
..."Jika kamu tidak mempunyai pilihan, terima saja apa adanya. Jangan mencoba lari, kerjakan saja. Waktu tidak berhenti untuk siapa pun. Begitu juga dengan kamu, aku pikir kamu akan bisa belajar cara menikmati moment dengan baik."...
..._Lee Taeyong...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
🌱
86. Berbaikan
Setelah tahu bahwa Jeano sudah sampai dengan selamat, membuat Zeana kini dapat bernapas dengan lega. Setidaknya keadaan Jeano tidak membuatnya khawatir lagi. Hanya saja sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk bisa berbicara dengan Jeano nantinya.
Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, Zeana memutuskan akan mendatangi rumah Jeano dan mungkin nantinya akan menginap juga.
Zeana yang sudah siap kini mulai berjalan menuruni tangga dan mulai mencari Sarah untuk berpamitan.
Namun setelah berkeliling antara ruang depan dan dapur, keberadaan Sarah belum terliht oleh Zeana.
"Kemana Mamah?" Batin Zeana yang terus mencari keberadaan Sarah.
Sehingga tidak lama dari itu dia berpapasan dengan Bi Julia, "Bi Juli, dimana Mamah?"
"Sarah ada ditaman belakang, lagi nyiramin bunga-bunga."
"Yaudah, makasih Bi." Zeana pergi sambil mengecup pelan pipi Bi Julia, tentu saja hal itu membuat Bi Julia senang karena Zeana masih menyayanginya meskipun kini sudah ada Sarah.
"Ada-ada saja anak itu." Ucap Bi Julia sambil menggeleng pelan melihat tingkah Zeana.
Setalah mengatahui keberadaan Sarah, dengan segera Zeana sedikit berlari untuk menghampiri dimana Sarah berada. Dan dapat Zeana lihat jika memang benar Sarah berada di taman bekalang sedang menyirami tanaman yang ada disana.
"Mamah!" Teriak Zeana yang tentu saja membuat Sarah terlonjak kaget dengan teriakan tersebut. Langsung saja Sarah melihat kearah Zeana dan dapat dilihat jika Zeana sedang berjalan kearahnya.
"Ada apa? Kenapa berteriak?"
"Supaya Mamah dengan saja suaraku, jadi aku berteriak."
"Tapi kamu membuat Mamah kaget tau."
"Yaudah deh, maaf Mamah ku sayang."
"Ada perlu apa menjadi Mamah?"
"Aku hanya mau bilang, jika aku ingin pergi kerumah Jeano sekarang. Bolehkan?" Tanya Zeana yang meminta izin terlebih dahulu sebelum pergi karena takutnya Zeana malah membuat khawatir semua orang, jika tidak berpamitan dulu.
"Boleh, tapi akan pergi bersama siapa?"
"Bersama Paman Tono saja, kasian kalau minta tolong Kak Zero untuk mengantarku. Kakak pasti sudah sangat capek disekolah tadi."
"Baiklah, hati-hati dijalan." Pesan Sarah sebelum Zeana pergi.
"Iya, dan tolong nanti katakan pada Daddy juga."
Sarah mengangguk pelan, "Iya, nanti akan Mamah katakan pada Daddy."
"Bye Mah, aku pergi dulu."
"Hati-hati."
Zeana hanya memberikan jempol tangannya untuk menanggapi perkataan Saran, dengan segera dia mencari Pama Tono untuk mengatarnya menuju rumah Jeano.
***
Sedangkan kini juga Jeano sudah bersih-bersih dan berganti pakaian. Sekarang dia sedang bingung, apakah harus dia menghubungi Zeana terlebih dahulu? Atau tunggu saja Zeana kembali membujuknya.
Jeano jadi galau sekarang, apalagi ditambah bukan hanya hal ini saja yang menjadi permasalahan dalam hidupnya. Ada hal lain yang menganggu pikiran Jeano, serta banyak hal yang sedang Jeano urus juga sekarang.
