The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Gaun Pernikahan




Tak henti-hentinya Galexia tertawa. Dia merasa lucu saat melihat raut wajah ketakutan dari sahabatnya itu. Apalagi ketika Galaksi mengancam jika ia akan menarik saham yang dia punya di galeri Leo, membuat pria tampan yang memiliki sifat gemulai itu gemetaran.


Wajahnya yang gugup dan rengekan manja agar Galaksi tak melakukan itu semakin membuat Sia tak bisa menghentikan tawanya. 


"Sayang," kata Galaksi dengan tangan memegang setir kemudi.


Keduanya saat ini berada di dalam mobil. Mereka akan menuju ke galeri gaun pernikahan bersama kedua anak-anaknya. 


"Hmm?" sahut Sia sambil menutup mulutnya.


"Kenapa kamu tertawa terus?" 


"Ekspresi Leo begitu lucu, Sayang. Dia begitu takut kepadamu," ujar Sia sambil menahan tawa.


"Dia memang penakut. Makanya aku mudah untuk mengancamnya," kata Galaksi bangga dengan menepuk dada sebelah kiri.


Galexia berdecak dengan diiringi gelengan kepala. Namun, wanita itu tak membantah jika apa yang dikatakan oleh calon suaminya itu benar adanya. Sejak dulu Leo dan Galaksi selalu saling bekerja sama. Bahkan tak tanggung-tanggung, Galaksi menitipkan saham atau uang untuk usaha sahabat itu. Semua itu Sia tahu saat calon suaminya sendiri bercerita kepadanya.


"Ya...ya," ujar Sia dengan mengangguk. "Calon suamiku memang hebat." 


Galaksi terkekeh. Namun, dirinya merasa senang dengan ungkapan calon istrinya itu. Apalagi, Sia juga kembali seperti Sia yang dulu. Begitu terbuka, selalu perhatian dan dia tak pernah mengungkit masalah mereka di masa lalu.


Mereka berdua seakan benar-benar menutup tentang masa lalu, mengikhlaskan dan memaafkan agar tak ada dendam atau sakit hati yang akan menghancurkan masa depan mereka. 


Berbeda dengan orang tuanya. Si kembar malah asyik membaca buku di tangan mereka. Tahun depan keduanya sudah masuk sekolah dasar dan mereka sekarang sudah ketinggalan banyak pelajaran. Namun, Galaksi meyakinkan jika keduanya adalah anak yang cerdas dan mereka pasti bisa masuk ke sekolah dasar favorit. 


Tak lama, mobil yang mereka tumpangi mulai berhenti di depan galeri besar terkenal di Jakarta. Keempatnya turun dari mobil dan langsung memasuki tempat yang terlihat sepi.


"Selamat datang, Tuan Galaksi," sapa owner pemilik galeri tersebut.


"Panggil Galaksi saja, Tante," kata Galaksi begitu sungkan. "Apa Mama sudah menelfon, Tante?" 


"Ya." Owner tersebut mengangguk setelah melepaskan jabat tangannya dengan Sia. "Kalian ingin mencari gaun pernikahan, 'kan?" 


Galaksi mengangguk. Owner tersebut segera membawa pembeli istimewanya masuk ke galeri. Dengan segera dia membuka sebuah pintu berwarna putih yang langsung menyajikan gaun-gaun mewah bernilai ratusan juta tergantung di sana.


"Semua yang ada disini hanya limited edition. Jadi Tante bisa jamin tak ada kembarannya," ucap Owner tersebut dengan yakin.


Galexia terpana. Perempuan itu benar-benar terlihat dimanjakan dengan banyaknya gaun-gaun indah. Bahkan tanpa sadar, dia melangkahkan kakinya dan menuju gantungan yang tersusun banyak gaun disana.


"Pilihlah yang kamu inginkan, Siaku. Aku akan mewujudkan segala mimpimu." Entah kapan Galaksi melangkah. Namun, pria itu sudah berdiri di belakang Galexia.


Tentu hal itu membuat pipi Sia memanas. Dia tak menyangka jika keduanya begitu berdempetan hingga aroma maskulin dari tubuh Galaksi begitu bisa dihirup dengan mudah. 


"Sayang." 


"Ya." Sia terjingkat kaget. 


Dia tak menyangka jika sejak tadi menikmati aroma wangi calon suaminya itu. Menyadari tingkah gilanya, rasanya Sia ingin menenggelamkan dirinya.


"Kamu baik-baik saja?" .


"Ya. Aku baik-baik saja," sahut Sia cepat dengan anggukan kepala. "Aku akan memilih gaunnya." 


Sia segera melangkah menjauh. Dia tak mau berdekatan lagi dengan Galaksi. Pria itu memiliki kekuatan yang mampu menjerat Sia dengan ketampanannya. Seakan dirinya akan jatuh terjerat dengan pesona yang begitu memabukkan. 


