The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Si Galak dan Si Gila




Hari semakin naik. Keadaan rumah yang tadinya kacau balau mendadak tenang. Entah apa yang sedang terjadi tapi hal itu tak membuat kemesraan pengantin baru di dalam kamar itu terusik. 


"Ayo keluar, Kak. Aku lapar," rengek Sia yang entah sudah keberapa kali.


Sudah sejak dua jam lalu dirinya meminta Galaksi untuk keluar dari kamar. Namun, pria itu benar-benar seperti pria kehausan yang selalu ingin minum.


Dia tak membiarkan istrinya berada jauh darinya. Galaksi seperti perangko, yang selalu menempel pada amplop, dimanapun dia berada. 


"Kakak," rengek Sia dengan wajah cemberut. "Kalau Kakak gak mau keluar, nanti malam tidur di luar!" 


"Apa!" Galaksi spontan berdiri. 


Dia menggeleng dengan tegas dan takut akan ancam istrinya itu.


"Oke...oke. Mari kita keluar!" ajak Galaksi dengan wajah lesu.


Senyum sumringah terbit di bibir Galexia. Perempuan itu segera beranjak berdiri dan berjalan mengikuti suaminya yang sudah berjalan duluan. Perlahan kunci pintu itu diputar dan Galaksi langsung membukanya.


Namun, entah apa yang terjadi. Tubuh pria itu mendadak diam. Dia seakan tegang dan seperti pencuri yang ketahuan. 


"Kenapa berhenti?" tanya Sia yang berdiri di belakangnya.


Dahinya berkerut saat pertanyaannya tidak dijawab. Hingga rasa penasaran semakin menghinggapinya dan membuat kepala perempuan itu menyembul dari balik punggung Galaksi. 


"Ayah…Mama," cicit Galexia dengan mata melebar.


Spontan dia memegang baju belakang Galaksi. Lalu menyembunyikan wajahnya di belakang punggungnya. 


"Mati kita, Kak. Bagaimana ini?" bisik Galexia yang masih bisa didengar oleh Galaksi.


Jujur ayah dari si kembar itu tak tahu harus bagaimana. Dia seperti tersangka di depan keluarganya. Bagaimana tidak, kedua mertuanya, mamanya dan sahabat gilanya, Leo. Sedang duduk di sofa yang posisinya tepat di depan kamar tamu.


Entah bagaimana bisa sofa itu berpindah tepat. Tapi yang pasti, mereka berdua benar-benar malu.


Galaksi berdehem. Dia menggaruk tengkuknya yang gatal. Lalu mencoba meraih tangan istrinya agar berdiri di sampingnya.


"Gak mau. Kakak yang harus tanggung jawab," cicitnya yang didengar semua orang.


"Ayah...Ibu…Mama," kata Galaksi dengan terbata-bata.


"Dasar, Anak Nakal," ucap Mama Pandora dengan berjalan ke arah anaknya. 


Perempuan yang usianya sudah tak lagi muda itu, menarik telinga putranya. Memelintirnya sampai Galaksi mengaduh.


"Ampun, Ma. Sakit," rintih Galaksi sambil berusaha melindungi telinganya.


"Anak kalian menangis kencang, kamu malah nyembunyiin Mamanya sampai siang," omel Mama Pandora semakin kuat menarik telinga putranya.


"Ampun, Ma. Ampun. Galaksi Khilaf, Ma," ujarnya membela diri.


"Terus, Tante. Tarik yang kuat!" Kompor Leo begitu panas. 


Pria itu mengejek sahabatnya yang sedang dihukum. Bahkan Leo sampai menjulurkan lidahnya saat Galaksi menatap galak pada pria gemulai tersebut. 


"Lepasin, Mbak. Kasihan itu kesakitan Galaksi," kata Rhea dengan meringis.


"Jangan bela anak ini, Rhea. Dia memang harus diberi pelajaran biar gak egois," sahut Mama Pandora lalu melepas tangannya.


Galaksi meringis. Dia mengusap telinganya yang panas sambil mencari perhatian istrinya.


"Jangan dimanja suamimu ini, Sia. Dia memang nakal," ucap Mama Pandora saat Galaksi mengadu pada istrinya. 


Galaksi meringis. Dia memegang telinga suaminya yang memerah dan mengusapnya.


"Sakit, Sayang." 


"Iya aku tau, Kak," sahut Sia dengan menatap suaminya iba. "Nanti Sia obati." 


Galaksi mengangguk manja. Dia menempel pada istrinya tanpa malu dilihat oleh mama, mertua dan sahabatnya. Sedangkan Sia, perempuan itu sudah tak tahu harus bersikap bagaimana. Wajahnya memerah saat ayahnya meminta duduk di sofa.


