
Suasana Mall pada siang hari di New York terlihat begitu ramai. Semua orang saling berlalu lalang untuk memenuhi kebutuhan yang mereka cari. Begitupun dengan sepasang manusia yang saling berjalan beriringan. Mereka adalah Galaksi dan Inggrid.
Dua orang manusia terkenal di New York itu, berjalan dengan menggunakan pakaian santai. Sepertinya perintah Pandora kemarin membuat Galaksi terjebak di situasi saat ini. Wajahnya datar dengan jalan yang dia buat santai, membuat Inggrid yang terlihat begitu antusias menjadi sebal.
"Kamu kenapa sih?" tanya Inggrid dengan tangan yang ia paksa membelit di lengan Galaksi.
Pria itu sejak tadi merasa risih. Namun, usahanya agar terlepas dari belitan itu tak berhasil, lantaran Inggris begitu kuat memegangnya. Hingga mau tak mau, hal itu terpaksa membuat Galaksi pasrah.
"Gak papa," sahut Galaksi cuek.
Inggrid hanya bisa menghembuskan nafas berat. Lalu dia menarik tangan Galaksi ke salah satu store terkenal yang menjual tas-tas branded. Seakan menemukan harta karun, belitan tangannya pada Galaksi ia lepas dan segera berjalan menuju etalase-etalase yang menyimpan tas-tas tersebut.
Sedangkan Galaksi, pria itu lebih memilih duduk di salah satu kursi yang tersedia. Lalu tangannya segera merogoh saku celana dan mengambil benda pipih yang selalu dia bawa. Daripada berdiam diri tak berguna, Galaksi lebih memilih mengerjakan pekerjaan kantor melalui ponselnya.
Dia begitu fokus hingga tak memperdulikan Inggrid yang sudah berkeliling hampir 30 menit. Wanita itu sudah berjalan kesana kemari untuk mencari tas yang cocok. Namun, sampai sekarang belum mendapatkan yang sesuai seleranya. Sampai tiba-tiba, matanya menangkap sebuah tas kecil lucu berwarna hitam yang menarik atensinya.
Dia meminta pelayan toko mengambilnya dan Inggrid membawanya ke hadapan Galaksi.
"Bagaimana?" tanya Inggrid sambil mencoba memakai tas itu di tangan kanannya sambil melenggokkan tubuhnya.
Galaksi masih diam. Matanya terlalu fokus pada layar handphone hingga membuat Inggrid mengepalkan tangannya.
"Galaksi!" Suara Inggrid yang keras. Tentu membuat Galaksi spontan mendongak.
"Ada apa?"
"Kamu ngapain sih?" tanya Inggrid memicingkan matanya. "Seharusnya kamu nemenin aku cari tas. Bukannya main hp terus."
Galaksi beranjak berdiri sambil menyimpan ponselnya kembali. Dia berjalan mendekati Inggrid dan berhenti tepat di depannya.
"Aku bermain hp tapi menghasilkan uang. Daripada kamu, mau bermain hp maupun tidak, tak menghasilkan apapun." Setelah mengucapkan kalimat pedas tersebut. Galaksi langsung meninggalkan Inggrid.
"Galaksi….Galaksi!"
Pria itu pura-pura tak mendengar. Dia berjalan keluar dari toko hingga tarikan di tangannya membuatnya mau tak mau berbalik. Dengan wajah malas, dia menatap Inggrid yang berdiri di depannya.
"Maafkan aku, Galaksi. Aku gak tau kalau kamu lagi bekerja," rengek Inggrid dengan memegang tangan kiri pria itu.
"Sudahlah. Cepat selesaikan belanjamu. Lalu kita pulang!"
****
Di tempat yang sama tapi lantai berbeda. Terdapat dua orang pria dengan perbedaan umur yang jauh saling bermain permainan bola basket yang dilempar ke ring. Mereka saling berlomba untuk memasukkan bola dengan diiringi suara cempreng khas bocah kecil.
"Ayo, Abang! Abangnya Venus pasti menang!" teriak si kecil Venus heboh sambil melompat-lompat.
Mars dengan ketelitian tetap fokus dan tak peduli dengan jeritan Venus. Dia benar-benar bergerak cepat dengan tangan dan otak bekerja sama. Sedangkan sang pelaku utama, yang membawa bocah kembar itu juga sama-sama fokus melempar bola. Dia adalah Riksa, manager Sia yang ditodong oleh dua anak kembar itu untuk mengajaknya jalan-jalan. Akhirnya dia membawa Mars dan Venus bermain di sini.
"Yey, menang. Abangnya Venus menang!" Heboh Venus dengan menggoyangkan pantatnya.
Sungguh tingkah bocah kecil itu begitu menarik perhatian bule-bule di sana. Namun, tidak dengan Mars dan Riksa. Dua pria itu hanya bisa menepuk jidatnya saat melihat permainan ini lebih di dominasi oleh kehebohan si kecil Venus.
"Yang menang Om Riksa, Dek," ucap Mars membuat Venus yang masih berjoget berhenti.