Di lain sisi, Galaksi pergi meninggalkan Sia sendiri. Dia ingin menyusul kedua anaknya yang tadi berjalan terlebih dahulu. Pria itu bisa menebak jika pasti keduanya sedang mengeksplor seluruh isi galeri ini. 


Bertemu dan mengenal kedua anaknya. Membuat Galaksi tahu jika Mars dan Venus berbeda dari anak seusianya. Keduanya bisa diajak bekerja sama. Bahkan berakting dengan bagus untuk memberikan kejutan pun keduanya begitu sanggup.


"Bialkan Venus mencobanya dulu. Ini bagus pasti buat Venus!" sungut anak kecil yang sedang berdiri sambil menarik sebuah gaun.


"Ini untuk orang dewasa, Cantik. Untuk tubuh mungil, Nona. Ada dibagian sana!" kata perempuan yang memakai seragam pegawai galeri ini.


"Gak mau. Venus mau ini!" 


"Sayang," panggil Galaksi memecahkan perdebatan mereka.


Spontan dua orang pegawai itu langsung menunduk ketakutan. Tubuhnya gemetaran saat melihat Galaksi yang berpakaian begitu rapi mendekat ke arah Venus.


"Papa. Meleka gak izinin Venus buat cobain gaun ini," adunya dengan hidung kempas kempis. 


Jika sudah seperti ini, Galaksi yakin putrinya itu ingin menangis. Sebelum itu terjadi, dia memilih mensejajarkan tubuhnya. Merapikan anak rambut Venus dan mengelus wajahnya dengan lembut.


"Mereka bukan tak mengizinkan kamu, Sayang. Tapi mbak-mbak itu hanya mengatakan jika gaunnya kebesaran," nasehat Galaksi dengan pelan. 


"Tapi, Papa," sela Venus dengan mulut mengerucut.


"Kalau putri Papa pakai gaun ini, pasti kebesaran dan terlihat begitu jelek. Lebih baik kita cari gaun yang pas buat tubuh kecil putri Papa ini. Bagaimana?" 


Venus masih diam. Dia seakan menimbang perkataan papanya. Hingga akhirnya kepalanya mengangguk dan menyetujui perkataan Galaksi. 


Akhirnya keduanya meninggalkan tempat perdebatan itu. Mereka menuju ke arah Mars yang sedang asyik dengan rubik di tangannya.


"Ayo, Sayang. Kita cari gaun untuk Adek. Habis itu kita ke Mama." 


****


Setelah mencari gaun mungil untuk anaknya. Akhirnya mereka bisa menemukan gaun mungil begitu cantik berwarna putih. Ekornya yang sedikit panjang ke belakang menjadi hal yang begitu disukai oleh Venus. 


Menurutnya ekor itu membuatnya seperti seorang princess, kata Venus. Galaksi, tentu hanya bisa mewujudkan keinginan putrinya sendiri. Melihat senyuman dan kebahagiaan dari wajah kedua anaknya menjadi suatu kebanggan di hati bapak dua anak itu. 


Setelah urusan putrinya selesai. Galaksi segera membawa Mars dan Venus menuju ruangan tempat istrinya berada dengan tubuh Venus yang masih dibalut oleh gaun yang akan mereka pakai. Saat ketiganya masuk, mereka tak menemukan keberadaan Sia. Namun, saat Galaksi mulai panik, seorang pegawai datang dan mengatakan jika Galexia ada di ruang ganti.


"Apa Mama akan memakai gaun sepeltiku, Papa?" 


"Tentu saja, Sayang. Kalian berdua akan terlihat begitu mirip dengan pakaian yang sama." 


"Holee asyik...asyik. Venus bakalan kembalan sama, Mama." 


Tak lama, pintu tempat ganti itu mulai terbuka dan menarik atensi semua orang. Hingga saat benda itu terbuka lebar, dari dalam muncullah sosok yang mereka cari. 


Galexia, ibu dari kedua anaknya, calon istrinya terlihat begitu cantik dengan sebuah gaun yang pas membalut tubuh rampingnya. Senyumnya yang malu-malu dengan pipi merona semakin membuat Galaksi terpana.


Bahkan matanya tak berkedip menatap bidadari hatinya berdiri disana. Memakai sebuah gaun yang akan menjadi saksi keduanya. Seperti mimpi memang. Namun, Galaksi sudah meyakinkan jika semua ini bukanlah sebuah mimpi. 


"Bagaimana, Galaksi? Tante yakin kamu akan terpesona." 


"Perfect," ucap Galaksi tanpa sadar dengan mata tak berkedip. "Siaku begitu cantik, Tante." 


~Bersambung~


Ya Allah jantung Sia aman gak yah, dipuji cantik sama si ganteng?


Kalau author mah udah meleyot. 


Akhirnya bisa up gak terlalu malam. Jangan lupa klik like dan komen yah.