Another World Point Of View

Another World Point Of View
S2. CHAPTER 14



..."Sabarnya diperluas lagi, mentalnya diperkuat lagi, bersyukur diperbangak lagi. Karena banyak manusia didepatmu yang membicarakan keburukanmu dan ada yang selalu merendahkanmu."...


..._Islamictpo...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


🌱


14. Bertemu Max dan Mora


Setelah acara selesai, semuanya kembali untuk bekerja. Karena yang hadir merupakan orang-orang sibuk juga, yang memiliki urusan dan pekerjaaan masing-masing.


Karena memang acara tersebut merupakan, acara yang sederhana saja. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama, untuk mereka menyelenggarakan acara tersebut.


Sama halnya dengan yang lainnya, Zeana dan sekeluarga pun ikut kembali pulang kerumah.


Semuanya pulang menggunakan kendaraan masing-masing. Dari mulai Andra yang kembali mengurus bisnis kulinernya dan juga Jeano yang ikut pulang bersama kedua orang tuanya karena ada urusan juga.


Zeana pun pulang bersama Sarah dan Zion dalam satu mobil yang sama, dengan Zeana sendiri yang membawa mobil tersebut.


Setelah sekian lama meyakinkan Felix dan Zero, akhirnya Zeana sudah kembali dibolehkan berkendara sendiri. Tentunya dengan catatan, Zeana harus penuh dengan hati-hati ketika berkendara.


"Mamah bertemu Max tadi." Celetuk Sarah secara tiba-tiba, mengisi obrolan dari keheningan selama diperjalanan.


"Lalu?" Kata Zeana yang melirik sebentar kearah Sarah, yang tepat duduk disampingya. Sedangkan Zion duduk sendiri dibelakang, ditemani oleh tab yang berisikan Video anak-anak.


"Ya, kita hanya saling menyapa saja."


"Apakah dia tidak pernah menanyakan kabar Riana?"


Zeana menjadi penasaran dengan Max, selaku Ayah kandung dari Riana. Apakah pria itu tidak pernah bertanya tentang anak kandungnya sendiri?


"Tidak. Mungkin dia sudah tau tentang Riana, sehingga tidak bertanya lagi. Lagian setelah tau Mamah adalah Istri Daddymu, Max tidak berani berdekatan atau bahkan mengobrol lebih."


Pertemuan Sarah dan Max waktu itu, mampu membuat Max menggali dengan sempurna informasih tentang Sarah dan Riana. Dirinya mengetahui semua fakta hidup Sarah, termasuk kabar kematian Riana juga.


Ditambah setelah melahirkan Zion, hubungan Sarah dan Felix malah terekspos oleh publik.


Entah siapa yang membuat hal itu terjadi, tapi yang pasti berita Felix yang sedang berada diruangan bersalin disalah satu rumah sakit ternama, membuat publik heboh akan hal itu.


Semua publik mulai bertanya-tanya alasan Felix ada disana karena yang publik tau, bahwa Felix merupakan single parent dan berstatus duda.


Lalu untuk apa Felix ada diruang bersalin tersebut? Jika kerabatnya pun, rasanya tidak masuk akan dan kurang menyakinkan.


Sehingga mau tidak mau, untuk membungkam berita tersebut Felix mulai mempublikasikan hubungannya dengan Sarah. Selaku Istri dan Ibu sambung dari anak-anaknya.


Setelah Sarah melahirkan dan pulih dengan sempurna, Felix dengan segera membuat pernyataan tersebut.


Bahwa dirinya dan Sarah sudah menikah sejak lama, juga sudah mempunyai anak yang baru lahir juga.


Tentu saja seketika wajah Sarah menjadi sorotan, serta banyak pertanyaan yang muncul tentang riwayat hidup Sarah yang sebenarnya.


Untungnya sebelum publikasi, Felix sudah menutup semua akses informasi Sarah dengan sangat baik. Sehingga publik tidak akan tau, jika Sarah hanyalah orang dari kalangan biasa.


Hal itu yang menjadi alasan Felix untuk tidak mempublikasihkan hubungannya dengan Sarah. Felix takut, jika hal itu malah membuat Sarah risih dan malah mendatangkan masalah.


Tidak lupa disertakan wajah munggil dan menggemaskan dari Zion, ikut tersorot oleh Publik. Kini publik tau, jika posisi Zeana sebagai anak bungsu sudah tergeserkan oleh keberadaan Zion. Namun hal itu malah membuat posisi Zeana menjadi anak perempuan satu-satunya keluarga Anderson.


"Dia sungguh Ayah yang buruk." Ucap Zeana yang dibenarkan oleh Sarah. Sarah sadar, jika sikap Max sangat lah buruk dan tidak ada contoh baiknya.


Sarah merasa bersalah karena dulu dia malah memilih Max sebagai suaminya, sehingga malah berakhir seperti sekarang. Sarah tidak tau, jika sikap Max malah menjadi seperti itu.


Seharusnya, meskipun Max tau Riana sudah meningggal. Setidaknya dia bisa sedikit bertanya tentang riwayat Riana selama hidup ini, bukan malah diam saja seperti tidak berdosa saja.


"Aku bersyukur karena sekarang sudah memiliki keluarga yang baru."


Zeana sudah berdamai dengan masa lalunya. Dirinya sudah menerima takdir, jika Max adalah Ayah kandungnya. Tidak ada sedikitpun rasa untuk Max tau, bahwa Zeana yang sekarang adalah Riana.


