
Di dalam sebuah ruangan bercat putih. Terdapat seorang perempuan dengan pakaian rumah sakit sedang terbaring belum sadarkan diri. Namun, samar-samar telinganya mendengar suara beberapa orang yang berada di sana sedang membicarakan suatu hal. Bibirnya mengeluh diiringi dengan gerakan mata yang sedikit demi sedikit terbuka hingga menarik atensi dua orang yang ternyata sedang berdiri di dekat ranjang pasien.
"Oh syukurlah. Apa yang kamu rasakan, Sia?" tanya Leo setelah mata Sia terbuka lebar.
"Kepalaku sakit," adunya dengan memegang dahinya yang terasa sedikit berdenyut. "Aku haus."
Riksa dengan sigap mengambilkan segelas air, sedangkan Leo, pria gemulai itu membantu Sia untuk duduk dan meminum airnya.
"Terima kasih." Setelah mengatakan itu, Sia meminta disandarkan di bantalan ranjang.
Ingatannya memutar kejadian yang beberapa jam lalu terjadi. Seketika pandangannya memutar, mencari sosok mungil yang bersamanya dan bertemu dengan pria laknat itu.
"Kau mencari siapa?" tanya Riksa dengan ikut menatap sekeliling. "Mars?" tebaknya yang langsung dijawab anggukan oleh Sia.
"Semalam ku antar dia pulang. Ya, walaupun dengan cara pemaksaan," ucap Riksa dengan diiringi kekehan di kalimatnya yang akhir.
Galexia hanya tersenyum. Dia sudah bisa menebak bagaimana wajah putranya semalam. Namun, bukan itu yang Sia pikirkan. Melainkan dirinya takut jika Mars menyadari dan tahu jika pria yang selama ini bertemu dengannya adalah ayah kandungnya sendiri.
Sia bisa merasakan bagaimana tegangnya pegangan Mars kemarin sebelum Galaksi pergi. Bahkan dia juga bisa menebak jika otak putranya yang kecil pasti mencari tahu siapa sosok Galaksi sebenarnya. Mars adalah pria cerdas dan selalu ingin tahu. Maka, sudah pasti Mars akan terus mencari apa yang diinginkannya sampai dia tahu.
"Apa yang kau pikirkan, Sia?" tanya Riksa membuyarkan lamunan Sia.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" cerca Leo dengan sedikit desakan yang begitu membuat Sia menghela nafas berat.
Sia tertunduk. Dia tak tahu harus mengatakan apa pada dua orang pria di depannya ini. Namun, mengingat keselamatan dirinya dan si kembar, akhirnya perlahan Sia mengangkat wajahnya. Menatap wajah Riksa dan Leo yang sepertinya sedang menunggu jawaban darinya.
"Kami bertemu Galaksi kemarin," ucap Sia memulai pembicaraan.
"Terus?" jawab Leo dan Riksa bersamaan hingga mengundang tawa Sia meledak.
"Kenapa kalian begitu tegang? Bukankah aku yang bertemu dengannya?" tanya Sia menatap mereka bergantian.
Leo dan Riksa saling berhadapan. Seakan mereka berbicara melalui mata hingga membuat tawa Sia sirna. Perempuan itu menjadi curiga dengan ekspresi dua orang itu yang tak berubah sedikit pun.
"Ada apa?" tanya Sia saat melihat Leo dan Riksa seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Katakan padaku! Ada apa sebenarnya?" desak Sia mengguncang bahu Riksa dengan tangan yang terbebas dari infus.
"Semalam Galaksi kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit ini."
Tubuh Sia mematung. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Kepalanya mengingat pertemuan mereka kemarin untuk yang pertama kalinya setelah enam tahun.
Rasa khawatir sedikit timbul di hati Sia manakala mengingat jika Galaksi adalah ayah kandung kedua anaknya. Sebenci apapun dirinya, Sia juga tak mau jika anak-anaknya kehilangan sosok ayah yang selama ini tak mereka ketahui.
