
..."Pada akhirnya satu-satunya orang yang ada disisimu tidak lain adalah dirimu sendiri, ini adalah pendapatku. Maka dari itu kamu harus mengenal dirimu sendiri dan percaya pada dirimu sendiri."...
..._Nakamoto Yuta...
...Happy Reading...
.......
.......
🌱
48. Bukan Salah Zeana
Semua orang yang berada di ruang khusus untuk para pemain basket itu hanya dapat menatap khwatir pada Jeano yang perlaham mulai menghilang. Mereka semua tidak dapat melakukan apapun selain memantau dari jauh, mereka berharap ada seseorang yang dapat menemani Jeano dalam keadaan marah seperti sekarang
Tidak lama Zero baru saja kembali dari toilet untuk berganti pakaian dan menatap heran semua teman-temannya yang menatap dirinya seolah menemukan harta karun.
Apenih? Gue gak ngapa-ngapain, emang udah jelek ati lo dari kecil. Tau gak? Oke skip.
Maaf numpang iklan dulu.
"Kenapa?" Tanya heran Zero pada semua terutama pada Bobby yang mentapnya penuh binar bahagia.
"Zer, cepet kejar Jeano! Sebelum dia ngamok gak jelas nantinya." Ucap Bobby sambil mendorong tubuh Zero agar segera menyusul Jeano yang sudah pergi.
Zero menatap tajam Bobby karena merasa tidak suka dengan mendorong tubuhnya secara tiba-tiba. "Apaan sih?" Sentak Zero yang menjauhkan tubuhnya dari Bobby.
"Itu ege, Jeano lagi marah tuh." Kini Andra ikut khawatir pada Jeano dan mulai ikut berbicara untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Marah kenapa?"
"Nih liat!" Bobbypun memberikan ponselnya pada Zero dan dengan segera Zero melihat apa yang ada di ponsel tersebut.
Seketika Zero meremas keras ponsel Bobby yang ada ditanganya begitu selesai menbaca berita dari ponsel tersebut, kedua sorot matanya menajam terlihat sekali amarah dikedua matanya.
"Sial*n." Tidak berbeda jauh dengan Jeano yang mengumpat ketika tau berita tersebut, Zeropun sama ikut mengumpat ketika tau berita itu.
Tanpa banyak bicara lagi Zero segera mengambil tasnya dan menjoba untuk mengejar Jeano, ini dia paham dengan semua orang yang menyuruhnya untuk mengejar Jeano.
Zero mulai berlari dan melihat-lihat kearah sekitar karena siapa tau saja Jeano masih ada di lingkungan sekolah, tapi sepertinya sudah tidak ada. Bahkan motor Jeano yang berada disebelah mobilnya juga ikut tidak ada.
Zero bergegas menaiki mobilnya dan mencoba untuk mengejar Jeano, dia tahu pasti Jeano akan menuju rumahnya menemui Zeana. Zero terus melajukan mobilnya dengan sangat cepat, dia tidak mau kalau sampai Jeano menyakiti Zeana karena kesalahpaham yang terjadi.
Karena dia tahu bahwa Adiknya itu tidak ada sangkut pautnya dengan berita itu, Zeana sudah menceritakan terlebih dahulu padanya sebelum berita itu ada. Jadi ada Zero dan Aqila mungkin bisa menjadi saksi serta pembela untuk Zeana dari tuduhan yang dilemparkan pada Zeana.
Tanpa disadari Zero dan juga Jeani sudah seperti pembalap yang terus menjalankan kendaraan mereka dengan kecepatan diatas rata-rata.
***
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya di kediaman Anderson Zeana masih asik tidur nyaman ditempat tidurnya. Tanpa terasa Zeana tidur cukup lama, dia terbangun ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Nona..Non.." Terdengar suara salah satu maid memanggil terus memanggil nama Zeana serta terus mengetuk pintu kamar Zeana.
Tok tok tok
Zeana pun mulai terusik dari tidurnya, dia melihat suasana kamar yang mulai agak gelap dari tadi siang dia berada dan ternyata saat melihat jam sudah menunjukan waktu sore.
Zeana mulai turun dari tempat tidurnya dab melangkahkan kakinya menuju pintu.
Ceklek
Dapat Zeana lihat salah satu maid tengah berdiri didepan pintu dan menatap Zeana khawatir. "Apakah Nona Muda baik-baik saja? Dari siang Bibi khawatir karena Nona tidak lekas turun untuk makan."
