedikit gugup.
Sedangkan Hans yang melihat itu kembali menahan tawa, "Kenapa tidak mengaku saja jika memang benar ikut menangis juga." Kata Hans yang hanya bisa dikatakan dalam hati saja.
"Tapi mata Daddy dan Kak Zero kelihatan merah. Kenapa itu?" Dengan polos Zeana malah menanyakan hal yang mereka ingin hindari.
"Sepertinya mata Daddy kemasukan debu, jadi mungkin sedikit memerah. Mungkin yang menangis itu adalah Kakakmu."
Sangkal Felix yang dengan cepatnya menemukam ide untuk menutupi hal yang mungkin akan sangat memalukan jika Zeana tau. Dan malah melempar tuduhan pada Zero agar Zeana tidak lagi bertanya padanya.
Tentu saja Zero yang mendapatkan tuduhan itu langsung tidak terima. Meskipun memang benar adanya, tapi tetap saja dia juga tidak ingin Zeana tau jika dia juga ikut sedih dan menitihkan air mata.
"Hei, mana ada. Mataku ha..."
Sangat terlihat Zero agak kesulitan untuk melanjutkan perkataannya, dilihat dari kedua matanya yang malah melihat keatas menandakan sedang berpikir.
"Ah, aku hanya terkena rambut Anna saja tadi. Jadi mataku memerah, dan aku tidak menangis!" Kata Zero yang menekan di akhir kalimatnya menadakan jika benar-benar serius dengan perkataannya.
Zeana yang mendengarkan hal itu hanya mengangguk percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Felix maupun Zero.
Sedangkan Hans yang melihat Zeana hanya mengangguk saja membuat dia menjadi gemas dan gregetan juga. "Kenapa Anda bisa menjadi sangat polos dan juga menyeramkan diwaktu yang berbeda Nona?" Lagi-lagi Hans hanya dapat membatin dengan hati dan pikirannya.
"Sudahlah, tidak usah bahas itu lagi. Daddy masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan sedikit lagi, dan kalau sudah selesai kita dapat makan siang bersama. Kalian berdua boleh melakukan apapun, tapi jangan membuat onar."
"Baiklah, aku akan mengajak Anna berkeliling saja. Dan nanti akan kesini lagi jika Daddy sudah selesai." Usul Zero yang dengan segera menarik tangan Zeana akan mengikutinya.
Tentu saja Zeana tidak akan menolak hal itu, lebih baik berjalan-jalan mengelilingi perusahaan dari pada harus berdiam diri diruangan tanpa melakukan apapun.
"Aku mau. Dah Dad semangat kerjanya, Aku pergi dulu." Sambil melambaikan tangan serta tersenyum sangat cerah Zeana berpamitan pada Felix.
"Iya, hati-hati." Jawab Felix yang juga ikut melambaikan tangan disertai senyuman tipis.
"Apakah, untuk saya tidak ada kata semangat juga Nona?"
"Ah, semangat juga Paman Hans. Kerja yang benar ya, agar tidak dimarahi Daddy." Kata Zeana dengan entengnya dan langsung keluar dari ruangan itu mengikuti langkah Zero.
"Dengat itu! Kerja yang benar, dan jangan membuat marah dengan selalu meledek orang lain."
Sedangkan Hans kini menjadi kesal sendiri dengan perkataan dari Zeana maupun Felix. Anak dan Ayah itu sama-sama membuat Hans jadi kesal.
"Cepat, mana berkasnya?"
"Ini Tuan."
Mereka berduapun kembali disibukan dengan pekerjaan mereka sedangkan Zero dan Zeana tanpa sedang menikmati acata tour dadakan yang mereka buat.
***
Kini berpindah kepada Zero dan juga Zeana yang sangat menikmati acara jalan-jalan menggelilingi perusahaan tersebut.
Hampir setiap sudut ruangan Zero dan Zeana singgahi, dan tentu saja hal itu membuat para keryawan menjadi keta-ketir. Semua karyawan pikir jika Felix mengirim Zero dan juga Zeana untuk memantau setiap kinerja mereka.
Jadi secara mendadak mereka menjadi rajin dan tidak leha-leha, meskipun memang setiap hari mereka selalu bekerja dengan benar, dan juga rajin. Namun untuk kali ini lebih fokus dan bersungguh-sungguh lagi.
Dan tidak sedikit pula ada karyawan yang mukanya berubah menjadi khawatir dan juga gelisah melihat setiap bergerakan yang Zero dan Zeana lakukan.
Tapi pada kenyataannya mereka tidak tau saja jika Zero hanya mengajak Zeana berkeliling saja tidak ada maksud lain.
"Ouh iya Kak, apakah itu kantin?" Tunjuk Zeana pada suatu ruangan yang sangat besar serta terlihat berjejer stand makanan, tidak lupa wangi makanan yang sedikit semerbak keluar.
"Iya, itu kantin. Kenapa?" Jawan Zero menbenarkan perkataan Zeana.
"Tidak ada, hanya memastikan saja. Apakah aku boleh makan disana?"
"Tidak. Jangan makan disana!"
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak! Daddy tidak akan mengizinkan kita untuk makan disana."
"Tapi aku sangat ingin makan disana juga, aku ingin mencoba makanan yang ada diperusahaan Daddy." Terlihat wajah sedih Zeana yang menbuat Zero tidak tega melihatnya.
