Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 23



..."Ada saatnya kamu cape dan harus berhenti sejenak. Menghela napas, menangis, berkeluh kesah, itu bukan pertanda tidak bersyukur. Kamu cuman sedang jadi manusia. Kalau sedih udah beres, jangan lupa lanjutin hidup."...


..._Fiersa Besari...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱



Wanita Berkulit Hitam



Sebelum benar-benar pulang, Zion menangih janjinya untuk membeli terlebih dahulu coklat yang dirinya mau. Harus sama persis seperti yang Mora berikan padanya.


Dan dengan sabar juga, Zeana menuruti keinginan dari adiknya itu. Keduanya mulai memasuki salah satu minimarket yang letaknya tidak jauh dari sekolah Zion berada.


Dari awal masuk, Zeana selalu memegang tangan Zion agar tidak hilang. Satu tangan memegang tangan Zion, dan satunya lagi memegang keranjang. Keduanya mulai berjalan menelusuri setiap rak-rak makanan yang ada.


Sampailah pada bagain, makanan manis. Seperti permen, coklat dan masih banyak lagi beragam jenis makanan yang sangat menarik pergatian. Terutama bocil seperti Zion ini.


"Ini Kak, aku mau coklat ini." Pekik Zion begitu dirinya menemukan coklat yang serupa dan sama persis seperti yang Mora berikan.


Dengan segera Zeana mengambil coklat tersebut, beberapa buah. "Jangan dimakan semuanya ya! Buat nanti lagi." Peringat Zeana sebelum memberikan coklat tersebut pada Zion.


Dan Zion hanya mengangguk saja, lalu menyimpan coklat tersebut pada keranjang. "Apa ada lagi yang ingin dibeli?"


Tidak mungkin kan? Jika hanya membeli beberapa buah coklat saja, rasanya kurang nyaman saja saat akan membayarnya nanti.


"Es krim?"


"No! Tidak ada es krim, jika ingin coklat." Tolak Zeana dengan cepat, dirinya tidak akan membiarkan Zion makan coklat, permen atau es krim secara persamaan.


"Cookies boleh?"


"Ya, tentu. Ingin yang mana?"


Zion pun menunjuk salah satu cookies yang berjajar rapi dalam rak itu. Namun letaknya berada pada bagian atas, sehingga Zion merasa tidak akan bisa umtuk menjangkaunya. "Itu Kak, aku mau itu juga."


Zeana dengan segera mengambil cookies yang Zion tunjuk, sekalian juga Zeana mengambil roti yang berada disebelah rak kookies tersebut.


"Rotinya untuk siapa? Aku tidak mau roti."


"Untuk Kakak. Ayo kita cari minumnya sekalian!" Mereka berdua mulai berjalan menuju stand minuman.


Dimana tempat tersebut adalah tempat kramat yang dimana kebanyakan orang akan sangat bingung, jika sudah berada tepat didepan tempat itu.


Mungkin karena saking banyaknya jenis minuman yang beragam, juga rasa yang beragam. Membuat semua orang bingung untuk memilih minuman apa yang hendak dibeli.


Tapi berbeda dengan Zeana, dirinya tanpa harus menunggu lama dan bingung. Zeana akan segera mengambil sekotak susu dengan varian rasa Taro. Minuman dan rasa kesukaannya.


Begitu pula dengan Zion, entah hanya ikut-ikutan. Zion juga menginginkan minuman yang sama seperti punyanya.


Setelah dirasa cukup, dengan segera keduanya menuju kasir untuk membayar. Karena suasana yang cukup ramai, membuat mereka harus sedikit mengantri untuk membayar.


Secara kebetulan, orang yang mengantri tepat dibelakang Zeana dan Zion adalah seorang perempua yang berkulit hitam. Sehingga orang tersebut menjadi pusat perhatian para pengunjung, termasuk juga Zion.


Zion yang sedadi tadi terus saja melihat kearah belakang, dan memandang lekat pada orang itu.


Terasa, jika Zion menarik baju Zeana pelan. "Kak, lihat orang itu!"


Sedangkan Zeana yang sudah paham dengan kondisi tersebut, tidak merespon perkataan Zion. "Hustt..diam Zion, dan jangan terus melihat kebelakang!" Kata Zeana yang mencoba membenarkan letak kepala Zion, agar melihat kearah depan.


