
Waktu terus berjalan tanpa bisa dicegah. Sesuai dengan jadwal, hari ini Galaksi dan Galexia akan mencari gaun pernikahan untuk mereka berdua. Wedding kali ini benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya. Galaksi benar-benar mewujudkan pernikahan yang begitu megah dan luar biasa untuk keduanya.
Apalagi mengingat bagaimana terjalnya jalan keduanya untuk bisa kembali. Tentu membuat Galaksi ingin mewujudkan segala mimpi calon istrinya itu. Pernikahan yang mewah, besar dan diketahui oleh semua orang. Semua itu benar-benar berbeda jauh dengan pernikahan pertama mereka.
Namun, Galexia tak pernah menuntut. Wanita itu seakan menerima apapun yang sudah disiapkan oleh calon suaminya. Galaksi benar-benar meminta Sia untuk istirahat dan tak melakukan apapun. Wanita itu hanya diminta menunggu dan bersiap jika ada sesuatu yang membutuhkan kehadirannya.
Seperti pagi ini, rumah mewah dan besar itu sudah terlihat begitu ramai akan celotehan Venus. Gadis kecil itu sudah merasa betah dan berhasil beradaptasi dengan cepat. Apalagi dengan adanya kamar bermain dan banyak mainan kesukaan keduanya, tentu baik Mars ataupun Venus merasa bahagia.
Kehidupan yang jauh lebih baik dari saat mereka hanya tinggal bertiga. Membuat kedua anak kecil itu bersyukur. Mereka juga tak harus bekerja ekstra seperti dulu.
"Mama bagaimana dengan keadaan, Om Leo?" tanya Venus saat mereka baru saja menyelesaikan sarapan paginya.
Galexia tertegun. Wanita itu hampir melupakan sahabat dari dirinya dan sang suami. Pikirannya berputar dan dia baru menyadari jika sudah lama tak menghubungi pria gemulai itu.
"Mama," desak Venus tak sabaran.
Sepertinya putri dari Galexia dan Galaksi tersebut, sedang merindukan Leo. Pria yang sama seperti Riksa, dekat dengannya dan begitu baik kepada mereka.
"Tunggu Papa ya, Sayang. Terus nanti kita telpon Om Leo," bujuk Sia dengan lembut.
"Yah, Mama. Venus kangen sama Om Leo," seru Venus membuang tatapan wajahnya dan bersedekap.
Pipinya menggembung dengan bibir mengerucut yang menandakan jika Venus sedang berada di vase ngambek. Tak ada senyuman, hanya ada wajah jutek dan tanpa suara yang diperlihatkan gadis kecil itu.
"Mama bener-bener gak tau kabar Om Leo, Sayang. Sudah lama Mama tak bertukar kabar." Wajah Venus tetap sama.
Gadis kecil itu hanya diam hingga terdengar suara salam dari luar yang membuat Galexia menghela nafas lega. Disana, calon suaminya baru saja datang. Pria itu berjalan ke arah mereka dengan pakaian santai yang begitu membentuk tubuh kekarnya.
"Selamat pagi, Putri Papa. Kenapa cemberut?" sapa Galaksi saat dirinya berada didekat Venus.
Putrinya itu tak menjawab. Gadis kecil itu lebih memilih memiringkan tubuhnya dan memalingkan wajah. Seakan dirinya sedang ajukan protes dan tak ingin diganggu oleh siapapun.
"Putri, Papa," goda Galaksi sambil mencolek pipi anaknya itu.
"Diam, Papa!" seru Venus tak sabaran.
Pria itu melirik ke arah Sia yang ternyata sedang menatapnya. Seakan Galaksi menanyakan kenapa putrinya sudah bermood jelek di pagi hari.
"Venus menanyakan Leo, Kak," ujar Sia dengan menghela nafas berat. "Tapi aku sendiri tak tahu bagaimana kabar pria itu. Sudah lama sekali kita gak kontekan."
"Oh, Putri Papa ingin menghubungi Om Gemulai?" ujar Galaksi yang berhasil mencuri perhatian anaknya.
Venus tentu spontan menoleh. Kepala gadis kecil itu mengangguk dengan semangat.
"Ingin menghubunginya?" goda Galaksi dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Iya, Papa."
