The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Senjata Makan Tuan




Suasana pagi di rumah Jericho terlihat begitu padat. Banyak orang keluar masuk dan terlihat begitu sibuk. Ya, hari ini sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh Galaksi. Mereka akan berangkat ke New York.


Niat hati ingin tinggal di Indonesia. Menjalani hari-harinya di negara beriklim tropis ternyata sirna. Star mengabarkan bahwa dirinya kewalahan. Dia butuh Galaksi karena banyak artis yang akan masuk ke manajemen mereka dan banyak media luar yang ingin bekerja dengan GG Entertainment.  


"Apa semua siap, Sayang?" tanya Galaksi yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Sudah. Tinggal koper Venus belum dirapikan," kata wanita yang memakai dress bunga-bunga dengan tangan menarik resleting koper di tangannya. 


"Biarkan aku yang membereskan," ucap Galaksi dengan ikut mendudukkan dirinya di samping sang istri dan segera merapikan pakaian putrinya itu.


"Apa Kakak sudah berbicara dengan Ayah?" tanya Galexia setelah berhasil menutup koper dengan sempurna.


Galaksi mengangguk. "Semalam aku langsung mengobrol dengan Ayah dan Ibu. Awalnya mereka menolak karena takut menyusahkan kita. Tapi aku tak menyerah. Aku mengatakan keinginan cucu-cucunya dan berhasil. Ayah dan Ibu mau ikut bersama kita."


Ya, keputusan final Galaksi adalah mengajak kedua mertuanya ikut ke New York. Dia tak mau kesedihan pada sang putra membuatnya jatuh sakit. Dirinya ingin putranya bahagia dan hal itu dia kabulkan. 


Galaksi sudah berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan melakukan apapun yang bisa membuat istri dan anaknya bahagia. Dia akan mengabulkan apapun yang diminta mereka sekalipun nyawanya sendiri. 


Penyesalan dan penebusan dosa dirinya selama ini dengan memberikan kasih sayang yang melimpah. Memberikan kehidupan yang layak dan menjadi sosok suami serta ayah yang baik untuk mereka. 


"Terima kasih, Kak. Kakak adalah suami yang sempurna."


Galaksi menggeleng. Dia mendekatkan tubuhnya lalu menarik tubuh sang istri ke dalam pelukan. 


"Tanpamu aku tak akan seperti sekarang, Sayang," ucap Galaksi begitu tulus. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan dan mau kembali dengan pria bodoh ini." 


"Kakak." 


"Usttt." Galaksi menyela. Dia memeluk istrinya begitu erat lalu menghadiahkan banyak kecupan di puncak kepalanya. "Semoga kita selalu diberi kebahagiaan."  


"Aamiin."


****


Akhirnya setelah semua koper telah selesai ditutup. Pelayan mulai membawanya ke bawah dan disatukan dengan koper yang lain. Semua barang milik mereka dikumpulkan di ruang tengah dan saat Galexia melihatnya. Matanya membulat sempurna.


Dia tak menyangka jika koper milik keluarga sebanyak ini. Namun, mau dikata apa. Mereka tak akan tinggal beberapa hari di New York. Melainkan selamanya mereka akan tinggal disana. 


"Apa semua sudah siap?" tanya Jericho yang baru saja muncul bersama istrinya.


"Sudah, Ayah," sahut Galexia sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.


"Lalu kemana adikmu, Sayang?" tanya Rhea dengan mata mencari sosok putri keduanya.


"Eh, iya. Sejak tadi Sia belum melihat Cressida," celetuk Sia dengan beranjak dari duduknya.


"Mau kemana, Nak?" tanya Rhea saat anaknya mulai melangkahkan kakinya.


"Aku akan melihat ke kamarnya, Ibu. Sepertinya Riksa sedang menyembunyikan adikku di dalam kamar." Setelah mengatakan itu Sia segera melangkah dengan cepat.


Mengabaikan panggilan Galaksi yang memintanya kembali. Jujur dalam otak Sia muncul ide jahil. Bahkan dia ingin mengganggu dua orang yang baru dua hari lalu menikah.


"Aku yakin kalian lagi wik wik toh," gumamnya dengan kekehan kecil.


Tak jauh dari posisinya. Dia melihat pintu yang masih tertutup rapat. Sayang dirinya tak bisa mendengar apapun. Semua kamar di rumah Jericho diberi peredam suara. Hingga apapun yang terjadi di dalamnya tak akan terdengar di luar.


"Mati kau! Aku buat kalian kelabakan," ujarnya dengan senyuman jahil.


Setelah tubuhnya sampai di depan pintu. Galexia langsung mengetuknya dengan tak sabaran. Seakan ada sesuatu yang penting dan terkesan buru-buru. 


"Cressida….Cress. Ini Kakak!" teriak Sia sedikit kencang.