Namun nyatanya, Zion malah kembali menengok kearah belakang mereka. "Lihat Kak! Ibu itu memiliki kulit yang sangat hitam."


Sontak perkataan yang dengan mudahnya meluncur dari mulut Zion, membuat orang-orang semakin melihat kearah mereka. Apalagi suara Zion yang cukup besar juga.


"Zion! Tidak boleh berkata seperti itu, Ibu itu juga adalah manusia. Kam-"


"Tapi dia terlihat sangat unik Kak. Lihat! Dia selalu menjadi perhatian semua orang, bukannya hal itu merupakan hal yang sangat bagus bukan?"


Perkataan selanjutnya dari Zion mampu membuat semua kagum mendengarnya. Benar, tidak apa menjadi berbeda dari orang lain.


"Is he your child?" Tanya wanita itu dengan bahasa asing, mungkin wanita itu salah satu wisatawan dikota itu.


"No, he is my younger brother." Ucap Zeana disertai dengan senyuman juga, tidak lupa tanganya yang mengusap kepala Zion.


"Sorry, I think he's your child."


"It's okay. And sorry, for the words of my younger brother just now." Zeana rasa dirinya harus segera meminta maaf atas perkataan Zion yang sebelumnya pada wanita itu.


Wanita itu pun langsung menggeleng kan kepalanya, tidak lupa kedua tangannya yang melambai seolah berkata tidak. "No need to apologize too. After all, I was also happy to hear his words. He is very handsome and funny."


"Thank you for the praise."


"No problem."


Percakapan tersebut harus terhenti ketika, kini giliran Zeana untuk membayar belanjaannya.


Dengan segera Zeana membayarnya dan berpamitan pada wanita yang mungkin saja umurnya sama dengan Sarah. "It looks like we have to separate here, nice to meet you."


"Nice to meet you to."


Mereka pun harus berpisah di minimarket tersebut, dengan segera juga Zeana dan Zion kembali masuk kedalam mobil. Mobil tersebutpun mulai melaju menuju rumah untuk pulang.


***


Entah mengapa perjalana pulang kerumah semakin lama saja. Jalanan yang Zeana lalu tadi, semakin bertambah macet parah karena ada sebuah kecelakaan yang terjadi didepannya.


Mengakibatkan arus jalan harus tersendat-sendat, sehingga mengakibatkan macet yang cukup panjang.


Zeana dan Zio harus bersabar untuk sampai rumah, untung Zion bukanlah orang yang suka rewel jika bersama Zeana.


Keduanya cukup penikmati perjalanan macet tersebut, dengan camilan yang mereka beli tadi.


"Tadi Kakak bicara apa saja dengan Ibu tadi? Dan bahasa apa itu?" Tanya Zion yang merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Zeana dan wanita tadi. Ditambah dengan bahasa yang tidak dipahami oleh otak kecil Zion itu.


"Itu namannya Bahasa Inggris."


"Aku juga mau belajar bahasa itu." Zion rasa, terlihat keren ketika Zeana mengobrol dengan menggunakan bahasa Inggris tadi.


"Iya, nanti kita belajar bersama."


"Tapi, kuu juga mau belajar sepatu roda juga Kak."


"Kenapa tiba-tiba ingin belajar sepatu roda?"


"Karena Geo dan Gion juga sedang belajar bermain sepatu roda. Jadi aku juga mau, agar tidak ketinggalan dari mereka."


Zeana mengangguk paham. Biasa, anak kecil akan selalu ikut-ikutan ketika melihat anak lain bermain atau belajar sesuatu.


"Emang kamu punya sepatu rodanya?"


"Tidak."


"Lah, terus giman dong?"


"Aku akan minta Mamah untuk belikan nantinya."


Seketika Zeana dibuat heran oleh perkataan Zion. Tidak seperti biasanya, Zion akan meminta pada Sarah. Karena biasanya, Zion akan meminta dibelikan sesuatu yang mahal itu kepada Felix atau Zero. Bukan kepada Sarah ataupun dirinya.


"Kenapa tidak minta dibelikan pada Daddy?"


"Eh-apakah Kakak tidak tahu? Daddy tidak punya uang untuk membeli sepatu roda ku. Jadi, apakah sekarang Daddy jatuh miskin?"


"Apa?!"


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.