Another World Point Of View

Another World Point Of View
CHAPTER 40



..."Kamu harus menjaga diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kamu menjaga orang lain. Jadi kamu harus tetap sehat secara mental, psikologis maupun secara fisik. Kamu harus tetap sehat untuk memberikan cinta."...


..._Byun Baekhyun...


...Happy Reading...


.......


.......


🌱


40. Anak Keluarga Anderson


Part ini masih lanjutan dari cerita kemari ya, dimana Jeano sama Zeana awal ketemu. Bisa dibilang kita flashback dulu untuk part ini.


***


Zeana yang baru saja diseret masuk kedalam mobil, tidak berani berontak maupun berkata apapun dia terus saja menurut kemanapun Zero membawanya. Hingga sampailah mereka disebuah mobil yang memang sudah Zeana kenali adalah mobik milik keluarganya.


Zero dengan cepat namun hati-hati memaksa Zeana masuk kedalam mobio dan disusul oleh dirinya yang ikut duduk disamping Zeana.


Baru ketika sudah duduk dengan nyaman Zeana berani untuk mengeluarkan perkataannya. "Kenapa Kak Zero bisa tau aku disini?"


Zero yang fitanya hanya diam dengan muka datarnya seperti biasa, namun tersirat rasa khawatir dari Zero perlahan hilang setelah melihat Zeana.


"Kakak mencariku ya?"


"Diam! Kau tau?  Kau membuat semua orang lain termasuk aku sangat merepotkan untuk mencari mu. Bisa tidak? Jangan membuat ulah setiap harinya!" Dengan sekali tarikan napas Zero berkata begitu panjang serta menatap tajam Zeana. Membuat Zeana seketika merasa takut dengan Kakaknya, namun sudah biasa juga untuk Zeana.


"M-maaf." Lirih pelan Zeana sambil menunduk menahan tangisannya. "Kak Zero jahat, tidak baik seperti Jeano." Cicit pelan Zeana yang masih dapat terdengar oleh Zero.


Zero tidak mengatakan apapun lagi, dia lebih memilih melihat kearah luar jendela dan bergulat dengan hati dan pikirannya.


"Siapa Jeano? Apakah laki-laki tadi?"


Zero merasa kesal dengan Zeana yang kini sudah dapat menyebutkan nama lain dari seorang pria yang tidak dikenalnya, dan tadi apa? Dia jahat dan Jeano naik?


Jika ingin tau Zero begitu menyayangi Zeana layaknya Kakak pada Adik pada umumnya, namun hal itu tidak dapat Zero saluarkana serta tunjukan secara langsung.


Tadi saja alih-alih mengatakan khawatir  Zero malah mengatakan bahwa Zeana sangat merepotkan untuknya. Yang tentu saja itu dapat membuat Zeana sedih seketika.


Zero sebenarnya sangat khawatir ketika mengetahui bahwa Zeana tidak berada dirumah, serta orang lain juga tidak tau dimana keberadaan Zeana saat itu. Dia terus berdoa sepanjang jalan supaya cepat menemukan Zeana dan Zeana dalam keadaan baik-baik saja.


Sangat terlihat wajah yang selalu datar kini terlihat sangat khawatir dan juga cemas memikirkan keberandaan Zeana.


Dan sampailah dia melihat seseorang yang sangat mirip dengan adiknya sedang duduk berdua bersama seorang anak yang mungkin seusianya sedang mengobrol asik. Ketika Zero mendekat ternyata benar orang itu adalah Zeana, yang sedang asik mengobrol disaat orang lain menghawatirkan dia.


Dengan kencang Zero berteriak dan menyeret Zeana untuk pulang. Dis sungguh sangat kesal dan khawatir pada Zeana saat ini.


Darisini kita dapat lihat jika dari kecil Zero sangat menyayangi Adiknya, namun hanya tidak tau saja bagaimana cara mengungkapkan rasa sayang tersebut termasuk Daddynya.


***


Pagi mulai menyapa dikediaman Xialle, semua anggota keluarga sedang sarapan pagi dengan tenang seperti biasanya. Begitu selesai Reno hendak langsung berpamitan untuk pergi bekerja seperri hari-hari biasa.


"Aku pamit dulu," ucap Reno pada Maura sambil mengecup pelan puncak kepala Istrinya.


"Iya, hati- hati dijalan."


Saat hendak pergi, dari jauh Jeano berlari dan berteriak dengan suara kencang mengagetkan semua orang yang ada di rumah itu.


"Ayah..tunggu!!"


"Hei, ada apa?"


"Ayah lupa? Bagaimana kabar tentang Anna? Aku ingin sekarang mengetahuinya."


