
Setelah menghabiskan waktu selama hampir satu jam lebih di atas panggung. Akhirnya Sia dan Mars bisa turun dengan wajah puas sekaligus bangga. Mereka tak menyangka jika lagu yang mereka bawakan akan pecah dan diikuti oleh seluruh penonton. Hingga banyak sekali bunga yang diberikan dari para fans kepada mereka saat diatas panggung.
Namun, ternyata saat keduanya kembali ke belakang panggung. Wajah Sia terlihat begitu tertekan. Bahkan sepertinya dia sedang memikirkan hal berat hingga membuatnya tak sadar jika mereka disambut oleh Riksa yang membawakan sebuah buket bunga besar untuk keduanya.
"Mama," panggil Mars saat melihat Sia tak mengindahkan panggilan Riksa.
"Mama!" Sia tersentak kaget. Dia menatap kebawah dan melihat putranya sedang menatapnya lekat.
"Ya. Ada apa, Sayang?"
"Mama sedang memikirkan apa?" tanya Mars dengan mata yang tak lepas dari Sia, "itu ada Om Riksa ngasih bunga sama, Mama."
Galexia spontan menoleh. Seketika matanya bertemu pandang dengan Riksa yang ternyata sudah berdiri di depannya.
"Apa kau baik- baik saja, Sia?" tanya Riksa sambil mendekatkan punggung tangannya di dahi Sia.
Perempuan itu lekas mengangguk. Lalu dia menjauhkan tangan Riksa dari dahinya sambil menetralkan ekspresi wajahnya yang pasti sudah kusut. "Aku hanya lelah."
"Baiklah." Riksa mengangguk. "Ini untuk kalian," ucapnya sambil menyodorkan buket bunga itu pada Sia.
Bibir Sia tersenyum. Hal seperti ini tentu bukan satu atau dua kali yang managernya lakukan. Selalu saat dirinya selesai konser ataupun panggung, pasti Riksa akan membawakannya bunga. Bahkan selama mereka berjauhan, pasti managernya itu akan menyuruh seorang kurir bunga untuk mengantarkan ke rumah Sia.
"Terima kasih, Antariksanya Sia yang baik." Riksa hanya terkekeh. Lalu dia segera mengajak Sia dan Mars untuk pulang.
Seketika wajah Sia kembali murung. Pikirannya berputar saat dia mencapai lagu di detik-detik terakhir. Matanya seolah melihat sosok di masa lalunya. Tapi entah itu hanya halusinasi atau tidak, wajah pria itu begitu mirip dengan mantan suaminya.
"Apa aku salah lihat? Tapi untuk apa dia ada di negara ini?" gumamnya tanpa sadar bahwa dia sudah ada di dekat mobil Riksa.
Tin tin.
Suara klakson mengejutkannya, hingga membuat Sia merasa salah tingkah di tatap oleh Mars dan Riksa yang sudah ada di dalam mobil. Dia segera masuk dan duduk di samping kursi kemudi.
"Jika kau lelah, tidurlah dulu. Nanti akan kubangunkan setelah sampai di apartemen," perintah Riksa sebelum melajukan mobilnya.
Sia mengangguk. Dia memilih memejamkan mata untuk melupakan kejadian yang sepertinya hanya halusinasi. Sepertinya karena akhir-akhir ini dia dihantui oleh rasa takut jika anaknya bertemu dengan Galaksi, membuatnya seakan setiap melihat wajah pria pasti mirip dengan mantan suaminya. Hingga karena lelah berpikir, akhirnya tanpa sadar Sia mulai tertidur lelap di dalam mobil.
****
Sedangkan di dalam ruangan konser. Satu persatu penonton mulai meninggalkan ruangan besar itu, dan membuat lama kelamaan keadaan yang ramai seketika sedikit lebih tenang. Hal itu tentu membuat Galaksi bernafas lega. Dia segera meneruskan tujuannya untuk mencari seseorang di belakang panggung.
Tubuh tegapnya ia ayun untuk segera sampai di ruangan yang biasanya dipakai oleh para penyanyi setelah selesai panggung. Matanya menatap sekeliling ruangan yang ternyata lebih ramai. Hingga seorang crew datang mendekatinya.
"Tuan Galaksi," ucapnya sambil menunduk hormat saat melihat orang penting di New York masuk ke belakang panggung. "Anda mencari siapa?" tanyanya dengan sopan saat melihat sepertinya pria di depannya sedang mencari seseorang.
"Aku sedang mencari penyanyi terakhir yang tampil di panggung. Apakah dia ada?" tanya Galaksi menatap crew di depannya.
"Oh Anda mencari Nona Alexa Sia?"
"Alexa Sia?" ulang Galaksi yang diangguki kepala oleh crew tersebut.
"Iya, Tuan. Namanya Nona Alexa."
Galaksi termenung. Apakah dia salah orang lagi? Tapi mengingat suara yang dia dengar, ia begitu yakin jika itu adalah suara milik wanita yang masih dia cintai.
"Ya. Dimana dia?" tanya Galaksi langsung.
"Nona Alexa bersama putranya sudah pulang, Tuan," ucapnya dengan hati-hati. "Baru saja."
