The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Dejavu




Suara teriakan yang kencang, tentu menarik perhatian semua orang. Mereka semua keluar mendatangi asal suara hingga menemukan seorang perempuan tengah meringkuk dengan menutupi wajahnya. 


Mereka semua merasa bingung. Hingga si kecil Mars berjalan mendekati sebuah kotak yang begitu mengundang rasa penasarannya. Dia melongokkan kepalanya hingga cicitan kecil keluar dari mulutnya.


"Papa." 


Galaksi dengan segera mendatangi sang putra. Meraih kotak itu hingga matanya membulat penuh. Diambilnya benda yang ia yakini membuat sang mantan istri menjerit ketakutan dan mengangkatnya ke atas.


"Apa itu?" kata Mama Pandora yang sejak tadi ada di taman belakang.


Mata perempuan paruh baya itu terbelalak. Dia menatap tak percaya ke arah gambar yang sedang dipegang oleh putranya. Hingga tiba-tiba, dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah dua orang wanita yang berdiri disana.


"Apa kau yang bernama Cressida?" tanya Pandora dengan cepat.


"Iya, Tante," sahut Cress dengan tatapan bingung.


"Berikan itu padanya, Galaksi. Biar dia tau apa isi kotak tersebut." Setelah mengatakan itu Pandora berjalan ke arah ibu dari dua cucunya itu. 


Dia mendekati Galexia yang terlihat begitu ketakutan. Bahkan tubuhnya gemetaran dengan kulit yang terasa dingin.


"Hey, Sayang. Ini Mama, Nak," kata Pandora dengan lembut.


"Aku takut, Ma. Aku takut," kata Sia yang membuat hati Galaksi merasa sakit.


Dia kembali menatap ke arah kertas yang dia pegang. Sebuah potret yang berisi foto Mars, Venus dan Galaksi di stempel dengan kata 'dead' dan cairan merah yang Galaksi yakini jika itu benar-benar darah. 


Bau anyir itu tentu menjadi bukti. Serta sebuah kertas yang bertulisan 'Jangan membantu wanita yang bernama Cressida, jika kau tak ingin kehilangan di antara mereka bertiga.' 


Kata-kata itu memang sederhana. Namun, untuk wanita yang memiliki gangguan trauma seperti Sia, pasti akan merasa takut yang berlebihan. Mentalnya baru saja membaik sejak kebersamaan mereka dan sekarang harus terguncang kembali.


"Berikan pada Ibu, Nak. Apa itu?" kata Mama Alya yang begitu penasaran.


Dia bisa melihat raut kemarahan di wajah Pandora, hingga membuatnya begitu penasaran. Tanpa kata, Galaksi memberikan foto itu pada Mama Alya dan membuat wanita paruh baya tersebut tak bisa berkata apa-apa. 


"Apa maksud semua ini?" kata Mama Alya menatap Galaksi dan Cressida bergantian.


"Aku yakin jika kehadiran ibu dan dia sudah diincar oleh mereka," kata Galaksi menatap Cress dan Mama Alya bergantian.


Cressida menggelengkan kepalanya. Dia menatal foto yang berlumuran darah dengan kertas ancaman itu. Dia tak menyangka jika hidupnya akan sesulit ini. Bahkan untuk mencari identitas dirinya saja, orang lain yang mendapatkan ancaman.


Perlahan mata Cressida berair. Dia menatap Galexia yang masih dibujuk oleh seorang wanita paruh baya untuk beranjak berdiri. Namun, ketakutan dan penolakan dari Sia, tentu membuat hati Cressida merasa bersalah.


Akhirnya dia memberanikan diri berjalan ke arah perempuan itu. Mencoba mencari celah untuk menenangkannya, sampai kehadiran dua anak kembar yang menghadang dirinya membuat Cress menghentikan langkah kakinya.


"Jangan dekati Mama Sia," kata Venus sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Gala-gala Tante, Mama aku takut lagi." 


Ada yang sakit saat kata itu terlontar di untuknya. Seakan dia tertampar oleh kenyataan jika kehadirannya yang membuat wanita baik dan kuat itu mengalami tekanan lagi. Namun, sungguh sampai detik ini Cressida adalah sosok yang tak tahu apa-apa. 


Bahkan sejak dulu hidupnya dalam tekanan. Dirinya tak tahu siapa dalang dari semua masalah di kehidupannya. Namun, saat ini Cressida yakin, jika ada sosok yang tak menyukai keluarganya dari semua masalah yang terjadi belakangan ini.


"Tante mohon sebentar saja. Tante ingin bicara sama Mama kalian," kata Cress memohon dan membuat Mars menarik tangan kembarannya.


"Berikan dia jalan, Dek." 


"Gak mau. Dia udah bikin Mama nangis," seru Venus marah.


"Tapi…." 


"Gak mau, Abang. Mending Tante pelgi dali lumah Papa!" seru Venus dengan wajah memerah.


Cressida menggeleng. Dia menutup mulutnya tak menyangka jika kehadirannya membuat semua orang marah kepadanya. Namun, Galaksi yang sudah melihat keadaan tak kondusif segera meraih putrinya ke dalam gendongannya.


