
..."Aku harap kamu tidak menyia-nyiakan hatimu yang indah untuk seseorang yang tidak pantang mendapatkan nya. Jangan mencoba melakukan apa yang membuat orang lain bahagia. Kamu harus melakukan apa yang membuat mu bahagia. Jangan pernah lupakan itu."...
..._Byun Baekhyun...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
77. Keputusan Menikah
Kini suasana sedikit menenang setelah dengan rinci Felix menceritakan semua yang ternyadi antara dirinya dan Sarah. Semua hal itu adalah murni suatu ketidak sengajaan, bukan atas kemauan mereka berdua.
"Saya sungguh minta maaf Sarah, dan saya juga pasti akan tanggung jawab dengan bayi itu. Serta kita juga akan segera menikah."
Dengan bersungguh-sungguh Felix mengatakan hal itu, meskipun terasa sulit untuk menerima hal ini. Tapi Felix bukanlah sosok pria pengecut yang akan pergi dari tanggung jawabnya.
Sarah yang awalnya masih menangis kini mulai mengusap kedua matanya dan melihat tatapan serius dari Felix. Entahlah rasanya masih ragu dan juga bimbang.
"Saya sudah memaafkannya, dan saya rasa disini bukanlah salah Tuan saja. Saya ikut adil dalam kesalahan ini, mungkin jika saya mendengar perkataam Tuan untuk pergi, ini semua tidaka akan terjadi." Lirih Sarah yang merutuki kebodohannya waktu itu.
"Tapi tetap saja, saya merasa bersalah dan akan bertanggung jawab."
"Kalau begitu cukup dengan mengakui bahwa ini anak Tuan saja, tidak udah sampai menikahi saya."
Sarah mengatakan itu semua karena tidak mau membuat keluarga Felix menjadi berantakan dan merasa terikat dengan dirinya. Apalagi ditambah dengan melihat amarah Zero yang secara langsung sudah menolak akan kehadiran Sarah nantinya.
Sarah tidak mau keluarga yang menurutnya harmonis meski tanpa sosok Ibu harus hancur karenanya.
"Tidak. Saya tidak mau, kalau nanti anak saya lahir tanpa status yang jelas."
Keduanya saling kekeh pada keputusan masing-masing, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Felix. Sarah juga sebenarnya tidak ingin membuat kehidupan anaknya nanti, kembali seperti Riana yang tidak mempunyai figur seorang Ayah.
Namun Sarah juga tidak bisa menerima pernikahan ini karena Sarah sedikit masih trauma dengan namanya pernikahan. Apalagi Sarah dan Felix tidak saling mencintai.
Waktu dulu saja ketika Sarah dan Ayahnya Riana saling mencintai masih bisa berpisah, jadi ada kemungkinan untuk terulang kembali. Dan Sarah tidak ingin itu, Sarah sudah cukup hanya hidup dengan Riana yang berada dalam tubuh Zeana.
"Kalian harus menikah. Pikirkan tentang anak kamu nanti Sar, jangan egois! Anggap saja pernikahan ini demi anak kalian." Saran Bi Julia yang melihat penolakan dari Sarah tentang keputusan Felix.
"Iya, kalian menikah saja. Demi Adik bayi nantinya." Kata Zeana yang ikut menyetujui perkataan Bi Julia.
Meskipun merasa sedikit marah, tapi Zeana juga merasa bahagia. Mungkin ini rencana Tuhan untuk mempersatukan keluarga Riana dan Zeana tanpa disadari.
"Terimakasih Sayang," ucap Felix sambil mengelus pelan kepala Zeana setelah mendengar persetujuan dari Zeana. "Baiklah, kita akan melaksanakan pernikahan besok."
"Apakah tidak terlalu mendadak Dad? Sepertinya masih banyak hal yang harus dipersiapkan." Ucap Zeana yang mungkin mewakili pertanyaan semua orang.
"Tidak usah khawatir, semua akan diurus oleh orang-orang Daddy nantinya. Kita hanya perlu menunggu semua siap saja." Kata Felix yang menjawab kebingungan itu. "Lagi pula ini hanya pernikahan biasa, hanya akan ada keluarga saja yang datang." Lanjut Felix menjelaskan acara nanti yang akan dilaksanakan.
