
"Bagaimana mungkin, Om? Bagaimana mungkin Papa yang merencanakan semuanya?" seru Galaksi dengan nafas tersenggal.
"Awalnya Om juga seperti kamu. Tapi Om mulai berpikir tenang dan mengikuti rencana mereka," ucap Orion sambil kembali memutar ingatannya di kejadian saat dia masih di dalam mobil.
"Tuan Altair?" gumamnya tanpa sadar setelah suara itu tak terdengar.
"Kau sudah membereskan dia?" tanya suara pria yang hampir sama dengan Altair.
Orion menggeleng. Bahkan dia mencoba kembali fokus dengan tujuannya. Hingga suara perempuan kembali terdengar dan semakin membuat Orion dibuat terkejut.
"Sudah, Sayang. Tenang saja, wanita itu sudah dibawa oleh pembunuh bayaran yang aku sewa."
"Nyonya," gumam Orion tak percaya.
Bagaimana bisa dua orang yang berbeda, ditempat yang berbeda, wajah yang sama sampai memiliki suara yang begitu mirip. Tentu hal itu membuat Orion dibuat kebingungan. Namun, satu hal yang disyukuri Orion, dia jadi tahu jika pria yang ada di dalam gedung kosong di depannya ini adalah pembunuh bayaran.
Hingga pria itu mulai berpikir. Dia harus melakukan apa sekarang. Matanya menangkap sebuah layar yang menunjukkan pergerakan mobil sang nyonya mulai bergerak meninggalkan restaurant. Hingga tak sampai sepuluh menit, kendaraan itu berhenti di sebuah salon kecantikan.
"Untuk apa mereka berhenti disana?" gumam Orion dengan pandangan yang sulit diartikan.
Tak mau mengambil resiko yang lebih parah. Orion lebih memilih mengambil pistol yang sering dia bawa setiap bekerja. Lalu tak lupa juga, dia menghubungi orang-orang yang selalu bekerja di bawahnya untuk membantunya kali ini.
"Beres. Aku sudah mengirimkan lokasiku pada mereka. Lebih baik aku menyelamatkan nyonya terlebih dahulu, sebelum terjadi hal buruk."
Orion segera turun dari mobil. Dia membawa dua pistol di pinggangnya. Matanya dengan jeli melihat sekitar hingga dirinya mencari celah supaya bisa masuk ke area gedung.
Saat dia mulai mencari jalan, matanya tanpa sengaja menemukan pintu pagar yang berada di sisi gedung. Hal itu membuatnya mendapatkan sebuah keberuntungan dari situasi ini. Segera Orion masuk dari jalan itu dan mencari tempat dimana mereka menyekap nyonya besar.
Gedung itu memang gelap. Bahkan ruangan ini begitu pengap karena mungkin sudah lama tak terpakai. Banyak sekali bekas-bekas kotoran kertas, kardus dan plastik yang berserakan di mana-mana. Hingga saat Orian asyik melihat keadaan gedung, tiba-tiba dari jarak ia berdiri, samar-samar telinganya menangkap suara seseorang berbicara.
Tentu tak mau menyia-nyiakan hal itu, Orion segera berjalan tanpa suara ke arah mereka. Hingga di bagian pojok dari sebuah lorong, terdapat 4 orang pria menunggu di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Orion tentu bersembunyi dibalik dinding dengan mata terus mengintip pergerakan mereka.
Keningnya berkerut sambil memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan. Melihat jam di pergelangan tangannya, Orion menghitung anak buahnya sampai di tempat ini kurang lebih tiga puluh menit lagi. Hingga tak lama, perhatian Orion beralih karena mendengar suara ponsel dari salah pria itu.
Dia pasang telinga baik-baik hingga hal baik kembali hadir dalam misinya kali ini. Seakan tuhan sedang membantunya untuk menyelamatkan sang nyonya. Panggilan itu mulai tersambung dan Orion bisa mendengar suara perempuan yang tadi ia dengar karena pria itu meloudspeaker panggilannya.
"Apa kau sudah membawanya ke tempat yang aman?" tanya suara perempuan dari balik telefon.
"Sudah, Nyonya. Dia ada di dalam ruangan yang Anda minta," sahut pria berambut panjang.
"Bagus. Lusa aku akan datang dan membunuhnya. Kau jaga dia baik-baik dan jangan sampai kabur. Kalau tidak! Nyawamu yang akan melayang!"
Orion bisa melihat raut pria yang memegang ponsel itu begitu tegang. Namun, dia segera mematikan ponselnya setelah menjawab perempuan itu dengan kalimat beres.
