
Waktu mulai beranjak naik. Semua orang bahkan sudah menyelami alam mimpi. Namun, tidak dengan Mars dan Venus. Dua anak kembar itu masih terjaga dan baru selesai membahas rencananya malam ini. Keduanya bertos ria sambil menambahkan gaya seperti menggorok leher. Itu hanya gaya mereka berdua, saat ingin mengerjai seseorang.
Setelah selesai meeting berdua. Segera Venus dan Mars mencari pelayan yang tadi membawa Inggrid masuk. Keduanya ingin membuat perhitungan pada si mbak yang sudah mengajak Inggrid menginjakkan kakinya di rumah ini. Hingga akhirnya mereka pun berhasil masuk ke kamarnya dan mengajaknya bekerja sama.
"Jangan, Non. Nanti Tuan dan Nyonya marah. Mbak takut," mohon seorang pelayan yang bekerja di rumah Galaksi.
"Ih, Mbak. Ini cuma main aja kok," seru Venus kesal.
"Tapi…."
"Ini juga gala-gala, Mbak. Ngapain aja Tante galong kesini?" sungutnya dengan menatap pelayan itu tajam.
"Tadi Non Inggrid memaksa Mbak, Non. Mangkanya Mbak gak bisa bantah," sahutnya sambil menunduk.
"Venus gak mau tau. Pokoknya Mbak halus mau dan bantuin kita," putusnya final.
Tanpa mendengar bantahan sang pelayan. Venus segera menarik tangan wanita yang usianya lebih muda dari Bu Na. Sungguh wajah tertekan begitu terlihat disana. Dia tak menyangka jika sikap menurutnya pada Inggrid, membuatnya mendapatkan hukuman dari kedua anak majikannya.
Akhirnya disinilah dia berada. Di sebuah kamar milik si kembar dan duduk di depan cermin. Dengan beberapa alat make up yang sudah ada di deretan meja rias siap digunakan. Setelah si Mbak siap, akhirnya Venus mulai bergerak lincah. Dia benar-benar memoles wajah pelayan sang papa agar mirip dengan sosok yang dia inginkan.
Sedangkan Mars. Pria kecil itu membawa tiga buah ember yang berisi air, cat putih dan ulat-ulat kecil. Perlahan dia membuka pintu kamar tempat Inggrid menginap. Dia melihat keadaan di dalam kamar tersebut. Hingga pandangannya tertuju pada sosok perempuan yang tengah tertidur di ranjang.
Mars tersenyum miring. Dia segera menyiramkan air di sekitar pintu agar lantainya licin. Lalu Mars mulai menyiapkan tali untuk mengikat ember berisi cat dan ulat yang dia campurkan. Dengan pelan dirinya kembali menutup pintu itu terlebih dahulu. Setelah selesai, Mars segera menyambungkan tali dengan tali timba dengan erat agar tak terlepas.
Senyumnya begitu cerah. Kemudian dia melihat paku bekas yang menempel di dinding tepat di atas pintu membuatnya semakin beruntung. Tanpa menunda Mars segera menggantung timba itu dan menarik tali agar tidak goyang dan tumpah.
"Kalian harus sukses, oke! Kita buat dia kabur dari sini," gumam Mars sambil menyeringai.
Perlahan dirinya menuruni tangga yang ia bawa. Kemudian dia mengikat tali itu pada sebuah pilar yang ada di dekat pintu. Hingga tugasnya selesai dan dia menepuk tangan.
"Aku sendiri yang akan menariknya saat dia keluar dari kamar," ucap Mars sambil tertawa membayangkan bagaimana sosok Inggrid jika berhasil tersiram air itu.
Setelah dia selesai dengan tugasnya, segera Mars menyusul Venus ke kamar. Dia ingin melihat bagaimana pekerjaan adik cadelnya tersebut. Apakah semua sudah beres atau belum. Suasana yang sunyi dan hanya terdengar dentingan jam dinding, membuat Mars dan Venus lebih leluasa.
Dia dorong pintu itu hingga Mars melihat sang adik yang sedang membereskan semuanya.
"Sudah selesai?"
Venus membalikkan tubuhnya dan mengangguk.
"Kelual, Mbak," panggilnya bersamaan pintu kamar mandi terbuka.
Mata Mars membulat penuh. Bahkan dirinya tanpa sengaja memundurkan tubuhnya karena terkejut. Wajah pelayannya begitu menakutkan dan sesuai dengan foto yang mereka cari. Dirinya spontan menatap sang adik dan mengacungkan kedua jempolnya.
"Kerja bagus Adek, Abang!" ucap Mars bangga pada kinerja sang adik.
"Let's Go! Kita buat dia pelgi dali sini!"
*****
Terlihat seorang perempuan tengah tertidur di atas ranjang. Dirinya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang seksi. Hingga tak lama tubuh perempuan itu bergerak. Meraih guling yang berada di dekatnya untuk dia peluk. Kembali menyelami alam mimpi sampai suara gebrakan jendela membuatnya terkejut bukan main.