"Papa tulunin. Venus mau jagain Mama dali, Tante jahat!" 


Venus memberontak dalam pelukan Galaksi hingga pria itu sedikit kewalahan untuk menenangkan putri kecilnya itu.


"Saya yakin kamu orang baik. Bicaralah pada istriku dan maafkan sikap putriku padamu." Setelah mengatakan itu, Galaksi membawa Venus yang mulai menangis dan mengajak putranya untuk pergi dari sana.


Meninggalkan keempat wanita yang masih saling diam. Hingga perlahan Cressida meneruskan langkahnya sambil menghapus air mata yang tadi mengalir.


"Bolehkah aku berbicara dengan Kak Sia, Tante?" kata Cressida memohon.


Pandora menatap Cress dengan pandangan yang sulit diartikan. Sejujurnya dia merasa berat. Namun, mengingat situasi ini terjadi karena wanita itu, hingga membuatnya dengan berat hati mulai beranjak berdiri. Memberikan ruang untuk wanita muda yang baru saja datang sebagai tamu untuk berjongkok di hadapan mantan menantunya.


Perlahan tangan Cress menyentuh tangan Sia yang sedang menutupi wajahnya dengan suara isak tangis yang masih ada. Perempuan itu mengusapnya lembut dengan hati yang sama-sama merasakan sakit.


"Maafkan aku. Kedatanganku ternyata membawa ancaman pada keluarga, Kakak." 


Tubuh Sia mendadak kaku. Bahkan entah kenapa panggilan sederhana itu membuat aliran darahnya mengalir dengan cepat. Dia merasa panggilan dan suara khas panggilan itu terasa tak asing di telinganya. Hingga entah kenapa perasaan takut yang menimpa dirinya perlahan berkurang. 


Dibukanya tangan itu hingga tatapan keduanya langsung bertemu. Kedua mata berwarna coklat itu saling menyelami didalamnya. Hingga tanpa Sia sadari, tangan Cressida menggenggam kedua tangannya dan menciumnya secara perlahan.


Kenapa aku merasa pernah mengalami hal seperti ini, batin Sia dengan pikiran begitu kacau.


"Aku benar-benar tak tahu jika mencari identitasku akan mengancam kehidupan orang lain. Aku benar-benar…." 


"Ustt." Sia menggeleng. Hatinya mulai merasa tenang setelah tangannya digenggam oleh wanita di depannya ini.


Entah kenapa tingkah yang dilakukan oleh Cressida seakan pernah ia rasakan. Namun, ketika Sia mencoba mengingat, kepalanya terasa sakit.


"Aku tak tahu apa yang sedang kau cari di Indonesia," jeda Sia dengan tarikan nafas yang begitu berat. "Namun, aku berjanji akan membantumu." 


Entah kenapa ketakutan yang tadi dia rasakan perlahan menguap. Melihat tatapan mata dari Cressida seakan membuatnya seperti melihat dirinya sendiri di masa lalu. Bahkah dia merasa ada sesuatu yang membuat hatinya begitu terusik dengan keberadaan Cressida yang tak ia mengerti.


Hingga saat kedua wanita dengan manik mata yang sama saling memandang. Tiba-tiba, 


Pyarr.


"Awas." 


Sia menarik kepala Cressida hingga menempel di dadanya. Nafasnya naik turun dengan mata melotot melihat sebuah panah yang melesat dan terkena pot bunga miliknya.


Jantung empat orang wanita disana berdebar kencang. Bahkan keduanya sama-sama tak percaya ketika panah itu hampir mengenai kepala Cressida jika Sia tak menariknya. Hingga perlahan ibu dari si kembar melepaskan pelukannya, dan beringsut mendekati sebuah panah yang terjatuh di lantai.


Dia melihat panah berwarna hitam itu, dan tatapannya tertuju pada sebuah kertas yang digulung disana. Tanpa menunda apapun, Sia segera mengambil dan membuka kertas putih itu dengan jantung yang terus berpacu cepat. Lalu dia mulai membaca kata tiap kata yang ada disana.


Keputusan yang kau ambil sangat menantang cantik. Jangan salahkan aku, jika keluargamu akan menjadi jaminan ketika kau membantunya. 


"Bagaimana dia bisa tahu?" gumam Sia dengan suara kecil.


Kedua mata itu saling menatap. Hingga Cressida mulai beranjak berdiri dan mendekati kardus tersebut. Dia mulai mencari dan meneliti kotak tersebut hingga tiba-tiba dia menemukannya.


Sebuah benda kecil yang ia yakin perekam suara sudah ada ditangannya. Dia menunjukkannya pada Sia hingga wanita itu meraihnya.


"Kau salah jika mengancam wanita yang bermental gangguan sepertiku. Aku tak tahu kau siapa, tapi aku yakin sebentar lagi aku akan menemukan siapa kau sebenarnya!" 


~Bersambung~


Loh, 'kan? Dari sini udah ada yang bisa nebak gak? Apa tebakannya betul?


Jangan meragukan wanita yang bermental gangguan, karena mereka juga bisa seperti singa lapar jika sudah bergerak.


Jangan lupa klik like, komen dan vote untuk apresiasi karya ini.


Tembus 250 like aku up lagi!