The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Cemburunya Cressida?




Kejadian yang begitu tak terduga tentu meninggalkan luka yang mendalam pada sosok perempuan yang sedang memejamkan matanya. Hari berat dengan sejuta rahasia membuat mentalnya semakin down. Bahkan kenyataan-kenyataan yang muncul semakin membuat pikirannya terus berpikir. Hingga dalam tidurnya pun, dirinya mulai merasa gelisah.


Bayang-bayang wajah Carina dan Castor datang dalam benaknya. Bagaimana kehidupan yang dia dijalani selama ini serta jawaban dari semua kepahitannya kembali menghantui tidurnya. Hingga bunyi ledakan dengan kobaran api, membuat wanita itu terbangun dan menjerit.


"Mama…Papa!" Nafasnya terengah-engah. Dengan bulir air mata jatuh merembes di kedua matanya menyadarkan dirinya jika semua itu hanyalah mimpi. 


Dadanya masih naik turun dengan mata mulai menelusuri tiap detail ruang kamar yang terasa begitu asing.


"Aku dimana?" katanya dengan kaki hendak diturunkan ke lantai.


Hingga sampai tubuhnya yang hampir berdiri. Tiba-tiba suara dari arah pintu masuk ke kamar membuatnya mengurungkan niat.


"Kau mau kemana, Cress?" tanya Riksa yang datang dengan nampan berisi makanan dan teh hangat.


"Aku ada dimana?" tanya Cress menatap Riksa yang meletakkan nampan itu kemudian duduk disampingnya. 


"Di rumahku," sahut Riksa dengan santai.


Cressida hanya diam. Dia menatap desain kamar itu hingga pikirannya teringat akan pemandangan terakhir yang dia lihat sebelum pingsan. Dirinya spontan berdiri. Namun, tanpa diduga, Riksa menahan tubuh Cressida hingga tubuh perempuan itu jatuh dalam pelukannya.


"Lepaskan aku, Riksa! Lepaskan!" seru Cress memberontak. "Aku ingin melihat Mama dan Papaku, hiks. Kumohon lepaskan aku!" mohonnya dengan pemberontakan yang mulai berkurang.


Dia jatuh terduduk dalam pelukan Riksa. Air matanya terus menetes mengingat kedua orang yang sudah dianggap seperti orang tua kandungnya sendiri terbakar di dalam mobil yang meledak. Walau sikap keduanya begitu jahat pada dirinya. Namun, di dasar hati  Cressida yang paling dalam, dia benar-benar sudah memaafkan segala kesalahan Carina dan Castor.


Dia benar-benar mendoakan semoga kedua orang tuanya diberikan tempat indah di sisi Tuhan. Seberapa jahatnya mereka, tentu Cressida masih sangat menyayanginya. Kehidupan bersama yang mereka jalani, tentu membuat Cress yakin jika kedua orang itu terpaksa melakukan kejahatan.


"Usst, tenanglah." Riksa memeluk Cressida dengan tangan terus mengelus punggungnya. 


Pria itu tak bermaksud kurang ajar. Sungguh niat Riksa hanya ingin menghibur dan membuat wanita itu lebih tenang. Dia begitu menyadari bagaimana perasaan sosok wanita yang akan dinikahi ini. Dia yakin jika hati Cressida saat ini, tak baik-baik saja. 


"Kau harus tenang untuk bertemu mereka," bisik Riksa di telinga Cressida. "Biarkan mereka pergi dengan tenang tanpa air mata, Cress. Aku yakin kau adalah wanita kuat."


Entah kenapa perkataan Riksa menyadarkan dirinya. Wanita itu tak boleh lemah seperti ini. Dia harus kuat dan meneruskan mencari jejak yang akan mempertemukan dirinya dengan saudara kandungnya. Hingga kekuatan itu kembali berkobar dan membuat Cressida mulai menarik nafasnya begitu dalam.


Dia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Riksa hingga tahapan keduanya saling bertemu. "Terima kasih sudah mau menguatkan aku disaat aku lemah. Aku berhutang banyak jasa padamu." 


Riksa tersenyum tipis. Dirinya membenarkan rambut Cressida yang berantakan hingga tanpa sadar hal itu membuat pipinya merona karena malu. 


"Bukankah sebentar lagi hidup berumah tangga harus seperti itu?" tanya Riksa dengan pikiran mulai jahil. "Saat kamu susah, aku akan menghiburmu. Saat aku susah kamu yang menghiburku. Jika aku tak ada uang, maka kamu yang ngasih uang, ehhh aw." Riksa mengaduh dia mengusap lengannya yang sakit dan panas karena bekas cubitan wanita di depannya ini.


"Bisa-bisanya, 'yah." Cressida spontan beranjak berdiri. Dia menggerakkan dress yang dipakai hingga tatapannya mengarah ke arah pria yang masih asyik duduk dengan tenang. 


"Ayo!" ajak Cress yang tak ditanggapi oleh Riksa.


"Kenapa diam?" Perempuan itu mengerutkan keningnya. 


Namun, seketika ide terlintas di pikirannya yang membuat Cress mengulurkan tangannya. "Ayo calon suamiku yang paling tampan. Antarkan aku menemui mereka." 


