
Akhirnya setelah tiga hari Galaksi bersantai di rumah. Menemani istri dan kedua anaknya jalan-jalan. Hari ini dirinya mulai kembali ke aktifitas padatnya. Kembali menjadi pemegang tertinggi di GG Entertainment.
Berkutat dengan kerja sama dan para artis yang bernaung di bawahnya. Galaksi harus kembali ke kehidupan awalnya. Namun, bedanya jika dulu sepulang kerja dia merasa sepi. Sekarang akan ada orang yang menunggunya.
Akan ada tiga orang yang menyambut kedatangannya dengan bahagia. Siapa lagi jika bukan istri dan kedua anaknya.
"Sayang!" teriak Galaksi dari dalam kamar.
"Iya, Kak," sahut Galexia tak kalah kencang.
Wanita yang sedang menata sarapan pagi akhirnya pergi dari sana. Dia menuju ke sumber suara dimana sang suami memanggilnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Galexia yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Dasi yang setelan dengan kemeja ini, dimana?" tanya Galaksi dengan tangan mengobrak-abrik lemari bagian dasinya.
"Dasi yang mana?" tanya Galexia dengan kening berkerut.
"Navy polos itu, Sayang."
"Disana gak ada?" tanya Sia dengan kaki melangkah mendekati tubuh sang suami.
Kepala Galaksi menggeleng pertanda dia tak menemukan dasinya itu. Tanpa kata, Sia akhirnya mengambil alih. Dia menggeser tubuh suaminya agar membuatnya lebih leluasa.
Tidak ada disini, gumam Sia dalam hati.
"Tidak ada, 'kan?" celoteh Galaksi yang membuat Sia meliriknya dengan tajam.
"Ngomel pagi-pagi aku plaster itu mulut," ancamnya yang membuat bibir Galaksi menganga.
Dia tak percaya istrinya berubah menjadi betina galak. Namun, dia menurut. Galaksi memilih duduk di atas ranjang sambil menatap istrinya yang berjalan menuju lemari lain.
"Yang ini, Kak?" kata Sia setelah mengobrak abrik dua lemari pakaian.
"Nah betul."
Akhirnya Galexia bisa bernafas lega. Dia berjalan menuju posisi sang suami lalu membantu Galaksi memakainya.
"Kakak pulang malam?" tanya Sia dengan tatapan mata fokus dengan lipatan dasinya.
"Belum tau, Sayang. Aku usahakan pulang cepat," ujar Galaksi dengan mata terus memandang ke arah istrinya.
"Jangan dipaksakan, Kak. Kalau kakak sibuk karena bekerja, aku dan anak-anak setia menunggumu pulang."
"Uluh...uluh…dapet dari mana kata-kata manis begini?" celoteh Galaksi yang membuat tangan Sia memukul dada suaminya.
"Jangan menggodaku."
"Aku tak menggodamu."
"Lalu tadi?"
"Aku hanya memuji istriku," sela Galaksi cepat yang membuat pipi Galexia memerah.
"Selesai. Ayo kita turun!"
"Berikan aku satu ciuman biar semangat bekerja," rengek Galaksi dengan menunjuk bibirnya.
"Dasar gombal."
"Plis." Mata itu memohon seperti anak kecil yang meminta es krim.
Jika sudah seperti ini, Sia tak bisa menolak. Dia memberikan kecupan singkat lalu segera menarik tangan Galaksi sebelum pria itu meminta hal yang lain.
****
"Selamat pagi," sapa Galaksi saat melihat kedua anaknya sudah duduk tenang.
"Pagi, Papa."
Galaksi langsung mendudukkan dirinya di kursi utamanya. Sedangkan Galexia dia berdiri di sisi sang suami lalu mengambilkan sarapan untuk Galaksi dan kedua anaknya.
"Venus mau loti bakal, Mama," tunjuknya ke arah piring berisi roti bakar.
"Kenapa gak makan nasi goreng, Sayang?" tanya Galaksi menatap putrinya yang sedang menerima roti bakar dari mamanya.
"Venus masih kenyang."
"Kenyang?" ulang Bara yang langsung mendapat anggukan kepala. "Memang Venus habis makan apa?"
"Salad."
"Salad?"
"Kapan Riksa kesini, Sayang?" tanya Galaksi menatap istrinya yang sedang mengambilkan nasi goreng untuk putranya.
"Entah. Aku juga tak melihatnya," ujar Galexia begitu jujur. "Abang lihat?"
"Iya, Ma. Tadi Om Riksa kesini sebentar."
"Ya udah. Gakpapa, Kak. Toh salad, 'kan, sehat."