Tapi setika mulayan lama terdiam dengan pikirannya, Jeano dapat mendengar jika ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
Seketika Jeano mengeritkan dahinya, dia sudah bilang bukan untuk tidak menggangunya dulu untuk sekarang. Tapi kenapa sekarang ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa?" Teriak Jeano dari dalam, namun tidak ada sautan apapun dari orang yang mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Ketukan pintu kembali terdengar, "Siapa?" Jeano kembali berteriak, jika itu salah satu maidnya dia akan meminta maid itu untuk segera pergi saja.
Namun nyatanya tidak ada sautan apapun, hingga akhirnya ketukan pintu ketiga membuat Jeano menjadi kesal dan memutuskan untuk melihat siapa orang yang mengetuk pintunya.
Tok tok tok
"Siapa?" Teriak Jeano yang kini malah membuat dirinya serta orang yang berada dibalik pintu menjadi kaget.
"Eh, hai." Kata Zeana yang dibuat kaget dengan teriakan Jeano, namun dengan segera dirinya tersenyum kecil sambil menyapa Jeano.
Dapat Zeana lihat, jika Jeano kaget dengan keberadaannya dan langsung mengubah raut wajah kaget tersebut kembali datar.
"Kenapa kesini?" Tanya Jeano dengan nada tisak suka, namun nyatanya hatinya merasa bahagia melihat Zeana yang datang untuk menemuinya.
Dengan sengaja Zeana mengubah raut wajahnya menjadi sedih, "apakah aku tidak boleh kesini?"
Tentu saja Zeana yang melihat itu menjadi senang karena Jeano seolah mengizinkan dirinya untuk bersama dengannya. Terlihat dari Jeano yang tidak menyuruhnya pergi dari sana.
Dengan segera Zeana ikut melangkah masuk kedalam kamar Jeano dan duduk disamping Jeano.
Dirinya meletakkan sebuah kantung yang berisi cake dan juga minuman yang sempat dia beli ketika dalam berjalan kesini.
Zeana mulai mengeluarkan isi dari kantung tersebut satu persatu. "Kamu mau?" Tawar Zeana pada Jeano, yang tentu saja dengan langsung segera ditolak oleh Jeano.
Jeano menggelengkan kepalanya pelan, "tidak."
"Benarkah tidak mau? Ini minuman kesukaan mu loh." Goda Zeana yang mencoba untuk menbujuk Jeano agar tidak marah lagi padanya.
"Tidak mau, kamu habisakkan saja."
"Baiklah, kalau begitu. Akaan akan pergi saja dan memberikannya pada Nico." Kata Zeana yang hendak berdiri dari duduknya, namun dengan segera Jeano menarik kembali tubuh Zeaba agar kembali duduk.
"Jika sudah masuk kesini, keluarnya harus izin dulu. Dan aku tidak mengizinkan mu pergi dari sini." Ancam Jeano dengan nada dinginnya, tapi hal itu malah membuat Zeana menahan tawa.
Jeano sangat terlihat lucu sekarang. Namun dengan sekuat tenaga Zeana menahan untuk tidak tertawa sekarang karena pada dasarnya Zeana tidak bersungguh-sungguh atas perkataannya. Dia hanya ingin menjahili Jeano sedikit saja.
"Baiklah, tidak jadi. Tapi akan aku kemanakan kue dan minuman ini? Sayang sekali jika dibuang, padahal aku sudah membelinya dengan penuh cinta." Kata Zeana yang sengaja dibuat dengan nada sedih dan benar saja Jeano langsung menyetujui untuk menerimanya.
"Berikan pada ku saja." Ucap Jeano yang langsung memakan kue dan juga minuman yang Zeaba bawa.
Melihat itu, tentu saja membuat Zeana senang. Jeano sebenarnya bukan orang yang sudah dibujuk, hanya saja jika sedang emosi biarkan dirinya untuk sendirian. Memenangkan dirinya senejak terlebih dahulu, baru bisa untuk berbicara kembali.
Keduanya hanya sibuk dengan makanan, serta pikiran mereka masing-masing. Keduanya terdiam sambil memikmati makanan dan minuman yang enak itu.