"Kalian tau kesalahan kalian apa?" 


"Tau, Ayah," sahut Sia menunduk.


"Bukannya Ayah melarang kalian berduaan, tapi ingatlah putri kalian yang begitu manja pada Sia," kata Ayah Jericho menasehati. "Sejak bangun tidur dia menangis mencari kalian." 


Spontan wajah Sia mendongak. Dia berkaca-kaca membayangkan bagaimana tangisan anaknya itu. Sia bisa membayangkan bagaimana anaknya yang bingung mencarinya.


"Maafkan Sia, Bu. Sia…." 


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Nak. Kita gak menyalahkan kalian. Hanya saja jangan lupa jika si kembar masih butuh mamanya," sahut Mama Pandora memberikan pengertian. "Terutama buat, Galaksi. Jangan culik menantu mama lama-lama."


"Iya, Ma." 


****


"Mama...Papa!" teriak suara dari depan pintu.


Terlihat Venus berlari menuju ke arah sang mama yang baru saja selesai sarapan pagi. Ya lebih tepatnya sarapan pagi yang sangat amat telat.


"Anak Mama. Maafin Mama ya, Nak," ucap Sia sambil menciumi seluruh wajah Venus.


Bocah kecil itu mengangguk. "Mama gak salah. Mama gak papa pelgi lagi sama Papa." 


"Loh, kenapa Venus bilang begitu?" tanya Sia sambil menatap Galaksi yang mengangkat bahunya tak tahu. 


"Kata Om Liksa. Kalau Mama sama Papa ilang, belalti lagi bikin dedek kembal buat Venus sama Abang." 


"Apa!" Sia dan Galaksi membelalakkan matanya.


Spontan ayah dari si kembar itu menatap Riksa yang terlihat tertawa tanpa suara.


"Awas kau!" ucap Galaksi tanpa suara pada calon suami adik iparnya itu.


"Iya, 'kan, Ma?" 


"Ehh itu…" 


"Mama sama Papa mau kasih adik buat Venus?" 


Sia tak tahu harus menjawab apa. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menatap suaminya agar ikut membantu menjawab.


"Eh Abang dari mana barusan?" tanya Galaksi berusaha mengalihkan pertanyaan putrinya itu.


"Jalan-jalan," sahut putranya dengan cuek. 


"Nggak jalan-jalan doang, Pa. Vanus sama Abang nemenin Tante cali gaun kayak mama," ucap Venus menambahkan.


"Kamu cari gaun pernikahan, Dek?" tanya Sia menatap adik satu-satunya itu.


"Iya, Kak. Riksa ingin pernikahan kita dipercepat," sahut Cressida dengan malu-malu.


"Bagus dong. Biar ada teman tidurnya si Riksa," ledek Galaksi yang dihadiahi delikan mata kesal oleh Riksa.


"Jangan sombong karena duluan ada teman tidur," ujar Riksa meledek. "Sampai anak sendiri dilupakan." 


"Jika kau tau rasanya. Aku yakin kau tak akan keluar kamar." 


Galexia dan Cressida sama-sama saling pandang. Mereka tak habis pikir dengan dua pria yang tak tahu malu berbicara itu di hadapan dua anak kecil. 


Untuk menyelamatkan otak anaknya dari pikiran mesum Galaksi dan Riksa. Galexia segera mengajak adik dan dua anaknya menuju taman belakang. Lebih baik mereka menghabiskan waktu disana sambil melihat taman yang indah dengan ditemani segelas jus jeruk. Daripada mendengar obrolan gila antara mereka berdua. 


"Ayo ke taman. Mama sama Tante bakalan bikin jus jeruk buat nemenin Adek sama Abang main. Gimana?" 


"Mau, Ma." 


Akhirnya mereka berempat segera pergi dari sana. Meninggalkan dua pria yang masih sama-sama saling adu argumen. Hingga saat ruang makan itu terasa sepi. Keduanya baru menyadari jika hanya mereka berdua disana.


"Kemana Istriku?" 


"Kemana calon istriku?" 


Galaksi sama Riksa sama-sama saling pandang. Mereka seakan sedang mentransfer apa yang keduanya pikirkan. 


"Kita ditinggal." 


~Bersambung~


Maaf yah updatenya telat. Baru selesai kerjain tugas dari NT. Nanti malam insya allah bakalan update lagi.


Kalau ada typo komen ya. Ini langsung ku update karena bocil dan ngamuk minta pinjem hp.


Jangan lupa like, komen, dan vote koin, poin dan vocher yah.


Salam dari kembar.