The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Tak Sadarkan Diri




"Kalau boleh tau, bagaimana bisa Anda berbicara Indonesia?" tanya Galexia menatap Flo dengan heran. 


Jujur dari awal, ibu si kembar tersebut begitu penasaran. Pasalnya Flora sangat lihai menggunakan Bahasa Indonesia. Bahkan untuk mengerti apa yang dia ucapkan, Flo tak mengalami kesusahan.


Pertanyaan Galexia membuat Flora tersenyum. "Saya ada keturunan Indonesia, Nyonya."


"Panggil Sia saja. Jangan terlalu formal," ucap Sia menyela.


"Iya, Sia. Orang tuaku asli keturunan Indonesia," jelas Flora dengan gamblang.


"Tapi muka kamu asli bule banget," celetuk Sia tak tahan.


Flora terkekeh. Namun, saat dia menyadari bibirnya yang terluka, ringisan kembali terdengar. 


"Mukaku memang bule karena nenekku keturunan bule asli."


Galexia hanya ber oh ria. Entah kenapa berbicara dengan Flora dia merasa memiliki teman. Apalagi mengingat dirinya yang masih baru tinggal disini, membuatnya merasa jika bertemu dengannya dia bisa bertetangga dengan baik. 


"Ini anak kamu?" 


"Ya," sahut Flo mengangguk. "Ayo Tania cium tangan Tante Sia." 


"Halo, Tante. Namaku Titania," sapa bocah kecil itu ramah. 


"Halo, Sayang. Nama kamu cantik," ucap Sia dengan senyuman ramah. 


"Terima kasih. Mama juga bilang begitu," sahutnya dengan mata menatap Flora.


"Umur berapa dia, Flo?" tanya Sia menatap Flora.


"Hampir 6 tahun, Sia," ujar Flo dengan mengelus kepala putrinya. 


"Berarti sama dengan anak-anakku," sahut Galexia dengan cepat.


"Oh iya?" 


Sia mengangguk. Lalu dia meminta kedua anaknya mendekat ke arahnya.


"Mereka kembar?" tebak Flora saat melihat si kembar di dekatnya.


"Ya, kamu benar. Mereka memang kembar," ungkap Sia sambil terkekeh. "Ayo salim." 


"Hai, Tante. Aku Venus yang cantik," sapanya dengan ramah. 


Flora tertawa. Dirinya merasa terhibur akan candaan tetangga barunya itu.


"Hai, Sayang. Salam kenal ya. Semoga kamu betah tinggal disini," kata Flora begitu tulus. 


"Iya, Tante. Venus betah kok disini," sahutnya dengan tersenyum. "Apalagi ada Titania yang jadi temen Venus." 


Perkataan Venus membuat Galexia dan Flora saling menatap. Keduanya begitu bingung dengan apa yang dimaksud oleh anak dari pasangan Galaksi Galexia itu. 


"Memangnya kamu udah ketemu sama Tania?" 


"Udah. Tadi, Mama." 


"Tadi?" cicit Sia tak paham.


"Iya. Tadi aku ketemu dia di pagal pembatas." 


"Ehhh…." Flora terkekeh. "Masih cadel ya, Sia?" 


"Iya, Flo. Meski udah diajarin untuk bilang R, dia tetap gak bisa." 


"Venus malas," celetuk Mars tiba-tiba. 


"Ih Abang! Venus emang gak bisa." 


"Udah...udah," sahut Galexia menengahi. "Ayo Abang sekarang salim." 


"Mars, Tante." 


Flora tersenyum. Dia mengelus kepala bocah kecil itu sampai dia menyadari jika Mars tak nyaman. 


"Maaf ya, Flo. Dia memang kurang suka dengan orang baru."


"Santai aja, Sia." 


Tanpa semuanya sadari. Jika ada sepasang mata kecil sedang menatap pria kecil itu tanpa berkedip. Bahkan dia melihat, merekam semua yang dilakukan oleh Mars.


Ya, dia adalah Titania. Sosok anak itu benar-benar tak melepas pandangannya pada Mars. Seakan dia begitu penasaran pada pria kecil di depannya itu. 


"Tante," panggil Venus yang membuat Flora menoleh. "Venus ajak Tania main ke kamal belmain aku, boleh?" 


"Nggak ngelepotin kok, Tante. Iya, 'kan, Ma?" ujar Venus meminta pendapat. 


"Iya, Flo. Biarkan Tania bermain dengan anakku." 


"Aku takut, Sia." 


"Tidak akan." Galexia menggeleng. "Gih ajak Tania!" 