Merasa masalah ini tidak akan selesai hanya dengan diam, akhirnya Zeana terlebih dahulu membuka suara untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. "Boleh sekarang aku jelaskan?"
"Hm," Jeano hanya merespon dengan deheman singkat saja.
Tentu saja hal itu membuat Zeana menghela napas sabar, untuk kali ini biarkan dirinya yang sabar dan juga mencoba untuk tidak ikut tersulut emosi nantinya.
"Sepulang sekolah, tiba-tiba Nico menghampiriku didepan gerbang d-"
"Langsung intinya saja. Kenapa kamu malah ikut dan berpelukan dengannya?"
Sebelum Zeana benar-benar menyelesaikan perkataannya, terlebih dahulu Jeano malah menotong perkataan itu.
"Tapi semua ini harus dijelaskan dari awal karena jika setengah-setengah nantinya malah membuat salah paham lagi. Jadi dengarkan dan jangan memotong pembicaraan ku!"
Mendengar perkataan Zeana, serta nada bicara Zeana yang mulai serius membuat Jeano hanya mengangguk pelan saja
Kini keduanga saling pandang, Zeana pun mulai menceritakan semua kejadian yang dialaminya dengan Nico tadi. Dari awal sampai pulang, Zeana ceritakan dengan serinci-rincinya.
Tentu saja Zeana juga menperhatikan semua raut wajah Jeano yang berubah-ubah, sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Zeana. Dari mulai Jeano yang menahan tawa, serta raut wajah Jeano yang berubah kesal ketika diakhir cerita.
"Begitu yang dikatakan oleh Nico. Aku benar-benar hanya memeluknya sebentar saja, aku tidak tega melihat dirinya memohon seperti itu. Lagian ini hanya untuk pertama dan terakhir kalinya kita pertemu.
Jadi aku harap kamu dapat memakluminya dan aku berjanji hal ini tidak akan terjadi lagi kedepannya. Kamu jangan salah paham lagi ya?"
"Baiklah, untuk kali ini aku maafkan. Tapi ingat, tidak boleh lagi mengulangi hal seperti ini. Siapa tau saja Nico hanya pura-pura baik saja, demi bisa berteman dengan mu lagi."
"Oke. Jadi kita baikkan?"
"Hm."
"Idih, sok cool banget jawabnya. Pake acara hm hm man, yang panjang dikit napa jawabnya."
"Hmmmmm."
"Gak kita juga Jeano!" Kata Zeana dengan kesal dan memukul pelan tangan Jeano.
Tentu saja hal itu malah membuat Jeano dibuat ngakak, dia sangat suka melihat wajah kesal dan cemberut yang Zeana punya.
"Jangan ketawa!" Marah Zeana dengan kedua matanya yang ikut melotot, namun nyatanya hal itu tidak sedikitpun membuat Jeano takut.
"Ihhh..jangan ketawa Jeano! Aku pulang aja nih, kalo masih ketawa juga."
"Jangan! Iya iya, ini gak ketawa lagi."
Dengan segera Jeano melarang kembali Zeana yang hendak pergi, dirinya masih ingin bersama dengan Zeana sekarang.
"Udah, jangan cemberut gitu dong! Nih makan lagi kuenya, atau mau aku yang habisin?"
"Gak ya, enak aja." Dengan segera Zeana kembali memakan kembali kue yang sangat menjadi rasa favoritenya, apalagi jika bukan rasa Taro.
"Tapi, aku juga sedikit aneh sama kamu sekarang. Sejak kapan kesukaan kamu berubah menjadi Taro? Karena yang aku tau, kamu memang menyukai Matcha sejak kecil. Apakah aku memang sama-sama keliru dengan kesukaan kamu?"
Sontak saja perkataan, serta pertanyaan dari Jeano menbuat Zeana sedikit panik. Sepertinya Matcha merupakan kesukaan Zeana yang asli, bukan dirinya yang sekarang.
Jadi haruskan kini Zeana atau Riana menjelaskan juga tentang dirinya yang sebenarnya pada Jeano?
...To Be Continue...
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo. Makasih untuk part ini.
See you next part.