Keputusan Felix yang memang sudah bulat, tidak akan pernah bisa diganggu gugat lagi. Dan mau tidak mau mereka semua juga ikut menyetui apa yang dikatakan oleh Felix.
"Bisakah, tolong bujuk Kakakmu? Tolong bicarakan apa yang terjadi sebenarnya." Pinta Felix pada Zeana.
Namun Zeana tidak menyetujuinya secara langsung, dia juga merasa takut ketika melihat amarah Zero yang seperti tadi. "Aku takut Dad." Cicit pelan Zeana, sambil menatap tidak yakin pada Felix.
"Tidak perlu takut, tidak akan terjadi apa-apa. Zero pasti akan mendengarkan mu, jika Daddy yang menemuinya kemungkinan kita berdua hanya akan kembali bertengkar."
Akhirnya Zeana pun menyetujui perkataan Felix, "iya Dad aku mau."
"Terimakasih sayang."
"Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu."
Zeana pun mulai melangkah meninggalkan ruang tamu menuju kamar Zero berada. Setelah melihat punggung Zeana yang menghilang kini dengan segera Felix mengurus yang lainnya.
"Bi Julia, tolong urus Sarah! Pastikan dia sehat untuk acara besok." Kata Felix yang langsung diiyakan oleh Bi Julia. "Dan beritahukan yang lain untuk segera beres-beres, acara akan dilakukan ditaman belakang saja."
"Baik Tuan, saya akan memberi tahu semuanya."
Bi Julia dan Sarahpun segera pergi dari ruang temu meninggalkan Felix sendirian. Sedangkan kini Felix memandang punggung Sarah dengan pikiran berkecambuk.
"Semoga saja ini adalah pilihan yang tepat. Dan maaf sayang, aku tidak bisa menjaga pernikahan kita." Lirih Felix diakhir perkataannya, kini sorot mata Felix menjadi sedih sambil menatap foto mendiang istrinya yang berada di ponselnya.
Tanpa sadar sudut mata Felix mengeluarkan air mata, dia juga sama tidak mau hal ini terjadi. Sama halnya dengan Zero yang tidak menerima ini semua, Felix juga berat untuk memutuskan hal ini.
Karena bagaimanapun sampai detik ini hati dan juga pikiran Felix masih dimiliki oleh Zian, mendiang istrinya.
Tapi bagaimana lagi? Felix tidak bisa lari dari tanggung jawabnya sekarang.
Sedangkan kini Zeana dengan ragu mulai melangkah mendekati kamar Zero, dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Zero.
Tok tok tok
"Kak?" Panggil Zeana, namun tidak ada sautan apapun dari dalam kamar.
Tok tok tok
Zeana kembali mengetuk pintu agak kencang. "Kak, ini aku Anna. Bolehkah, aku masuk?"
Mungkin setelah tau siapa yang datang Zero mau membukakan pintunya, namun nyatanya masih saja tidak ada sautan apapun. Karena khawatir terjadi sesuatu pada Zero dengan segera Zeana membuka pintu tersebut, semoga saja tidak dikunci.
Ceklek
Sempurna, ternyata pintu itu tidak dikunci dan dapat dibuka oleh Zeana.
Zeana mulai melihat isi kamar dengan sedikit memasukan kepalanya. Dan dapat Zeana lihat jika Zero sedang terduduk didekat kasur. Zeana tidak tahu apa yang sedang Zero lakukan, karena posisi Zero yang membelakangi pintu dan juga Zeana.
Dengan penuh keberanian Zeana mulai melangkah masuk kedalam kamar itu. "Aku izin masuk ya." Kata Zeana yang mulai melangkah mendekati Zero.
Dan sekarang dapat Zeana lihat apa yang sedang dilakukan oleh Zero. Zeana dapat lihat, jika Zero sedang memegang sebuah figur foto yang didalamnya ada Ibu dari Zero dan juga Zeana yang asli.
Zeana mulai ikut duduk disamping Zero dan dapat Zeana lihat ada kesedihan dimata Zero yang sedang memandangi foto almarmun Zian. "Apakah Kakak merindukan Mommy?" Tanya Zeana dengan hati-hati karena takut membuat Zero kembali marah.
