
..."Kamu harus mencari orang yang bisa menemanimu seumur hidup. Carilah orang yang tidak akan melepaskan tanganmu dalam keadaan apapun."...
..._IDK...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
38. Siapa Anna?
Part ini masih lanjutan dari cerita kemari ya, dimana Jeano sama Zeana awal ketemu. Bisa dibilang kita flashback dulu untuk part ini.
***
Jeano masih terus melihat bagaimana Zeana yang ditarik oleh Zero menuju sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari danau itu. Tubuh Zeana yang sudah mulai tidak terlihat karena sudah memasuki mobil dan berjalan meninggalkan danau tersebut.
"Kenapa aku tidak menanyakan rumahnya? Eh apakah dia akan tau dimana rumah dia berada? Tapi setidaknya aku harus tau nama panjangnya, agar lebih mudah untuk menemukannya kembali." Jeano merutuki dirinya sendiri yang hanya mengetahui Zeana dari namanya saja.
Lalu bagaimana dia akan kembali bertemu? Entahlah, dia akan berbicara pada Ayahnya supaya membantu untuk menemukan informasi tentang Zeana.
Jeano lekas berlari dari danau itu menuju rumahnya, yang memang sebenarnya danau tersebut tidak jauh dari rumahnya bahkan dari rumah Zeana. Danau tersebut terletak antara rumah Jeano dan Zeana.
"Ayah. Ayah." Jeano terus berlari kesana-kemari untuk mencari Ayahnya yang entah sedang dimana. Kenapa akan sangat sulit dicari ketika sangat dibutuhkan?
"Hei Jeano! Tidak usah teriak-teriak Nak." Bunda dari Jeano yaitu Maura menangkap tubuh Jeano agar diam dan tidak berlarian serta berteriak-teriak.
"Kenapa barteriak mencari Ayah?" Maura dapat melihat banyak sekali keringat dibercucuran dari tubuh Jeano. "Dan dari mana kamu? Kenapa sangat berkeringat seperti ini?"
Jeano terlihat sedang mengatur napasnya yang ngos-ngosan, dia terlalu bersemangat sampai terus berlari tanpa menghiraukan jarak yang dia tempuh.
"Bunda dimana Ayah?"
"Ayah masih dikantor. Kenapa mencari Ayah?"
Seketika Jeano tersadar bahwa ini masih sangat siang dan pasti Ayahnya masih dikantor untuk bekerja, kemungkinan dia harus menunggu sampai sore jika ingin berbicara dengan Ayahnya.
"Aku ada hal yang ingin dikatakan pada Ayah."
"Apakah sangat penting sampai kamu harus berteriak dan berlarian seperti itu?" Heran Muara menatap tak percaya Anak semata wayangnya itu. Sangat tumben sekali Jeano mencari Ayahnya sampai segitunya.
Karena Jeano tidak terlalu dekat dengan Ayahnya, bisa dibilang Jeano selalu bertengkar dengan Jeano, apalagi jika menyangkut Muara. Mereka sama-sama akan keras kepala serta manja jika dengan orang yang sangat disayangi. Tak jarang kadang Maura kewalahan jika 2 pria yang dia miliki dan sayangi sedang bertengkar.
Tapi bukan berarti Jeano tak menyayangi Ayahnya, Jeano sangat menghormati serta menyayangi kedua orang tuanya. Namun Jeano lebih dekat dengan Bundanya dibanding dengan Ayahnya.
"Iya, sangat penting Bunda. Ini menyangkut tentang Anna Bunda."
"Siapa Anna?"
"Dia akan menjadi seperti Bunda nantinya."
"Tunggu bagaimana maksudnya? Coba jelaskan secara rinci!"
"Nanti setelah aku besar, dan Anna juga sudah besar. Kita akan seperti Ayah dan Bunda."
"Maksudmu menjadi suami istri?"
"Iya, seperti itu."
"Kamu tidak bisa seperti itu Jeano, kamu masih terlalu kecil!!"
"Aku tidak bilang sekarang Bunda, tapi nanti setelah besar dan tinggi seperti Ayah."
Sedangkan Maura sudah tidak bisa berkata-kata lagi, anaknya memang terlewat pintar di usiannya yang masih 5 tahun. Entah harus bersyukur atau sedih. Dia bersyukur anaknya bisa tumbuh dengan baik bahkan sudah mampu membaca dan berhitung dengan lancar diumurnya yang masih dini.