Tangannya tak berhenti. Bahkan dia menahan tawanya. Sudah bisa dibayangkan akan sekacau apa dua orang itu jika apa yang ada di dalam pikirannya benar-benar nyata.


"Kalian sedang apa didalam! Cepat keluar, ada perubahan jam terbang dan kita harus berangkat!" serunya dengan suara begitu yakin. 


Galexia benar-benar mengetuk pintu itu tanpa jeda. Bahkan dia meracuni dengan perkataan yang pasti semakin membuat mereka kelabakan.


"Kalau kalian gak keluar. Kakak dan yang lain akan…."


"Akan apa?" tanya suara perempuan dengan pintu yang terbuka. 


Sekuat tenaga Galexia menahan tawanya. Disana, adiknya terlihat begitu berantakan. Rambut acak-acakan. Daster rumahan yang begitu pendek. Hingga, tunggu-tunggu.


Aku yakin mereka begitu kelabakan sampai memakai pakaian seadanya, batinnya dengan bibir yang ia lipat ke dalam. 


"Akan kita tinggal." 


"Jangan, Kak! Cress akan siap-siap. Lima menit kami akan keluar," ucap Cressida begitu yakin. 


"Benar 5 menit Kakak tunggu. Kalau sampai kalian belum muncul. Kami akan berangkat!" ancam Sia dengan wajah pura-pura serius.


"Iya."


Saat Cressida hendak menutup pintu. Galexia menahannya.


"Ada apa, Kak?" tanya Cressida dengan bingung.


Sia melangkah lebih dekat. Dia mendekatkan wajahnya hingga bibir itu sangat dekat dengan telinga sang adik.


"Lain kali kalau kalian ingin wik wik, ingat jam dulu oke! Udah tau mau pergi malah asik melehoy di dalam."


"Apa!" pekik Cressida terkejut.


Galexia terkekeh geli. Dia melangkahkan kakinya dan hendak meninggalkan sang adik. 


"Lain kali jangan lupa pakai penutup gunung kembar. Mata Kakakmu ini telah ternodai," cicit Sia mendrama.


"Hah!" Spontan mata Cressida menunduk.


Matanya membulat saat dia bisa melihat apa dimaksud kakaknya itu. Hingga tubuhnya langsung kembali ke dalam dan hal itu membuat tawa Galexia semakin kencang. 


Sungguh menjahili adiknya seperti ini akan menjadi hobi barunya. Apalagi melihat wajah Cressida yang polos dan lucu semakin membuatnya selalu ingin tertawa. Galexia tak bisa membayangkan bagaimana adiknya melawan pria mesum seperti Riksa.


Pasti Cressida dibuat kewalahan. Namun, tanpa sadar dirinya mengingat bagaimana ganasnya sang suami, Galaksi.


Pria itu jika sudah ada di atas ranjang dan berdua. Seperti singa kelaparan yang siap menerkam. Gerakannya yang liar dan begitu candu selalu mampu membuat Sia terbang dan mencapai titik kenikmatan.


Hanya membayangkan saja. Inti tubuhnya sudah berkedut dan itu tak baik jika dirinya terus membayangkan hal gila ini.


"Ahhh gara-gara Kakak, otakku ikut tercemar."


Hingga bayangan dalam otak Galexia buyar saat sebuah tangan menariknya begitu kuat.


"Sia…." 


"Suamimu," ucap Galaksi dengan alis ia naik turunkan.


"Ngapain Kakak tarik-tarik aku?"


"Kamu ngapain jalan sambil melamun?" Bukannya menjawab, Galaksi malah balik bertanya.


Entah kenapa terlalu lama istrinya pergi, membuat Galaksi langsung menyusulnya. Namun, baru saja dia melangkah. Dia bisa melihat wajah istrinya yang sedang berpikir serius.


"Tidak ada, Kak. Aku tidak memikirkan apapun," kilah Galexia tak mau suaminya tahu jika dia membayangkan hal gila.


"Kamu yakin?" desak Galaksi sambil menghembuskan nafas beratnya di sela-sela leher istrinya.


"Aku…." Tubuh Galexia meremang.


Dirinya merasa kedutan itu semakin kuat dan membuatnya ingin dipuaskan. 


"Katakan kalau kamu ingin seperti pasangan pengantin baru itu!" ucap Galaksi seperti perintah.


"Aku...aku…." Suara Galexia terbata.


Hingga dirinya semakin dibuat kalut saat merasakan tangan kekar itu mencengkram bagian tubuhnya. 


"Aku menginginkanmu." 


~Bersambung~


Hiya hiyaaa mau cocok tanam lagi mereka, Hahaha.


Kabur jan ada yang intip biar Galaksi junior cepet tumbuh.


Jangan lupa klik like, komen dan votee yah. Biar author semangat ngetiknya.