
"Berhenti!"
Spontan mata semua orang langsung tertuju pada asal suara. Dua orang pria dengan beberapa polisi hadir disana. Memasuki rumah Galaksi bergantian lalu berdiri tepat di depan Atlas yang hanya berjarak sebuah meja.
"Orion?" pekik Atlas dengan wajah terkejut.
"Apa kabar, Tuan Atlas? Saya melihat Anda begitu sehat dan bahagia hari ini," kata Orion ambigu.
"Tentu saja. Aku bahagia karena sudah bertemu dengan keluarga yang dulu berpisah denganku," kata Atlas menegakkan tubuhnya.
"Oh syukurlah, Tuan," sahut Orion dengan santai. "Lalu kenapa Anda ingin mengusir mereka semua?"
Atlas tersenyum miring. Dia menatap Orion penuh kebencian dan beralih ke arah Pandora.
"Karena rumah ini adalah rumahku, Orion. Jadi aku berhak untuk mengusir mereka semua."
"Atas dasar apa Anda mengatakan itu?"
"Aku adalah anak kandung keluarga ini. Kakak kandung Altair dan pewaris paling sah."
"Apakah Anda tahu, jika semua harta Tuan diberikan pada putranya yaitu Tuan Galaksi?"
"Tahu, tapi…." jedanya sebentar dengan mata terus menatap Orion. "Galaksi sudah meninggal dan jasadnya tak ditemukan. Jadi hanya aku yang berhak atas semuanya."
"Anda salah besar, Tuan?" kata Orion sambil berjalan satu langkah ke depan. "Semua harta Tuan Galaksi sudah diwariskan kepada dua anaknya yaitu Tuan muda Mars dan Nona muda Venus."
"Gak mungkin!" seru Atlas tak terima.
"Tapi itu kebenarannya, Tuan." Orion menoleh pada pria berpakaian rapi di sampingnya.
Dia memberikan kode kepadanya untuk menunjukkan sesuatu yang harus dilihat oleh Atlas agar pria itu sadar diri.
"Apa ini!"
"Pria ini adalah pengacara yang mengatur harta waris, Tuan Galaksi. Disana sudah tertera dengan jelas dan ditandatangani oleh beliau. Jika semua harta dan aset Tuan Altair dan Tuan Galaksi diberikan kepada kedua anaknya," kata Orion dengan tegas.
"Dari rumah di Jakarta, rumah New York, Villa, Mansion, Hotel, Perusahaan GG Entertainment dan semua kendaraan serta aset lainnya seperti tanah itu sudah jatuh pada mereka berdua."
"Kau jangan mengada-ngada, Orion!"
"Saya tidak mengada-ngada, Tuan. Anda bisa melihat keaslian surat yang ada di tangan, Anda."
Setelah mengatakan itu, dia menatap map yang ada di meja itu dan mengambilnya. Orion terlihat begitu tenang. Bahkan ekspresi pria itu begitu datar. Hingga tak ada seorangpun yang mampu menebak apa yang sedang dipikirkan oleh tangan kanan Altair tersebut.
"Bagaimana Anda bisa mendapatkan tanda tangan Tuan besar dan Tuan muda, Tuan Atlas?" kata Orion tiba-tiba sambil menyerahkan map tersebut. "Bukankah Anda tak pernah bertemu dengan mereka berdua?"
Wajah Atlas terlihat begitu gugup. Bahkan pria itu merasa susah untuk menelan ludahnya. Pria itu tanpa sadar meremas dokumen yang dipegang tangannya saat semua mata kini tertuju kepadanya. Mereka sama-sama menunggu jawaban apa lagi yang akan keluar dari mulut pria itu.
"Apakah Anda memanipulasi tanda tangan mereka?"
"Sembarangan!" seru Atlas beranjak berdiri. "Kau sungguh tak sopan, Orion."
Pria yang sudah berumur hampir sama dengan Atlas hanya bisa tersenyum tipis. Dia mulai mendekati istri tuannya itu dan melirik Atlas yang wajahnya terlihat begitu geram.
"Betul, 'kan, yang saya katakan, Nyonya? Bukankah Tuan Altair tak pernah bertemu dengan Tuan Atlas?"
"Ya. Mereka berdua tak pernah bertemu."
"Kau tak tahu apa-apa, Pandora. Selama ini kau disekap oleh Alula yang menyamar menjadi dirimu."
Spontan wajah Orion berubah berbinar. Dia semakin tersenyum miring saat berhasil memancing pria didepannya ini. Sedangkan Atlas sendiri, wajah pria itu mulai takut.
