
Suara tapak kaki yang berlari membuat Riksa menoleh. Dia menatap wanita yang ditolongnya sedang menarik kursi di depannya dan duduk. Nafasnya terengah dengan mata yang terus menatap makanan yang dia siapkan.
"Nasi goreng?" tanyanya ke arah Riksa.
"Jika kau sudah tahu. Untuk apa bertanya?"
"Kau orang Indonesia?" tanya wanita itu tak mengindahkan pertanyaan Riksa.
"Ya."
"Apa kau memasaknya sendiri?" tanyanya lagi dengan menarik piring itu dan mencium baunya.
Astaga, wanita ini benar-benar, batin Riksa menatap aneh ke arah wanita yang dia selamatkan.
Selama ini dirinya selalu melihat sosok perempuan yang bersikap jaim di hadapannya. Mereka selalu berusaha menjadi sosok yang baik di segala aspek. Namun, berbeda sekali dengan wanita di depannya ini. Dirinya tak pernah merubah apapun untuk dipandang orang. Bahkan bisa Riksa tebak, jika pakaian yang digunakan sampai sekarang, karena dirinya terpaksa.
"Tentu saja. Kau kira tuyul yang memasak?" serunya sambil mulai menyantap nasi goreng itu.
Perempuan itu tak menjawab. Dia melihat bagaimana Riksa menyantap makanan itu begitu lahap. Hingga membuat perutnya ikut meronta dan akhirnya mulai memasukkan ke dalam mulutnya.
"Hm," gumamnya sambil memejamkan matanya.
Saat nasi goreng itu terkecap sempurna di lidahnya. Sungguh rasanya begitu luar biasa. Perpaduan rempah dan bumbu begitu pas hingga membuat wanita itu tanpa sadar makan dengan lahap. Bahkan tanpa rasa malu, dia makan sampai berantakan dan membuat Riksa begitu terpana.
"Kau kelaparan?"
Wanita itu mengangguk. Lalu setelah nasi gorengnya habis, segera dia teguk segelas air putih hingga membuat perutnya begitu kenyang.
"Ahh perutku kenyang sekali," katanya dengan tangan yang mengelus perutnya.
Riksa geleng-geleng kepala. Dia merasa perutnya ikut kenyang hanya dengan menatap cara makan wanita itu. Segera dia teguk segelas air putih lalu meletakkannya kembali.
Pergerakan Riksa tentu membuat wanita itu mengernyitkan alisnya. Dia melihat piring Riksa yang masih sisa setengah hingga membuatnya menelan ludahnya paksa. Sepertinya perutnya masih tergiur untuk menghabiskan makanan itu meski dia merasa kenyang.
"Kau masih ingin?" tanya Riksa melihat tatapan wanita itu yang terus tertuju pada piringnya.
"Ya."
"Tapi di dapur tak ada sisa…ehhh." Mata Riksa terbelalak tak percaya.
Dia melihat wanita itu menarik piringnya dan segera menyendok nasi itu menggunakan sendok miliknya tadi. Sungguh Riksa begitu tercengang dengan ***** makan wanita itu yang begitu besar. Namun, di sudut hatinya yang lain, ada perasaan bahagia ketika mengetahui seseorang menyukai masakannya.
"Apa kau tak merasa jijik? Itu kan bekasku?" tanya Riksa dengan heran.
Wanita itu menggeleng. Dia menatap mata Riksa dengan lekat dan menunjuk nasi yang dia makan.
"Lalu kenapa jika ini bekas?" tanya wanita itu dengan menatapnya tajam. "Asal kau tau, arti makanan ini, jika dibuang di tong sampah tetap akan berarti untuk mereka yang membutuhkan. Mereka tak akan memikirkan itu hanya sisa atau bekas yang terpenting itu bersih dan mengenyangkan."
Riksa kembali dibuat tercenung. Dia semakin penasaran dengan kehidupan yang dijalani wanita itu selama ini. Gadis cantik yang menurutnya memiliki sikap apa adanya itu, mengingatkan dirinya akan sosok Galexia.
Dan entah kenapa, saat meneliti wajah wanita di depannya ini. Dia merasa seperti melihat sosok wanita pujaannya. Namun, wanita ini lebih muda umurnya daripada Sia.
"Ternyata selain cerewet. Kau juga bisa jadi motivator," seru Riksa sambil membawa piring kotornya ke dapur.
Gadis itu ikut beranjak berdiri dan mengikuti langkah Riksa. Saat keduanya sampai di tempat cuci piring, dengan spontan wanita itu mengambil spon pencuci hingga membuat Riksa berdecak kesal.
"Mana! Biar aku yang cuci," seru Riksa mengulurkan tangannya.
"No! Biarkan aku saja," tolak wanita itu dengan kepala menggeleng.
"Kembalikan!"
"Nggak!"
"Kembalikan!"
"Nggak!"
"Kembalikan!"
"Nggak, ih. Nyolot banget sih," seru wanita itu dengan berkacak pinggang. "Lebih baik kau menonton televisi daripada berkicau seperti burung disini."
