
Sinar matahari terlihat begitu cerah. Seakan hari ini dia menjadi saksi jika akan terjadi sesuatu hal yang besar hari ini. Hari penting untuk membuka tabir kejahatan yang selama ini terpendam. Sebuah rahasia besar yang akan terungkap dan membuat pelaku kejahatan harus menerima balasan yang setimpal.
Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi. Sinar kuning itu begitu menyengat kulit dan menyinari Gedung Pengadilan Negeri yang ada di kota Jakarta. Sebuah mobil tahanan milik kepolisian mulai berhenti tepat di depan gedung pengadilan. Pintu mobil tersebut mulai terbuka dan keluarlah dua polisi berpakaian lengkap. Kemudian disusul oleh seorang pria berpakaian tahanan dengan tangan terborgol ke depan. Sementara di belakangnya, terlihat ada dua orang polisi yang menjaganya begitu ketat.
Di depan gedung tentu saja sudah banyak wartawan yang entah muncul dari mana. Bahkan mereka seakan datang untuk mendapatkan sasaran empuk berita yang akan menghasilkan banyak uang. Banyak kilat kamera yang menyinar tubuhnya seakan meminta jawaban dari mulutnya yang terus terkunci.
Atlas hanya mampu menggeram. Sungguh emosinya begitu meledak. Bahkan dirinya masih tak terima jika nasibnya ada disini. Anak buahnya sungguh tak bisa diandalkan. Bahkan pengacaranya sendiri, seakan tak bisa menyelamatkannya. Namun, semua itu tak membuat Atlas semakin marah jika hilangnya wanita yang diharapkan juga tak kunjung ada kabar.
"Majelis memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri," kata seorang pejabat protokol yang membuka suara di ruangan begitu tertutup ini.
Seluruh hadirin mulai beranjak berdiri. Terlihat tiga orang pria yang memakai jubah kebesarannya memasuki ruang sidang. Mereka adalah Hakim Ketua dan Anggota Hakim. Ketiga pria itu tentu langsung mengambil posisi duduk sesuai dengan jabatannya. Lalu pejabat protokol mulai menyuruh para hadirin untuk duduk kembali.
"Sidang Pengadilan Negeri Kota Jakarta, yang memeriksa perkara pidana nomor 018910 atas nama Atlas pada hari Jumat tanggal 17 September 2021 dinyatakan dimulai dan terbuka untuk umum," ucap Hakim ketua lalu mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
"Terdakwah Atlas dipersilahkan masuk!"
Dua orang polisi mengapit kedua lengan Atlas. Mereka membawa pria itu masuk ke ruang sidang. Wajahnya begitu marah ketika pandangannya tanpa sengaja bertemu pandang dengan Orion dan Galexia. Sorot mata pria itu begitu menunjukkan kebencian yang mendalam.
Tunggu saja pembalasanku. Aku akan menghancurkan kalian setelah aku keluar dari sini, ucapnya dalam hati dengan murka begitu mendalam.
Galexia balas menatap pria itu dengan tajam. Wanita itu benar-benar tak takut pada pria itu. Bahkan dalam hatinya, dia berharap jika Atlas mendapatkan hukuman yang setimpal dari semua kejahatan yang dia lakukan. Ibu dari si kembar tentu terus mengikuti langkah Atlas yang dibawa masuk ke sebuah pagar kayu yang tingginya sepaha orang dewasa. Lalu petugas kembali mengunci pintu itu dan membuka borgol yang sejak tadi mengunci dua lengannya.
"Silahkan jaksa penuntut mengajukan tuntutannya," kata Hakim Ketua dengan tegas.
Jaksa dari keluarga Galaksi tentu langsung beranjak berdiri. Dia mulai menceritakan semua kasus yang dilakukan oleh Atlas. Dari pembunuhan Alula, penculikan Pandora, kasus pelecehan seksual, penyabotase kecelakaan pesawat yang terjadi hampir 40 hari yang lalu sekaligus penyekapan dan memisahkan dua orang saudara.
Atlas benar-benar dibuat terkejut. Dia tak menyangka jika kejahatannya selama ini sudah diketahui. Matanya menyorot Orion yang sejak tadi menatapnya dengan tajam. Pria itu begitu yakin jika tangan kanan saudaranya itulah yang sudah membuka semuanya.
"Awas kau!" katanya tanpa suara yang bisa dilihat oleh Orion.
"Keberatan yang mulia!" seru Pengacara Atlas dari tempat duduknya.
"Keberatan diterima."
"Dari semua tuduhan yang dilayangkan oleh pihak Tuan Galaksi, tak ada satupun saksi mata yang melihat secara langsung," kata Pengacara Atlas yang tak mau kalah. "Tidak ada bukti apapun yang menjerat klien salah."
