
Semua orang tentu merasa bahagia mendengar jawaban Galexia. Apalagi kedua orang tuanya, mereka seakan senang melihat putri pertamanya akan kembali merajut kisah rumah tangga dengan sosok yang sama.
Baik Jericho ataupun Rhea percaya jika Galaksi benar-benar berubah. Dari sikapnya yang sekarang, tentu sudah menunjukkan jika pria itu begitu mencintai istri dan menyayangi kedua anaknya. Apalagi keseriusan untuk meminta restu dan jujur akan masa lalu mereka kepada kedua orang tua Sia, membuat mereka yakin jika Galaksi benar-benar telah menyesal akan tindakan masa lalunya.
"Lalu untuk kalian," kata Jericho menatap ke arah Riksa dan Cressida bergantian. "Ayah memberikan hak penuh untuk kalian menentukan tanggal."
Hal itu tentu membuat hati Cressida bahagia. Dia tak menyangka Ayah dan Ibunya begitu mendukung hubungannya ini. Walau mereka kenal dalam hitungan hari. Namun, mendengar kejujuran Riksa yang mengatakan bahwa pria itu mencintainya membuat Cressida merasa lega. Akhirnya perasaannya sendiri berbalas.
"Bagaimana jika satu bulan lagi, Ayah?" kata pria yang duduk tepat di samping Cressida. "Riksa masih harus kembali ke New York untuk menyelesaikan segala berkas pernikahan."
"Boleh. Ayah sangat mendukung keputusan kalian," ucap Jericho dengan tersenyum.
Namun, entah apa yang ada dipikiran pria paruh baya tersebut. Tiba-tiba wajah yang tadinya bahagia berubah muram. Pria itu menghela nafas berat yang membuat Galexia dan Cressida menatapnya khawatir.
"Ayah baik-baik saja, 'kan?"
Jericho mengangguk. Dia berusaha menenangkan kedua putrinya agar tak panik. Dirinya bukan merasa sakit, melainkan belum siap untuk ditinggal kedua anaknya.
Jika kata sah sudah terdengar. Maka hak kedua anaknya sudah jatuh pada suami mereka. Hal itu tentu membuat Jericho harus rela melepaskan kedua anak yang baru saja mereka temui.
"Ayah," panggil Cressida penuh kekhawatiran.
"Ayah baik-baik saja, Nak. Ayah hanya sedih, karena sebentar lagi kita akan berpisah," ujar Jericho begitu jujur.
Mata pria paruh baya itu mulai berair. Namun, dengan sigap Rhea menghapusnya secara perlahan dan menggenggam tangan tua itu.
"Sering-seringlah pulang ke Indonesia. Ayah dan Ibu menunggu kepulangan kalian," ucapnya dengan menatap kedua putrinya.
Hati Cressida dan Galexia tersentil. Bahkan keduanya juga merasa tak rela akan perpisahan ini. Keempatnya baru dipertemukan dan harus dipisahkan lagi dengan cepat. Namun, baik keduanya tak bisa membantah.
Itulah resiko menikah. Apalagi sebagai seorang perempuan, dia harus siap mengikuti suaminya kemana saja. Walau mereka harus merelakan perpisahan dengan kedua orang tuanya. Namun, sebait doa terus terucap untuk keselamatan mereka berdua.
"Ayah...Ibu." Keduanya berpindah, mereka mendekat ke sofa yang menjadi dudukan kedua orangtuanya.
Lalu mereka segera memeluk Jericho dan Rhea begitu erat hingga air matanya mengalir tanpa sadar.
"Jangan katakan itu, Ayah," kata Sia dengan suara serak. "Sia pasti pulang ke Indonesia buat jenguk Ayah dan Ibu."
Semua yang disana tentu sama-sama merasa sedih. Bahkan tanpa sadar Pandora dan Alya juga meneteskan air mata. Keduanya sungguh sangat mengerti bagaimana perasaan dari orang tua calon menantunya itu.
"Cress juga, Ibu. Riksa sama Cressida bakalan selalu kasih waktu buat pulang."
Jericho dan Rhea mengelus punggung kedua anaknya yang bergetar. Mereka sama-sama tersenyum saat melihat kepedulian kedua anaknya. Walau waktu sudah begitu lama memisahkan mereka. Namun, yang namanya darah selalu lebih kental dari air.
"Iya, Sayang. Kalian boleh pulang kapanpun itu. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk anak-anak Ayah."
Suasana berubah sedih. Mereka semua seakan memberikan waktu untuk Sia dan Cressida meluapkan perasaannya. Rasa bahagia sekaligus kehilangan akan dirasakan oleh anak perempuan jika kelak sudah menikah.