Aduh anak ini, masih pagi tapi sudah memulai keributan.


"Ayah tidak lupa. Hanya saja memang tidak ingat."


"Itu sama saja. Sekarang dimana Anna tinggal?"


"Ya, tidak tau. Kok tanya saya?"


"Ayah! Aku serius, cepat katakan dimana rumah Anna?" Teriak Jeano merasa kesak dengan Ayahnya yang bercanda disaat tidap tepat.


"Baiklah kita bisa mengobrol sebentar diruang tamu, ayo!"


Mereka bertigapun melangkah menuju ruanh tamu untuk membicarakan tentang Anna.


"Jadi?"


"Rumah Anna ada di jalan xxx, tidak jauh dari sini maupun danau yang kemarim kamu kunjungi. Dan kau tau sayang? Anna yang dimaksud adalah anak dari keluarga Anderson.."


"Apa? Maksudnya Zeana? Anak Felix dan mendiang Zian?


"Ya, Zeana. Mereka lebih sering memanggil Anna. Benerkan Jeano?"


Jeano langsung menganggukan kepalanya semangat. Betul sekali, Zeana sepertinya lebih sering dipangggil Anna. Buktinya kemarin Kakaknya yang bernama Zero memanggil dengan sebutan Anna, itulah yang mengakibatkan Jeano juga memanggil Anna karena merasa ingin semakin dekat dengan Zeana.


"Ya Tuhan, aku tidak menyangka sekali."


"Ya, sebuah takdir yang tidak terduga. Jadi apakah kamu ingin dekat dengan Anna?"


"Tentu. Aku ingin sekali."


"Bagaimana kalau kita berkunjung kerumah Anna sekarang?"


"Aku sangat mau Bunda, ayo!"


"Baiklah, ayo!"


Akhirnya hari itu Jeano mengunjungi rumah Zeana bersama Bundanya sedangkan Ayahnya pergi kekantor untuk bekerja.


Begitu sampai dikediaman Anderson, Maura serta Jeano sangat disambut baik oleh karena memang mereka sudah tau bahwa Maura adalah teman baik dari Tuan rumah.


"Silahkan Nyonya, Tuan Muda."


Bi Julia orang yang menyambut mereka,  mempersilahkan Maura dan Jeano untuk duduk terlebih dahulu


"Terimakasih Bi Julia."


"Ah tidak, aku tidak ada urusan dengan Felix. Aku hanya ingin mengunjungi Zeana, apakah ada?"


"Ouh Non Anna. Ada Nyonya, sebentar saya panggilkan."


Dengan terburu-buru Bi Julia berlari menuju lantai 2 dimana kamar Zeana berada, dan tidak membutuhkan waktu yang lama Bi Julia kembali dengan mengandeng tangan Zeana.


Zeana yang hari ini sangat terlihat cantik karena baru saja menyelesaikan mandi paginya. Baju dress berwarna pinksoft dengan rambut yang dikucir menjadi 2 menambah kesan imut untuk Zeana kecil.


"Jeano?"


Zeana sedikit berlari kearah Jeano dan Bundanya berada. "Kamu kok bisa ada disini? Dengan siapa kesini?"


"Tentu saja bisa, aku bersama Bunda." Ucap Jeano sambil menunjuk Maura yang berada disampingnya, sontak saja Zeana langsung melihat kearah yang Jeano tunjuk.


"Loh Tante Maura? Apakah Tante Bundanya Jeano?"


"Iya sayang, tante adalah Bundanya Jeano. Bagaimana kabarmu hari ini?"


"Kabar ku baik Tante. Apakah aku boleh bermain dengan Jeano?"


"Tentu saja, silahkan kalian bermain."


Mereka berduapun mulai bermain bersama layaknya anak kecil pada umumnya, dengan Zeana yang bermain boneka serta permainan perempuan lainnya. Serta Jeano yang ikut saja apa yang dilakukan oleh Zeana, meskipun Jeano tidak menyukai hal itu namun Jeano tidak mau membuat Zeana bersedih.


Saat sedang asik bermain berdua muncullah Zero entah dari arah mana, tiba-tiba langsung menarik tubuh Jeano agar menjauh dari Zeana.


"Menjauhlah dari Anna!" Teriak marah Zero pada Jeano.


Zero tidak suka jika ada orang asing yang masuk kedalam rumahnya apalagi berdekatan dengan Zeana. Dia takut jika orang itu dapat menyakiti Zeana, atau bahkan membawa pengaruh buruk pada Zeana.


"Tidak mau, aku hanya ingin bermain bersama Anna."