Akhirnya mereka semua memulai sarapannya dengan tenang. Sesekali celotehan Venus mengundang tawa semua orang. Sampai kegiatan itu selesai. Galaksi langsung berjalan keluar diikuti istri dan anak-anaknya.
"Venus boleh ikut, Papa?" tanya anak perempuan Galaksi dengan mata penuh harap.
Spontan ucapan putrinya membuat Galaksi menunduk. Dia mensejajarkan tubuhnya lalu mengusap kepala itu penuh sayang.
"Hari ini pertama kali Papa masuk kerja. Papa belum tau jadwal Papa padat atau nggak. Jadi bagaimana kalau besok saja Venus ikut?" tawar Galaksi dengan tersenyum.
"Jadi Venus gak boleh ikut?" .
"Bukan gak boleh ikut, Nak. Tapi, Papa bilang besok saja. Bagaimana?" Akhirnya Galexia turun tangan.
Dia ikut membujuk putrinya agar tak membuat suaminya merasa berat.
"Tapi Papa janji ya, besok Venus harus ikut."
"Janji."
Akhirnya Galaksi bisa berangkat dengan tenang. Ketiganya melepas kepergian sang Papa dengan lambaian tangan. Setelah mobil yang membawa tubuh suaminya hilang dari pandangan. Galexia membawa kedua anaknya masuk.
"Abang, ayo main di taman belakang!" ajak Venus dengan menggoyang tangan sang Kakak.
Mars sebenarnya enggan. Namun, membuat adiknya bermain sendirian tentu dia merasa kasihan. Akhirnya bocah yang umurnya hampir 6 tahun itu mengikuti langkah sang adik.
Sesampainya di taman belakang. Venus segera berlari menuju perosotan yang ada disana. Ya, dibagian belakang rumah mereka, Galaksi sengaja membangun taman bermain untuk kedua anaknya. Dia ingin anak-anaknya tak merasa kesepian atau memiliki tempat untuk melepas penatnya kala dirumah.
Sedangkan Mars, bocah itu memilih duduk di bawah pohon. Matanya menatap jeli sang adik yang bergerak leluasa tanpa mengenal lelah. Sampai dirasa adiknya aman, Mars mengeluarkan rubik yang selalu dia bawa lalu memainkannya.
Beberapa saat hanya terdengar celotehan Venus. Hingga tiba-tiba hanya ada keheningan. Mars yang tak mendengar apapun spontan mendongakkan kepalanya.
"Adek," panggil Mars sambil beranjak berdiri.
Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman bermain.
"Venus!" teriak Mars lebih kencang.
"Adek disini, Abang!"
Mars sedikit bernafas lega. Dia segera berlari menuju ke sumber suara hingga tatapannya tertuju pada sang adik yang berdiri di dekat pagar pembatas.
"Kamu ngapain disini?" tanya Mars dengan nada masih terdengar khawatir.
"Itu." Venus menunjuk sesuatu hingga membuat mata Mars mengikutinya.
"Siapa kamu?" seru Mars menatap sosok anak seusia mereka yang berdiri di seberang pagar.
"Dia temanku, Abang," celoteh Venus yang membuat Mars segera menarik lengan sang adik.
"Jangan aneh-aneh. Kita tak mengenalnya," lirih Mars sambil melirik sosok anak perempuan yang sedang menatap ke arahnya juga.
"Venus gak aneh-aneh. Dia teman Venus!" ucapnya dengan melepas paksa tangan sang kakak. "Sini. Venus kenalkan pada, Abang."
Mars tak bergeming. Matanya menatap tajam sosok anak tersebut. Penampilannya juga tak luput dari pandangan mata anak padangan Galaksi Galexia.
Dia benar-benar memindai dengan jeli. Namun, Mars akui wajah anak itu begitu imut. Matanya yang bulat dengan bulu mata lentik. Pipinya yang chubby dan kemerahan semakin membuat Mars ingin mentoel pipi tersebut.
Hingga pikiran Mars terpecah tatkala sang adik menarik tangannya dan mendekat ke arah anak itu dengan pagar menjadi pembatas keduanya.
"Ayo, Abang!" Venus menarik tangan Mars agar menjulur keluar untuk bersalaman.
Terlihat anak perempuan itu ketakutan saat matanya bertabrakan pandangan dengan Mars. Namun, melihat bagaimana sikap Venus membuatnya memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya juga.
"Mars," ucapnya dengan nada dingin dan mata tak luput dari wajah anak perempuan di depannya.
"Titania."
~Bersambung
Tetot tetot. Hayoo siapa dia?
Hahaha nak kaburr.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.