Zeana menjadi merasa bersalah pada Maid tersebut karena kelakuannya sampai membuat orang lain khawatir, tapi di satu sisi Zeana merasa senang karena dikelilingi oleh orang yang begitu sayang padanya.
Zana menggeleng pelan serta tersenyum tipis, "Aku baik Bibi. Aku hanya lelah dan tertidur saja, maaf karena membuat Bibi Khawatir." Ucap Zeana merasa bersalah pada Maid tersebut.
"Syukurlah kalau Nona baik-baik saja, dan tidak perlu meminta maaf. Itu sudah menjadi bagian dari tugas Saya untuk mengurus semua keperluan Nona."
"Baiklah."
"Karena ini sudah sore alangkah baiknya Nona segera turun untuk makan terlebih dahulu, takutnya nanti Tuan marah karena tau Nona tidak makan dari siang serta belum minum obat." Saran Maid tersebut karena dia tahu bahwa Zeana harus rutin makan serta minun obat untuk menjaga kesehatannya.
Benar apa yang dikatakan Maidnya, Zeana lupa harus rutin minum obat yang diberikan oleh Dokter Bian kepadanya.
"Iya, aku akan turun sekarang. Bibi bisa lebih dulu pergi."
"Kalau begitu Saya permisi."
Zeana hanya membalasnta dengan anggukan saja, lalu mulai menutup pintu kamarnya kembali serta bersiap-siap untuk turun kebawah.
Tidak membutuhkan waktu lama Zeanapun mulai menuruni tangga menuju meja makan terlihat disana tidak ada siapa-siapa yang berada di meja makan tersebut.
Zeana mulai mendudukan tubuhnya di salah satu kursi dan tidak lama Maid yang tadi menghampirinya kekamar kini kembali menghampirinya lagi.
"Nona mau makan sekarang?"
"Kurasa tidak, aku ingin makan sekalian nanti saja bersama yang lainnya."
"Tapi Nona belum makan apapun lagi dari tadi siang, Saya takut nanti Non Anna malah sakit lagi."
"Tidak akan Bi, aku sungguh baik-baik saja. Lagian sebentar lagi juga akan memasuki jam makan malam, jadi sekalian saja."
Memang sejak Zeana mengalami amnesia banyak yang berubah, salah satunya Felix dan Zero yang tidak pernah melewatkan sarapan serta makan malam bersama.
"Kalau begitu, apakah Nona ingin ada yang dimakan terlebih dahulu? Sambil menunggu jam makan malam tiba."
"Tentu Nona, saya akan buatkan salad buah untuk Nona. Mohon tunggu sebentar," Maid tersebut segera pergi ke dapur untuk menbuatkan salad untuk Zeana.
Zeana menunggu sambil bergelut dengan pikirannya tak lupa dengan kedua tangan dan kaki yang terkadang bergerak tidak mau diam.
Dari arah luar mulai terdengar suara kendaraan yang begitu nyaring, sangat terdengar sekali bahwa pengemudi kendaraan tersebut membawa kendaraan mereka dengan tidak santainya.
Zeana dapat menebak jika itu adalah Jeano dan juga Zero karena hanya para anak muda itu saja yang sering membawa ke kendaraan seperti itu.
"Ini Non, saladnya." Tiba-tiba Maid yang tadi kembali dengan salad buah yang sudah dibuatnya berbarengan dengan Jeano dan juga Zero yang masuk kedalam rumah dan mulai mencari keberadaan Zeana.
Mereka berdua bertanya pada salah satu Maid yang lain dimana keberadaan Zeana, dan diarahkan kearah meja makan.
"Anna!!" Secara bersamaan Jeano dan Zero memanggil Zeana, membuat Zeana yang tadinya ingin menjawab perkataan Maid tersebut jadi tertunda.
"Ya?" Tanya heran Zeana melihat Jeano dan juga Zero yang datang dengan raut wajah yang berbeda. Jeano yang tanpak menahan marah, dan Zero yang juga khawatir.
"Kenapa?" Tanya Zeana kembali karena tidak mendapatkan respon dari 2 remaja pria didepannya ini.
Zero dan Jeano tidak tahu harus memulainya dari mana, ditambah masih ada maid yang bersama mereka. Seolah mengerti suasana tersebut, Maid itupun bermaksud untuk pergi dari sana.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, jangan lupa untuk memakan saladnya Nona! Karena Nona belum makan apapun lagi dari siang." Peringat kembali Maid tersebut pada Zeana.
"Iya, terimakasih Bibi."
"Sama-sama."