Kedua tangan Galexia mengepal. Dia tak menyangka masih ada sosok orang yang berani membela pria yang jelas-jelas bersalah. Bahkan pria dengan segala kejahatannya itu sudah begitu jelas. Namun, jaksa dan pengacaranya itu masih mau membelanya dan mengatakan hal omong kosong.
Jaksa Galaksi kembali berjalan mendekat ke arah tempat Atlas berada. Dia mempertanyakan semua pertanyaan yang begitu membuat Atlas semakin tersudut.
"Disaat kematian Nyonya Alula. Anda sedang ada di Indonesia. Betul?" tanya jaksa penuntut dari Galaksi dengan jelas.
"Ya. Saya memiliki perjalanan bisnis disini dan menjalin kerja sama juga," kata Atlas dengan tenang.
Wajah Atlas berubah pias. Bahkan cengkraman tangannya di pagar kayu yang melingkari tubuhnya semakin kuat. Dia tak menyangka jika pihak Galaksi bisa mendapatkan semua itu.
"Tanggal dimana kecelakaan pesawat itu terjadi dan sebelum pesawat terjatuh, Anda terlihat baru saja keluar dari ruangan pemilik Bandara dengan beberapa pria berpakaian hitam membawa senjata api di pinggangnya," kata jaksa penuntut terus menyudutkan Atlas.
"Lalu kejadian dimana Anda memisahkan dua orang saudara sejak kecil yang terjadi pada Saudari Galexia dan Cressida itu. Apakah bisa Anda jelaskan? Bisakah Anda mengatakan alasan kenapa Anda melakukan itu?"
Mulut Galexia dan Cressida menganga tak percaya. Keduanya benar-benar tak menyangka jika dibalik dari semua ancaman itu ternyata dari pria yang merupakan kembaran dari papa mertuanya.
Pikiran Galexia tentu berputar. Menyatukan semua kepingan yang selama ini terjadi dan menduga apakah Atlas lah yang menjadi dalang dari semuanya. Jika memang benar, itu menjadi bukti jika pria itu tahu tentang kedua orangnya, pikir Galexia.
"Keberatan yang mulia," sela Pengacara Atlas menghentikan argumen Jaksa penuntut dari pihak Galaksi.
"Keberatan diterima."
"Jaksa penuntut hanya memberikan tuduhan tanpa bukti yang kuat. Dari semua yang dia katakan, tak ada bukti dan saksi mata yang mengatakan jika klien saya bersalah," seru pihak Atlas tak mau kalah.
Jaksa penuntut Galaksi berbalik. Dia membalas tatapan tajam pihak Atlas dan berjalan sedikit menjauh dari saudara kembar Altair.
"Ada saksi mata kejahatan dimana Klien Anda, Tuan Atlas melakukan penyekapan dan memisahkan dua saudara kandung dengan sengaja," kata Jaksa tersebut penuh penekanan.
Atlas benar-benar panik. Bahkan keringat dingin mulai membasahi tangannya. Wajahnya begitu takut dan kepalanya berputar seakan memikirkan siapa saksi mata yang tahu akan kejahatannya selama ini.
"Bawa kemari saksi mata itu!" kata Majelis Hakim dengan tegas.
Jaksa penuntut menganggukkan kepalanya. Dia mulai memberikan dokumen yang dia miliki pada Majelis Hakim dan menyuruh dua saksi mata yang ia miliki untuk masuk.
Semua mata tertuju pada pintu masuk. Mereka sama-sama menunggu dengan jantung berdebar. Terutama Galexia, wajah wanita itu begitu penasaran. Apalagi ini semua menyangkut dirinya dan pikirannya terus berputar memikirkan siapakah yang menjadi bukti dan saksi mata akan kehidupannya.
Hingga saat pintu itu terbuka. Muncul dua orang yang begitu membuat mata Sia terbelalak. Bahkan dia merasa nafasnya begitu sesak tak menyangka dengan saksi mata yang dia lihat. Dua wajah yang tanpa sengaja pernah dia lihat di sebuah potret foto saat ini benar-benar ada.
Jantungnya semakin berdegup kencang dan tanpa sadar dua orang adik kakak yang sama-sama duduk berdampingan spontan beranjak berdiri. Keduanya berpandangan dengan mata berkaca-kaca tanpa mengatakan apapun. Seakan keduanya masih merasa shock dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"Kakak, mereka…."
~Bersambung~
Hiyaaa hahaha, ini udah 1000 kata jadi dipotong dulu. Udah ada clue itu loh. Hayoo udah ketebak siapa saksinya?
Jangan lupa klik like, komen dan vote untuk apresiasi novel si kembar.
mau update lagi? tembus 250 like aku update!