The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Bercocok Tanam




Matahari mulai menyinari bumi. Pagi yang indah dengan embun menyegarkan, seharusnya membuat siapa saja berada di mood yang begitu baik. Namun, tidak dengan keadaan di rumah besar Jericho. 


Terdengar suara tangisan yang begitu kencang menggema di rumah itu. Suara khas gadis kecil yang begitu familiar tentu menarik perhatian semua orang. Jericho, sang kakek spontan berjalan menaiki tangga untuk melihat keadaan cucunya.


Dirinya benar-benar dibuat terkejut saat tangisan itu semakin kencang. Awalnya dia mengira mungkin itu hanya gurauan. Namun, semakin kesini kenapa tangisannya semakin keras.


"Mars," panggil Jericho saat dia baru saja sampai di ujung tangga. "Ada apa dengan Venus?" tanyanya sambil meraih tubuh cucunya dalam dekapan.


"Venus mencari Mama sama Papa, Kakek," sahut Mars dengan piyama lusuh yang terlihat berantakan.


Jericho spontan menatap cucu perempuannya. Dia merapikan rambutnya dan mengusap air mata yang terus mengalir.


"Cucu Kakek, 'kan, cantik. Jadi jangan menangis. Kita cari Papa sama Mama, bagaimana?" tawar Jericho dengan tenang.


Sebenarnya pikiran pria tua itu melanglang buana. Dia tak habis pikir kemana anak dan menantunya. Sepagi ini sudah hilang entah kemana. Apa mereka tak berpikir bagaimana jika si kembar mencari keduanya.


Kepala bocah kecil itu mengangguk. Ayah dari Galexia itu segera membawa kedua cucunya turun ke lantai bawah hingga mereka segera dikerubungi semua orang. 


Ada Mama Pandora, Cressida, Riksa, Leo, dan Mama Rhea. Mereka segera mencerca Jericho yang terlihat kewalahan karena bobot tubuh cucunya yang semakin naik.


"Ada apa, Yah?" tanya Rhea sambil meraih Mars di dekatnya.


"Mereka mencari Galaksi dan Galexia. Keduanya hilang entah kemana." 


"Hilang?" celetuk Pandora dengan dahi berkerut. 


"Di kamar mereka juga gak ada, Yah?" tanya Cressida begitu heran.


"Ya. Tadi Ayah melihat mereka muncul dari kamar Galexia." 


"Lalu sepagi ini, mereka kemana?" tanya Rhea dengan bingung.


"Kakek, Venus mau Papa. Papa!" cercanya dengan tidak sabaran.


"Iya, Sayang. Ayo kita cari." 


Akhirnya mereka semua berpencar. Cressida dan Riksa menuju ke garasi untuk melihat, apakah ada mobil yang dibawa pergi atau tidak.


"Semua mobil masih ada. Lalu mereka kemana?" tanya Cress dengan berkacak pinggang.


Riksa mengangkat bahunya acuh. Jujur rasa kantuk masih mendera dirinya. Dia menguap beberapa kali hingga menarik perhatian Cressida.


"Mungkin mereka sedang bergulat di atas ranjang," sahut Riksa sekenanya.


"Hah!" Cressida menoleh. Dia mengerutkan dahinya pertanda tak mengerti. 


"Ya, 'kan, mungkin saja. Mereka pengantin baru. Bisa saja semalam mereka menyelinap ke kamar lain terus membuat calon adik si kembar." 


"Dasar gila!" Cressida menimpuk kepala calon suaminya itu dan menggeleng. "Isi kepalamu itu mesum banget sih." 


Riksa terkekeh. Dia tak menyangka bisa menjahili calon istrinya itu. Perlahan dia mengedarkan pandangan, disana tak ada seorang pun. Hanya mereka berdua.


Hingga sekali gerakan, tubuh Cressida berada dalam kungkungan Riksa. Gadis itu membelalakkan mata tak percaya dengan kegesitan calon suaminya itu.


"Ka-mu mau nga-pain?" tanyanya terbata dengan tubuh menyandar di dinding.


Riksa tersenyum miring. Dia menatap wajah Cressida yang cantik hingga matanya jatuh ke bibir berwarna pink tanpa lipstik itu.


"Riksa!" cicit Cressida saat wajah mereka saling berdekatan.


Tak kuat akan tatapan pria itu. Cressida memilih memejamkan matanya untuk menetralkan kegugupan dirinya. Jantungnya terus berpacu cepat. Dirinya benar-benar tegang dan merasa kedua kakinya hampir lemah.


Hingga sebuah bisikan lembut di telinganya, membuat kedua mata Cressida terbuka.


"Aku...aku…." Cressida kebingungan. Dia merasa begitu sulit untuk berkata-kata.


Wajah Riksa semakin dekat. Hingga hidungnya dia tempelkan di pipi Cressida dan membuat sepasang calon pengantin itu sama-sama memejamkan matanya.


