The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Suprise




Disepanjang perjalanan, tak ada suara apapun disana. Hanya ada keheningan yang menyapa mereka semua. Galexia benar-benar hanya mampu menatap keluar jendela dengan air mata yang terus menetes.


Walau isak tangis dia tahan sekuat mungkin, tapi tetap saja. Rasanya harus dipisahkan oleh pria yang mulai dia cintai lagi begitu menyakitkan. Semenjak perpisahan mereka karena sabotase pesawat tersebut, Galexia benar-benar sudah mengakui jika dirinya memang masih mencintai Galaksi. 


Dirinya menahan rindu saat dipisahkan sampai dipertemukan lagi, tentu membuatnya bahagia. Namun, saat pertemuan itu mulai mereka rasakan, saat rindu itu ingin mereka sembuhkan. Kenapa lagi-lagi Tuhan seakan belum mengizinkan. Masih ada saja halangan yang ingin membuat keduanya tak bisa disatukan. 


Sampai tanpa sadar, karena terlalu banyak melamun. Dua mobil yang mengantarkan Galexia dan keluarga mulai memasuki sebuah rumah yang memiliki pagar tinggi. Seakan benda yang terbuat dari besi kokoh itu, begitu dibuat hanya untuk menjaga bangunan besar di dalamnya.


Saat pintu gerbang terbuka, terlihat sebuah halaman rumah yang luas dan sebuah air mancur di tengahnya. Mobil perlahan mulai bergerak menuju pintu utama. Jika dilihat, jarak dari gerbang ke pintu utama lumayan jauh bila ditembus dengan berjalan kaki, menurut Sia.


"Selamat datang di rumah kita, Nak," kata Rhea saat membukakan pintu mobil untuk Sia.


Wanita itu segera keluar dengan raut wajah tak percaya. Di depannya ini bukanlah sebuah rumah, melainkan bangunan megah bak istana yang begitu indah dan luas. Matanya mengedar, melihat pilar-pilar besar yang membuat bangunan tinggi ini berdiri kokoh dengan halaman yang begitu menyejukkan karena ditanami pepohonan membuat Sia semakin tak percaya.


Apa benar ini rumah masa kecilnya?


Apa benar dirinya pernah tinggal di rumah sebesar ini?


Jika dilihat dari sisi manapun, rumah ini jauh lebih besar dari rumah Galaksi.


Sampai saat Sia masih terpaku akan kemewahan rumah di depannya, suara anak kecil yang tertawa bahagia membuatnya menoleh. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat Mars dan Venus yang bahagia dengan rumah baru mereka. Namun, entah kenapa hati Sia merasa hampa, seakan kemewahan ini tak mampu memberikan dirinya kenyamanan.


"Ayo masuk!" 


Akhirnya semua orang mulai berjalan menuju pintu rumah yang masih tertutup. Namun, saat Jericho hendak menyentuh pintu tersebut. Benda itu bergerak terlebih dahulu dan terbuka hingga kemudian,


"Surprise!" teriak semua orang dari dalam.


Tentu hal itu membuat Galexia terperanjat kaget. Hingga jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat matanya menangkap sosok pria yang begitu ada dipikirannya saat ini muncul dari dalam rumahnya, yang membuat Sia terperangah.


Apa maksud semua ini?


Kenapa tiba-tiba Galaksi bisa ada disini dan memberikannya kejutan. Hingga pikiran Sia menyuruh matanya untuk menatap semua orang. Dan terakhir dia melihat tatapan manik mata ibunya yang juga sedang menatapnya. 


"Ibu," panggil Sia saat dia melihat air mata ibunya mengalir.


"Ibu merestui kalian berdua, Nak. Ibu tadi hanya ingin memberikan kejutan." Galexia menangis. 


Dia segera berlari ke arah ibunya dan memeluk dengan erat. Galexia tak menyangka jika semua orang bersekongkol untuk mengerjai dirinya. Akting mereka semua benar-benar bagus. Apalagi ibunya, sungguh mimiknya terlihat begitu serius dengan perkataannya.


"Makasih, Bu." 


"Tidak ada kata terima kasih untuk kebahagiaan seorang anak, Sayang. Seharusnya Ibu yang harus minta maaf karena tak ada di dekatmu, saat kamu melewati semuanya sendiri," kata Rhea dan menghapus air mata putri pertamanya. 


"Jadi Ibu sudah tahu semuanya?" tanya Dia menatapnya tak percaya.


"Tentu saja. Galaksi sudah mengatakannya semalam pada kami berdua." 


"Apa!" Galexia melototkan matanya tak percaya.


