
Saat semua orang mulai memejamkan matanya untuk beristirahat. Namun, tidak dengan Sia. Perempuan itu hanya duduk diam di balkon sambil mengingat sosok yang begitu mirip dengan Galaksi di konser tadi. Sungguh itu seperti kenyataan dan Sia ingin sekali mempercayainya. Namun, lagi-lagi kepala Sia menggeleng. Dia baru menyadari jika apa yang ada di otaknya begitu mustahil.
"Apa yang sedang aku pikirkan? Ingatlah, Sia! Dia yang menghancurkanmu dan menjatuhkan harga dirimu. Kau harus tegas dan berani untuk menghadapinya," ucapnya pada dirinya sendiri.
Matanya menengadah. Dia menatap beberapa bintang yang menghiasi langit gelap hingga menimbulkan cahaya-cahaya kecil yang terang dan begitu cantik. Dulu saat kecil dia ingin menjadi salah satu bintang, yang mampu bersinar walau di sekitarnya gelap. Namun, semua hal itu seakan lenyap saat cintanya hancur bersama rumah tangganya.
Selama ini dia hanya kuat untuk kedua buah hatinya. Tak ada lagi alasannya untuk hidup selain demi Mars dan Venus. Tapi, entah kenapa menghadapi seorang mantan suami saja dia belum siap. Menyadari waktu yang terus beranjak naik, akhirnya Sia memilih kembali ke kamarnya. Menutup pintu balkon dan segera merebahkan dirinya di ranjang. Mencoba melupakan hal-hal yang seharusnya tak ia pikirkan hingga tak lama mata lelahnya mulai mengarungi mimpi.
****
Keesokan harinya, untuk merayakan keberhasilan panggung Sia dan Mars yang pertama kali di New York. Malam ini, Riksa membuat acara makan malam spesial sebagai perayaan mereka berdua. Dia sudah menyewa sebuah restoran mahal yang menghidangkan makanan kesukaan si kembar.
Riksa benar-benar menyiapkan semuanya dengan sempurna. Dia juga mengundang Leo untuk datang dan memeriahkan rencananya. Dan tentu saja, undangan tersebut langsung disanggupi oleh Leo dan dia berjanji akan datang.
Akhirnya, waktu mulai beranjak naik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam malam waktu New York. Seorang perempuan sedang berkutat sekali lagi di depan cermin. Penampilannya begitu sempurna dengan riasan natural. Dia adalah Galexia. Wanita yang akan berangkat menuju pesta perayaannya terlihat begitu menawan.
Penampilan yang dipadukan oleh hasil dari desainer terkenal, tentu membuat Sia semakin terlihat cantik. Tubuhnya yang ramping, tentu membuat semua orang tak akan percaya jika dia adalah wanita yang sudah melahirkan. Setelah dirasa semuanya cukup, akhirnya Sia berlalu meninggalkan kamarnya. Dia segera mengenakan heelsnya sebelum keluar dari apartemen.
Saat ini, Sia harus berangkat sendirian. Kedua anaknya sudah berada di rumah Riksa sejak pagi. Kehadiran sosok Mama Alya tentu membuat si kembar begitu nyaman berada di sana. Mereka menjadi lebih betah dan bermain bersama sosok yang dianggapnya nenek.
Dengan penuh kehati-hatian, Sia mulai melajukan mobilnya. Bergabung dengan banyaknya kendaraan yang sama-sama memenuhi jalanan hingga membuat sedikit kemacetan terjadi di sana. Setelah hampir 40 menit berada di jalan, akhirnya mobil Sia mulai memasuki area restaurant.
Dia segera turun kemudian segera menuju meja yang sudah dipesan oleh managernya. Senyumannya mengembang saat mengetahui semua orang sudah datang. Bahkan dia tak menyangka jika Leo ikut hadir di acara ini.
"Selamat untuk konser pertamamu di sini, Sia," ucap Leo sambil memeluk sahabatnya itu. "Semoga ada job lagi hingga membuatmu betah berada di sini."
"Aamiin."
Perhatian Sia teralihkan oleh Riksa yang baru saja mendekat di meja mereka sambil membawa sebuah kue tart. Kue dengan taburan coklat serta strawberry itu begitu menggugah selera. Hingga tanpa sadar, Sia menelan ludahnya karena terlalu membayangkan bagaimana jika coklat itu menyentuh lidahnya.
"Untuk perayaan kalian berdua, kami doakan semoga setiap kalian konser akan selalu dijaga oleh Tuhan, diberikan kesuksesan dan kelancaran," doa Riksa hingga membuat Sia terharu.
