
"Kau ingin tau siapa aku?" tanyanya dengan menatap tajam Pandora asli.
"Sakit…lepaskan!" pintanya dengan mata terpejam.
"Uhh… Sayang sekali. Bagaimana bisa Altair mencintai wanita selemah dirimu?" serunya dengan semakin menguatkan jambakannya.
Mama Galaksi hanya bisa diam. Dia memejamkan matanya untuk menahan sakit, hingga tak lama jambakan itu dilepaskan.
"Mungkin kita harus berkenalan lebih dulu sebelum kau mati dan aku akan menggantikan posisimu," ucap wanita seksi itu dengan seringai iblis.
Pandora menggeleng. Dia menatap sosok duplikat di depannya dengan pandangan sendu. Dirinya tak percaya ada sosok yang mirip dengannya. Walau perbedaan mereka berdua hanya di make up. Jika sosok di depannya ini memakai make up yang lumayan tebal. Sedangkan dirinya, selalu memakai make up tipis saat keluar.
"Namaku Alula," ucapnya dengan tersenyum sinis. "Aku adalah kekasih Altair sebelum kau datang merebutnya."
"Aku tak merebut siapapun," bela Pandora yang membuat emosi Alula memuncak.
"Kau bilang tak merebut, hah!" serunya dengan wajah berdekatan. "Karenamu dia memutuskanku!"
"Karenamu juga aku harus kehilangan sosok yang aku cintai!" serunya marah. "Semua itu karena kau, Pandora!"
Pandora menggeleng. Matanya berkaca-kaca saat melihat Alula begitu emosi.
"Aku dengan Altair dijodohkan, Alula. Aku dan dia menikah karena paksaan orang tua."
"Aku tau!" sahut Alula cepat.
"Kalau kau tahu, kenapa kau menculikku?"
"Karena kau! Kau adalah sosok yang membuat Altair meninggalkanku. Karena kau! Altair melupakan mimpi indah kita. Karena kau! Semua hancur dan kau harus membayarnya, Pandora!" teriak Alula dengan wajah memerah.
Wanita itu mencekik leher Pandora hingga nafasnya tersengal-sengal. Alula benar-benar gelap mata, bahkan wanita itu begitu kuat dalam cengkramannya. Semua yang ada di sana begitu ketakutan, hingga pria berambut panjang mendekati Alula dan menarik tangannya.
"Berhenti, Nyonya. Dia bisa mati karenamu!"
"Lepaskan, Bodoh!" seru Alula menghempaskan tangan pria itu. "Aku menyuruh kalian untuk menculiknya, karena aku ingin membunuhnya!"
"Minggir, Kau!" seru Alula lalu menatap wajah Pandora yang sudah acak-acakan.
Senyum miring keluar dari bibirnya yang seksi lalu kakinya ia langkahkan untuk mengitari Pandora.
"Apa kau ingin tahu bagaimana wajah dan suaraku mirip denganmu?" tanya Alula mendekatkan bibirnya di telinga Pandora.
Pandora hanya diam. Wanita itu bahkan sudah menangis karena tak tahu harus mengatakan apa. Semua ini seperti mimpi menurutnya. Seumur hidup dia tak pernah memiliki kembaran, tapi tiba-tiba di depannya muncul sosok wanita yang mirip dengannya.
"Saat Altair memutuskan hubungannya denganku. Aku langsung mencari sosokmu," kata Alula memulai cerita.
Dia mengelus rambut Pandora dengan lembut, dan pikirannya memikirkan hal apa saja yang sudah dialami dirinya sampai sejauh ini.
"Setelah aku menemukan fotomu. Aku mulai menyusun rencana. Cintaku pada Altair membuatku nekad melakukan ini," jedanya sambil menegakkan tubuhnya dan menjauh dari Pandora. "Aku melakukan operasi plastik dan voice lift untuk suaraku. Aku ingin memiliki apa yang kau miliki. Aku ingin merubah segalanya untuk membuat Altair kembali ke pelukanku."
"Tapi semua itu salah," sela Pandora yang diangguki kepala oleh Alula.
"Aku tau salah, tapi niatku untuk menghempaskanmu membuatku sampai di titik ini!" serunya dengan senyum miring.
"Setelah aku melakukan operasi plastik besar-besaran. Ternyata wajah kita memang mirip, tapi jika dipandang dari dekat ada sedikit perbedaan. Untuk memanipulasi itu, aku mulai memoles wajahku agar semakin mirip denganmu," ucap Alula sambil bertepuk tangan. "Ternyata usahaku berhasil bukan? Selama 3 hari aku tinggal dirumahmu, ternyata Galaksi serta Altair terkecoh denganku."
"Untuk suaraku, ya meski menghabiskan banyak uang. Namun, dokter benar-benar berhasil. Aku bisa menyamai suaramu. Meski kemarin harus ada drama aku mengatakan pada Altair dan Galaksi, jika tenggorokanku sedikit sakit. Mangkanya suaraku sedikit berbeda."
Pandora benar-benar tak habis pikir. Perempuan itu menatap Alula dengan pandangan iba. Dia merasa kasihan melihat wanita di depannya ini begitu terobsesi pada suaminya. Padahal, apa yang dia lakukan ini adalah sebuah kesalahan besar.
