The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Pergi!




Suara tepuk tangan terdengar begitu kencang. Semua orang begitu kagum dengan penampilan Sia yang begitu bagus. Sampai-sampai mereka tak ada yang menyadari jika ada seorang perempuan yang sedang menahan amarahnya begitu kuat. Wajahnya merah padam dengan tangan terkepal saat menyadari jika putranya sejak tadi memandang dengan lekat ke arah sang penyanyi.


Rencana yang sudah direncanakan seketika lenyap saat mengetahui keberadaan wanita yang sudah dilihat oleh Galaksi. Dirinya sungguh ingin sekali menarik anaknya pergi dari sana. Namun, apa yang akan ia katakan jika Galaksi bertanya.


Sedangkan Galexia, wanita itu spontan melebarkan senyumnya. Dia begitu bangga bisa membuat semua orang terhibur dengan suaranya. Dia pegang jemari putranya dan menundukkan kepalanya sebagai suatu kata terima kasih pada semua orang. Hingga tanpa sengaja, saat Sia mulai menegakkan wajahnya, matanya menangkap sesuatu obyek.


Sesuatu yang membuat tubuhnya mematung tak bisa digerakkan. Bahkan lidahnya terasa kelu untuk memanggil nama yang sudah sejak lama tak ia temui. Berdiri dengan jarak beberapa meter masih bisa ditangkap jelas oleh mata Sia bagaimana raut mantan suaminya itu.


Kedua mata yang memancarkan aura berbeda itu saling bertatapan. Kilasan balik di masa lalu yang menyakitkan mampu menyadarkan Sia dari keterkejutannya. Dia langsung memutus pandangan mata mereka dan beralih menatap putranya yang berdiri di sampingnya. 


"Ayo kita ke belakang!" Akhirnya Sia mengajak Mars pergi dari panggung.


Dia tak mau pria itu menatapnya seperti tadi. Sia bisa melihat tatapan yang dulu sering kali Galaksi berikan kepadanya. Tatapan penuh cinta dan kerinduan itu terlihat amat kentara di kedua manik matanya. Namun, dalam hati Sia, tak ada lagi rasa rindu dalam hatinya. Rasa sakit yang mendalam masih jelas begitu membekas hingga membuatnya menutup lekat pintu hati untuk siapapun. Terutama untuk kembali dengan mantan suaminya itu. 


"Mars pengen kencing, Ma," ucapnya saat mereka sudah turun dari panggung.


"Ayo Mama antar!" Sia akhirnya menggandeng tangan putranya. Membawa sang putra ke kamar mandi sekaligus dia berniat bersembunyi dari mantan suaminya itu.


****


Di dalam gedung, terlihat Galaksi terus menatap gerak-gerik Sia yang berjalan turun dari panggung. Dengan kasar, pria yang sedang mengenakan jas berwarna hitam itu melepas belitan tangan Inggrid. Gerakan tiba-tiba itu tentu membuat perempuan itu kaget.


"Kau mau kemana?" 


"Aku ingin keluar sebentar," pamitnya membuat Inggrid mengangguk.


Wanita dengan pakaian yang menonjolkan bagian depannya itu berlalu tak acuh. Dia memilih mengobrol dengan para teman modelnya yang lain daripada mengikuti Galaksi pergi. Hal itu tentu membuat Pandora semakin murka.


Saat Galaksi hendak melangkah. Dengan cepat, Pandora menahan tangannya hingga tubuh sang putra berbalik.


"Ada apa, Mama?" 


"Kau pasti ingin menemui wanita rendahan itu, 'kan?" kata Pandora dengan wajah marah.


"Itu bukan urusan, Mama." Galaksi melepaskan tangan Pandora erat hingga membuat wanita itu meraihnya kembali dan mencengkramnya. 


"Jangan pernah bermain-main dengan Mama, Galak. Kau tak boleh menemuinya!" seru Pandora dengan emosi tertahan.


Wanita itu mengecilkan suaranya karena takut terdengar dengan yang lain. Bagaimanapun dia harus menjaga wibawa keluarganya dimanapun dia berada. Nama baiknya disini tentu sedang dipertaruhkan. 


"Lepaskan tanganku, Ma. Mama tak berhak melarangku!" Galaksi menepis tangan Pandora hingga terlepas.


Lalu tanpa mengindahkan sang Mama, dia berlalu untuk mengejar sang mantan istri. Kerinduan yang sejak dulu dia tahan membuat Galaksi tak mau melepas Sia dari pandangannya lagi. Dia harus meminta maaf, menghapus rasa penyesalan yang semakin dalam sampai mantan istrinya itu mau memaafkannya.