Zeana lebih memilih menyembunyikan hal itu dan lebih memilih menerima, jika sekarang Felix adalah ayah kandungnya.


"Ouh iya, satu lagi. Mamah bertemu dengan Mora juga tadi."


Deg


"Mora?"


Flashback On


Sarah yang mencoba menenangkan Zion, memilih untuk membawanya ketempat yang lebih terbuka dan tidak banyak orang juga.


Kedunya cukup lama berdiam diri diluar, sehingga tidak mampu melihat acara peresmian tersebut dari awal.


Lagian bukan pilihan yang tepat juga, jika membiarkan Zion terus mengamuk didalam. Hal itu akan sangat mengganggu kenyaman banyak orang, meskipun Sarah tau tidak akan ada yang berani menegurnya.


Pilihan satu-satunya hanya dengan membawa Zion keluar dan menenangkannya terlebih dahulu, lalu setelah itu dapat kembali masuk kedalam.


"Mora." Meskipun sedikiy ragu, serta takut salah orang juga. Sarah memberanikan diri untuk memanggil orang tersebut.


Dan syukurlah orang yang merasa namanya terpanggil itu, melihat kearah Sarah dengan raut wajah terkejut. "Tante Sarah."


Sarah yang merasa bahagia karena tidak salah menanggil orang itu, dengan segera menghampiri gadis yang bernama Mora itu.


"Kamu Mora kan?"


"Iya, Tante. Aku Mora."


"Kamu sama siapa disini?" Tanya Sarah dengan khawatir karena terlihat Mora hanya berdiri sendirian, tanpa ada yang menemani.


"Mora bareng Mommy. Tapi Mommynya izin ketoilet sebentar, jadi aku disuruh tunggu disini." Nada bicara Mora sungguh sangat lembut dan halus.


Selintas terdengar seperti suara anak kecil yang sedang berbicara, namun nyatanya Mora merupakan wanita dewasa yang berusia 21 tahun. Sama seperti Zeana.


"Syukurlah kalau begitu, Tante khawatir kamu sendirian." Mendengar perkataan Mora, dapat membuat Sarah bernapas dengan lega.


Sungguh Sarah takut hal yang tidak diinginkan terjadi pada Mora karena bagaimanapun Mora sudah dianggap anak sendiri oleh Sarah.


Pandangan Mora berpindah pada Zion yang kedua matanya terlihat memerah, sangat terlihat jika sehabis menangis. "Adik kecil kenapa menangis? Kakak punya coklat, apakah mau?"


Tawaran dari Mora dapat membuat senyuman terbit dari wajah Zion, dengan segera Zion menganggukan pelakanya dengan semangat.


"Mau. Aku mau coklat Kak."


Sebelum memberikan coklat tersebut pada Zion, terlebih dahulu Mora bertanya pada Sarah. "Bolehkan Tante? Adik kecil ini, aku kasih coklat?"


"Boleh."


Dengan segera Mora mengeluarkan coklat kecil yang selalu dirinya bawa, ditas kecilnya.


"Ini, coklat untuk adik kecil." Kata Mora sambil memberikan satu buah coklat kecil pada Zion, tidak lupa semyuman manis yang dia perlihatkan.


"Bilang apa Zion?"


"Terimakasih Kakak cantik."


"Sama-sama. Ouh ya, siapa nama kamu?"


"Aku Zion Kak, nama Kakak siapa?"


"Nama aku Mora."


"Halo Kak Mora."


"Halo juga Zion."


Setelah itu Zion malah sibuk dengan coklat tersebut, sehingga kini Mora menatap kembali kearah Sarah.


"Apakah ini anak Tante yang baru?"


"Ya, tentu saja. Zion anak Tante."


"Berarti adiknya Anna dong? Tapi sayang, Anna udah gak ada disini lagi." Seketikan raut wajah Mora menjadi sedih, bahkan air matanya terlihat siap untuk meluncur dengan bebas.


"Eh-eh, jangan nangis Mora! Kita harus ikhlas buat menerima takdir ini." Untuk sekarang Sarah hanya dapat menenangkan Mora terlebih dahulu. Dirinya tidak mungkin secara langsung mengatakan, jika Riana masih hidup namun dalam tubuh yang berbeda.


Mora yang memang gambang menangis, juga gampang juga untuk berhenti. Bisa dibilang Mora itu sangat cengeng, namun tidak sulit juga untuk memberhentikan tangisannya.


Kecuali satu hal, saat kabar meninggalnya Riana. Mora terus saja menangis sepanjang hari, hingga akhirnya drop dan harus mendapatkan perawatan.


Mora langsung menghentikan tangisannya, "tapi ak-aku rindu Anna Tante." Tangisan Mora kembali terdengar, sehingga dengan sabar Sarah mencoba menenangkan tangisan tersebut.


"Udah jangan nangis lagi, kamu kok bisa ada dikota ini juga?"


"Aku ikut Mommy dan Daddy yang pindah tinggal disini."


Obrolan tersebut tidak berlangsung, karena kedatangan Mommynya Mora dan juga Zion yang meminta kembali untuk masuk kedalam ruangan.


Sehingga Sarah dan Mommynya Mora tidak bisa berbincang banyak, keduanya hanya saling menyapa lalu berpisah.


Flashback Off


"Kamu tidak lupa kan dengannya?"


"Bagaimana aku bisa lupa." Lirih Zeana yang mulai mengingat tentang gadis bernama Mora itu.


...To Be Continue...


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.