Mereka harus siap berpisah, berjauhan dengan ayah dan ibunya serta tinggal di lingkungan yang baru. Namun, tiba-tiba perkataan Galaksi yang spontan, membuat pelukan orang tua dan anak itu terlepas.
"Apa yang Kakak katakan?" tanya Sia tak percaya.
"Apalagi Mama juga ingin tinggal disini. Jadi bagaimana aku harus menolak keinginan sang, Baginda Ratu?"
Wajah Sia yang tadinya muram berubah ceria. Bibir perempuan itu mengulas senyuman lebar saat mendengar kenyataan yang baru saja dia dengar. Akhirnya dirinya tak akan berjauhan dengan kedua orang tuanya. Bahkan bisa dibilang mereka bisa menjenguknya setiap hari.
"Ayah dengar, 'kan? Sia bakalan ada disini bersama cucu-cucu, Ayah."
"Iya, Nak," sahut Jericho begitu bahagia.
Namun, berbeda dengan Riksa. Pria itu tentu tak bisa seperti calon kakak iparnya. Pekerjaan dan cafe yang sudah berkembang pesat membuatnya tak bisa meninggalkan semua itu terlalu lama. Bahkan memikirkan pindah kesini pun, membutuhkan orang kepercayaan untuk menjaga segala urusannya di New York.
Tentu saja keterdiaman Riksa membuat Jericho paham. Pria tua itu berdehem dan menatap putri keduanya yang juga sedang menatapnya.
"Jangan dipaksakan, Nak Riksa. Ayah rela melepaskan putri Ayah untuk dibawa ke New York."
"Tapi, Ayah," sela Riksa yang dibalas gelengan kepala oleh pria paruh baya tersebut.
"Ayah benar-benar tak mengekang anak-anak untuk tetap disini. Bawalah istri-istri kalian kemanapun. Mereka akan menjadi hak kalian jika kata sah sudah dikumandangkan. Jadi jangan merasa sungkan atau tak enak pada kami berdua. Ayah benar-benar mengerti dengan pekerjaan calon menantu Ayah."
Akhirnya perasaan yang tadinya kacau perlahan tenang. Riksa benar-benar percaya dengan perkataan calon mertuanya itu. Pria itu begitu bersyukur mendapatkan mertua yang baik dan begitu pengertian. Bahkan mereka tak meminta apapun saat status sosial di antara keduanya berbeda.
Pembicaraan mereka akhirnya berakhir. Mereka mulai berpamitan untuk pulang karena hari sudah begitu malam. Namun, tidak dengan Galaksi. Pria itu meminta waktu kepada Jericho untuk mengatakan sesuatu kepada calon istrinya.
Hingga akhirnya mereka berdua berada disini. Di lorong samping rumah yang langsung tembus menatap ke taman begitu luas. Keduanya berdiri sambil berhadapan dengan bibir yang masih sama-sama diam karena tak tahu harus memulainya dari mana.
"Kakak."
"Sia."
Keduanya terkekeh lucu. Kemudian Galaksi meminta Sia mengatakan terlebih dahulu sebelum dirinya.
"Terima kasih sudah mau mewujudkan keinginan Ayah dan Ibu, Kak," kata Sia dengan mata terus menatap ke arah manik biru yang begitu menarik hatinya. "Sia tak tahu harus membalasnya dengan apa."
Galaksi tersenyum. Namun, tiba-tiba ide jahil melintas di otaknya.
"Kamu bisa membalasnya dengan sesuatu, Sayang."
"Apa?" tanya Sia dengan cepat.
Sebelum itu, Galaksi menatap sekitar. Dia memindai takut-takut ada orang yang mengintai keduanya. Saat merasa aman, pria itu mendekat dan berbisik lirih di telinga Sia.
Mata Sia tiba-tiba melotot. Dia seperti sesak nafas saat mendengar kata yang keluar dari mulut calon suaminya. Hingga dia menatap wajah Galaksi yang sudah menjauh dari dirinya. Namun, Sia dengan cepat menyadari jika pria di depannya ini berniat menjahili dirinya. Hingga membuat wanita itu mencubit pinggang Galaksi dan membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Mesum banget sih," gerutu Sia dengan wajah kesalnya. "Cium pilar sana. Biar puas!"
~Bersambung~
Akhirnya bisa up pagi hari. Semoga bisa bikin kalian seneng yah.
Aku usahain update lagi. Jangan lupa klik like, komen dan vote yah.
Yok tembus 250 like lagi aku update!