"Hei, siapa yang mengizinkan mu memanggil Zeana dengan sebutan Anna?"


"Tidak ada, hanya ingin. Lagian Anna sendiri tidak keberatan dengan hal itu, benarkan?"


"Iya, Jeano boleh memanggilku Anna sama seperti Kak Zero."


Tunggu, Jeano? Jadi anak laki-laki didepannya ini adalah anak yang sama seperti kemarin saat didanau? Jika dilihat-lihat memang anak ini sama persis seperti anak kemarin.


"Dia hanya orang asing Anna, dan orang asing tidak boleh menyebutmu dengan sebutan Anna."


"Apa itu orang asing?"


Seketika Zero dan Jeano menatap kesal kepada Zeana, kenapa disituasi saat ini jiwa kepo serta bodoh Zeana harus muncul?


"Orang asing itu adalah orang yang tidak kita kenal." Jelas Zero mencoba sabar menjawab pertanyaan Zeana.


"Tapi aku kenal Jeano. Mungkin Kak Zero yang tidak mengenal dengan Jeano, jadi Jeano orang asing untuk Kak Zero."


"Iya juga sih." Batin Zero membenarkan apa yang dikatakan oleh Zeana.


"Tapi tetap saja, kau ini siapa?"


"Jeano manusia Kak." Ucap Zeana cepat menjawan pertanyaan dari Kakaknya. Hal itu menambah rasa kesal pada Zero, bukan itu yang dimaksud.


Sedangkan Jeano merasa puas melihat wajah kesal Zero, ternyata Zeana dapat membuat orang disekitarnya kesal apalagi jika sering bertanya seperti sekarang ini.


"Diam Anna, aku tidak bertanya padamu."


"Siapa kau?" Tunjuk Zero tepat didepan wajah Jeano.


"Jeano Aksa Xiallen. Kau pasti tau kan siapa aku?"


"Kau anak Om Reno dan Tante Maura?"


"Ya, itu Ayah dan Bundaku."


Syukurlah anak didepannya ini bukan anak yang nakal dan jahat. Karena Zero tau bagaimana sifat Jeano meakipun tidak pernah bertemu. Bagaimana Zero bisa tau? Jelas saja Maura yang sering berkunjung kerumahnya suka membicarakan anaknya yang memiliki sifat hampir sama persis seperti dirinya.


Bahkan tak jarang Maura suka menyamakan Zero dengan anaknya yang ternyata bernama Jeano, orang yang berada didepannya ini.


"Hm, baiklah. Kau boleh bermain dengan Anna, tapi jangan terlalu dekat!"


"Tidak mau."


"Hei!!" Teriak Zero marah ketika Jeano malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Zeana.


Teriakan kencang Zero menarik perhatian orang rumah, termasuk Maura yang langsung berlari menghampiri dimana asal suara tersebut.


"Ada apa? Kenapa berteriak?" Maura menatap khawatir pada anak-anak yang sedang bermain itu, dia terus melihat-lihat takut ada sesuatu ataupun ada bahaya.


"Kita tidak apa-apa Bunda. Hanya anak itu saja yang tiba-tiba berteriak."


"Hei kau!!"


"Liat Bunda, dia berteriak lagi."


"Kenapa berteriak Zero?"


"Itu karena anak Tante, dia terus saja mendekat pada Anna. Padahal aku sudah bilang jangan terlalu dekat dengan Anna."


"Apakah Jeano tidak boleh ikut bermain dengan kalian?"


"Bukan seperti itu Tante. Dia boleh ikut, tapi jangan terlalu dekat dengan Anna."


"Yasudah, Jeano mengalah ya. Jangan terlalu dekat dengan Anna, dan kalian tidak boleh bertengar. Itu tidak baik, dan sepertinya kalian bisa rukun menjadi teman."


"Tidak!!" Secara bersamaan Zero dan Jeano menolak perdamaian tersebut.


Dengan sabar Maura menjelaskan serta membujuk Zero serta Jeano agar dapat bermain bersama dengan Zeana. Sedangkan Zeana dari awal hanya diam saja tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh Maura, dia hanya kebagian mengangguk saja.


Cukup lama untuk dapat merukunkan mereka, hingga akhirnya mereka dapat akur dan bermain bersama. Dan dari situlah mereka bertiga jadi sering bermain bersama, dan menjadi sahabat kecil yang bahagia.


Serta ikatan 2 keluargapun menjadi sangat baik, dimana Zero serta Zeana yang diminta untuk memanggil Reno dan Maura dengan sebutan Ayah Bunda, serta ingin dianggap seperti orang tua kandung juga.


Hai hai👋👋👋


Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.