The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kebenaran Pertama




"Anterin gue ke kamar Sia, Le!" perintah Galaksi dengan menurunkan kedua kakinya.


Leo menghadang, hingga membuat pria dengan pakaian pasien itu mendongak. "Minggir!" 


"Jan aneh deh. Lo masih sakit! Besok juga masih bisa tanya ke Sia," kata Leo hendak mengangkat kaki Galaksi untuk kembali ke ranjang.


"Gue mau sekarang!" 


"Nggak. Diem loh!" seru Leo tak mau kalah.


"Kalau lo gak minggir. Gue jamin galeri punya lo bakalan rata," ancam Galaksi dengan mata tajamnya menatap Leo. 


Leo menelan ludahnya paksa. Dia menatap wajah Galaksi yang begitu serius, hingga membuatnya mau tak mau akhirnya menyerah. Siapa yang bisa melawan pria keras kepala di depannya ini. Sikap bossy dan menyebalkan tentu saja membuat Leo harus mempunyai kesabaran yang luas. 


Dengan cemberut, Leo keluar dari ruangan Galaksi untuk mengambilkan kursi roda. Rasanya ingin sekali dirinya memukul kepala sahabatnya itu. Namun, mengingat kehidupan Galaksi beberapa tahun terakhir ini tak bahagia, membuat Leo merasa kasihan kepadanya.


Akhirnya pagi menjelang siang tersebut, Galaksi bisa keluar dari ruangannya. Senyumannya mengembang saat menyadari jika dirinya akan bertemu dengan mantan istri yang masih sangat ia cintai. Semakin dekat dengan ruangan Sia, jantung Galaksi terus berdetak cepat. Tangannya terasa dingin karena dia merasa gugup dan takut akan kebenaran apa lagi yang akan dia dengar hari ini.


Berulang kali Galaksi menarik nafasnya begitu dalam, menghilangkan rasa gugup dan takut dari dirinya ketika kursi roda itu berhenti di depan ruangan Sia. Jantung Galaksi semakin cepat berdetak. Dia menelan ludahnya paksa sebelum mendorong pintu ruangan tersebut hingga pemandangan menusuk mata langsung tertangkap manik mata Galaksi.


Tangannya mengepal kuat saat pandangannya melihat bagaimana Riksa yang menyuapi Sia dengan telaten. Apalagi sikap Sia yang berbeda saat bersama dirinya, membuat hatinya semakin panas terbakar cemburu.


Sedangkan dua orang yang berada di ruangan itu kaget. Mereka sama-sama menoleh saat mendengar bunyi pintu ruangan terbuka, hingga matanya menangkap sosok yang membuat tubuhnya kembali bergetar.


"Kamu!" seru Sia dengan keringat dingin.


Trauma itu kembali muncul, hingga membuat rasa gelisah dan takut menyerang dirinya yang belum sembuh total. Riksa tentu saja terkejut bukan main dengan reaksi Sia. Bahkan dia tak menyangka jika sikap wanita itu akan seperti ini.


"Tenanglah, Sia," ucap Riksa spontan menggenggam tangannya.


Bisa Riksa rasanya kulit Sia begitu dingin. Bahkan keringat mulai muncul di dahinya hingga membuatnya begitu tak tega.


"Suruh dia pergi, Riksa. Ku mohon!" pinta Sia sambil memegang lengan managernya itu. 


Riksa beranjak berdiri. Dia menatap Leo dan menghunuskan tatapan tajamnya.


"Pergi...pergi!" teriak Sia sambil mengeratkan genggaman tangannya. 


"Maafkan aku, Sia. Aku terpaksa membawanya kemari karena dia ingin bertanya sesuatu padamu," kata Leo dengan wajah kebingungan.


Jujur Leo ada di posisi sulit saat ini. Di satu sisi dia merasa kasihan pada Sia. Apalagi melihat dan mendengar perjuangan sahabatnya itu, rasanya Leo tak mau mempertemukan Galaksi dengannya. Namun, mengingat hubungannya dengan Galaksi juga sama-sama sahabat. Tentu membuatnya merasa kasihan melihat sahabatnya hidup dalam rasa penyesalan dan bersalah.