"Bagaimana Anda bisa tahu, Tuan Atlas? Bukankah saat itu Anda tak ada disini?"
Mata Pandora menajam. Bahkan dirinya mulai yakin jika pria di depannya ini tak beres. Pasti banyak kebusukan yang Atlas lakukan sampai pria itu tahu semuanya.
"Aku…aku…."
"Kenapa Anda begitu gugup? Apakah Anda merasa melakukannya?"
"Jangan bicara sembarangan kau, Orion!" ancam Atlas berjalan mendekati tangan kanan kembarannya itu. Lalu sekali gerakan, tangannya menarik kerah baju pria itu. "Apakah kau iri padaku, karena kau tak bisa mendapatkan apapun, hm?" bisik Atlas dengan seringai jahatnya.
Dua mata pria itu saling tatap. Bahkan mereka seperti ingin beradu tanding jika salah satu polisi tak mendekat dan melepaskan tangan Atlas dengan paksa.
"Saya tak pernah iri pada Anda, Tuan," kata Orion tegas. "Saya hanya takut jika apa yang ada di otak Anda akan sia-sia."
"Apa maksudmu?"
"Tangkap dia, Pak. Dia adalah penjahat utama dari dalang pembunuhan, penculikan, pemalsuan tanda tangan, dan menyabotase pesawat sampai jatuh dan meledak!" seru Orion menunjuk Atlas dengan wajah dinginnya.
"Apa!" Mata semua orang menatap tak percaya ke arah Orion.
Mereka tak menyangka jika pria tua itu lagi yang menyelamatkan keluarga Altair. Bahkan mereka juga tak tahu bagaimana kinerja pria itu agar membongkar semuanya. Seakan Orion memiliki banyak mata, telinga, tangan dan kaki untuk mencari sesuatu yang berhubungan dengan keluarga tuannya.
"Itu semua fitnah! Dia fitnah, Pak!" kata Atlas dengan tegas.
Dua orang polisi tetap berjalan mendekat. Mereka tetap harus menjalankan sesuai prosedur yang ada. Sampai saat Atlas hendak kabur, dua anak kecil yang entah datang dari mana langsung menjegal kakinya hingga tubuh Atlas jatuh telungkup di lantai.
"Hahaha." Tawa Mars dan Venus begitu keras. Bahkan mereka berdua bertepuk tangan melihat Atlas kesakitan.
"Bagaimana sih, Kek? Kalau jalan pake mata dong!" seru Venus dengan cekikikan.
"Kau!" Atlas begitu geram. Bahkan giginya bergemeletuk menahan amarah yang berkobar.
Sampai saat dirinya hendak menarik tangan Venus. Dua polisi sudah menarik tangannya terlebih dahulu dan meringkus dirinya.
"Lepaskan, Pak! aku tak bersalah!" teriak Atlas meronta.
"Lebih baik Anda jelaskan di kantor polisi," kata polisi tersebut sebelum membawa Atlas dan para bodyguardnya pergi dari rumah Galaksi.
Suasana rumah kembali tenang. Namun, pandangan Galexia, Mama Pandora, Mama Alya dan Cressida tertuju pada Orion. Mereka semua seakan sedang menuntut jawaban. Jawaban dari segala hal yang diketahui Orion dan kebusukan dari kejahatan saudara kembaran Altair.
"Orion…."
"Saya akan menjelaskan semuanya saat sidang Tuan Atlas, Nyonya. Saya janji akan jujur pada kalian semua," potongnya dengan cepat.
Jika sudah begini. Pandora tak bisa memaksa. Dirinya sudah tahu bagaimana watak tangan kanan suaminya itu. Namun, jika membahas tentang kesetiaan. Maka pria itu tak bisa diragukan kembali. Orion begitu setia dan rela mempertaruhkan nyawanya untuk mereka.
Bahkan semua itu bisa dilihat dari kinerjanya sekarang. Bisa dilihat bagaimana dia menyelamatkan Pandora dan membongkar kebusukan Alula saat itu.
"Terima kasih banyak, Orion. Selama ini kamu selalu menjaga keluargaku dengan baik."
"Sama-sama, Nyonya. Semua yang saya lakukan demi janji saya pada Tuan Altair dan Tuan Galaksi."
~Bersambung~
Uwuwww Orion emang pria setia, 'kan.
Hayo yang kemarin fitnah Orion dalang dari semuanya. Cepet minta maaf! hahaha.
Jangan lupa klik like, komen dan vote sebagai bentuk apresiasi kalian.
Akhirnya bisa up lagi hehe.