Ucapan dan ajakan Cress yang lembut membuat Riksa bersorak dalam hati. Pria itu merasa senang tapi dengan segala gengsi menahan agar mulutnya tak tertawa. Dia itu mulai meraih tangan Cressida dan menegakkan tubuhnya. Hingga setelah itu, saat Cress hendak melangkah. Sebuah genggaman di tangannya membuat tubuhnya mematung. Jantungnya berdegup kencang hingga suara ajakan Riksa membuyarkan lamunannya.


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan saling menggandeng satu dengan yang lain untuk menyalurkan kekuatan dalam diri Cressida. Perlahan langkah kakinya melambat saat melihat dua peti yang menjadi tempat peristirahatan kedua orang tuanya mulai terlihat. 


Tubuhnya terasa lemah dengan air mata yang mulai menumpuk di kedua matanya. Hingga saat dirinya baru saja sampai di dekat peti tersebut, Cressida menatap peti coklat itu dengan tersenyum kecut. 


Dirinya benar-benar tak habis pikir dengan takdir yang sedang mengajaknya bercanda. Baru saja dia bertemu dengan Carina dan Castor, tetapi Tuhan sudah mengambilnya terlebih dahulu. Pertemuan yang berujung terbongkarnya jati dirinya itu, ternyata menjadi pertemuan terakhir bagi mereka.  


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut perempuan itu. Dia hanya menatap datar dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Sungguh tak ada orang yang tahu tentang keadaannya saat ini kecuali Riksa. Dirinya sedang berada di titik terendah dan Cress bersyukur dengan keberadaan Riksa disini yang setia menemaninya.


****


Proses pemakaman akhirnya selesai. Satu persatu orang yang mengantar mulai pergi meninggalkan area tersebut. Hingga yang ada disana tinggal Riksa, Mama Alya dan Cressida.  


Mata tajam Cressida masih tetap sama. Melihat batu nisan yang sudah ada nama kedua orang tuanya. Dia menghela nafas lemah lalu berjongkok dan mengusapnya secara perlahan.


Terima kasih, Ma, Pa. Sudah memberitahu sebuah kebenaran ini. Meski memang menyakitkan tapi aku bahagia dengan kejujuran kalian yang diketahui secara paksa olehku, gumamnya sambil menghapus air matanya.


Setelah dirinya banyak mencurahkan isi hati. Akhirnya dia mulai beranjak berdiri. Namun, sebelum mereka meninggalkan area makam. Cressida menarik tangan Riksa hingga membuat langkah keduanya berhenti.


"Ada apa?" 


"Bisakah kita mempercepat perjalanan menuju Indonesia?" 


Riksa tersenyum. Lalu dia menatap wajah mamanya yang tersenyum dan mengangguk. "Jika kamu mau, biar Mama yang akan menemaninya, Nak. Kamu selesaikan saja dulu pekerjaan disini. Mama yang akan temani Cress ke Indonesia." 


"Mama serius?" Tanya Riksa dengan pandangan tak percaya.


Sebenarnya percakapan ini sudah dibicarakan semalam. Mereka berdua mencari solusi karena jujur jadwal pekerjaan Riksa lumayan padat. Ditambah, jadwal konser Galexia dan Mars serta surat kerjasama dengan Venus semua dihandle oleh dia sendiri, membuat pria itu kalang kabut. 


"Iya, Sayang," sahut Mama Riksa lalu menatap wajah Cressida yang tengah menatapnya juga. "Kalau boleh tau, dulu kamu tinggal dimana, Sayang?" 


"Jakarta, Tante." 


Mata Riksa berbinar. Dirinya sedikit bernafas lega saat mengetahui jika tempat tinggal Cressida masih satu kota dengan sosok wanita yang menempati hatinya.


"Aku akan hubungi Sia dan mengatakan jika Mama akan tinggal disana sementara waktu." 


"Ide bagus, Sayang. Mama juga udah kangen banget sama si kembar," sahut Mama Alya dengan wajah bahagia.


"Siapa Sia?" Tanya Cress dengan nada sedikit kesal.


Melihat dan mendengar Riksa mengucapkan nama perempuan lain, entah kenapa ada perasaan tak rela. Apalagi melihat bagaimana pria itu begitu bahagia ketika membahas wanita bernama Sia, membuat Cress yakin jika ada sesuatu di antara mereka.


"Dia adalah wanita hebat sama sepertimu, Nak. Tante yakin kamu akan senang jika berkenalan dengannya." 


Walau sedikit bingung, Cressida hanya mampu mengangguk. Tanpa keduanya sadari, jika dari jauh ada seseorang yang sejak tadi menatap pergerakan mereka dan mendengarkan semua percakapanya.


~Bersambung~


Hiyong ada yang bisa nebak gak? gimana pertemuan Sia dan Cress nanti?


Bakalan cemburu gak ya si Cress kalau tau Riksa suka sama Sia, hehehe.


Yang ngintip-ngintip di makam pasti hantu, 'kan? haha.


Maaf baru bisa update lagi. Semalem udah tinggal up aslinya eh apus lagi ada yang gak srek di dalam bab ini. Pasti dah aku mumet kalau udah dekat-dekat konflik aslinya.


Mau up lagi gak?


Tembus 250 like aku pasti update lagi. Yokk like!