Setidaknya sedikit saja, biarkan rasa penyesalan itu hilang. Sedikitnya berikan satu kesempatan untuk Galaksi tahu jika dia sudah menjadi seorang ayah dari dua orang anak. Hanya itulah keinginan Leo untuk keduanya. 


Saling melepaskan kesalahpahaman, saling memaafkan dan hidup berdampingan. Walau tak bisa bersatu, setidaknya demi si kembar mereka bisa membesarkan keduanya bersama-sama. 


Riksa hanya bisa menghela nafas berat. Dia tahu betul posisi Leo. Namun, kondisi seperti ini belum tepat untuk keduanya. Tapi semuanya sudah terjadi dan dirinya hanya harus menenangkan diri Sia sebelum perempuan itu pingsan kembali. 


Riksa mengambil tempat duduk di depan Sia. Dia menangkup wajahnya agar pandangan mama dari si kembar itu tertuju padanya.


"Dengarkan aku!" kata Riksa penuh perhatian. "Dia hanya ingin berbicara, Sia. Just talk, okey?" 


Sia mengangguk. Rasa takutnya sedikit berkurang. Apalagi ketika kulitnya merasakan kehangatan kulit Riksa membuatnya sadar jika masih ada pria itu yang akan melindunginya dari Galaksi.


Pemandangan ini tentu begitu menyakiti seseorang yang sejak tadi duduk di kursi roda. Bahkan tangannya tanpa sadar menggenggam kuat pegangan itu hingga kulitnya memutih. Leo hanya bisa menghela nafas pelan lalu dia mengelus bahu Galaksi pelan untuk menenangkan sahabatnya itu. 


Perlahan, Galaksi mendorong kursi rodanya sendiri. Mengabaikan infus yang masih tertancap di tangannya hanya untuk bertemu dengan mantan istrinya itu.


"Bagaimana kabarmu, Sia?" tanya Galaksi dengan tatapan penuh kerinduan.


"Baik," sahut Sia tanpa menoleh. 


Galaksi hanya bisa bersabar. Semua ini juga terjadi karena kesalahannya di masa lalu. Namun, dirinya tak menyerah. Galaksi sudah bertekad bagaimanapun caranya dia harus bisa mendapatkan maaf. 


"Maafkan aku, Sia," ucapnya dengan bersungguh-sungguh. "Jujur setelah kita bercerai, aku dihantui rasa bersalah. Bahkan aku tak pernah tidur nyenyak setelah malam talak itu." 


Sia tertawa sumbang. Kedua matanya berair dengan tatapan begitu kosong. Apakah telinganya tak salah mendengar. Rasa bersalah katanya? Seharusnya Galaksi bisa berkaca sendiri, bukankah jalan ini adalah pilihannya sendiri. 


"Kenapa bukan saat malam itu kamu mengejarku dan meminta maaf? Kenapa sebelum kamu mentalakku, kamu meminta maaf dulu?" tanya Sia dengan air mata mengalir.


Galaksi hanya bisa diam. Dia mengepalkan kedua tangannya dan ingin rasanya memukul dirinya sendiri. Dia sadar akan kebodohannya selama ini. Namun, untuk menyesali pun semuanya terlambat. Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan saat ini untuk melepaskan rasa sakit dan bersalah dalam dirinya sendiri.


"Maafkan aku, Sia."


"Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Bahkan sebelum aku pergi jauh dari rumahmu, aku sudah memaafkan semuanya," kata Sia hingga membuat kepala Galaksi mendongak.


Dia menatap wajah Sia yang sedang menatapnya balik. Galaksi merasa sedikit memiliki harapan untuknya, bahkan dia begitu bahagia mendengar kata maaf dari diri Sia.


"Jangan berpikiran terlalu jauh, karena aku hanya memaafkanmu. Bukan untuk kembali!" 


