The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
GG Entertainment




"Om mata bilu," ucap Venus tanpa sadar.


Tanpa berkata apapun, pria yang dipanggil olehnya pergi meninggalkan Venus sendirian. Walau seperti itu, tatapan mata bocah kecil 5 tahun itu masih mengikuti pria tersebut sampai hilang dari pandangannya. Pikirannya mengingat dan merekam hingga panggilan dari Riksa membuatnya tersadar dan segera berlari menuju tempatnya semula. 


****


Sedangkan di dalam mobil, pria tampan dengan rahang tegas dan sorot mata tajam segera memerintah supirnya untuk kembali ke perusahaan. Pikirannya berkelana mengingat seorang anak kecil dengan garis wajah yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sudah lama ia cari, tapi belum berhasil. Seakan-akan bumi benar-benar menelan orang tersebut hingga tak berjejak. 


Pikirannya langsung buyar ketika mobil mulai berhenti di depan sebuah Perusahaan bernama "GG Entertainment." Perusahaan agency terbesar pertama yang berhasil mencetak dan mengeluarkan banyak artis-artis berbakat dan kelas atas yang bernilai tinggi. Perjuangannya selama 6 tahun benar-benar berhasil. Dia mewujudkan keinginan dirinya sendiri sampai agency ini mampu mengalahkan agency-agency saingannya di sini.


Merapikan pakaiannya, pria itu segera turun dari mobil setelah supir membukakan pintu untuknya. Langkah tegas dengan badan tegap begitu berwibawa sungguh sangat menarik perhatian banyak orang terutama wanita. Namun, sayang sekali. Tak sedikitpun pria tersebut berpaling ataupun menatap karena sebenarnya hatinya masih diliputi oleh seseorang di masa lalu.


"Bagaimana, Star?" tanya pria tersebut setelah memasuki ruang kerjanya. 


"Saya sudah menemukan perusahaan iklan yang akan menjadi target Inggrid, Tuan. Tinggal tanda tangan kerjasama saja," ucap Star menjelaskan.


"Bagus. Lalu untuk artis cilik kita?" 


"Semalam Tuan Leo mengabari, jika dia sudah memiliki calon model sendiri," sahut Star membuat atensi pria tersebut beralih.


Dia menatap Star dengan tajam hingga menegakkan duduknya. "Jadi dia membatalkan model cilik kita?" 


"Betul, Tuan Galaksi." 


Pria yang dipanggil Galaksi menghembuskan nafas berat. Kepalanya mengangguk dan dia menyuruh asistennya keluar dari ruangannya. Setelah kepergian Star, dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya.


Matanya terpejam. Pekerjaannya di agency miliknya tentu menjadi tantangan besar untuk seorang Galaksi. Apalagi artis dibawah naungannya begitu banyak. Namun, selama ini semua yang keluar dan lolos dari agencynya selalu naik daun dan sukses. 


Semua sampai di titik ini adalah hasil dari perjuangan murni seorang Galaksi. Pria tampan sukses dan kaya raya tapi ternyata seorang duda. Perjalanan rumah tangganya tak semulus kesuksesannya. Pernikahan yang seumur jagung itu akhirnya berakhir hingga dia berdiri di sini sendirian. 


Tak beberapa lama, bayangan seorang anak kecil dengan bola mata biru kembali terbayang. Hingga tanpa sadar membuat kedua matanya terbuka. 


Warna rambutnya, garis-garis wajahnya kenapa mirip denganmu, Sayang, batin Galaksi dengan mata yang memandang sebuah pigura kecil di atas meja kerjanya. 


Diambilnya sebuah benda berisi foto seorang perempuan cantik dengan rambut berwarna coklat. Sebuah senyuman manis di bibirnya menjadi penyemangat Galaksi selama ini. Walau hanya sebuah potret tapi hal itu sudah cukup menjadi obat kerinduannya. Entahlah, walau mengetahui mantan istrinya itu hamil karena pria lain. Namun, cinta yang ada dalam dirinya masih abadi sampai sekarang. 


Bayang-bayang kenangan manisnya dengan sang mantan istri kembali muncul. Sebuah taman yang begitu indah semakin terlihat cantik ketika Galaksi berdiri sambil memeluk tubuh istri yang berada di depannya. 


"Kak lepasin dulu," pinta sang wanita dengan suara manja.


"Tidak mau." 


"Aku sedang memangkas daun, Kak. Kalau seperti ini tentu aku tak bisa bergerak," rengeknya saat belitan tangan Galaksi semakin erat.


"Baguslah. Lebih baik kita ke kamar, Sayang," bisik Galaksi membuat sang perempuan gemas.


Dengan pelan jari-jari lentik itu mencubit lengan Galaksi hingga membuatnya mengaduh. 