Sia memejamkan matanya, membuang nafasnya kasar dan mulai menenangkan pikirannya yang sedikit membuat kepalanya terasa sakit.
"Kau baik-baik saja, Sia?" tanya Riksa khawatir.
Sia mengangguk. Lalu dia kembali menatap Leo yang sepertinya menunggu reaksi dirinya.
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Sia dengan wajah datarnya.
"Dia baik-baik saja. Hanya luka kecil di dahi." Sia mengangguk dan meminta Riksa untuk membantunya berbaring. Kepalanya terasa sangat sakit dan dirinya ingin beristirahat.
Dia tak mau memikirkan apapun. Apalagi untuk mencemaskan Galaksi, dia tak berhak untuk itu. Saat ini, hidupnya hanya untuk si kembar. Tak ada lagi yang menjadi prioritas dirinya selain anak-anaknya.
"Apa kamu tak ingin menemuinya?" tanya Leo sesudah Sia berbaring.
Sia membuka matanya lagi, "untuk apa aku menemuinya, Le? Untuk membahayakan kedua anakku lagi, hah?"
"Bukan begitu, Sia. Tapi…"
"Aku tak akan menemuinya. Rasa traumaku semakin membuat diriku seperti ini dan penyebab utamanya adalah dirinya," ucap Sia dengan penuh penekanan. "Aku tak akan pernah peduli lagi padanya. Sedikitpun tak akan pernah. Sudah cukup perbuatanku di masa yang menghancurkan diriku sendiri dan sekarang aku tak mau itu terjadi lagi."
Setelah mengatakan itu, Sia menutup matanya. Membiarkan Leo dan Riksa mematung dengan apa yang sudah diucapkan oleh Sia. Mereka berdua tak menyangka jika Sia seteguh ini dengan pendiriannya. Bahkan tak ada pancaran rasa khawatir di mata mama dari si kembar ini walau sedikit.
Leo hanya bisa menghela nafas lelah. Dia lalu berpamitan pada Riksa untuk menjenguk Galaksi sebentar. Bagaimanapun pria itu adalah sahabatnya dan tentu dia khawatir saat mendapatkan kabar itu dari Pandora tentang kecelakaan semalam.
****
Suara erangan muncul dari bibirnya. Tubuhnya bergerak dan perlahan matanya mulai terbuka. Kepalanya begitu berdenyut sakit hingga membuat Galaksi memegang dahinya. Seketika pandangannya tertuju pada punggung tangannya yang diinfus, lalu matanya mengedar dan menyadari jika dirinya ternyata ada di rumah sakit.
Galaksi menghela nafas lelah. Ruangannya terasa begitu sunyi dan dia tersadar dalam keadaan sendirian. Pikirannya kembali memutar kejadian semalam, dirinya tak menyangka jika pengaruh Sia masih sekuat itu pada dirinya. Namun, pria itu belum tahu apakah ini semua sudah terlambat atau masih ada sedikit harapan untuknya.
Samar-samar telinganya mendengar suara ketukan sepatu di depan pintunya. Hingga tak lama, pintu tersebut terbuka dan muncullah sosok sahabat yang sejak kemarin ingin sekali Galaksi temui.
"Lo udah sadar?" tanya Leo dengan pandangannya memutar. "Lo sendirian?" tanyanya lagi saat menyadari jika tak ada siapapun di sana kecuali sahabatnya sendiri.
Galaksi hanya diam. Matanya terus menatap lekat wajah Leo dengan emosi yang memuncak. Pikirannya masih begitu ingat bagaimana sahabatnya itu masuk keruangan yang sama dengan mantan istrinya. Hingga membuat Galaksi merasa dibohongi dengan sahabatnya itu.
"Bantu gue duduk!" pintanya dengan wajah datar pada Leo.
Leo mengangguk. Dengan sigap dia membantu sahabatnya itu duduk hingga saat Galaksi berhasil, tiba-tiba dia menarik kerah baju Leo hingga wajah keduanya berhadapan.