Air mata menetes di sudut matanya karena suasana berubah menjadi haru. Dia tak menyangka hidupnya akan ada di titik ini. Ditemani orang-orang yang sangat menyayanginya, dikala dia dibuang oleh pria yang begitu dia cintai. Sungguh sebuah nikmat dari setiap musibah itu pasti ada, dan saat ini lah, Sia sedang menuai hasil dari nikmat yang Allah berikan kepadanya.
Setelah mendengar doa dari semua orang. Bergantian Sia dan Mars saling menatap, mereka sama-sama memejamkan matanya untuk memanjatkan doa terbaik untuk mereka berdua. Hingga perlahan dua pasang mata itu terbuka dan dengan bersamaan, Sia dan Mars meniup lilin yang ada di atas kue tart.
"Holee." Suara Venus begitu keras.
Dia bertepuk tangan dengan jari yang mencolek kue tart milik mama dan kakaknya. Sepertinya bocah kecil tersebut sudah tak sabaran. Hingga membuat tangan mungilnya mulai belepotan terkena coklat. Semua orang hanya bisa tertawa melihat bagaimana lucunya Venus dan membiarkan bocah kecil itu mengeksplorasi rasa dari tart coklat yang begitu enak.
"Pelan-pelan, Nak," nasehat Sia saat melihat putrinya begitu bersemangat.
"Ini enak sekali, Mama. Stobelinya manis loh," ucapnya dengan mengunyah buah berwarna merah tersebut.
Karena setahu Mars, buah kecil berwarna merah tersebut sangat kecut jika dimakan. Tapi dia tak tahu, jika di New York ada buah Strawberry yang ukurannya lebih besar, lebih mahal dan rasanya sangat manis.
"Ini manis, Mas. Nggak asem," celetuk Venus sambil menatap saudaranya kesal. "Kalau gak pelcaya, ini aku kasih."
Mars menatap buah strawberry yang diberikan oleh saudara kembarnya itu. Dia belum mengambil dan hanya menatapnya saja.
"Ambil, Mas. Tangan Venus capek!" keluhnya saat melihat sang abang hanya diam.
Sia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua anaknya yang menggemaskan. Akhirnya untuk membuat Venus tak marah, dia mengambil buah yang ada di tangan Venus dan memberikannya pada sang putra.
"Ini enak, Sayang," kata Sia sambil menyodorkan buah itu di depan mulut Mars.
Mars menatap ragu. Namun, melihat sorot mata sang mama yang begitu menyakinkan membuatnya perlahan membuka mulutnya. Menerima suapan tersebut dengan mata terpejam. Tapi setelah buah strawberry tersebut menyentuh lidahnya, seketika Mars membuka matanya.
Dia bersemangat mengunyah buah itu karena rasanya benar-benar berbeda. Ini begitu manis dan membuatnya langsung tergoda untuk memakannya lagi. Hingga malam itu, semua orang benar-benar menikmati acara makan malam ini dengan suka cita. Merasakan rasa kekeluargaan walau tak ada ikatan darah di antara mereka.
****
Selesai makan malam, Sia pamit menuju kamar mandi. Dia ingin merapikan make upnya dan buang air kecil. Berlalu meninggalkan orang-orang. Sia segera masuk ke salah satu bilik kamar mandi.
Tanpa sepengetahuan dia, ada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandinya. Seseorang yang entah siapa tapi yang pasti dia adalah seorang perempuan.
Pintu kamar mandi perlahan terbuka. Sia membuka lebih lebar dan mulai menampakkan dirinya. Hingga matanya tanpa sengaja menatap sebuah sepatu heels yang terlihat begitu mewah berdiri di depannya. Hal itu tentu membuat Sia segera mengangkat kepalanya.
Deg.
Degupan jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya mematung dengan mata membelalak tak percaya. Dirinya merasa seperti terkena serangan jantung saat matanya bertemu pandang dengan sosok yang sudah lama tak pernah ia temui. Seseorang yang dulu begitu membencinya hingga membuatnya harus berjuang sendirian.
"Mama."
~Bersambung~
Hayoo siapa dia? hihihi
Aku upload bab ini pagi di hari minggu. Gak tahu kapan lolosnya tapi yang pasti biar kalian tahu kalau aku tetep update.
Jujur aku pengen crazy up lagi, tapi ngelihat sistem kayak begini bikin aku kepikiran sama pembacaku. hiks.
Jangan lupa klik like ya dan komentar di setiap babnya. Aku mohon jangan pernah timbun bab, soalnya kalau kalian timbun bab, levelnya bakalan turun untuk si kembar.
Yok likenya sampai 200 aku pengen crazy up lagi.