Galaksi menghela nafas berat. Kepalanya berdenyut karena terlalu bersemangat untuk mencari sosok yang ia anggap selama ini ia cari. Namun, sepertinya lagi-lagi dia harus kehilangan jejak. Seakan semesta belum memberikan izin untuknya mencari tahu.
Hingga akhirnya, Galaksi mulai pergi dari tempat itu. Tangannya segera meraih ponsel miliknya dan menghubungi seseorang yang ia yakini memiliki bukti kuat.
Bukti yang akan menunjukkan kebenaran apakah tebakannya salah atau benar. Sosok yang pasti memiliki potret artis panggung konser ini membuat Galaksi tak sabar untuk segera menemuinya.
"Lo dimana?" Tanya Galaksi to the point.
Kepalanya mengangguk lalu panggilan itu terputus. Tanpa menunda, Galaksi segera melangkahkan kakinya untuk mencari sosok yang ia cari.
"Lo dari mana, Lak?" tanya Janus heran.
"Gue dari belakang panggung," sahut Galaksi sambil memijat dahinya yang terasa pusing.
"Lah ngapain?" tanya Janus melongo.
Dia begitu yakin jika konser barusan tak ada anak didik dari GG Entertainment. Tapi untuk apa sahabatnya itu kesana.
"Gue nyari seseorang," jeda Galaksi sambil menatap Janus yang sepertinya menunggu ucapannya, "tapi orang itu udah pulang."
Kening Janus berkerut. Perkataan temannya ini masih ambigu hingga membuatnya tak tahu harus bereaksi apa.
"Emang lo nyari siapa?"
"Penyanyi terakhir yang konser barusan," ucap Galaksi dengan sorot mata tajam.
"Hah!" Janus melongo. Namun, tak ayal dia menggeser tubuhnya lebih dekat untuk bertanya pada sahabatnya itu. "Ngapain lo nyari dia?"
"Gue ngerasa dia sosok yang gue cari selama ini," lirihnya dengan mata terpejam.
"Mantan istri lo?" tanya Janus hingga membuat Galaksi mengangguk.
"Tapi ngeliat wajahnya, gue ngerasa dia terlalu cantik buat jadi janda," celetuk Janus sambil mengingat sosok penyanyi yang baru saja dia lihat.
"Lo yakin?"
"Gue yakin. Lo jelek begini, mana mau dia sama lo?" ucapnya menyindir hingga membuat Galaksi kesal.
Tanpa rasa bersalah, Galaksi menimpuk kepala Janus hingga membuat pria itu mengaduh. "Lo kalau liat wajah mantan bini gue, pasti kesemsem."
"Kesemsem mata, Lo? Kesemsem kok dicerai?"
Galaksi spontan terdiam. Dia tak marah pada Janus, karena menurutnya perkataannya barusan memang benar. Ditambah, Janus adalah temannya selama 6 tahun sejak kepindahannya di sini membuatnya sudah begitu dekat dan menganggapnya seperti saudara. Janus adalah orang asli Indonesia, tapi dia besar di New York dan mulai kenal Galaksi karena perjalanannya sebagai fotografer.
"Udah gak usah ngerasa bersalah gitu. Gue bercanda," ucap Janus sambil menepuk bahu Galaksi.
Galaksi mengangguk. Lalu pandangannya tertuju pada kamera Janus yang pria itu letakkan di meja dekat kursi duduk mereka. Seketika dia teringat tujuannya untuk bertemu Janus.
"Gue pinjem kamera lo, yah?" ucap Galaksi sambil mengambil kamera tersebut.
"Ehhh, tapi…" jeda Janus membuat Galaksi menatap ke arahnya. "Kamera gue mati, gak bisa hidup. Tadi gak sengaja ada yang dorong gue dan kameranya jatuh."
Galaksi mematung. Lagi-lagi dia merasa ada saja halangannya untuk mencari bukti tentang keberadaan mantan istrinya.
"Tapi memorinya?"
"Memorinya baik-baik aja kok," sahut Janus dengan wajah tenang. "Emang lo mau apa?"
"Lo ambil gambar penyanyi terakhir 'kan?" bukannya menjawab, Galaksi malah balik bertanya.
Janus mengangguk karena memang itulah kebenarannya. Dia mengambil banyak potret penyanyi dari Indonesia itu, karena suaranya begitu merdu menurutnya.
"Gue minta lo copi foto itu dan kirim ke gue, 'yah? Gue mohon," ucapnya menatap Janus dengan sungguh-sungguh.
"Oke. Kalau gak besok, lusa gue kirim."
~Bersambung~
Kalau gue gak kasih izin juga, Janus gak bakal kirim. Hahaha.
Dibilang sogok dulu aku Bang Galak, biar cepet ketemu.
Maafin aku yang updatenya telat. Tadi siang aku baru garap kerangka bab 21-30 sampai jam 3 sore. Habis itu aku tidur sebentar soalnya kepala sakit. Mungkin efek 3 hari kemarin jadwal tidurku berantakan. Alhasil ya efeknya gini.
Aku gak janji update lagi, tapi aku usahain ngetik. Kalau hari ini gak bisa doble update, besok aku doble yah. Soalnya besok adalah detik-detik ketemu nenek lampir, hahaha.
Jangan lupa tekan like dan komentar. Untuk pembaca baru, aku ucapin selamat datang dan selamat berhalu bersama si kembar.