Dia menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Bukan. Abang Mas yang menang," tolaknya tak mengakui kekalahan.
"Abang kalah."
Saat Mars hendak menyahut. Venus sudah berbalik sambil mengajak mereka berganti mainan. Hingga akhirnya membuat Riksa pun menengahi perdebatan antara kakak dan adik tersebut.
"Udah gakpapa, Mars. Biarkan Venus bahagia," kata Riksa memberikan pengertian.
"Tapi, Om…"
"Kamu gak lihat. Tuh, adikmu bahagia banget loh. Apa Mars mau mematahkan kebahagiaan Venus?" Dengan cepat Mars menggeleng. Hingga hal itu membuat Riksa segera menggandeng tangan Mars dan mengajaknya menyusul Venus yang sudah berada di depan.
"Jadi kalau Mars gak mau Venus sedih. Biarkan apapun keinginan Venus. Toh yang penting dia gak berulah." Akhirnya Mars mengangguk.
Dia menjadi ingat ajaran mamanya. Jika antara kakak dan adik harus saling menjaga dan membahagiakan. Ketika yang satu sedih, maka saudara yang lain akan menjadi penghibur. Jika yang satu sakit, maka yang satu akan menjadi obat dan penyemangat agar segera sembuh. Sungguh ajaran Galexia begitu baik bukan?
Sedangkan Venus, bocah kecil itu menggerutu sebal. Menurutnya, kakaknya itu tak bisa diajak kerjasama sama sekali. Padahal dia sengaja mengatakan Om Riksanya kalah, agar dia bisa meminta es krim sebagai hadiah pemenang abangnya.
"Kalau gini 'kan malu mau minta es krim sama Om Riksa," gerutu Venus yang ternyata di dengar oleh Riksa.
Venus benar-benar tak tahu jika di belakangnya sudah ada Mars dan Riksa yang mengikutinya. Sekilas ide pintas muncul hingga membuat senyuman geli terbit di bibir Riksa. Dia berpura-pura menarik tangan Mars agar bisa berjalan di samping Venus.
"Lebih baik kita beli es krim yuk, Mars! Toh ada seseorang yang ngambek gak mau jalan bareng kita," sindir Riksa sambil melirik wajah Venus yang terkejut.
"Let's Go!" Riksa dan Mars segera berjalan mendahului Venus. Meninggalkan bocah kecil yang sudah semakin cemberut dan sepertinya siap meledakkan amarah melalui tangisan air mata.
Namun, sepertinya gengsi Venus masih tinggi. Bukannya menangis, dia segera menyusul abangnya sambil menarik kaos Mars yang berada di belakang. "Abang ikut!" rengeknya semanja mungkin.
"No!"
"Abang," panggilnya Venus dengan suara yang sudah siap menangis dengan tangan ia gerakkan di pakaian Mars.
Perilaku Venus yang seperti itu tentu membuat Riksa tak tega. Dia segera menggendong Venus dan menggelitik pinggangnya hingga membuat bocah kecil tersebut tertawa kencang.
"Anak cantik gak boleh nangis. Oke?"
"Tapi belikan es klim ya, Om?"
"Sure, Darling. Kau adalah putri kecil, Om."
Akhirnya mereka segera menuju ke kedai es krim. Riksa tanpa pamrih membelikan dua cup es krim coklat untuk diberikan pada Mars dan Venus. Wajah bahagia tentu begitu terlihat di antara mereka. Bahkan saat mereka selesai membayar dan berjalan menuju tempat makan. Tak henti-hentinya Venus memakan es krim tersebut dengan lahap.
Hingga saat mereka hendak menaiki eskalator untuk turun ke lantai dua. Tiba-tiba muncul dua orang dewasa yang tiba-tiba bergerak di samping Venus, dan membuat es krim yang ada di tangan kanan Venus terjatuh mengenai gaun sang wanita.
"Ups." Venus menutup mulutnya dengan mata bulat menatap es krim yang menempel di gaun wanita yang menabraknya. "Solly."
Tentu insiden yang begitu cepat itu, membuat wanita tersebut begitu marah. Dia menunduk dan melihat bocah tengil yang menurutnya dengan sengaja mengotori pakaiannya.
"Dasar bocah nakal. Lihat! Dressku kotor karena es krim sialanmu itu!" seru sang wanita dengan kencang dan tangan hendak memukul Venus.
"Inggrid!" seru pria yang tak lain Galaksi sambil menarik tangan Inggrid yang sudah hampir melayang. "Dia masih kecil!" kata Galaksi yang hanya melihat postur tubuh Venus tanpa melihat wajahnya.
"Tapi anak ini mengotori dressku, Galaksi!" seru Inggrid tak mau kalah. "Dasar anak pembawa sial!"
Plak.
~Bersambung~
Melayang deh melayang itu tangan. Tangannya siapa yak?
Jangan lupa klik tombol like dan komen ya untuk mensupport karya author. Vote koin atau poin biar biar author makin semangat updatenya.
Terima kasih~~