Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 28



..."Sendirian mungkin terdengar agak menyedihkan, tapi kita semua sendirian pada akhirnya."...


..._Kim Doyoung...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


28. Berkunjung kerumah Jeano


Makan siang weekend kali ini sangat ramai karena kedatangan kedua orang tua Jeano yang juga ikut meramaikan suasana kali ini.


"Anna, bagaimana kalau main ke rumah Bunda? Mau kan?"


Zeana tak langsung menjawab, dia malah menatap ke arah Felix seolah memintah izin lewat pandangannya.


Melihat Zeana yang menatap Feliz membaut Maura paham, bahwa Zeana akan pergi ketika Felix mengizinkannya.


"Tidak apakan Felix?" Maura pertanya langsung pada Felik untuj meminta izin agar Zeana dapat berkunjung kerumahnya.


"Hm ya, itu terserah pada Anna. Mau atau tidaknya." Felix tidak mau membuat Zeana bersedih karena tidak mengizinkan untuk pergi.


Apalagi melihat padangan mata Zeana yang menatap penuglh harap padanya. Felix tau Zeana sangat ingin ikut dengan ajakan Maura, namun dia menunggu persetujuan darinya.


"Aku mau Dad. Aku ingin ikut Bunda." Dengan semangat serta tertera sekali wajah bahagian ketika Zeana mengatakannya.


"Baiklah, tapi jangan pulang terlalu larut malam." Pesan Felix pada Zeana.


"Oke."


Zeana dengan bergegas menghabiskan makanannya, dan semua orang lain juga sudah selesai dengan makanan mereka.


"Kami izin membawa putrimu ya, nanti kami akan mengembalikan dengan selamat." Reno selaku kepala keluarga meminta izin pada Felix, karena bagaimanpun juga dia yang bertanggung jawab atas keamanan keluarganya.


"Ya, ku percayakan putriku padamu."


"Aku pergi dulu Dad." Ucap Zeana yang langsung memeluk tubuh Felix.


"Iya. Hati-hati dijalannya."


"Aku pergi dulu Kak." Kini Zeana beralih pada Kakaknya yang juga sama langsung memeluk tubuh tinggi Zero dengan agak kesusahan.


"Hati-hati! Jika ada apa-apa langsung kabari Kakak."


"Iya."


"Kalau begitu kami pamit dulu."


Akhinya keluarga Xiallen yang bertamu kini membawaa ikut Zeana untuk berkunjung kediaman mereka.


Mobil tersebut mulai melaju yang hanya diisi oleh Reno, Mauran dan juga Zeana. Sedangkan Jeano menaiki motor milik dia sendiri untuk pulang kerumahnya, serta mengikuti mobil mereka dari belakang.


Kini mobil yang Zeana tumpangi tampak berbelok kesebuah jalan dimana sudah terlihat jajaran rumah-rumah mewah nan besar yang berjajar disetiap sisi kanan dan kiri jalan.


Serta tidak membutuhkan waktu perjalanan yang lama, kini mereka sudah mulai masuk kedalam sebuah gerbang yang sangat tinggi dan tertutup. Sehingga orang lain tidak dapat melihat aktivitas yang dilakukan dibalik gerbang besar dan tinggi itu.


Sudah terlihat dari jauh terdapat beberapa orang pengawal yang memang bertugas untuk menjaga gerbang serta keamanan kediaman Xiallen dengan baik.


Begitu mobil mendekat dengan sigap pengawal tersebut mendorong pintu gerbang serta sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada Tuannya.


Tin


Renopun membalas sapaan mereka dengan menyalakan klason mobil dan berlalu masuk kedalam.


Terlihat sebuah rumah mewah, em mungkin lebih tepatnya mension. Mension dengan tingkat 2 yang memberikan kesan sangat elegan serta mewah saat pertama kali melihatnya.


Mension yang tak kalah megah sama seperti kediaman Anderson, jika kediaman Anderson bergaya Eropa berbeda dengan kediaman Xiallen yang bergaya Asia pada umumnya.


Karena memang Reno maupun Maura adalah sama-sama orang Asia, berbeda dengan Felix dan Zian yang perpaduan antara Eropa-Asia.


Begitu turun dari mobil, Zeana langsung dibantu oleh Jeano untuk masuk kedalam. Dipintu masuk sudah terdapat seorang wanita paruh baya yang mungkin usianya sama seperti Bi Julia, menyamput serta tersenyum hangat menatap Zeana.


