
"Karena kau bukan anak kandung kami."
Dunianya serasa runtuh. Bahkan tanpa sadar perkataan itu membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Jika tak ditangkap oleh sosok pria tampan di sampingnya, bisa dipastikan jika dirinya akan terjatuh ke lantai.
"Cress," kata Riksa menopang tubuh wanita yang dilanda kekacauan.
Wajah cantiknya tentu tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Bahkan air mata itu semakin mengalir dengan tarikan nafas yang terus memburu.
Dirinya merasa ini adalah mimpi. Cressida ingin tak percaya dengan perkataan itu. Namun, melihat keseriusan wajah Carina dan Castor, membuatnya yakin jika itu benar-benar kenyataan.
Perlahan Cressida menghirup nafasnya begitu dalam. Dia menguatkan hatinya dengan mencoba menegakkan tubuhnya. Menatap kedua sosok manusia yang selama ini dirinya hormati. Hingga sekarang, akhirnya Cress menemukan jawaban.
Jawaban dari kesakitan yang selama ini dia dapatkan. Jawaban dari pahitnya hidup tanpa kasih sayang orang tua akhirnya dia temukan. Hingga perlahan Cressida memberanikan diri menatap keduanya, menguatkan hati untuk terus menerima ujian yang terus menimpa dirinya.
"Jadi karena itu, kalian selalu menyiksaku?" kata Cress dengan menatap Carina dan Castor bergantian. "Jadi karena aku bukan anak kandung kalian, dengan tega kalian menjualku dan menjadikanku sebagai seorang pelacur, iya?" serunya dengan berteriak.
Air mata sudah tak dapat dibendungnya lagi. Dengan kasar, Cress menepis tangan Riksa dan berjalan mendekati kedua orang yang dianggap sebagai orang tuanya. "Apa salahku selama ini pada kalian?"
"Kau ingin tau salahmu apa, Anak Sialan?" sahut Carina mendorong tubuh Cress dengan kasar. "Kau ingin tau, hah?"
Nafas Cressida memburu. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan begitu tajam. Seakan emosinya sudah membalut seluruh hatinya dan ingin segera dia lampiaskan.
"Karena ibumu. Ibumu adalah sumber dari segala dendam ini," seru Carina menatapnya tajam.
Degup jantung Cressida semakin berpacu cepat. Bahkan tubuhnya sampai mematung ketika mendengar kenyataan apalagi yang akan dia dapatkan. Rasa takut dan penasaran begitu bercokol dalam hatinya dan ingin membuatnya ingin mencari tahu.
"Apa maksud dengan ibuku? Ada apa dengan ibuku, hah?" Carina tertawa mengejek.
Dia menatap ke arah Cressida dengan tatapan menghina seakan dirinya masih berada jauh di atasnya. Sungguh semua yang dikatakan oleh Carina memang benar. Semua masalah ini karena dendam di masa lalu yang belum kelar. Permasalahan karena hati dan harta tentu bisa merubah pribadi seseorang. Bahkan bisa menghancurkan rekatnya kekeluargaan dan menghilangkan jiwa baik dalam dirinya.
"Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya, Cress," ujar Carina dengan tersenyum miring.
"Aku sudah besar, Mama. Kumohon beritahu aku apa maksudmu dan dimana ibuku sekarang?"
Carina berdecak. Bahkan dia mendorong dahi Cressida hingga kepala wanita itu sedikit mundur. "Sadarlah, Anak sialan! Seberapa banyak kau memohon. Aku tak akan memberikan jawaban apapun untukmu."
Perasaan Cressida semakin tak terbendung. Bahkan tanpa sadar dirinya memegang lengan Carina hingga perempuan paruh baya itu begitu marah.
"Lepaskan tanganku, Bodoh!"
"Berhenti!" seru Riksa menatap Carina tajam.
Dia berjalan mendekat dan menarik tubuh Cressida perlahan. Tatapannya begitu menusuk hingga membuat Carina dilanda rasa ketakutan dalam dirinya.
"Jangan pernah berkata kasar atau menghina calon istriku," seru Riksa menunjuk Carina. "Tanganku bahkan dengan siap memukul wajahmu jika bibirmu yang tak berpendidikan itu terus mengoceh."
Tubuh Cressida semakin bergetar. Wanita itu mencoba melepas tarikan tangan Riksa dan kembali memohon pada Carina. Dirinya saat ini benar-benar rapuh dan tak tahu harus mengatakan apa lagi. Seakan semua kebenaran yang baru saja dia dengar mampu menampar sikap cerianya selama ini.
"Sebanyakan apapun kau merengek, aku sendiri tak tahu dimana keluargamu," ketus Carina melipat kedua tangannya di depan dada. "Dia adalah orang perfeksionis dan selalu bersikap hati-hati akan rencananya."
