
..."Urusan perasaan itu ajaib sekali, bahkan bisa membuat merasa sepi ditengah keramaian, ramai ditengah kesepian."...
..._Tere Liye...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
82. Cek Kandungan
Setelah melihat Zero dan Zeana berangkat sekolah, kini Felix berniat mengajak Sarah untuk cek kandungan. Karena memang ketika awal Sarah diyatakan hamil, belum ada waktu untuk memeriksanya.
"Ayo kita cek kandungan!"
Tentu saja perkataan dari Felix membuat Sarah kaget, dia tidak menyangka bahwa Felix merupan suami idaman yang sangat pengertian pada istri dan juga anaknya.
Sarah kira Felix hanya akan terus berwajah datar saja, namun kini Sarah tau bahwa Felix akan menjadi hangat pada keluarga bahkan orang-orang terdekatanya.
"Iya." Kata Sarah singkat, dia pun hanya dapat menyetujui apa yang dikatakan oleh Felix tanpa bantahan apapun.
Jadi sebelum Felix berangkat ke kantor, mereka akan terlebih dahulu menuju Rumah Sakit. Tentunya dengan Hans sebagai sopir mereka berdua dan mungkin untuk pulangnya Sarah akan dijemput oleh Paman Tono nantinya.
Mobil pun berlahan melaju menuju rumah sakit, dengan suasana yang sangat canggung dipanjang perjalanan.
Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah sampai dirumah sakit tersebut. Rumah sakit yang dulu dimana Zeana dirawat, serta proses penyembuhan yang Zeana alami.
Tidak membutuhkan antrean serta proses yang lama, karena semuanya sudah diatur oleh Hans sebelum pelaksaan. Serta Felix yang selalu memilih jalur VIP untuk setiap kunjungan.
Felix dan Sarah pun mulai memasuki salah satu ruangan yang memang khusus untuk pemeriksaan kandungan, serta hal lainnya yang memang berhubungan dengan kehamilan.
Saat masuk mereka berdua sudah disambut oleh salah satu Dokter kandungan terbaik yang ada dirumah sakit tersebut. Tidak lupa terdapat satu Suster yang ikut membantu nantinya.Â
Dokter tersebut secara khusus direkomendasikan oleh Dokter Bian untuk menjadi tempat periksa, serta konsultasi kehamilan Sarah nantinya.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya." Sapa dengan ramah Dokter yang mungkin seumuran dengan Dokter Bian.
Dokter Rahma, seorang Dokter yang masih cantik diusianya. Tidak lupa raut wajah ramahnya yang sangat disukai banyak orang ketika pertama kali bertegur sapa dengannya.
"Selamat pagi juga Dok." Sarah kembali menyapa Dokter itu tak kalah ramah.
"Kalau tidak salah, ingin cek kandungan ya?" Tanya Dokter Rahma memastikan perintah yang Dokter Bian sampaikan padanya.
"Iya Dok benar."
"Kalau begitu mari!"
Dokter Rahma ngiring Sarah dan juga Felix menuju suatu bangsal yang memang sudah tersedia disana, serta mulai membantu Sarah untuk berbaring nyaman dibangsal tersebut.
"Saya izin membuka sedikit bajunya ya."
Sarah pun hanya mengangguk pelan, tanda mengizinkan. Lagian Sarah sudah tau apa saja yang akan dilakukan karena memang ini bukan yang pertama kalinya untuk Sarah.
Semua prosedur telah dilakukan dan kini Sarah dan juga Felix sedang mendengarkan penjelasan Dokter Rahma. Dimana Dokter Rahma secara rinci dan juga detail menjelaskan keadaan janin yang sedang Sarah kandung.
"Kandungannya baru 2 minggu dan janin pun sehat. Nyonya hanya perlu menjaga kesehatan baik mental dan juga fisik. Tidak lupa dengan asupan yang bergizi, agar janin dapat berkembang dengan baik nantinya.