Namun terkadang dia juga lelah harus menghadapi pola pikir Jeano yang tidak seperti Anak lain seusianya. Dia harus dengan teliti dan jeli menjelaskan apa yang ingin Jeano kecil ketahui karena memang pada dasarnya Jeano adalah anak dengan rasa keingintahuan yang sangat tinggi serta cepat tanggap.
"Memangnya Anna itu siapa dan seperti apa? Sampai kamu ingin menjadikan dia istrimu nanti." Maura sangat ingin tahu siapa yang mampu menarik perhatian anaknya itu, karena yang Maura ketahui Jeano akan selalu bermuka datar serta menatap dingin jika bertemu dengan orang asing.
"Anna itu sangat cantik seperti Bunda. Dia sangat baik namun juga bodoh."
"Heh ucapanmu! Tidak boleh mengatakan orang lain bodoh Jeano, itu tidak baik." Tegur Maura dengan cepat pada Jeano, bisa-bisanya dengan mudah Anaknya mengatakan orang lain bodoh.
"Tapi memang benar Bunda. Dia tidak tau artinya Kakak kandung, tidak tahu orang tua, tidak tau yatim piatu. Semua itu dia tidak tahu, bahkan berhitungpun dia masih salah."
Maura meringis pelan mendegar apa yang dikatakan oleh Jeano. Itu bukan karena gadis kecil itu bodoh, namun itu karena Jeano yang terlalu pintar. Memang anak kecil mana yang membahas hal itu? Biasanya anak kecil akan bermain serta belajar dari hal dasar terlebih dahulu, seperti mengenal huruf dan angka.
"Dia tidak bodoh Jeano, namun dia masih belum belajar banyak untuk mengenal itu semua. Dia hanya perlu belajar dengan benar supaya nanti dia akan bisa dan tau." Jelas Maura mencoba untuk menjelaskan pada anaknya supaya nanti Jeano tidak akan asal menyebut orang lain dengan sebutan bodoh.
"Jadi nanti dia juga akan pintar seperti ku?"
"Tentu saja, apalagi dia cantik kan? Pasti setelah besar nanti dia akan sangat cantik, dan banyak pria yang menyukainya."
Ucapan terakhir Maura membuat Jeano marah seketika, dia tidak suka dan tidak akan membiarkan Zeana menjadi orang lain.
"Dia akan selalu bersama ku Bunda, tidak dengan orang lain. Jadi meskipun banyak yang menyukainya, aku adalah orang yang akan mendapatkannya." Kata Jeano dengan raut wajah yang sungguh-sungguh serta tatapan yang berubah menjadi tajam.
Maura yang melihat itu sontak saja kaget dengan anaknya, sifatnya sama persis dengan dirinya serta suaminya yang jika ingin sesuatu pasti akan berusaha untuk mendapatkan hal itu. Meskipun harus berjuang sekuat tenaga, serta banyak rintangan yang harus dilewati. Ibarat jika berkata Ya, tidak akan bisa diubah dan goyah.
"Hm baiklah. Tapi jika Anna tidak mau, kamu tidak boleh memaksanya!"
"Anna pasti akan mau Bunda, aku kan sangat tampan." Dengan penuh percaya diri Jeano membanggakan wajah tampanya.
Gak papa sih, percaya diri itu harus. Namun tau diri jauh lebih penting.
"Baiklah, selamat berjuang."
"Terimakasih Bunda, tapi aku tidak tau dimana rumah Anna berada."
"Lah kok gitu?"
"Karena aku tidak sempat untuk bertanya. Saat ingin bertanya, dia malah sudah ditarik pulang oleh Kakaknya." Kini raut wajah Jeano berubah menjadi kesal saat mengingat Zeana yang diseret oleh Zero.
"Lalu bagaimana kita mencarinya?"
"Ayah. Aku akan bilang pada Ayah, agar mencari Anna." Seketika wajah yang tadinya kesal berubah menjadi sangat berbinar bahagia, seolah telah menemukan solusi untuk masalahnya itu.
Jeano tidak tau saja jika hal itu akan sangat merepotkan bagi Ayahnya, memang Ayahnya seorang cenayang yang akan tau semua hal?
"Selamat atas penderitaan yang menunggumu suami ku. Kini giliran mu yang harus mengurus anak kita yang terlewat pintar ini." Batin Maura miris membayangkan nanti wajah frustasi Suaminya atas permintaan dari Jeano.