Galaksi segera mengikuti ke arah mana sang mantan istri keluar tadi. Matanya menatap sekeliling dengan rasa yang tak bisa dijabarkan. Rasa rindu, rasa cinta, rasa sesal menumpuk menjadi satu hingga membuatnya ingin merengkuh tubuh yang terlihat begitu ramping tersebut. 


Galaksi sudah tak peduli kehamilan yang dulu terjadi pada Sia. Dia juga tak peduli jika mantan istrinya pernah tidur dengan pria lain. Rasa cintanya lebih besar dari sakit hatinya. Hingga membuat Galaksi sungguh ingin mendapatkan maaf dan kembali dengan Sia dalam hubungan halal.


"Kemana mereka?" gumamnya dengan pandangan bingung.


"Permisi. Mas lihat wanita pakai gaun merah dengan anak kecil?" tanya Galaksi penuh harap.


"Oh. Penyanyi yah, Tuan?" tanyanya yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Galaksi. 


"Tadi saya melihat mereka menuju kamar mandi." Setelah mengucapkan terima kasih, Galaksi segera menuju ke arah yang ditunjukkan pria barusan.


Dia tak mau kehilangan jejak lagi. Cukup sekali saat di acara konser dia kehilangan, dan sekarang Galaksi harus mendapatkannya. Langkah kakinya diayun dengan cepat hingga matanya menangkap tulisan toilet.


Semakin dekat, degup jantung Galaksi semakin kencang. Berulang kali ia menelan ludahnya paksa untuk menghilangkan rasa gugup yang menderanya. Hingga pandangannya tertuju pada seorang perempuan yang sedang menunggu di depan pintu sambil membelakanginya.  


Harum minyak wangi sang wanita begitu menusuk di hidung Galaksi hingga membuatnya semakin ingin memeluk mantan istrinya itu. Namun, mengingat hubungan keduanya tak baik, tentu membuatnya harus menjaga sikap.


"Sia," panggilnya pelan hingga membuat wanita itu berbalik.


Bola mata Sia membelalak. Dia tak menyangka pria itu menemukannya. Tubuhnya kembali bergetar dengan kaki yang tanpa sadar melangkah ke belakang untuk menjauh dari jangkauan Galaksi. 


Kilasan masa lalu, kata menyakitkan itu kembali berdengung hingga membuat Sia semakin ketakutan. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya yang menandakan jika perempuan itu benar-benar terkejut dan shock.


"Pergi, Kamu! Pergi!" seru Sia sambil menunjuk Galaksi.


"Kumohon, Sia. Kita harus bicara," mohon Galaksi yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Sia.


"Pergi! Kubilang pergi! Jangan mendekat!" teriak Sia saat melihat Galaksi yang berjalan semakin mendekatinya. 


Jeritan Sia tentu membuat seorang pria kecil yang berada di dalam kamar mandi segera menyelesaikan tujuannya. Lalu dia spontan keluar dan menatap mamanya yang ketakutan. 


"Mama kenapa?" tanya Mars sambil memeluk kaki Sia dan membelakangi tubuh Galaksi.


Sia spontan menunduk. Dia melihat putranya yang menatapnya dengan rasa penasaran. Hingga menyadari keberadaan Mars di dekat Galaksi membuat Sia spontan menarik putranya dan menyembunyikan dibelakang tubuhnya.


"Kubilang pergi! Pergi!" teriak Sia semakin menjadi. 


Suaranya yang kencang tentu mengundang beberapa crew yang lewat untuk mendekat. Galaksi di ambang kebingungan. Namun, melihat kondisi yang tak kondusif membuatnya memilih pergi dari sana. Tapi sebelum itu, pandangan mata Galaksi bertemu pandang dengan manik mata milik pria kecil yang begitu tampan.


Dirinya semakin tertegun ketika menyadari jika bocah kecil itu semakin terlihat mirip dengannya jika berpakaian seperti itu. Namun, pandangan Galaksi terputus saat para crew menyuruhnya pergi dari hadapan Sia.


Nafas Galexia mulai terputus. Perlahan tubuhnya melemah hingga dia jatuh tak sadarkan diri. Rasa trauma yang semakin menekan tentu membuat Sia berada di ambang batas kekuatan dirinya. Sehingga hal itu tentu membuat Mars khawatir dengan kondisi mamanya, tapi selain itu, perdebatan yang dia lihat semakin menguatkan praduganya yang selama ini dia pendam sendiri.


"Aku yakin jika dia adalah sosok yang selama ini aku dan Venus cari." 


~Bersambung~


Kok gak dari dulu, Bang. Tegas begitu sama si Mak Lampir sih. Kalau begini mau kejar-kejar ampek Sia pingsan. Nyebelin banget!


Mau digimanain nih sih Bang Galak? Kita ceburin selokan aja bagus kali yah? haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote koin, poin serta vocher untuk mendukung karya si kembar.


Tembus 200 like aku update lagi. Yok Gass!