Dia tak menyangka jika wanita itu memutar balikkan ucapannya. Hingga akhirnya Riksa mengalah dan memilih pergi menuju ruang tamu untuk mengecek pekerjaannya dari ponsel. Sungguh pria itu merasa memiliki saingan dalam berdebat. Jika dulu ketika dengan Sia, dirinya selalu menang. Namun, sekarang dia harus melalui perdebatan alot jika ingin mengalahkan wanita itu.
****
Sedangkan di Indonesia, lebih tepatnya di rumah sakit. Seorang Dokter baru saja memeriksa perkembangan kesehatan Galaksi. Dia juga mengontrol kedua kakinya dengan mencoba melalui sentuhan.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Sia yang berdiri di samping mantan suaminya.
"Tuan Galaksi tetap harus melakukan terapi agar kakinya bisa segera digerakkan," kata Dokter itu dengan menatap Sia. "Namun, peran Anda juga penting, Nona. Anda bisa membantunya latihan di rumah agar kakinya bisa digerakkan dengan cepat."
Galexia hanya mengangguk. Lalu perlahan Dokter itu keluar dari sana dan meninggalkan Sia dan Galaksi serta kedua anaknya yang setia di ruangannya saat ini.
"Kakak dengar, 'bukan? Kaki Kakak pasti bisa berjalan lagi," kata Sia dengan yakin.
Galaksi hanya bisa diam. Dirinya masih merasa shock jika mengingat keadaan kedua kakinya. Namun, melihat mantan istri yang begitu khawatir kepadanya, dia rela jika merasakan sakit seperti ini. Seakan Galaksi merasa dibalik musibah ada hikmah indah di baliknya.
"Papa jangan sedih, yah," rayu Venus yang sejak tadi berdiri di samping mamanya.
Dia memegang telapak tangan sang Papa dan menciumnya. "Papa pasti sembuh dan bisa beljalan lagi."
Entah kenapa ucapan sang anak membuat wajah yang semula muram berubah bahagia. Galaksi mengangguk lalu dia mengelus kepala putrinya dengan sayang sebelum menghadiahi sebuah kecupan jauh.
"Apa kalian tak ingin pulang?" tanya Sia pada kedua anaknya.
Dia menatap jam dinding di rumah sakit yang menunjukkan pukul 9 malam. Hingga membuatnya menyadari jika ini sudah begitu larut untuk jam tidur kedua anaknya.
"Apa boleh kami tidur disini, Mama?" tanya Mars menatap wajah mamanya.
"Tapi…." Sia menjeda. Dirinya melihat tak ada lagi tempat tidur disini.
Dirinya saja hanya tidur di sofa malam ini. Jika kedua anaknya ikut bergabung, maka mereka tak akan bisa tidur dengan nyaman.
"Pliss, Ma. Boleh yah," bujuk Venus sambil menarik baju yang digunakan mamanya.
"Biarkan saja, Sia. Mereka bisa tidur denganku di ranjang ini," nasehat Galaksi merayu mantan istrinya.
"Tapi, 'kan…."
"Udah gapapa."
Akhirnya Sia mengalah. Dia membantu kedua anaknya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mulai memakaikan kaos kaki yang dibawakan oleh Mama Pandora. Jika dilihat dari perlengkapan si kembar, Sia bisa menebak jika kedua anaknya sudah merencanakan untuk tidur disini.
Setelah semuanya selesai, dia membantu kedua anaknya naik ke atas ranjang. Lalu Sia menarik selimut untuk menutupi tubuh ketiga orang yang begitu berharga dalam hidupnya.
"Selamat tidur dan mimpi indah, Sayang." Setelah mengatakan itu Sia menghadiahi kecupan di dahi Mars dan Venus lalu dia merapikan selimut itu lagi sebelum beranjak pergi.
Namun, baru saja Sia berbalik, suara celotehan sang putri membuat pipinya bersemu merah.
"Papa belum dicium juga, Ma. Nanti Papa gak bisa tidul," kata Venus dengan polos.
Sia berbalik, dia menunduk dengan menautkan kedua jarinya untuk menghilangkan rasa gugup.
"Ayo, Ma. Bial Papa cepat tidul dan sehat," rengek Venus dengan memasang wajah ingin marah.
Akhirnya Sia berjalan mendekat. Dia menatap mata Galaksi yang sedang menatapnya. Hingga perlahan dia menundukkan pandangannya dan mencium dahi mantan suaminya dengan cepat.
"Selamat tidur, Kak. Semoga cepat sembuh."
~Bersambung~
Ehem, mukanya si ono mirip-mirip sama Sia loh. Ada apa yah?
Wah wah Venus memang niat bantuin Papa Galak yah. Papa Galak dapet banyak bonus loh.
Hari ini aku update dua bab dulu yah. Maaf aku baru saja selesai nidurin anakku. Hari ini bener-bener gak bisa ditinggal dia. Mangkanya updatenya aku telat.
Jangan lupa klik like, komen dan vote ya sebagai tanda apresiasi kalian sama novel ini.
Kalau besok si kecil udah gak rewel, aku usahain crazy update.