"Yasudah, kita tunggu Ayah pulang dulu ya. Baru setelah itu bisa bertanya pada Ayah. Sekarang bersihkan dulu tubuh penuh keringarmu itu, supaya tetap tampan."
"Baik Bunda."
Jeanopun langsung menaiki lantai atas dimana kamarnya berada dan langsung membersihkan diri. Sedangkan Maura menggelang pelan melihat sifat Jeano yang satu ini.
***
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, kini Ayahnya Jeano yaitu Reno baru saja pulang dari pekerjaanya tepat pada jam makan malam.
Mereka semua sudah siap hendak memakan makanan mereka dengan tenang seperti biasa tanpa ada suara apapun karena memang sudah kebiasaan dan melarang berbicara saat makan.
Dan ketika selesai barulah Jeano berulah yang aka membuat emosi orang lain.
"Bukannya Jeano ingin mengatakan sesuatu pada Ayah?" Maura dengan baik hati mengingatkan Jeano tentang Anna, namun sebenarnya Maura tidak mau ikut pusing memikirkan tentang gadis bernama Anna itu.
"Mengatakan apa?" Tanya heran Reno, tumben sekali purtanya ini ingin berbicara dengannya karena biasanya mereka akan selalu bercanda dan bertengkar.
"Mau minta maaf? Ah, tidak perlu Jeano Ayah kan seorang pemaaf. Atau mau minta uang?"
"Tolong cari Anna!"
Seketika Reno langsung mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeano.
"Siapa Anna? Anna adiknya Elsa?"
"Bukan, Anna itu manusia bukan kartun!"
"Lalu Anna mana yang dicari?"
"Anna yang bersama ku didanau tadi siang. Aku ingin tau dimana rumahnya, jadi Ayah carikan dimana rumah Anna!!"
"Hei Bocah. Memangnya Ayah tau, Anna yang kamu maksud itu siapa? Lagian Ayah bukan GPS yang bisa mendapatkan lokasi seseorang."
Kesal juga memiliki anak seperti Jeano ini, anak yang memiliki rasa ingin tau sangat tinggi dan jika ada kemauan harus didapatkan. Tapi mau menyalahkanpun tidak bisa, karena dia adalah orang tua dari Jeano sendiri.
"Kan bisa minta anak buah Ayah untuk mencari informasinya. Fokoknya aku mau cepat tau dimana rumah Anna, kalau tidak aku akan mengganggu Ayah agar tidak dapat berdekatan dengan Bunda." Ancam Jeano pada Ayahnya yang memang Jeano sudah tau dimana letak kelemahan Ayahnya, yaitu tidak bisa berjauhan dengan Bundanya.
"Dasar Bocah. Kau membuat Ayah pusing saja, lagian bagaimana Ayah mencari Anna? Ayah saja tidak tahu bagaimana ciri orangnya."
"Anna orang yang sangat cantik seperti Bunda."
Reno hanya mampu mengela napas berat tidak mengerti dengan anaknya itu, memangnya mencari orang hidup itu mudah?
"Baiklah Ayah akan carikan."
"Terimakasih."
"Hm, sama-sama."
Jeanopun langsung kembali kedalan kamarnya dan meninggalkan kedua orang tuanya yang bingung dengan permintaan Jeano.
"Siapa Anna, sayang? Apakah dia orang yang sangat penting?
"Tidak tahu, tadi siang Jeano berlarian sambil berteriak memanggilmu. Dan ketika aku tanya, dia ingin memintamu untuk menemukan gadis yang bernama Anna. Kamu tau? Sepertinya Jeano menyukai anak gadis yang bernama Anna itu, dan kamu tau kan bagaimana sifat Jeano."
"Benarkah? Apa anak itu sudah menemukan cintanya di umur yang masih muda ini?"
"Ya, sepertinya begitu."
"Hm, baiklah. Aku akan menyuruh Doni untuk mendapatkan informasi tentang Anna."
Renopun langsung menelpon Doni yang menjabat sebagai Asisten pribadinya, dan bukan suatu hal sulit untuk menemukan data diri seseorang bagi seorang Doni.
"Halo Tuan."
"Halo Don, tolong cari tau tentang Anna!"
"Anna siapa Tuan?"
"Seorang anak gadis yang bersama dengan Jeano tadi siang disebuah danau. Kau bisa bertanya pada pengawal yang mengawasi Jeano."
"Baik Tuan, Saya akan segera mencarinya."
Memang Reno selalu menaruh pengawal yang akan menemani Jeano kemanapun tanpa disadari. Sehingga dapat mengantisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.