"Uu KDRT ini, Sia." 


"Biarin. Salah siapa dari tadi nggak mau lepas." Sia menjulurkan lidahnya hingga membuat Galaksi tersenyum. 


Hingga akhirnya, terjadilah aksi kejar-kejaran di antara keduanya. Tawa bahagia Sia begitu jelas hingga tubuh ramping tersebut tertangkap dan berada dalam kungkungan belitan tangan Galaksi.


Dengan spontan, Sia mengalungkan tangannya di leher sang suami hingga kedua manik mata tersebut saling bertatapan. 


"Apa kamu lelah, Kak?" tanya Sia sambil menghapus keringat sang suami di dahinya. 


Galaksi menggeleng. Namun, tatapan matanya yang penuh cinta tetap menatap wajah sang istri yang begitu dekat dengannya.


"Sedetikpun aku tak akan pergi kecuali kamu yang menyuruhku pergi." 


Setelah itu entah siapa yang memulai. Dua bibir mereka saling bertemu. Pancaran cinta di mata keduanya begitu berkobar hingga saling menyalurkan pada ciuman hangat yang begitu menggetarkan. 


Namun, tak lama bayangan itu hilang dan buyar ketika suara yang begitu dia kenali membuat Galaksi meletakkan pigura tersebut kembali ke tempatnya. 


"Apa Mama tak bisa mengetuk pintu?" ucap Galaksi kesal sambil beranjak dari duduknya.


Wanita yang dipanggil Mama tersebut meletakkan tasnya dengan kasar di sofa. Lalu dia berjalan mendekati meja kerja sang anak dengan begitu angkuh. 


"Kau masih menyimpan foto wanita pengkhianat itu, Galak?" tanya Pandora dengan tatapan merendahkan.


"Itu bukan urusan, Mama!" 


"Itu urusan Mama, Galaksi!" seru Pandora menunjuk putranya. 


Galaksi tak menyahut. Dia membuang wajahnya dan menatap gedung-gedung New York dari jendela kaca di ruangannya. 


"Kau harus melupakan wanita itu. Apa kau lupa, Nak? Dia sudah hamil anak pria lain!" 


"Aku tau, Ma. Aku tau," ujarnya melemah dan membalik tubuhnya. "Tapi perasaanku padanya tak pernah berubah sedikitpun. Entah kenapa firasatku mengatakan jika dia tak pernah mengkhianatiku." 


Pandora tertegun. Bahkan dia menelan ludahnya begitu kasar. Wajahnya ia rubah setenang mungkin lalu mendekati putra semata wayangnya. 


"Tenanglah, Nak." Pandora mengajak Galaksi duduk di sofa yang ada di sana. Lalu dia mengambil segelas air putih dan menyerahkannya pada sang putra. 


"Hidup terus berjalan, Galak. Kamu gak bisa seperti ini terus. Berusahalah sedikit saja, Nak. Kau pasti bisa melupakannya," ucap Pandora dengan tersenyum dan mengelus punggung tangan Galaksi. 


Galaksi hanya diam. Dia menyugar rambutnya ke belakang karena tak tahu harus menjelaskan apalagi pada sang mama.


"Lebih baik besok kamu ajak Inggrid jalan-jalan. Dia pasti senang keluar denganmu." 


"Tapi, Ma." 


"Tak ada tapi-tapian. Kamu harus bisa dan harus mau." Sebelum mendengar alasan Galaksi. Pandora mulai beranjak dan menghadiahi kecupan di pipi sang putra. 


"Mama pulang. Jangan lupa besok jemput Inggrid di Apartemennya yah." Setelah mengatakan itu, Pandora segera keluar dari ruangan dan meninggalkan Galaksi sendirian. 


Dia menghembuskan nafasnya begitu berat dengan punggung bersandar di sofa. Matanya menatap langit-langit ruangan dengan hati berkecamuk.


"Bagaimana kabarmu, Sia? Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana kabar kehamilanmu? Apakah kau berhasil melahirkan anak-anakmu dengan selamat?" 


~Bersambung~


Hayoo yang salah tebak sejak kemarin. Dari yang bilang Leo Collection Bapaknya kembar. HAHAHA.


Berhasil ketipu gak? Hhehe. 


Mau kabur ah besok kagak update, hahaha.


Aku punya hutang satu bab bonus sama yang kasih koin. Sabar yah, aku belum bisa double up nunggu acc editor dulu.


Ah sekarang hari senin yah~~


Jangan lupa vote karya ini sebagai tanda support dari kalian dan agar karya ini banyak dikenal sama pembaca lain.


Jangan lupa juga klik like dan komen biar author makin semangat updatenya~~