Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 90



..."Membenci dan mencemburui masa lalu adalah hal yang melelahkan. Kita takkan pernah bisa mengubahnya, kita hanya bisa belajar darinya."...


..._Fiersa Besari...


...-IDK...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


90. Berkunjung Ke Kantor Daddy


Setelah ungakapan yang begitu mengejutkan semua orang wakti itu, kini mereka semua sudah menerima Zeana apa adanya. Mau itu Zeana ataupun Riana sekalipun.


Dan hubungan mereka semua kembali rukun seperti biasa, malahan sekaranh jauh lebih harmonis dari sebelum-sebelumnya.


Contohnya hubungan Sarah dan keluarga barunya kini semakin dekat. Baik dengan Felix maupun kedua anaknya.


Tidak lupa dengan keadaan Sarah yang tengah mengandung, sering kali ada hal yanh disebut ngidam yang dialami olehnya. Seperti sekarang, Sarah sedang ngidam untuk mengunjungi kantor Felix dengan ditemani oleh Zeana.


Entah apa yang hendak Sarah lakukan nantinya, pokonya dia begitu sangat ingin melihat bagaimana Felix bekerja menghasilkan pundi-pundi uang yang banyak.


Karena keiginan bumil yang tidak boleh tidak dilaksanakan, akhirnya Zeana dengan suka hati mememani Sarah menuju kantor Felix. Yang memang kebetulan Zeana sedang libur sekolah karena kelas 12 sedang mengadakan Ujian Nasional.


Sudah biasa bukan, jika kelas 10 dan 11 akan diliburkan. Sedangkan untuk kelas 12 sedang mati-matian berjuang untuk dapat lulus dengan nilai yang memuaskan.


Hal itu juga yang menyebabkan Sarah memaksa Zeana untuk ikut karena memang hanya Zeana yang dengan free untuk sekarang.


Kini keduanya sedang dalam perjalanan, dengan mobil yang dikemudiakan oleh Paman Tono tentunya. Disetiap perjalanpun tidak begitu banyak obrolan, namun sesekali Sarah dan Zeana akan berbicara.


Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama, kino keduanya sudah sampai didepan perusahaan Felix dan dengan segera juga mereka berdua masuk kedalam.


"Paman Tono langsung pulang saja, nanti ketika mau pulang aku akan kabari lagi." Sebelum benar-benar pergi Sarah terlebih dahulu berbicara pada Paman Tono.


"Siap."


Dengan segera Paman Tono meninggalkan perusahaan dan kembali menuju rumah.


Sarah dan Zeana pun mulai melangkah memasuki perusahaa. Tentu saja begitu masuk banyak yang menyapa mereka berdua, tapi sepertinya lebih kearah Zeana saja karena memang pernikahan Felix dan Sarah belum banyak diketahui oleh publik, termasuk para karyawan.


"Selamat siang Nona muda." Sapa salah satu karyawan ketika Zeana dan Sarah berjalan menuju ruangan Felix.


"Siang juga." Jawab Zeana yang tidak lupa disertai dengan senyuman.


Akhirnya mereka berdua telah sampai tepat lantai, dimana ruangan Felix berada. Serta dapat dilihat juga jika Felix seperti sedang mengobrol dengan seseoranng tepat didepan pintu ruangan.


Dengan segera keduanya mengahampiri Felix dan seseorang itu. "Daddy?" Panggil Zeana yang mampu menbuat Felix membalikan badannya dan menghadap Zeana.


"Eh, sudah sampai?"


"Sudah Dad."


Kini Zeana mulai melihat kearah orang yang sedang mengobrol bersama Daddynya karena jujur saja dari arah belakang tidak terlihat siapa orang yang sedang bersama dengan Felix.


Kini Zeana dapat dengan jelas siapa orang tersebut, kalau tidak salah tebak orang itu adalah orang yang pernah Zeana temui sebelumnya.


"Om Max? Oh-hai." Ucap Zeana yang sedikit terkejut melihat siapa orang yang berada didepannya ini.


Keterkejutan Zeana dapat teralihkan, dengan kini Felix yang memperhatikan Sarah yang sedang memegangi pinggangnya.