Maid tersebut begegas membali bekerja dan meninggalkan mereka bertiga dengan raut wajah yang kini berbeda. Terlihat kini Zero dan juga Jeano melotot kearah Zeana serta merasa khawatir dengan keadaan Zeana. Keduanya mulai ikut duduk dikursi kosong dimeja makan tersebut.
"Kenapa kamu belum makan dari siang?"
"Apakah kamu baik-baik saja?"
Secara beruntun Zero dan Jeano bertanya pada Zeana.
"Aku baik-baik saja, hanya saja tadi sepulang sekolah aku langsung tidur dan tidak sempat makan terlebih dahulu. Tapi tenang saja, sekarang aku akan memakan salad ini dulu, sambil menunggu makan malam bersama."
"Kenapa harus menunggu makan malam? Kamu bisa makan terlebih dahulu, tanpa harus menunggu kami."
Zeana segera menggeleng tanpa tidak setuju dengan ucapan Zero, "tidak Kak, aku ingin makan malam bersama."
"Baiklah kalau begitu, tapi lain kali jangan sampai melewatkan jadwal makanmu serta kamu harus minum obat."
"Iya Kak, hanya kali ini saja." Janji Zeana pada Zero yang mencoba untuk menyakinkan bahwa dia tidak akan mengulanginya lagi.
"Ouh iya, apakah kalian baru saja pulang dari sekolah?"
"Ya, dan ada yang ingin aku tanyakan padamu?" Jawab Jeano dan mulai menatap serius kearah Zeana.
"Tanya saja."
"Apakah kamu bertemu Nico?"
"Nico?" Zeana nampak sedang berpikir dimana dia pernah mendengar nama itu. "Ouh iya, orang yang pernah kamu bilang untuk menghindarinya bukan?"
Jeanopun mengangguk tanda membenarkan perkataan Zeana, "jadi kamu menemuinya?"
"Tidak. Bahkan sampai sekarang aku tidak tau yang namanya Nico itu seperti apa wajahnya." Dapat terlihat sekali bahwa Zeana mengatakan yang sebenarnya membuat Jeano juga ikut percaya dengan perkataan Zeana.
"Tadi kamu kemana saja waktu disekolah?"
"Aku hanya diam dikelas, lalu kekanti bersama kalian dan terakhir aku pergi ke perpustakaan bersama Aqila. Itu saja, dan tibalah waktu pulang."
Saat akan bertanya kembali terlebih dahulu Zero menyenggol lengan Jeano dan seolah berkata, "jangan bertanya lagi!" Melalui tatapannya.
Jeanopun mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali dan menatap Zero dengan tatapan tidak mengerti.
"Kamu boleh lanjutkan makan saladmu terlebih dahulu, kita ada urusan yang harus dibicarakan." Ucap Zero yang langsung menarik Jeano agar lebih jauh dari Zeana berada.
"Kenapa?" Tanya Jeano serasa jarak mereka beruda cukup jauh dengan Zeana yang mengakibatkan Zeana tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Sebenarnya Anna bertemu dengan Nico."
"Apa?" Teriak Jeano cukup keras karena begitu terkejut dengan apa yang dikayakan oleh Zero.
"Jangan berteriak bodoh!"
"Bagaimana aku tidak berteriak? Aku terkejut karena ternyata Anna berbodong padaku."
Jeano hendak kembali menghampiri Zeana namun dengan segera Zero menahannya. "Mau kemana, dengarkan perkataan ku dulu bodoh."
"Apa lagi?"
"Anna memang bertemu dengan Nico namun Anna tidak mengetahui itu."
"Bagaimana maksudmu?"
"Jadi seperti ini...."
Zeropun menceritakan apa yang dialami oleh Zeana yang bertemu dengan Nico namun tidak menyadari kalau itu adalah Nico.
"Kayak gitu ceritanya. Sepertinya kita harus lebih waspada, karena kayaknya Nico mulai mau coba deketin Zeana lagi. Ditambah keadaan sekarang yang dia udah gak ada ikatan hubungan apapun, pasti bakal terus coba deketin Zeana lagi. Gue gak mau kalau Zeana jadi kambing hitam karena berakhirnya hubungan Nico sama ceweknya."
Jeano ikut setuju dengan apa yang dikatakan oleh Zero, dan sepertinya hanya satu cara yang dapat digunakan nantinya. Yaitu segera mengumumkan hubungan Jeano dan Zeana kesemua publik.
Hai hai👋👋👋
Author yang baik dan budiman ini kembali menyapa. Jangan lupa like, vote, dan comment yah. Tandai juga bila ada typo.