Serta ini ada vitamin yang dapat membantu kesehatan janin dan ibunya. Dan untuk lebih lanjut saya sarankan untuk mengosumsi susu Ibu hamil juga."
Penjelasan dari Dokter Rahma didengarkan dengan seksam oleh Felix maupun Sarah. Keduanya sama-sama fokus dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Rahma.
Meskipun keduanya sudah pernah menjadi orang tua yang menghadapi masa hamil, namun itu sudah sangat lama sekali untuk keduanya.
Mereka berdua hampir lupa dengan hal-hal yang berhubungan dengan kehamilan. Apalagi keduanya tidak menyangkan akan mempunyai anak kembali.
"Baik Dok, terimakasih." Kata Sarah diakhir Dokter Rahma memberi penjelasan. Sedangkan Felix hanya diama saja, dia rasa dengan Sarah berbicara sudah cukup mewakilinya.
Mereka berdua mulai berdiri hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut, setelah semua proses benar-benar beres.
"Kalau begitu kami permisi." Kata Felix yang seperti biasa dengan wajah datar dan juga nada dinginya.
"Iya, silahkan."
Sarah dan Felix pun mulai melangkah menuju luar rumah sakit. Dapat dilihat jika sudah ada Paman Tono dan Hans yang menunggu mereka.
"Kamu pulang dengan Paman Tono, saya akan langsung menuju kantor bersama Hans." Mungkin itu kalimat terpanjang yang pernah Hans dan Paman Tono dengar ketika Felix berbicara dengan Sarah.
Karena memang biasanya Felix tidak pernah berbicara banyak pada Sarah, mereka berbicarapun jika menyangkut Zeana saja tidak lebih.
Dengan status Suami Istri yang sekarang, tentu saja akan banyak membuat orang lain tidak menyangka. Karena bisa disebut 2 orang yang harus bersatu karena suatu kejadian.
"Iya, Tuan hati-hati." Sarah hanya mengatakan hal itu saja. Dia masih tidak terlalu leluasa serta terbiasa untuk berekspresi bahkan berbicara lebih pada Felix.
"Kamu juga. Tolong hati-hati membawa mobilnya Paman." Pesan Felix pada Paman Tono, sebelum benar-benar pergi.
"Baik Tuan." Dengan sigap Paman Tono menyanggupinya.
Mereka semua mulai menaiki mobil masing-masing. Dengan Sarah dan Paman Tono yang menuju rumah. Serta Felix dan juga Hans yang menuju perusahaan.
Dapat dirasa jika keadaan dalam mobil keduanya tidak begitu canggung, mungkin karena penyebab kecanggungan tersebut berpisah.
Dimana Felix dan Sarah kini duduk dalam mobil yang terpisah, serta suasana yang berbeda juga.
"Maaf dan selamat juga Tuan." Kata Hans yang secara tiba-tiba menarik perhatian Felix untuk menatapanya.
Felix tidak berkata apapun, namun dengan sebelah halis yang diangkat membuat Hans tau akan ekspresi wajah tersebut.
"Maaf karena waktu itu saya tidak ikut, kejadian seperti ini malah terjadi. Serta selamat juga karena anda akan kembali menjadi Daddy untuk kesekian kalinya setelah beberapa tahun."
Perkataan Hans dapat merubah raut wajah Felix, namun raut wajah seperti itu tidak dapat dideskripsikan secara pasti. Antara kesal, senang dan juga bingung. Entah lah yang jelas Hans tidak dapat menebaknya.
"Ya, tidak apa. Ini semua bukan salahmu, mungkin ini memang sudah takdir saja. Dan juga terimakasih atas ucapan selamat mu, saya harap dapat menjadi Daddy yang baik kedepannya."
Felix juga sadar jika selama ini perlakuan pada Zeana sejak kecil adalah hal salah. Dan mungkin kali ini Tuhan kembali mendatangkan Anak agar Felix dapat menebus dosa-dosanya dimasa lalu.
Tidak ada lagi obrolan setelah itu, mereka berdua menikmati suasana keheningan seperti biasanya.
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.