Zeana membalas senyuman itu tak kalah hangat, sampai melihatkan gigi putih ratanya.


"Selamat datang dirumah ku, sayang." Bisik Jeano pelan pada Zeana, yang secara langsung Zeana langsung menatap Jeano dan tersenyum hangat.


"Ayo Anna duduk disini!"


Jeanopun mendudukan tubuh Zeana dengan hari-hati disamping Bundanya.


"Pelan-pelan."


"Terimakasih Jeano."


"Sama-sama." Lalu Jeano ikut mendudukan tubuhnya di samping Zeana.


"Ouh iya, Ayah pamit dulu ya. Maaf Ayah tidak dapat menemani kalian, kalian lanjutkan saja menobrolnya." Reno langsung pamit undur diri karena ada hal penting yang harus di urus.


"Yaudah gak papa, Ayah pergi aja."


"Iya. Tidak apa A-ayah." Zeana masih ragu untuk memanggil Reno dengan panggilan Ayah karena bagaimanapun ini kali pertama mereka bertemu.


"Tidak perlu ragu Anna! Panggil aku Ayah dan anggap Ayah ini seperti Ayah kandungmu sendiri, okey?"


"Iya Ayah, terimakasih." Kini Zeana dengan mantap memanggil Reno dengan sebutan Ayah serta tak lupa senyum manis yang ditunjukan pada Reno.


"Sama-sama, kalau begitu Ayah tinggal ya."


"Iya."


Sedangkan Jeano menatap bahagia interaksi serta kasih sayang yang kedua orang tuanya berikan pada Zeana, dengan diam.


Dia merasa lega ketika keluarganya dapat menerima serta menyukai Zeana sama sepertinya.


Bukankah itu adalah hal yang ingin semua calon menantu inginkan? Pasangan serta calon mertua dapat menerima kita dengan baik.


"Kamu mau minum apa Anna?" Tawar Maura pada Zeana.


Terlihat sekali Maura sangat perhatin pada Zeana sejak bertemu, dan tanpa sadar mengabaikan kehadiran anak semata wayangnya yang tampan.


"Apakah Bunda tidak bertanya padaku juga?" Jeano dengan nada bicara yang merajuk menatap Maura dengan kesal.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Jeano membaut Maura mengalihakan padanganya dari Zeana kepada Jeano.


Ya, dia lupa kalau mempunyai anak yang sangat tampan. Yang tadinya ingin dia marahi karena tidak menjembutnya dibandara, namun diurungkan karena tau bahwa Jeano sedang menemani Zeana untuk terapi.


"Aduh anak Bunda yang tampan ini merajuk. Maafkan Bunda Aksa, karena melupakanmu." Maura akan memanggil Jeano dengan nama tengahnya yaitu Aksa, ketika Jeano sedang kesal atau marah padanya. "Kamu tau Anna, Jeano itu suka merajuk?"


"Iya aku tau, Jeano sering merajuk jika aku tidak membelanya saat sedang bertengar dengan Daddy maupun Kak Zero."


"Tuhkan benar. Apakah kamu masih mau dengan anak sok dingin ini? Kalau tidak, Bunda bisa mencarikanmu pemuda lain yang lebih tampan dari Jeano."


"Bunda!" Teriak Jeano tidak suka dengan apa yang dikatakan Bundanya itu pada Zeana. "Sayang tidak usah dengarkan apa kata Bunda! Kamu akan tetap bersama ku kan?"


Entah mengapa Jeano menjadi cemas memikirkan apa yang dikatakan oleh Bundanya pada Zeana.


"Hm...bagaimana ya?" Zeana menggantung perkataanya yang membuat wajah Jeano semakin panik.


"Sayang..." Jeano terus menatap Zeana dengan cemas.


"Aku akan tetap bersama mu Jeano, tidak perlu khawatir!" Dengan senyuman serta Zeana yang menggengam tangan Jeano, dia mengatakan hal itu tepat menatap kedua mata Jeano.


"Janji?"


"Janji."


"Aduh kalian romantis banget sih, Bunda jadi iri deh. Oh iya Anna, Bunda mau minta maaf kerena tidak bisa menjegukmu waktu tepat setelah kecelakaan."


"Tidak apa Bunda, lagian aku sudah baik-baik saja sekarang."


"Syukurlah."


Dan entah bagaimana mereka terus mengobrol dengan asik, dan lebih tepatnya lebih banyak menceritakan tentang Jeano yang mungkin telah Zeana lupakan.


...See you next part...


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.