The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Galaksi VS Mars




"Kenapa Mama tega?" Pertanyaan Galaksi tentu membuyarkan lamunan Pandora. Perempuan dengan otak penuh misteri itu menatap anaknya dengan tajam.


Dirinya hanya diam setelah mengulang peristiwa yang pernah dia lakukan. Pandora diliputi rasa gelisah. Dia takut jika rahasia yang selama ini dipendam akan terbuka. Namun, melihat reaksi anaknya yang semarah ini. Siapa yang tak merasa takut? 


"Katakan, Ma! Apa salah Galaksi!" serunya dengan wajah memucat.


Darah di tangannya terus mengalir bahkan sakit di kepalanya semakin berdenyut. Namun, Galaksi mengesampingkan itu semua. Dia harus mendapatkan jawaban. Dirinya tak mau ada rahasia lagi di antara mereka dan membuatnya terus berpikiran buruk tentang Sia.


"Kalau Mama hanya diam! Aku bersumpah akan mencari tahu semuanya sendiri!" serunya dengan menatap Pandora tajam. "Aku harap Mama tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Galaksi membenci, Mama," ujarnya penuh penekanan. 


Setelah mengatakan itu, dirinya berjalan meninggalkan Pandora. Dia membiarkan lantai yang ia pijaki terkena noda darah miliknya. Sungguh yang ada dipikiran Galaksi hanya tentang bagaimana kehidupan kedua anaknya selama ini.


Bagaimana Sia menghidupi si kembar tanpa dirinya? 


Sudah dipastikan mantan istrinya itu mengalami banyak kesulitan ketika mereka bercerai. Mengingat akan kebodohan dirinya, Galaksi merasa malu untuk bertemu Sia dan kedua anaknya. 


Apa yang akan dia katakan pada Mars dan Venus?


Apa yang harus ia jelaskan pada mereka, sebagai tanda untuk mengganti waktu yang mereka habiskan dalam perpisahan.


Merasakan dan memikirkan semua itu, tentu membuat tubuhnya semakin lemah.


Dia bertumpu pada dinding rumah sakit dengan mata terpejam. Tangannya ia buat memijat dahi agar sakit yang sangat terasa sedikit berkurang. Namun, ternyata segala usahanya tak membuat kepalanya merasa ringan. Melainkan, denyutannya semakin terasa hingga membuat dirinya hampir jatuh. 


Namun, seketika sebuah kulit hangat yang menyentuh tangannya membuat Galaksi membuka mata. Dirinya menunduk hingga tatapannya bertemu pandang dengan sosok yang sangat tidak ingin dirinya temui.


Hanya untuk saat ini. Sampai dia bisa menguatkan hati. Namun, ternyata takdir tuhan sungguh tak ada yang bisa menebak.


"Mars," lirihnya dengan pelan.


"Ayo Mars bantu Om duduk," ucapnya dengan menggenggam sebuah tangan yang sudah lama diharapkan dan membantunya duduk di kursi.


"Terima kasih," kata Galaksi dengan mata berkaca-kaca.


Dirinya mendapatkan jawaban sekarang. Galaksi akhirnya tahu kenapa dia merasa seperti memiliki sebuah ikatan dengan si kembar. Tenyata, memang keduanya memiliki darah yang sama dari tubuhnya.


Mengingat itu, tentu membuat Galaksi ingin sekali merengkuh tubuh mungil anaknya. Anak yang dulu dihina dan dituduh bukan darah dagingnya. Anak yang sempat diragukan akhirnya ada di depan mata.


"Sama-sama," sahut Mars dengan tenang. "Tangan Om berdarah."


Galaksi hendak menarik tangannya dan dia sembunyikan. Namun, ternyata gerakannya kalah cepat dengan Mars. Pria kecil dengan otak cerdik itu, segera membalut punggung tangan Galaksi dengan sapu tangan yang ia ambil dari saku, hingga darah yang tadinya mengucur bisa berhenti sejenak. 


Galaksi tak mengatakan apapun lagi. Seakan lidahnya merasa keluh dan tak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Momen seperti ini tentu tak pernah ada dalam pikirannya. Namun, mendapatkan sebuah kebenaran yang luar biasa, tentu membuat secercah harapan dalam dirinya mulai terlihat.


Setidaknya dia tak semakin menyesal untuk mengetahui semua ini. Setidaknya dirinya bisa berusaha untuk mengganti waktu 6 tahun yang hilang dengan memberikan segala hidupnya untuk Mars dan Venus. 