Apalagi pada Zeana yang baru saja sembuh, Felix begitu memperhatikan apa yang boleh dimakan oleh Zeana. Dan tidak jarang juga Felix selalu mengganggu Dokter Bian untuk menanyakan apa saja yang boleh dimakan oleh Zeana.
"Baiklah, kita tanya Daddy dulu nanti. Jika boleh, barukita akan makan siang disana."
Sontak saja perkataan Zero membaut Zaana tersenyum kembali dan dia akan mencoba membujuk Felix agar mengetujui keinginanya.
Baru saja akan melangkah untuk melanjutkan perjalanan mereka, namun terlebih dahulu ponsel Zeana berdering dan mengurungkan langkah mereka.
"Halo."
"Halo, kamu dimana?"
"Aku sedang diluar."
"Diluar dimana? Dengan siapa?" Cerosos orang yang ada disembrang telepon tersebut.
Sebelum Zeana akan menjawab terlebih dahulu Zero bersuara. "Ayo, sambil jalan bicaranya!"
"Apakah kamu bersama Zero?"
"Iya Jeano, aku bersama Kak Zero."
"Dimana?"
"Kantor Daddy."
"Kenapa tidak mengajak ku?"
"Tidak terpikirkan untuk mengajakmu."
"Kamu jahat sekali tidak ingat aku, padahal aku selalu mengingatmu kapanpun dan dimanapun." Kini terdengar nada merajuk dari Jeano, sudah dapat Zeana bayangkan bagaimana wajah cemberut Jeano yang sangat menggenaskan.
"Bukan seperti itu, aku saja tadi diajak Kak Zero. Bukan murni keinginan ku sendiri."
"Tetap saja kamu juga tidak mengabari ku jika ikut Zero kekantor."
Zeana yang mendengarkan itu hanya bisa menghela napas lelah, sungguh jika seperti ini Jeano selalu tidak maun kalah.
"Jadi sekarang apa yang kamu mau?"
"Tentu saja aku akan menyusulmu."
"Baiklah kesini saja. Hati-hati saat dijalan Jeano!"
"Oke. Bye."
"Bye."
Tut
Panggilanpun terputus, melihat Zeana yang sudah tidak berbicara lagi membuat Zeropun bersuara.
"Jeano?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan dia?"
"Dia akan mengusul kesinu juga?"
Zeana mengangguk pelan, mereka berduapun terus berjalan sambil menunggu Jeano datang.
***
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya di perusahaan yang cukup besar namun tidak sebanding dengan perusahaan yang Felix serta Reno punya.ย
Max Maxime, seseorang yang mempunyai dan mengelola perusahaan itu. Suasana hati Max begitu buruk setelah bertemu Zero tadi, apalagi ditambah dengan ucapan tidak sopan yang Zero berikan padanya.
"Sungguh Anak tidak sopan. Kenapa hari ini aku harus bertemu dengannya?" Ucap Max dengan sedikit marah.
Sungguh dari dulu hingga sekarang Max tidak pernah suka dengan Zero dan begitupun sebaliknya.
Max masih memikirkan hal apa yang membuat Zero sangat menbencinya dari dulu, karena yang dia rasa tidak pernah sedikitpun mengusuk kehidupan Felix dan keluarganya.
Karena hampir semua orang segan dan tau bahwa mencari masalah dengan keluarga Amderson sama saja dengan mencari mati saja.
Jadi, diri pada membuat musuh lebih baik berteman saja. Hal itu yang juga di pakai oleh Max, dia dengan keras selalu mempertahankan kerja samanya dengan perusahaan milik Felix.
Max tidak tahu saja, alasan dibalik Zero tidak menyukainya karena sifatnya sendiri. Max menpunyai sifat serakah dan juga suka menjilat orang-orang agar tau bahwa dia hebat dan dapat diakui juga oleh orang lain.
Max lebih terlihat banyak omong dan selalu melebih-lebihkam kata jika sedang memuji seseorang agar dapat menguntungkan untuknya.
Dan itu juga yang tidak disukai oleh Zero, karena orang seperti itu tidak lebih dari seorang pembodong yang berkedok baik.
Zero yang sudah dari kecil sering ikut keacara pertemuan para pebisnis bersama Felix, tentu saja akan mengenal Max.
Dan Zero kecil yang memang sangat cerdas selalu memperhatikan setiap karakter orang-orang yang ada diacara itu.
Serta disisi lain memang tuntutan agarย nanti Zero tau, bagaimana sifat-sifat orang yang bekerja sama dengan perusahaan milik Felix yang nanti jadi milik Zero juga.
Sudah beberapa kali Zero pernah meminta pada Felix untuk memutuskan kerja sama dengan perusahaan Max, namun nyatanya tidak bisa.
Karena bagaimanapun kinerja dari perusahaan Max mampu untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Felix, sehingga tidak ada alasan untuk memutuskan kerja sama itu.
Itulah sebenarnya yang menjadi alasan kenapa Zero tidak menyukai Max, dan memang sampai sekarang sifat Max tidak pernah berubah.
Serta disisi lain Zero tidak akan segan-segan bersikap tidak sopan dengan orang yang tidak disukainya apalagi jika orang itu munafik.
Namun nyatanya masih ada rahasia yang tidak diketahui orang banyak tentang seorang Max Maxime.
Hai hai๐๐๐
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.