Namun, jujur di dasar hatinya yang terdalam, Sia merasa begitu lega. Akhirnya apa yang dia takutkan benar-benar tak terjadi. Prianya itu benar-benar penuh kejutan dan hampir membuatnya menangis seharian.


"Galexia, maukah kamu kembali denganku, kembali merajut rumah tangga dengan pria yang pernah menyia-nyiakanmu, merajut mimpi kita dengan restu kedua orang tuamu, dan menjadi kedua orang tua yang utuh untuk anak-anak kita. Will you marry me?" 


Galexia menutup mulutnya tak percaya. Dirinya tak menyangka jika Galaksi akan melamarnya langsung dihadapan semua orang. Terutama di depan kedua orang tuanya dengan cara seperti ini. Sungguh dirinya merasa begitu tersanjung dengan keberanian dari pria yang begitu dicintainya itu.


"Telima...telima…." teriak Venus mengejutkan Galexia 


Air mata Sia mengalir. Dia tak menyangka akan apa yang terjadi saat ini pada dirinya. Namun, di dasar hatinya yang terdalam tak ada yang tahu sebahagia apa dirinya saat ini.  


Galexia menghapus air matanya. Lalu dia meraih buket bunga itu dengan kepala mengangguk.


"Yes. I Will." 


"Yeyyy." Mars dan Venus melompat girang. 


Mereka berdua bertepuk tangan dengan wajah teramat bahagia. Hal itu tentu menular di kedua sudut bibir Sia. Wanita itu menangis dengan senyum begitu lebar. Tangisan bahagia yang akan mengawali hubungan keduanya. Tangisan bahagia yang akan menjadi akhir dari segala kesakitan mereka selama ini.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih, Siaku," kata Galaksi dan hendak memeluk Galexia. 


Namun, sebelum tubuhnya sampai untuk memeluk, sebuah tarikan di telinganya membuat Galaksi mengurungkan niatnya.


"Belum waktunya yah. Gak boleh peluk-peluk," kata Rhea yang ternyata dalang dari jeweran di telinga Galaksi. 


"Aduh, Ibu. Sedikit saja." 


"Tak boleh. Sampai kalian berdua halal." 


Galexia hanya mampu tertawa. Dia bahagia melihat kedekatan Galaksi dengan orang tuanya. Hingga matanya beralih ke arah sang adik yang mendekatinya. 


"Selamat ya, Kak. Semoga kebahagiaan menyertai hidup, Kakak," ucap Cressida tulus.


Sia mengangguk lalu dia memeluk tubuh saudara satu-satunya itu.


"Semoga kebahagiaan juga menyertaimu," kata Sia dengan doa begitu tulus.


Pelukan itu terlepas dan Sia menatap Riksa yang berdiri di belakang tubuh saudaranya. Entah kenapa wanita itu merasa gugup. Bukan karena dia mencintai pria itu melainkan dirinya tahu bagaimana perasaan Riksa kepadanya.


"Selamat, Sia. Semoga kau dan si kembar bahagia," kata Riksa tulus dengan binar bahagia.


Entah kenapa perkataan sederhana itu membuat hati Sia merasa lega. Apalagi saat melihat tatapan mata pria itu sudah tak lagi seperti dulu, membuatnya merasa nyaman dan bahagia. 


"Terima kasih, Riksa," kata Sia menerima uluran tangan pria itu. "Aku juga berharap semoga kau segera menghalalkan adikku." 


"Tanpa kau minta, aku sudah mendapatkan restu dari Ayah dan Ibu," kata Riksa dengan bangga.


"Hah!" Sia terkejut, dia menatap kedua orang tuanya tak percaya. "Benar, Yah?" 


"Benar, Nak. Semalam Galaksi dan Riksa sudah meminta restu untuk kedua putri Ayah ini." 


Galexia bahagia. Dia menatap wajah adiknya yang sama bahagia di hadapannya. Mata adik kakak itu berair dan akhirnya Sia memeluk tubuh adiknya begitu erat. Hatinya merasa bahagia dengan kabar ini. Semua orang di sekitarnya sudah mendapatkan kebahagiaannya masing-masing.  


"Lebih baik kalian berdua langsung tentukan tanggal pernikahan dengan putri Ayah secepatnya. Sepertinya mereka juga sama tak sabaran untuk cepat-cepat menikah."


~Bersambung~


Hahaha seneng banget ngerjain pembaca kalau nikahnya diundur kek semalam. Gak diundur loh, noh dah lamaran depan ayah sama ibu.


Aku minta like, komen dan vote yah hahaha. Suskes kerjain kalian.


Terima kasih juga atas semua doanya, perutku mulai mendingan. alhamdulillah.


Tembus 250 like aku usahain update lagi!