The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Tamu Tak Diundang




Hari itu juga, suasana duka menyelimuti hati semua orang. Meski selama Alula hidup membawa kesakitan untuk keluarga Galaksi. Namun, di antara mereka semua, sudah saling mengikhlaskan dan memaafkan. 


Siapapun tak ada yang tahu, kapan kematian itu datang. Begitupun dengan Alula. Perempuan yang ingin Galaksi sadarkan dari kejahatannya melalui pahitnya penjara, ternyata harus mati seperti ini.


Kematian dan pernyataan yang sekaligus membuat banyak tanda tanya pada pikiran Galaksi. Kematian yang terkesan disengaja karena sosok penembak itu tak terlihat. Bahkan mencari jejaknya pun tak ada. Maka, jika bukan pembunuhan yang direncanakan, tak akan sebersih ini.


Akhirnya sore itu. Pemakaman pun dilaksanakan. Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut semua orang. Mereka semua masih sama-sama shock dan ketakutan. Apalagi untuk Galexia. Pertama kalinya dia mendengar bunyi pistol dan melihat seseorang ditembak tepat di kepalanya tentu semakin meninggalkan trauma. Hingga sampai sekarang, rasa takut itu masih bercokol dan membuatnya hanya mampu menurut ketika dibawa kemanapun. 


"Lebih baik kamu istirahat, Nak. Wajahmu begitu pucat," kata Pandora sambil mengelus kepala mantan menantunya.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Galaksi sesekali menatap ke belakang untuk melihat kondisi Sia. Sungguh dirinya begitu khawatir dengan mental mantan istrinya itu. Namun, mendengar penolakan Sia untuk dibawa ke rumah sakit, membuatnya tak bisa melakukan apapun. 


"Temani aku ya, Ma," pintanya menatap mata Pandora penuh harap.


"Tentu saja, Nak. Mama bahagia kamu bisa menerima kehadiran Mama sekarang," kata Pandora dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan Mama yang telat hadir di antara kalian." 


Galexia menggeleng. Dia memberikan sebuah senyuman kecil di kedua sudut bibirnya menandakan jika dirinya sudah ikhlas akan apa yang terjadi padanya. 


"Mama gak salah kok. Semua ini sudah takdir Tuhan. Kita hanya bisa merencanakan dan berusaha, selebihnya kita serahkan pada takdir." 


Pandora mengangguk setuju. Hingga tak lama mobil Galaksi dan Orion mulai memasuki pekarangan rumah. Tak ada lagi bekas darah yang menempel di halaman. Galaksi sudah memerintahkan semua orang membersihkan kekacauan yang ada. Hingga tepat ketika mereka semua sudah pulang dari pemakaman, semuanya sudah bersih.


"Masuklah ke kamar! Biar anak-anak bersamaku," kata Galaksi saat membukakan pintu untuk Sia. 


Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia tak membantah karena Sia sudah merasakan kepalanya sakit. Dirinya juga tak khawatir tentang keselamatan si kembar. Karena di antara mereka sudah ada Galaksi yang akan menjaganya. Sedangkan Pandora, perempuan itu masih mengobrol dengan Orion sejenak.


Saat Galexia mulai memasuki rumah yang banyak kenangan dirinya. Seketika keningnya berkerut saat melihat sosok perempuan sedang duduk di kursi dengan begitu santainya. Hal itu tentu mengundang rasa penasaran Sia hingga membuatnya melangkah semakin dekat.


"Anda mencari siapa?" tanya Sia membuat wanita yang asyik memainkan ponselnya spontan mendongak.


"Kau!" Mata wanita itu terbelalak.


Dirinya spontan berdiri saat melihat sosok yang begitu dia ingat ketika bertabrakan dengannya di sebuah restaurant di New York.


"Sedang apa kau kemari?" serunya menatap Sia dari atas sampai bawah.


Galexia hanya bisa memijat dahinya. Kepalanya yang sudah sakit semakin berdenyut mendengar teriakan wanita di depannya ini. 


"Inggrid!" seru suara dari belakang membuat Sia berbalik.


"Sedang apa kau kemari?" tanya Galaksi dengan tangan menggandeng kedua anaknya.


Inggrid tersenyum saat melihat wajah wanita pujaannya. Namun, seketika perhatiannya tertuju pada dua anak kecil yang semakin membuatnya terkejut. 


"Kenapa kalian…." jeda Inggrid menatap Sia, Mars, Venus dan Galaksi bergantian.


"Tante ngapain di lumahku?" serobot Venus dengan menatap tak suka. "Pelgi sana! Pelgi!" serunya berkacak pinggang.