Galaksi merasa terhempas ke dasar lautan. Baru saja harapannya membumbung tinggi tapi langsung dihancurkan oleh perkataan Sia. Galaksi hanya bisa tersenyum getir. Namun, dia menganggukkan kepalanya agar Sia tak marah kepadanya.


Saat lama terjadi keheningan, bayang-bayang Mars kembali muncul hingga Galaksi mengingat tujuannya selain meminta maaf. Ditambah, Leo yang menepuk pundaknya dan membisikkan sesuatu hingga membuatnya semakin diliputi rasa penasaran yang tinggi.


"Cepat katakan tujuan keduamu, Bodoh!" bisik Leo dengan menepuk kepalanya.


Galaksi melotot, tapi dia membuang pandangannya dan menatap Sia yang masih diam di atas ranjang.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Galaksi yang dijawab anggukan kepala oleh Sia.


Dia semakin menggenggam tangan Riksa dengan erat. Menyiapkan hati untuk mendengar pertanyaan apalagi yang akan mantan suaminya itu tanyakan. 


"Siapa ayah kandung Mars dan Venus?" tanya Galaksi dengan keringat dingin di telapak tangannya.


Sia menghela nafas pelan. Dia tak terkejut dengan pertanyaan ini. Karena sejak pertemuannya dengan Galaksi kemarin, Sia sudah berpikir jika pria itu pasti menanyakan ini padanya.


"Mereka anakku dengan selingkuhanku!" ucap Sia menatap Galaksi. "Seperti perkataanmu dulu 'kan?" 


Galaksi menggeleng. "Aku tak percaya, Sia. Wajah Mars begitu mirip denganku saat kecil." 


Sia tertawa hambar. Dia begitu lucu mendengar perkataan Galaksi yang terdengar menggelikan di telinganya. 


"Kenapa baru sekarang kamu tanyakan itu padaku? Bukankah apapun kenyataannya semua sudah terlambat?" tanya Sia menatap mantan suaminya itu.


Galaksi menggeleng. "Setidaknya biarkan aku tahu semuanya meskipun sudah terlambat." 


"Ku mohon, Sia!" pintanya hingga membuat Sia menatap Riksa.


Dia membutuhkan sebuah dukungan hingga Riksa mengangguk pertanda dia setuju dengan pikiran Sia.


"Apa salahnya dia tahu, Sia? Sampai kapan pun kamu menyimpannya, kenyataan akan tetap sama," ucap Riksa pelan yang hanya didengar oleh Sia.


Akhirnya Sia mengangguk. Dia sudah memantapkan hati dan keputusannya. Hingga mungkin hari ini adalah hari yang tepat dimana sebuah kebenaran akan terjawab. 


"Mars dan Venus adalah anak kandungmu. Dia murni terlahir dari darah dagingmu sendiri." 


Galaksi tercengang. Bahkan dirinya seperti orang linglung yang begitu shock mendengar kebenaran ini. Sungguh dirinya merasa seperti tertimpa beban besar dalam pundaknya dan rasa penyesalan itu semakin mendalam. 


"Bagaimana bisa, Sia? Bukankah kita belum…" 


"Tentang itu, tanyakan langsung kepadamu Mamamu. Hanya dia yang tahu apa yang terjadi pada malam itu." 


~Bersambung~


Ahh selamat datang neraka penyesalan Galaksi dan untuk Pandora, selamat datang awal kehancuranmu."


Je minta maaf yah, baru bisa update. Padahal udah dari tadi 200 like. Aku baru selesai ngetik soalnya mulai hari ini anakku belajar lepas nen(nyapih)


Jadi si kecil mulai rewel soalnya gak bisa nen di aku. Bantu doa yah, semoga dia gak rewel. Aku usahain tetep up kok.


Jangan lupa like, komen dan vote ya untuk mengapresiasi karya si kembar.


Tembus 200 like aku update lagi! yok gas semangat!