"Ayo masuk kedalam! Kamu pasti lelah berjalan dari bawah kesini." Kata Felix yang terus memperhatikan Sarah dengan baik, serta selalu khawatir takut terjadi apa- apa pada Sarah dan bayinya.


Tentu saja hal itu langsung diangguki oleh Sarah karena apa yang dikatakan olah Felix benar adanya. Memasuki usia kandungan yang sudah sangat besar, membuat Sarah menjadi cepat letih.


Contohnya seperti sekarang ini, meskipun berjalan menggunakan lift tetap saja Sarah merasa sukup letih. Untuk sekarang memang pergerakaan Sarah sangat terbatasi dan juga sangat sulit.


Sontak apa yang dikatakan oleh Felix mengundang perhatian Max untuk melihat dengan siapa Felix berkata. Apalagi ditambah nada penuh perhatian dan juga kekhwatiran yang terucap dari Felix, semakin membuat penasaran.


Merasa masih ada hal yang harua diurus terlebih dahulu, kini Felix kembali menatap Max. "Saya rasa urusan ini cukup disini. Anda dapat menanyakan hal lain pada Hans nantinya."


"Baiklah, kalau begitu. Saya akan tanya asisten Hans nantinya, jika ada hal yang memang perlu saya tanyakan. Senang dapat selalu bekerja sama dengan anda Tuan Anderson."


"Saya juga Tuan Maxime."


"Kalau begitu saya pamit."


"Ya, silahkan.


Saat Max ingin bertanya siapa orang yang sedang berbicara dengan Felix, namun sayangnya perhatian Felix sudah kembali pada Sarah. Sehingga mengurungkan niat Max untuk bertanya, lagi pula Felix tidak suka diusik dengan urusan pribadinya.


"Ayo masuk." Ajak Felix sambil mengandeng tangan Sarah untuk dapat membantu jalan Sarah yang memang sudah melambat.


Saat hendak masuk pandagan Max dan Sarah bertemu. Keduanya hanya terdiam dengan keterkejutan mereka. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan oleh keduanya.


Dan tentunya Zeana melihat bagiamana cara Sarah dan juga Max saling pandang. Rasanya keduanya merupakan 2 orang yang saling kenal, namun sudah lama tidak bertemu. Tapi untuk sekedar menyapa pun enggan karena dapat Zeana lihat ada ekspresi terkejut dan juga marah dari Sarah menatap Max.


Sedangkan tatapan yang Max tunjukan tidak jauh dari Sarah, namun ekpresi Max hanya terkejut saja.


Tatapan tersebut harus terputus karena Felix yang menarik Sarah untuk masuk kedalam, tanpa sadar dengan tatapan Sarah dan Max yang sempat bertemu. Namun ketika Felix dan Sarah sudah masukpun, Max masih tetap menatap kearah mereka lebih tepatnya pada Sarah.


Tentu saja semua terekam sempurna oleh penglihatan Zeana karena memang secara sengaja Zeana belum ikut masuk ketika melihat tatapan Max tadi.


"Aku pamit masuk Om." Ucapan Zeana yang tiba-tiba dapat mengejutkan dan mengalihkan perhatina Max.


Kini Max menatap Zeana dengan masih sedikit terkejut. "Ya, silahkan Zeana."


Tanpa banyak kata lagi Zeana masuk kedalam rungan Felix, meninggalkan Max sendirian yang masuk terkejut dengan pertemuannya dan Sarah.


"Apakah benar itu dia? Dia sangat mirip dengan seseorang. Kalau benar itu dia, kenapa bisa bersama Felix?" Gumam Max dalam hatinya serta pikirannya yang kini bertanya-tanya.


Cukup lama terdiam didepan ruangan Felix, akhirnya Max berjalan meninggalkan ruangan tersebut tentunya dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. "Sebaiknya aku segera selidiki hal ini." Ucap Max yang hanya dapat didengar olehnya saja.


Dengan sedikit berlari Max segera berjalan keluar. Dia tidak sabar untuk menjalankan rencanya agar dapat mencari informasi tentang Sarah secara lebih lanjut.


...To Be Continue...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.


See you next part.