"Apa yang lo lakuin?" tanya Leo dengan berusaha melepas tangan Galaksi.
Namun, bukannya terlepas. Cengkraman itu semakin kuat. "Ngapain lo nutupin semuanya dari gue, 'hah?" bentak Galaksi dengan emosi yang begitu meluap.
"Maksud lo apa'an?" tanya Leo sedikit gugup.
"Lo gak usah munafik. Gue udah tau semuanya. Lo udah tau dimana Sia, 'kan? Lo juga udah tau kalau Mars itu anaknya Sia. Jawab gue? Bener 'kan?" teriak Galaksi hingga membuat telinga Leo sakit.
Pria itu mendorong wajah Galaksi hingga membuat cengkraman tangan di kerah bajunya terlepas. Nafas Leo naik turun, dia sedikit tercekik dengan cengkraman tersebut. Namun, tidak dengan Galaksi, nafas pria itu masih tak stabil yang menandakan dia begitu emosi saat ini.
"Cepet jawab, Le! Kalau lo gak mau, gue ratain galeri, Lo," ancamnya menunjuk sahabatnya itu.
"Ya, ya gue tau. Selama ini gue tau dimana Sia dan anak-anaknya. Puas, Lo!" ucapnya dengan begitu tenang seakan apa yang ia ucapkan tak membawa pengaruh pada Galaksi.
Tangan Galaksi mengepal. Ingin rasanya dia memukul wajah Leo sekarang. Namun, mengingat keadaannya, dia tak bisa mewujudkan keinginannya tersebut.
"Terus kenapa lo gak cerita sama gue? Kenapa lo gak bilang, 'hah?" teriak Galaksi dengan kencang.
Leo menatap Galaksi tajam. Walau pria itu gemulai, kemarahan bisa membuatnya menjadi seperti pria sungguhan. Leo berjalan mendekati Galaksi, hingga wajah mereka berhadapan.
"Karena lo sendiri yang menjadi penyebabnya," kata Leo dengan tegas.
"Maksud lo, apa?"
"Karena Sia nyuruh gue buat nutupin semuanya. Sia gak mau lo tau tentang dia. Ngerti, Lo?" Galaksi mematung. Dia tak menyangka jika Sia begitu membencinya.
Namun, tekad dalam hatinya masih kuat. Bahkan dia masih yakin jika ada secercah harapan untuknya bisa kembali pada mantan istrinya tersebut.
Tak lama, matanya membayangkan wajah Mars yang sedang menatapnya. Dirinya langsung tersadar dan menatap wajah Leo yang masih menatapnya balik.
"Jawab jujur pertanyaan gue, Le. Siapa ayah kandung Mars dan Venus?"
Leo tersenyum miring. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dengan jari telunjuk ia letakkan di dagu seperti pria yang sedang berpikir.
"Jawab, Le!" seru Galaksi tak sabaran.
"Ya mereka anak Sia dari selingkuhannya," jawab Leo enteng. "Bukannya lo sendiri yang bilang kalau Sia hamil anak dengan pria lain?"
"Gue gak percaya sama ucapan Lo. Jelas-jelas wajah Mars mirip sama gue kecil," seru Galaksi dengan menghela nafas berat. "Gue mohon, Le. Siapa ayah kandung mereka?"
Leo menunjuk wajah Galaksi. Dia mendekatkan wajahnya agar ucapannya ini bisa dicerna dan dipikirkan oleh sahabatnya itu.
"Kalau lo mau tau siapa ayah kandung mereka. Tanyakan pada Sia dan lo bakalan tahu jawabannya."
~Bersambung~
Detik-detik rahasia mulai terungkap, hehe. Rahasia apa hayoo?
Jangan lupa klik like dan komennya yah buat tanda apresiasi sama karya author.
Kalau punya poin, koin, vocher bolehlah berikan sama si kembar, biar author semangat ngetiknya.
Tembus 200 author update lagi. Yok Gas!