Nafas Inggrid naik turun. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan matanya sedikit sayu karena masih mengantuk.
"Seingatku sudah kukunci jendelanya tadi. Kenapa bisa terbuka?" gumamnya sambil menurunkan kedua kakinya.
Pandangannya masih sedikit kabur. Dia mengusap kedua matanya dengan pelan. Namun, saat dirinya mencoba mengerjapkan matanya. Samar-samar dia melihat bayangan putih dari tirai jendela.
Dia usap kembali kedua matanya dengan cepat dan membukanya lagi. Tak ada apapun disana. Namun, sungguh dirinya seperti melihat sebuah bayangan putih berada di depan jendelanya tadi.
Perlahan rasa takut itu merayap. Bulu kuduknya merinding hingga membuatnya mengusap bagian tengkuk lehernya.
Mau tak mau dia harus beranjak berdiri. Jendela kamarnya terbuka tak mungkin ia abaikan. Bagaimana jika banyak nyamuk dan menggigit kulitnya, oh itu sungguh bukan hal baik. Akhirnya Inggrid mengabaikan rasa takut yang semakin menyerang dirinya.
Dia berjalan dengan pelan menuju jendela hingga saat tangannya hampir menyentuh benda kayu itu, angin berhembus semakin kencang menerbangkan kelambu kamarnya. Namun, hal itu tentu membuatnya bisa melihat keadaan di luar. Sampai saat tangannya hendak menarik jendela itu, tiba-tiba….
"Akhhhh!" Teriak Inggrid dengan mata melotot.
Disana berdiri sosok berpakaian putih dengan mata memerah besar. Dia melihat ke bawah dan….
Terbang.
"Hantu!" Inggrid berlari dengan kencang.
Namun, saat dia hampir mencapai pintu, tubuhnya tiba-tiba oleng dan terjatuh.
"Sakit," ringisnya sambil menatap ke arah jendela.
Tubuhnya semakin bergetar dengan air mata mulai mengalir saat melihat sosok putih itu semakin mendekati jendela. Karena terlalu takut, tanpa sadar baju yang dipakai Inggrid basah bagian bawahnya.
Dia mengompol saat rasa takutnya semakin besar. Dengan bersusah payah dirinya mengesot dan meraih handle pintu kamar. Segera dia menarik tubuhnya untuk berdiri dan dengan sekali tarikan dia berhasil membuka pintu tersebut. Tak mau menunda lagi, dia spontan berlari keluar kamar.
Namun, sayang sekali. Kakinya kembali tersangkut sesuatu dan membuat Inggrid terjatuh tepat di depan pintu dengan posisi duduk. Saat dirinya mencoba berdiri dengan rasa takut yang semakin besar. Hingga tak lama,
Byur!
"Akhhhh!" Inggrid gelagapan. Tubuhnya basah kuyup dengan mata terpejam.
Nafasnya tersengal karena cairan itu menutupi hidungnya. Hingga dia memilih mengusap wajahnya terlebih dahulu sampai sesuatu yang bergerak di rambutnya membuat tangannya menggosok area tersebut.
Seketika Inggrid merasa ada sesuatu kecil dan terasa bergerak menyentuh tangannya. Dia ambil sosok kecil itu dan membawanya untuk dilihat.
"Akhh ulatt!" Inggrid lekas berdiri.
Dia menghentakkan tubuhnya agar ulat itu hilang dari pakaiannya. Namun, karena basah tentu saja hal itu percuma. Rasa geli dan takut semakin terasa hingga membuatnya semakin berteriak histeris.
Suara lengkingan Inggrid tentu membangunkan semua orang. Mereka semua segera keluar dari kamar dan menuju ke sumber suara.
"Inggrid!" seru Galaksi kaget dengan bola mata terbelalak.
"Apa yang terjadi?" tanya Sia menatap cairan putih yang sudah melebar kemana-mana.
"Kamu…."
"Aku mau pulang. Aku gak mau disini!" rengek Inggrid yang langsung berlari keluar.
Dia sudah tak peduli dengan keadaannya saat ini. Yang dirinya inginkan hanya pulang dan pergi dari rumah Galaksi yang seram. Sosok berbaju putih dengan mata merah besar masih teringat jelas di otaknya. Hingga tanpa memikirkan apapun, dia segera menekan pedal gas dan melajukan kendaraannya.
Tanpa mereka sadari, ada dua sosok anak kecil yang tertawa bahagia di dalam kamar. Mereka saling bertos ria dengan gerakan yang sama seperti tadi.
"Misi belhasil."
~Bersambung~
Dibilangin suruh pergi, 'kan? Malah gak mau. Yaudah terima nasib ya Tante Garong kata Venus, hahaha.
Semalem aku ketiduran. Maaf ya baru update pagi ini. Selamat membaca dan Happy Weekand guys.
Jangan lupa rebahan di rumah kayak Venus dan Mars, hehe.
Klik like, komen dan vote yah sebagai tanda apresiasi kalian sama novel si kembar.
Tembus 250 aku update lagi! doain bisa 4 bab yak