"Hey. Dasar bocah nakal. Ini rumah calon suamiku. Jadi suka-suka aku dong," seru Inggrid tak terima.


Mata ketiga orang itu membulat penuh. Mereka sama-sama tercengang dengan perkataan Inggrid. Namun, hal itu tak membuat Galexia merasakan apapun. Kepalanya yang semakin sakit membuatnya tak menggubris keberadaan wanita itu. Dia segera mengajak kedua anaknya masuk sebelum terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan.


"Awas kalau sampai Venus tulun, Tante masih disini. Venus keljain," ancamnya kemudian mengikuti langkah sang mama bersama kembarannya.


Inggrid benar-benar tak habis pikir. Dia menatap Galaksi yang masih berdiri di tempatnya sejak tadi.


"Apa maksud semua ini, Galak?" rengek Inggrid sambil mendatangi Galaksi dan bergelanyut di lengannya. "Bagaimana bisa mereka ada di sini?" 


Galaksi merasa risih. Dia segera melepaskan tangan Inggrid dari lengannya dan mendudukkan dirinya di sofa.


Sungguh dia tak pernah mengatakan apapun tentang rumahnya yang ada disini. Bahkan membahas tentang semua yang ada di Indonesia tak pernah dia ceritakan pada siapapun kecuali Leo dan Star. Lalu bagaimana bisa Inggrid sampai berada disini.


Wajah wanita itu sedikit tegang. Bahkan dia menelan ludahnya paksa seakan ingin menetralkan degup jantungnya. Dia memilih mendudukkan dirinya di samping Galaksi dan mengusap punggung tangan pria itu. 


"Aku diberitahu Star jika kamu ada disini," ucapnya dengan memepetkan tubuhnya semakin dekat.


"Lebih baik carilah hotel untuk menginap, Inggrid." Saran Galaksi yang membuat perempuan itu menggeleng. 


"Aku ingin menginap disini," serunya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. 


"Kamu tak dengar apa yang dikatakan oleh Venus. Dia tak mau kamu…."


"Memangnya siapa dia?" sela Inggrid dengan ketus. "Berani-beraninya mengusirku dan bisa membuatmu menurutinya." 


"Dia adalah anakku!" 


"Apa!" Mata Inggrid membulat penuh. Mulutnya tercengang menatap tak percaya pada pria pujaan hatinya.


Apa telinganya tak salah dengar?


Jika sosok yang begitu dia idam-idamkan sudah memiliki anak.


"Dua anak itu?" 


"Ya. Mereka adalah anak-anakku," sahut Galaksi mantap.


"Gak mungkin! Aku gak percaya," seru Inggrid menolak kebenaran.


"Aku tak peduli kamu percaya atau tidak. Yang pasti mereka benar-benar anakku." Tegasnya dengan beranjak berdiri.


"Tapi bagaimana mungkin?" tanya Inggrid yang sama-sama beranjak berdiri. "Apa wanita tadi juga…." 


"Ibu dari anakku,"  sela Galaksi cepat yang semakin membuat nafas Inggrid memburu. 


Dirinya sungguh tak terima dengan kebenaran ini. Kenapa baru kali ini dia tahu semuanya. Hingga tanpa sadar tangannya mengepal dan ingin sekali melampiaskan kemarahan.


"Aku akan tetap disini!" serunya tak tahu malu.


"Inggrid!" bentak Galaksi yang tak digubris oleh perempuan itu.


Dia sudah berlalu meninggalkan Galaksi dan memasuki sebuah pintu kamar yang ada di lantai pertama. Sejak kedatangannya disini, pelayan Galaksi sudah memasukkan barangnya di kamar tamu dengan paksaan darinya. Hingga hal itu tentu membuat Inggrid lebih mudah untuk bertahan di sini.


"Aku tak takut pada bocah tengil itu. Apapun yang terjadi, aku akan tetap disini!" serunya setelah memasuki kamar dengan sorot mata tajam.


Tanpa keduanya sadari. Jika sejak tadi ada dua sosok kecil yang melihat perbincangan mereka. Keduanya benar-benar geram dengan kehadiran perempuan yang pernah menghina mereka saat di New York.


"Kita halus bisa tendang dia kelual dali lumah Papa, Abang," sungut Venus sambil berkacak pinggang.


"Tentu. Kita akan membuatnya tak betah menginap lagi disini." 


~Bersambung~


Hmm entar lagi bakalan ada adegan si kembar ini. Gak ada Alula, Inggrid pun jadi buat pelampiasan hahaha.


Habis itu gimana kalau si kembar dan Sia kita buat pergi ninggalin Galaksi?


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Sebagai tanda apresiasi kalian untuk novel ini.


Tembus 250 like aku update lagi!