Kening Riksa berkerut. Kepalanya mulai berpikir dengan banyak sekali praduga yang berkeliaran. Sungguh mencari identitas Cressida tak semudah membalikkan tangan. Mengetahui fakta jika wanita itu bukan anak kandung dari Carina dan Castor saja, dia mengalami banyak kesulitan. Lalu sekarang, ditambah banyak rahasia di kehidupan calon istrinya, membuat Riksa semakin menatap iba ke arah wanita yang ada di sampingnya ini.
"Tapi aku bisa memberimu satu rahasia," kata Castor yang sejak tadi berdiam diri.
Pria paruh baya itu menatap Cress dengan wajah datarnya. Dia memandang sosok perempuan yang dibesarkan oleh tangannya sendiri. Wajahnya yang cantik tentu diteruskan dari sosok ibunya. Hingga hal itu, Castor dipaksa menjual Cress atas perintah tuannya.
Wajah Cressida beralih ke arah sang Papa. Dirinya sudah tak memperdulikan dandanannya yang kacau. Air matanya terus saja mengalir hingga membuat dia terlihat begitu buruk.
"Kau…." jeda Castor dengan mata tajamnya menatap Cressida, "memiliki seorang kakak perempuan kandung."
Cressida terpana. Matanya yang semula muram mulai terlihat mendapatkan secercah harapan. Wajahnya yang kacau mulai berbinar setelah mendapatkan sedikit kesempatan atas segala kesedihannya. Dia berharap jika ini adalah awal dari segala kehidupannya. Dia berharap bisa menemui kakak kandungnya dan menceritakan segala keluh kesahnya selama ini.
"Kakak perempuan?" ulang Cress dengan menghapus air matanya. "Dimana keberadaannya, Pa?"
Castor menggelengkan kepalanya hingga membuat wajah Cressida kembali muram. "Kumohon bantu aku, Pa. Sedikit saja tolong bantu aku agar bisa menemui keluargaku."
"Aku tak tahu dia tinggal dimana," ketus Castor sambil bersiap-siap hendak pergi. "Namun, yang pasti dia ada di Indonesia. Ayo Carina kita pulang!"
Setelah mengatakan itu, dua pasangan paruh baya itu mulai berjalan meninggalkan keduanya. Membiarkan Cressida dengan wajah penuh tanda tanya memikirkan semua yang sudah dikatakan oleh dua manusia dajjal itu. Otaknya merekam segala hal yang terjadi hari ini. Hingga perlahan, kepalanya mendongak dan menatap Riksa yang sedang menatapnya juga.
"Bukankah kau tinggal di Indonesia?" kata Cress dengan menggenggam tangan Riksa.
"Ya."
Secercah harapan dia kembali panjatkan pada Tuhan. Matanya menatap penuh harap dan semakin menggenggam kedua tangan Riksa dengan erat. Dirinya tak tahu takdir apa lagi yang akan dijalani bersama pria di depannya ini. Pria yang akan menikahinya dengan perkenalan hanya satu malam. Namun, Cressida meyakini satu hal. Jika kehadiran Riksa dalam hidupnya ternyata untuk mencari siapa Cressida yang sebenarnya.
"Kumohon bawa aku ke Indonesia. Antarkan aku ke rumahku yang dulu, Riksa. Aku yakin disana pasti banyak rahasia yang disimpan oleh mereka berdua."
Saat Riksa ingin menjawab. Suara ledakan yang begitu besar dengan getaran kaca-kaca restaurant membuat pria itu menarik tubuh Cressida dan memeluknya sambil berjongkok. Dua orang itu begitu terkejut dengan detak jantung keduanya begitu berdebar. Hingga saat keduanya masih dilanda kebingungan, suara teriakan dari luar membuat keduanya saling berpandangan.
"Mobil meledak…mobil meledak." Suara dari luar tentu begitu jantung keduanya berdetak kencang hingga mengundang rasa penasaran dari dua orang yang masih berjongkok.
Riksa mulai menarik Cressida untuk berdiri dan menatap ke arah jendela restaurant. Mata keduanya sama-sama terbelalak dengan pemandangan itu. Disana, di persimpangan jalan tepat depan restaurant yang digunakan mereka makan malam, terlihat sebuah mobil terbakar hebat dengan api yang begitu besar. Sampai-sampai hal itu tentu menarik perhatian semua orang.
Namun, saat Riksa hendak mengajak Cress melihat lebih dekat. Tiba-tiba teriakan calon istrinya itu membuat jantung Riksa semakin berdegup kencang.
"Nggak mungkin. Papa….Mama!"
~Bersambung~
Hiyaa mulai tebak-tebakan lagi deh.
Kuberi satu rahasia! baca bab ini dengan baik, pasti kalian bisa menemukan satu hal yang menjadi rahasia hahha.
Mohon maaf baru update yah, mendekati konflik besar pasti otakku mulai sakit. Jadi kalau updatenya telat jangan kaget, udah hal biasa setiap aku nulis novel yang lain, mendekati konflik besar atau mau tamat, akunya lemot update.