Venus terlihat begitu bahagia. Begitupun dengan Titania. Keduanya segera berjalan bergandengan tangan menuju kamar bermain yang ada di dekat sofa ruang tamu.


"Abang gak mau ikut Adek?" 


Mars menggeleng. "Berisik!" 


"Jangan kayak gitu, Nak. Kasihan Adek sama Titania cuma berdua," pinta Sia menatap putranya.


Mars menghela nafas pelan. Sebenarnya dia paling malas menemani adiknya bermain. Bukan karena apa, mendengar celotehan adiknya yang ramai ketika mendongeng dengan mainannya sering membuat Mars merasa bosan. Namun, melihat wajah mamanya yang penuh harap, entah kenapa membuatnya tak bisa menolak.


"Terima kasih ya, Sayang."


"Sama-sama, Ma." 


Akhirnya kaki kecil itu mulai melangkah menuju sebuah kamar. Dari jarak saat ini, dia sudah mendengar suara dua orang anak yang begitu membuatnya penasaran.


Keningnya berkerut dan langkahnya berhenti untuk mendengar pembicaraan apa yang terjadi di dalam. 


"Ya, Tania. Yang itu aja. Hati-hati," seru suara Venus terdengar semangat.


"Yang itu? Tanganku tak sampai," sahut Tania terdengar kesusahan.


"Coba kaki kamu injak bagian satunya."


"Sebentar aku coba." 


Entah kenapa perasaan Mars mendadak khawatir. Dia segera berjalan dengan cepat dan membuka pintunya.


Mata putra dari Galaksi itu terbelalak saat melihat pemandangan itu. Titania, anak itu sedang berusaha mengambil mainan yang ada di rak bagian atas. 


"Tania, awas!" teriak Mars saat melihat tubuh anak itu goyah. 


Mars spontan berlari bersamaan dengan tubuh Tania terlepas dari rak mainan. 


Kedua mata Venus terpejam. Bibirnya menjerit ketakutan saat telinganya menangkap suara jatuh di dekatnya itu. Tentu hal itu membuat Galexia dan Flora yang jaraknya dekat dengan kamar bermain spontan berlari. 


Keduanya benar-benar terkejut dan takut akan teriakan Venus yang kencang. Hingga saat mereka sampai di pintu kamar. Terlihat pemandangan di depannya.


"Tania!" seru Flora dengan wajah ketakutan.


"Abang!" 


Kedua ibu muda itu berlari mendekat. Mereka segera meraih anaknya masing-masing dengan raut wajah ketakutan.


"Kamu gak papa, Sayang?" tanya Flora pada Tania.


Bocah kecil itu menggeleng. Namun, air matanya mengalir saat matanya menatap sosok yang menyelamatkannya tak kunjung membuka mata.


"Mars bangun, Nak!" panggil Sia dengan suara gemetaran. 


Wanita itu begitu ketakutan hingga dia tak bisa berbuat apa.Sia berusaha menepuk pipi putranya itu tapi mata itu tak mau terbuka. 


"Tania tunggu disini. Mama panggil pelayan buat bantu Tante Sia." 


Akhirnya Flora segera berlari. Dia memanggil para pelayan dan satpam hingga mereka semua berkumpul. Wajah Galexia sudah dipenuhi air mata. Wanita itu ketakutan melihat putranya yang tak sadarkan diri.


"Bawa ke rumah sakit, Sia!" 


"Aku gak tau rumah sakit disini," kata Sia dengan menyusul langkah satpam yang membawa tubuh anaknya.


"Ada aku, Sia. Ini juga karena anakku." 


"Jangan meminta maaf. Ini bukan salah Tania, Flo," sahut Sia dengan air mata yang masih mengalir. "Lebih baik kita segera ke rumah sakit." 


Akhirnya satu mobil milik Galaksi keluar dari garasi. Mereka membawa Mars menuju rumah sakit terdekat. Dengan bantuan Flora, mereka bisa dengan mudah menemukan rumah sakit terdekat tanpa kebingungan. 


Sepanjang perjalanan, Galexia memegang tangan putranya. Air matanya terus menangis hingga berjatuhan di wajah Mars. Jujur dirinya sangat ketakutan sekarang. Namun, sebaik mungkin dia berusaha tenang agar tak membuat Flora semakin merasa bersalah.


"Tolong yang kuat, Abang. Jangan tinggalin Mama sama Adek." 


~Bersambung~


Yah yah....kasihan Abang. Demi si imut ya, Bang.


Jangan lupa klike like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat updatenya.