Tanpa sadar air mata mengalir di sudut matanya, dia begitu terharu dengan sikap putranya ini. Ternyata, mantan istrinya berhasil mendidik anaknya menjadi sosok anak yang begitu baik pada semua orang.


"Kenapa Om menangis?" Tanya Mars hingga membuat Galaksi tersadar.


Dia menghapus air matanya pelan. Lalu memberanikan diri menatap mata Mars yang selalu memandangnya.


"Om hanya merasa terharu. Pria kecil ini ternyata bisa mengobati tangan, Om." Galaksi tersenyum getir.


Mars mengangguk. "Mars kira Om lagi ingat anak, Om."


Deg.


Jantung Galaksi berdegup kencang. Bahkan bibirnya begitu berat untuk menjawab. Seakan ada beban berat untuk dia mengatakan bahwa anaknya adalah kamu Mars.


Sedangkan Mars, pria kecil itu mencoba mengartikan ekspresi wajah Galaksi. Dia dengan sengaja mengatakan hal itu untuk memancing keberanian sosok yang ternyata adalah ayah kandungnya. Namun, melihat keterdiaman Galaksi. Hati kecil Mars sedikit kecewa.  


Apa yang Mars harapkan?


Dia hanya ingin Galaksi sedikit sadar dengan dirinya.


Dia ingin mendapatkan pelukan seorang ayah seperti impiannya sejak dulu.


"Om...Om…" Galaksi menjawab terbata. Dirinya sungguh tak tahu harus mengatakan apa sekarang.


"Om belum punya anak?" 


Galaksi terdiam.


Ya tuhan, kenapa sangat sulit untuk mengatakan padanya jika aku adalah papamu, batinnya dengan bibir yang terus membisu. 


"Ya sudah. Mars mau pergi ya, Om." Rasa kecewa itu semakin dalam. Bahkan walau Mars menutupinya dengan wajah datar, siapapun yang memandangnya akan melihat kerapuhan dalam matanya. Apalagi, hati seorang anak tentu begitu lemah.


Saat dirinya hendak turun dari kursi tunggu. Tiba-tiba Galaksi menahan tangan mungil itu, dan menggenggamnya dengan erat.


"Boleh Om peluk, Mars?" Akhirnya hanya kata itulah yang keluar dari bibirnya.


Setidaknya yang ada dalam pikiran Galaksi, dia bisa merasakan pelukan seorang ayah pada anaknya. Tanpa diduga, Mars segera berhambur ke pelukannya.


Belitan tangan itu terasa erat dalam tubuhnya hingga membuat tubuh Galaksi mematung. Dia merasa sakit di tangannya tak ada arti, dan Galaksi membalas rengkuhan tubuh Mars dan membawa dia ke pangkuannya. Dengan pelan, Galaksi mengelus kepala sang putra dengan menahan air mata yang semakin meluncur deras.


Biarlah dia diejek sebagai pria cengeng. Namun, pada dasarnya dirinya memang terharu. Galaksi tak bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya dia malam ini. Rasa ini begitu sulit untuk dijabarkan, hingga membuat Galaksi memilih menikmati pelukan ini sebelum tubuh mereka kembali dijauhkan.


Ternyata dipeluk papa seperti ini rasanya, gumam Mars sambil memejamkan matanya.


Harum tubuh Galaksi begitu menenangkan. Bahkan Mars sampai memejamkan matanya meresapi kesempatan yang tak tahu kapan datang kembali.


Tanpa keduanya sadari, dari kejauhan Galexia yang berniat menyusul anaknya dengan tangan memegang infusnya sendiri melihat pemandangan itu. Penampakan yang begitu membuatnya menutup mulut untuk menahan isak tangis.


Pemandangan yang begitu membuatnya menjadi sosok ibu jahat. Menjauhkan anak dan ayah serta tak memberitahukan kebenaran itu pada anak-anaknya. 


"Apa yang harus aku lakukan? Apa Mars dan Venus sudah tahu jika Galaksi adalah ayah mereka?"


~Bersambung~


Aku nangis nulis bab ini. Apa ada yang nangis kayak aku? macem terharu aja lihat anak yang gak pernah tahu bapaknya dan dipeluk.


Kalau ada typo atau kalimat ambigu komen yah. Aku malah seneng loh dikomen begitu.


Maaf ya baru update. Tadi siang aku diajak nganter lamaran secara mendadak. Alhasil aku baru selesai beberes dan langsung ngetik. Huftt aku mulai mengantuk. Kalau besok telat update berarti aku ketiduran yah.


Jangan lupa tekan like, komen dan vote sebagai bentuk apresiasi sama novel si kembar.