Setelah panggilan itu selesai. Orion segera mengambil peluru bius miliknya. Dia juga menggunakan peredam agar tak ada suara yang didengar dan membuat kekacauan disana.
"Kuharap mereka hanya ada 4 orang. Aku belum tau siapa saja yang ada di dalam ruangan itu," gumam Orion mulai bersiap membidik mereka berempat.
Setelah memperhitungkan semuanya, dengan sekali tekan. Akhirnya Orion mulai menembakkan peluru bius itu tepat di leher 4 orang itu hingga tak sadarkan diri. Dengan segera, Orion keluar dari sana, dan mendekati pintu yang terlihat usang itu.
Merasa keadaan aman, pintu itu perlahan dibuka. Mata tajam Orion mulai menatap sekeliling hingga dia melihat seorang perempuan yang didudukkan di sebuah kursi dengan keadaan terikat.
"Nyonya," panggilnya mendekati kursi itu sambil menyimpan pistolnya lagi di baliknya pinggang.
Saat Orion berusaha membangunkan sang Nyonya. Panggilan dari luar dengan suara derap kaki membuatnya segera keluar dan melihat 10 orang utusannya datang.
"Apa yang harus kita lakukan pada mereka, Tuan?" tanya salah satu pria utusan Orion.
"Buat mereka ada di pihak kita!" seru Orion dengan tegas, "dan biarkan Nyonya besar tak tahu semuanya," lanjutnya dengan menatap ibu dari Galaksi yang masih tak sadarkan diri.
Akhirnya hari itu, Orion dan 10 utusannya membuat rencana. Mereka juga mengancam empat pria itu agar mau bekerja sama dengan mereka. Syarat uang akhirnya mampu membeli kesetiaan empat pria pembunuh bayaran. Hingga rasa lega sedikit muncul dalam diri Orion setelah satu masalah selesai. Tinggal dia mencari siapa sosok pria yang suaranya mirip dengan Tuan besarnya tadi, karena menurutnya, tak mungkin Tuannya sendiri yang menyuruh seseorang membunuh istri tercintanya.
Selama tiga hari, Orion melihat kondisi Pandora dari kejauhan. Dia juga bisa melihat wajah ketakutan sang nyonya pada empat pria itu. Namun, Orion sedikit bersyukur karena sang nyonya tak melakukan hal diluar kendali, yang bisa merusakan semua rencana yang sudah direncanakan.
Hingga sesuai perkiraan Orion. Tepat hari ketiga, sebuah mobil baru saja masuk ke dalam gedung. Lalu keluarlah wanita dengan dress berwarna merah menyala dengan masker wajah menutupi wajahnya. Rambutnya bergelombang dengan sepatu heels membalut kaki jenjangnya.
Jika dilihat dari postur tubuh, wanita itu begitu mirip dengan sang nyonya. Namun, dia belum bisa melihat wajahnya dari dekat hingga perlahan wanita itu masuk ke dalam ruangan dan Orion mulai menatap semua pergerakan dari cctv yang sudah dia pasang di ruangan itu.
"Oh kembaranku yang malang," ucap wanita itu saat baru saja masuk dan melihat sosok yang diikat itu telah menyadari kedatangan dirinya.
"Siapa kau!" seru Pandora menatap wanita seksi di depannya.
Wanita itu membuka maskernya hingga sosok yang diikat membelalakkan matanya.
"Bagaimana mungkin?" tanyanya dengan pandangan tak percaya. "Aku tak memiliki kembaran sejak lahir."
"Hahaha tentu saja kau tak memiliki kembaran, karena sebentar lagi, Pandora yang asli hanyalah aku!" serunya dengan diiringi tawa kencang membuat sosok yang diikat semakin gemetar.
"Suaramu...suaramu…"
"Ah suara kita memang sama sayang. Hampir mirip, tapi aku bisa memanipulasinya supaya mirip," serunya dengan menepis rambutnya ke belakang.
Wanita yang memakai dress seksi itu berjalan mendekati Pandora asli. Dia menjambak rambutnya dengan kuat hingga kedua wajah yang sama itu saling bertatapan.
"Kau ingin tau siapa aku?"
~Bersambung~
Lalalala gantung lagi, hehehe. Mau kabur ah, cari wangsit ya kali dapet ide~~
Hiatus boleh gak sih, sampai bab ini? hahaha. Rasanya bikin orang kesel sama penasaran itu seneng. Hiburan tersendiri. Udah bisa nebak gak yah?
Mana yang kembar dan mana yang enggak?
Jangan lupa di klik like, komen dan votenya yah. Sebagai tanda apresiasi sama karya si kembar.
Tembus 250 like, aku update lagi!