"Tapi ada syaratnya," kata Galaksi sambil mensejajarkan tubuhnya.
"Apa, Papa?"
"Senyum untuk Papa dong," pinta Galaksi yang langsung dituruti oleh putri kecilnya itu.
Segera Venus mendekat dan memeluk papanya. Lalu dia memberikan senyuman yang terbaik dan mengecup pipi kirinya dengan semangat.
"Telima kasih, Papa."
"Sama-sama, Princess. Come on, kita ganggu Om Gemulai," ajak Galaksi lalu membawa anaknya ke dalam gendongan.
Dengan lembut Galaksi mendudukkan putrinya tepat di samping kiri tubuhnya, sedangkan Sia wanita itu duduk di samping kanan yang membuatnya tepat berada di antara dua bidadari hatinya.
Tangannya dengan cekatan meraih benda pipih itu lalu mencari nama pria yang begitu dirindukannya. Tanpa kata, Galaksi segera menghubungi temannya itu. Hingga deringan yang kedua, panggilan itu tersambung.
"Darimana aja, Lo?" serobot sebuah suara yang sudah sangat mereka kenal.
"Lo pada ngelupain gue, 'kan? Mentang-mentang udah ada bininya, gue dilupain," dengusnya dengan suara sebal.
"Asal ngomong gue tabok nih?" cetus Galaksi begitu galak.
"Tabok itu apa, Papa?" todong Venus yang membuat mereka sadar jika disana ada putri kecilnya.
Galexia melototkan matanya. Sangking hebohnya Leo, membuat mereka lupa jika ada Venus yang menunggunya disana.
"Itu, Nak. Bukan," kata Galaksi menggeleng. Entah kenapa pria itu seakan merasa susah untuk menelan ludahnya. "Katanya Venus kangen Om Leo? Nih udah Papa telepon."
Berhasil.
Putri kecilnya itu tentu kembali terfokus dengan layar handphone yang menyala. Dia segera mengganti panggilan suara dengan video hingga wajah pria tampan itu muncul di layar milik papanya.
"Halo, Cantik. Apa kabar?" tanya Leo dengan melambaikan tangannya.
"Kabal baik, Om. Om sendili?"
"Om baik juga, Princess. Mana si Pangeran?" tanya Leo mencoba mencari sosok pria tampan versi Galaksi kecil.
"Oh, Abang?" tebak Venus yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Leo. "Abang ada kok di dalam."
"Venus cepet kesini yah. Disini kerjaan kamu masih banyak lo, Cantik," ucap Leo dengan nada dibuat seakan menyindir.
"Heh anak gue juga butuh liburan, Gilak! Kasih dia waktu disini," dengus Galaksi tak terima.
"Apaan lo! Gue udah berbisnis sama anak Lo yang ini," dengus Leo tak mau kalah. "Bener, 'kan, Cantik?"
"Benel, Om."
"Memang Venus berbisnis apa, Nak?"
Galaksi dan Galexia sama-sama menunggu. Mereka menatap ke arah putri kecilnya yang begitu bersemangat untuk menelfon Leo. Entah apa yang pria itu berikan, hingga membuat anak perempuannya begitu lulut.
"Katanya, kalau Venus kelja telus, nanti uangnya bisa banyak dan beli semuanya, Papa."
Mata Galaksi membulat. Dia spontan menatap ke arah tersangka yang dengan tampang tak berdosanya melambaikan tangan ke arah mereka. Pria yang memiliki dua orang anak itu, tak menyangka jika sahabatnya itu meracuni pikiran putrinya dengan kerja dan uang.
Benar-benar teman laknat, 'bukan?
Yang seharusnya anak 6 tahun diberikan semangat untuk belajar sekolah. Namun, tidak dengan Leo. Pria itu mengajarkan hal aneh yang membuat Galaksi ingin sekali menyumpal mulut sahabatnya itu.
"Tunggu kedatangan gue di New York, 'yah! Gue jitak tu kepala sampai paham."
~Bersambung~
Yang kangen sama banciku hahaha!
Nongol juga, 'kan?
kalau ada typo bilang yah. Bab ini belum kurevisi.
Jangan lupa like, komen dan vote yah. Maaf belum bisa update teratur. Masih ada kerjaan offline.