Entah kenapa rasa takut dan gugup yang tadi hinggap dihati adik dari Galexia itu, perlahan berganti rasa tenang. Jantungnya perlahan berdegup dengan normal dan dia merasa nyaman dengan posisi ini. Apalagi, kedua tangan Riksa yang berpindah memeluk kedua pinggangnya membuat Cressida semakin jatuh dalam kenyamanan yang dibuat oleh pria itu. 


"Aku tak akan menyentuhmu lebih dari ini, sebelum kita halal," kata Riksa dengan tegas sambil membuka matanya.


Spontan ucapan Riksa membuat kedua mata Cressida ikut terbuka. Dia menatap mata pria itu dengan lekat. Kedua sudut bibirnya ditarik ke atas saat dirinya percaya dengan perkataan calon suaminya itu.


"Aku percaya padamu. Aku yakin kamu pria baik." 


"Terima kasih." 


Perlahan Riksa menjauhkan tubuhnya. Dia tersenyum lalu mengacak-ngacak rambut Cressida dengan pelan.


"Ayo kita cari ke tempat lain. Aku yakin mereka ada di dalam rumah." 


****


Jika di luar sana mereka semua sedang mencari kebingungan dengan hilangnya sosok dua orang pengantin baru. Tapi tidak dengan dua pelaku yang berada di dalam satu kamar tamu tersebut.


Ternyata keduanya sedang saling bergulat. Mereka sama-sama sedang mengejar kepuasan diri dengan saling menggerakkan tubuh mereka berlawanan. 


Mereka benar-benar menghabiskan waktu dengan saling memberikan yang terbaik. Saling memuja, saling berbagi, saling memberi hingga pasangan mereka seakan melayang akan keindahan surga dunia.


Mereka masih berada di atas ranjang. Saling memacu cepat dengan peluh membasahi tubuh keduanya. Bahkan suara teriakan dan lenguhan Galexia begitu terdengar hingga semakin membuat Galaksi ingin lanjut, lanjut dan lanjut.


"Apa kamu merasa puas, Sayang?" tanya Galaksi dengan mata terus menatap wajah istri yang berada di bawahnya.


Tubuh keduanya masih menyatu. Bahkan baik Galaksi dan Galexia saling menumbuk agar mereka kembali mencapai ambang batas yang sangat dinantikan.


"Kamu sungguh luar biasa, Kak," sahut Sia dengan nafas terengah-engah.


Kepalanya terlonjak keatas. Tubuhnya bergerak naik turun mengikuti irama yang dibuat suaminya itu. Pasangan suami istri itu benar-benar gila jika hanya berdua. Seakan tidak ada hari esok untuk kembali merajut cinta mereka di surga dunia yang diciptakan.


Merasa memiliki tenaga kembali. Galexia menggulingkan tubuh suaminya. Dia berada tepat di atas Galaksi dengan kedua tangan pria itu mencengkram dua bongkahan bulat agar istrinya tak jatuh ke belakang.


"Bergeraklah dengan lihai, Sayang. Aku ingin menyirami ladangku kembali pagi ini," kata Galaksi dengan wajah seksinya.


"Seperti kemauan, Sang Baginda Raja." 


Setelah mengatakan itu, tubuh Galexia mulai memposisikan dirinya. Dia bisa merasakan sesuatu benda yang bergerak begitu keras di dekat ladang miliknya. Tanpa berkata, perlahan senjata tajam itu mulai menyelinap masuk ke dalam ladang yang begitu basah.


Dia mulai bergerak begitu teratur dengan tempo yang mulai cepat. Basahnya ladang tentu semakin menciptakan alunan suara yang begitu mencandukan. Bahkan kedua bibir mereka saling mengeluarkan suara indah pertanda ini benar-benar luar biasa.


Tubuh Galexia benar-benar menari dengan lihai. Dia bergerak ke kanan, ke kiri. Lalu berganti ke depan dan belakang sampai ke atas dan kebawah yang membuat Galaksi semakin gila. Pria itu bahkan sampai ikut bergerak hingga mereka hampir mencapai ambang batas. 


"Aku hampir sampai, Sayang!" 


"Aku juga!" 


Ya pagi ini keduanya benar-benar bercocok tanam kembali. Merasakan indahnya surga dunia tanpa memikirkan semua orang yang sedang kebingungan mencari keduanya.


~Bersambung~


Dududududu hujan-hujan enaknya tidur peluk guling.


Udah aku ngantuk mau tidur yah. Jangan minta lagi, udah selesai woy. Jan lupa votenya yah, biar aku semangat ngetik lagi.


Tapi aku mau garap tugas dari editor NT dulu yah. Deadline tanggal 30 November. Jadi aku mau kerjain dulu.


Jan lupa loh, di like, komen oke!