Bukannya suatu jawaban yang Zeana dapatkan, malah dengan tiba-tiba Zero menjatuhkan kepalanya dibahu Zeana.
"Apakah Daddy lupa dengan Mommy? Bagaimana bisa Daddy akan menikah lagi dan melupakan Mommy? Mommy pasti akan sedih, jika melihat hal ini dari atas sana." Lirih Zero yang terdengar nada bergetar disetiap perkataannya.
Dapat Zeana tebak jika Zero seperti hendak menangis setelah mengatakan hal itu, ternyata hal itu terbukti dengan perlahan Zeana merasakan bahunya basah.
Dan secara perlahan dapat Zeana sengar isak tangis dari Zero meskipun pelan. "Aku hiks sangat merindukan Mommy hiks." Kata Zero yang kini tangisannya terdengar kencang oleh Zeana.
Tanpa sadarpun Zeana ikut menangis mendengarkan hal itu, entah mungkin ini juga rasa sedih dari Zeana yang asli.
Ya, meskipun Zero terlihat dingin dan datar. Tapi pada dasarnya Zero juga adalah manusia yang diberi hati. Dia juga bisa merasa sedih dan juga menangis, apalagi jika menyangkut tentang Mommymya.
Sebenarnya tanpa disadari dan diketahui oleh orang lain, Zero sering menangis jika sedang merindukan Mommynya. Zero hanya mencoba terlihat kuat sebagai anak laki-laki, serta menutupi rasa sedihnya dengan wajah datarnya.
Zeana yang ikut menangis sedih, tidak berkata apapun. Namun tangannya ikut mengusap punggung pelan Zero seolah menguatkan.
"Aku benar hiks benar merindukan Mommy hiks. Aku hiks ingin bertemu dengan Mommy lagi hiks."
Kini tangisan Zero berubah menjadi sangat memilukan untuk didengar, serta tangisan tersebut yang bertambah kencang.
Mendengar ikut kini Zeana menarik tubuh Zero kedalam pelukannya dan ikut menangis juga dalam diam. Karena Zeana tidak tahu harus mengatakan hal apa. Tidak lupa tangan Zeana yang senan tiasa terus mengusap punggung lebar Zero.
Zeana tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menimpali perkataan Zero, karena jika boleh jujur Zeana tidak merasakan apapun jika mengingat Zian.
Mungkin karena Zeana bukanlah yang asli, yang merupakan bukan anak kandung Zian.
Untuk rasa sedih kali ini, mungkin rasa sedih dari tubuh Zeana yang asli. Serta mungkin ikut sedih juga dengan perkataan dari Zero.
Zero benar-benar menyayangi Mommynya, sehingga hanya Mommynya yang dapat membuat Zero menangis hebat seperti ini.
Dan pernah mendengar jika tangisan seorang laki-laki itu sangat berharga dan tulus. Karena mereka akan menanggis jika benar-benar ada yang sangat berharga untuk mereka.
Sama halnya dengan Zero saat ini, dia sangat menyayangi Zian meskipun sudah ditinggal sangat lama.
Keduanya kini menangis dengan pilu, hanya terdengar isak tangis saja yang memenuhi kamar tersebut.
Cukup membutuhkan waktu yang lama untuk bisa mendalikan emosi serta tangisan tersebut. Namun dengan perlahan tangisan keduanya mulai berhenti. Keduanya mulai mengusap kedua mata mereka yang mengeluarkan air mata.
"Tapi Daddy harus bertanggung jawab Kak. Bagaimanapun juga itu adalah anak Daddy dan akan menjadi adik kita." Kata Zeana yang mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Zero.
"Aku tidak mau Ibu dan Adik baru." Tolak Zero dengan cepat.
"Tapi apakah Kakak ingin semua ini terulang kembali? Dimana adik akan terabaikan oleh Daddynya dan juga Kakaknya?"
Perkataan Zeana membuat Zero merasa dejavu dengan perlakuannya dulu pada Zeana, yang dimana sekarang dia begitu menyesali hal itu. Zero pun sekarang dibuat mimbang untuk mengambil keputusan. Jadi haruskah Zero juga ikut menyetujui pernikahan Felix?
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.