"Apapun itu. Kau salah, Alula," ucap Pandora sambil meneteskan air mata. "Suatu hari nanti, suami dan anakku pasti akan tau siapa dirimu."
"Ah sebelum mereka tau, aku akan melenyapkanmu."
"Jangan! Kumohon jangan membunuhku," pinta Pandora dengan meminta belas kasihan.
Alula tersenyum sinis. Dia melangkahkan kakinya dan mendekati Pandora yang menatapnya penuh harap. Dengan pelan dia mengelus pipi Pandora. Namun, gerakannya yang pelan semakin membuat ibu dari Galaksi itu gemeteran.
"Sayangnya permintaan tidak dikabulkan," ucap Pandora sambil tertawa.
Dia bergerak menjauh dan mendekati pria berambut panjang yang tadi mendekatinya. "Mana!"
Tangan Alula menggantung. Dia menggoyang ke kanan dan ke kiri meminta barang yang dia katakan kemarin.
"Hey!" bentak Alula membuat pria itu tersentak kaget. "Mana pistolnya!" serunya dengan penuh penekanan.
"Jangan, Alula. Kumohon jangan!" mohon Pandora dengan pandangan iba.
"Kau merebut semua kebahagiaanku. Kau merebut Altair dan menghancurkan semua mimpiku. Kau pantas mati!"
Alula mengarahkan pistol itu ke hadapan Pandora. Dia menatap wanita yang diikat ini penuh kebencian. Rasanya dia sudah tak sabar melihat sosok yang merebut pujaan hatinya mati dengan tangannya sendiri.
"Lalu apakah Alula menembak Mama, Om?" tanya Sia saat Orion menjeda ceritanya.
"Saat itu keadaan benar-benar genting Sia. Bahkan aku masih mengingat bagaimana wajah nyonya yang ketakutan," kata Orion menatap Sia.
"Karena keadaan mulai tak terkendali. Akhirnya…."
Suara pecahan kaca di luar, membuat perhatian Alula dan empat orang pria itu beralih.
"Siapa disana?" teriak Alula menurunkan pistolnya.
Dia berjalan ke arah pintu yang terbuka. Mencari dimana sumber suara itu berada. Namun, disana tak ada siapapun.
"Apa ada orang lain disini?" tanya Alula pada keempat anak buahnya.
"Tidak ada, Nyonya."
"Cepat berpencar! Cari, ada apa disana!" serunya yang langsung dijalankan.
Alula menatap sosok Pandora dengan rinci. Hingga keningnya berkerut saat melihat penampilan wanita itu berbeda.
"Jaket siapa yang dipakai dia?" tanya Alula pada pria berambut panjang.
Pria itu menelan ludahnya paksa. Dia menatap Pandora sekilas dan menjawab. "Jaketku, Nyonya."
"Untuk apa kau memberikannya?" seru Alula kesal.
"Pakaiannya begitu terbuka. Maka dari itu kami memberikannya jaket agar tak mengundang ***** kami," ucap pria itu dengan kepala menunduk.
Alula memukul kepala pria itu dengan keras. Sumpah serapah keluar dari bibirnya yang seksi.
"Seharusnya kau nikmati tubuhnya kemarin," seru Pandora marah. "Sekarang kalian terlambat. Biarkan saja dia mati dan tubuhnya kita buang ke jurang."
Tak lama, dua pria yang diperintah melihat sekitar akhirnya kembali. Mereka mendekati Alula yang sudah menunggu jawaban keduanya.
"Tak ada siapapun, Nyonya. Hanya sebuah kucing."
Alula mengangguk. Wanita itu kembali menatap ke arah Pandora dengan pistol dia arahkan ke bagian dadanya.
"Ada salam perpisahan untuk suami dan anakmu?" tanya Alula dengan seringai licik.
"Kumohon jangan!"
"Ada salam perpisahan, tidak?" bentak Alula membuat Pandora semakin menangis.
Namun, kepalanya mengangguk dengan rasa putus asa dalam dirinya.
"Tolong jaga suami dan anakku, Alula. Sayangi mereka berdua seperti aku menyayanginya."
"Tentu saja. Aku akan menyayangi mereka berdua. Sekaligus hartanya juga, akan aku sayangi."
Setelah mengatakan itu, Alula melambaikan tangannya ke arah Pandora hingga wanita yang tangannya diikat itu hanya bisa memejamkan matanya dengan banyak doa yang dipanjatkan olehnya.
Dor!
~Bersambung~
Hiyakk. Ada yang mau tanya lagi gak?
Tadi ada yang komen kan. Meski kembar wajah dan suara pasti bisa dibedain.
Udah aku jelasin diatas yah. Alula bilang emang dari dekat gak mirip banget wajahnya. Tapi dia manipulasi sama make up. Kalau suara, dia operasi voice lift. Biasanya ini juga dipakek sama penyanyi.
Jadi apa ada yang ditanyakan lagi? Komen aja yah. Bakalan aku bales kok.
Ada typo atau kalimat aneh komen juga.
Jangan lupa tekan like dan komen untuk apresiasi karya ini. Dukung si kembar dengan vote juga yah. Thnkyu love jauh.