The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Kembar VS Penjahat




Mars dan Venus perlahan menyusuri semua titik di ruangan itu. Keduanya benar-benar penuh kehati-hatian dan seminim mungkin agar tak menimbulkan suara. Ruangan yang dipenuhi beberapa barang rumah tangga ternyata banyak menyimpan barang-barang yang bisa mereka gunakan.


Sepertinya rumah ini dulu dihuni oleh satu keluarga dengan anak yang bahagia. Banyak mainan dan beberapa tongkat bisbol yang masih terlihat kokoh dan kuat. Tentu hal itu membuat senyum lebar terbit di bibir keduanya. Segera keduanya mengambil dua barang itu dan disimpannya di tempat yang aman. 


Lalu keduanya kembali menyusuri ruangan yang menurut mereka jika dulunya adalah gudang tak terpakai. Mars dan Venus benar-benar menjelajah dengan cepat dan teliti. Keduanya banyak sekali menemukan barang yang bisa digunakan untuk senjata mereka. Ada kaleng minyak, tali, kelereng, tongkat bisbol dan cat tembok. 


Mereka benar-benar bagus dalam hal kerja sama jika seperti ini. Setelah semua barang itu mereka pisahkan. Keduanya lekas duduk berhadapan. Saling mengutarakan ide jahil di kepala hingga mencapai mufakat di antara keduanya.


"Abang harus hati-hati yah," kata Venus menyodorkan jari kelingkingnya. 


Mars mengangguk. Dia mengaitkan jari kelingkingnya juga lalu memeluk tubuh mungil sang adik. Ternyata dalam keadaan genting seperti ini, ajaran dari Mama Sia begitu berarti. Keberanian, kemandirian, kepintaran dan sikap tenangnya membuat keduanya tak panik.


Keduanya seakan-akan sudah mensetting kepalanya jika ini hanyalah sebuah permainan. Mereka tak mau takut dan ragu. Keduanya yakin bisa lolos dari cengkraman para penjahat dengan mengalahkan mereka menggunakan akal pintarnya.


Jika dilihat dari fisik, tentu saja fisik anak umur 6 tahun masih kecil dan rapuh. Namun, jika sudah berhadapan dengan otak anak pintar dan jenius. Apapun bisa dikalahkan oleh mereka.


Keduanya segera beranjak berdiri. Lalu tanpa menunda baik Mars dan Venus segera melakukan sesuai rencana yang sudah disepakati. Tangan Mars mulai mengambil kelereng dan menatanya di tepat di balik pintu. Setelah itu, Venus juga menyiapkan satu kaleng minyak yang pegangannya diikat dengan tali untuk diletakkan di atas pintu. Mereka ingin para penjahat itu jatuh dan sulit untuk bangun. 


Keduanya celingukan mencari sesuatu yang bisa dipijak. Hingga matanya menatap sebuah tangga usang yang ada di dekat pintu. Dengan usaha penuh, kedua anak itu mendorong tangga itu agar bisa berdiri dan dinaiki oleh tubuh mungil putri dari pasangan Galaksi dan Galexia.


"Beres," ucapnya terkesan berbisik dengan wajah bahagia. 


Setelah semuanya selesai. Venus langsung bersembunyi di dekat lemari tak terpakai dengan tangan memegang tali. Sedangkan Mars, dia berdiri dibalik pintu dengan tongkat bisbol ada ditangannya. 


Kedua jantung bocah kecil itu saling berdebar kencang. Mereka sama-sama berharap semoga apa yang keduanya lakukan saat ini bisa membuat Mars dan Venus lolos dari para penjahat. 


Dalam kesunyian, Mars menempelkan telinganya dari balik pintu. Dia mencoba menguping pembicaraan yang ada di luar. Hingga samar-samar dia mendengar pembicaraan mereka yang membuatnya begitu bahagia.


"Kalian berdua jaga disini. Jangan sampai anak itu kabur." 


Setelah itu tak ada suara apapun lagi. Mars bisa menilai jika pria yang menjaganya hanya tinggal dua orang di depan. Sehingga hal itu semakin membuat keduanya yakin ada peluang untuk kabur. 


Mars memberikan kode mengacungkan jempolnya dan langsung dibalas oleh Venus. Keduanya bersiap, hingga perlahan Mars melempar sebuah balok sampai mengenai sebuah kaca gantung bekas hingga menimbulkan suara pecahannya yang nyaring. 


"1...2...3…." kata Mars tanpa suara kepada sang adik.


Pintu itu perlahan terbuka dan masuklah dua orang pria yang menjaganya. Sepatu yang mereka pakai tentu langsung oleng saat mengenai kelereng itu. Tubuh keduanya oleng sampai suara kecil Mars membuat kedua penjahat itu sama-sama menoleh.


"Tarik!" 


Byurr.


"Akhh!" teriak keduanya dengan kencang.


Tubuh besar itu spontan terjatuh begitu kencang. minyak mulai mengalir kemana-mana hingga membuat keduanya begitu kewalahan. Belum lagi minyak itu masuk ke dalam mata mereka dan membuat penjahat-penjahat itu kesusahan dalam melihat.


Menyadari situasi semakin bagus, Mars segera mendekat dan memukulkan tongkat bisbol itu di kepala keduanya.


"Akkk sakit. Dasar bodoh!" umpat salah satu pria yang sedang mengusap matanya. 


Tangan mungil itu tentu semakin kuat memukul kedua pria yang tak berdaya hingga membuat mereka tak sadarkan diri. Spontan dua anak itu tertawa bahagia dengan bertepuk tangan. Mereka benar-benar tak menyangka jika berhasil melaksanakan rencananya. Keduanya segera bertos ria sambil bergoyang kesana dan kemari. 


Saat sudah mulai lelah. Mars segera menarik tangan adiknya. "Kita tarik mereka dan ikat. Oke?" 


"Oke, Abang." 


Dengan susah payah. Keduanya menarik tubuh dua penjahat itu agar lebih masuk ke dalam. Untung, usaha keduanya membuahkan hasil. Tanpa berpikir lagi, Mars dan Venus segera mengikat tangan dan kaki dua penjahat itu. Keduanya dengan cepat melilitkan tali itu sampai tubuh pria-pria itu saling menempel dan sulit dilepaskan.


"Beres." 


Mars dan Venus langsung menyatukan tangan mereka. Keduanya berlari meninggalkan kekacauan itu dan mencari jalan keluar. Saat keduanya melihat pintu rumah, keduanya berlari kesana. Lekas mereka membuka pintu itu dan keluar dengan wajah bahagia. Namun, baru saja mereka menginjakkan kakinya di depan pintu. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil berhenti di depan mereka.


"Kemana kita, Bang?" seru Venus dengan nafas mulai terengah. 


"Kembali ke ruangan tadi," sahut Mars sambil sesekali menatap ke belakang. 


Keduanya sengaja melambatkan langkahnya. Hingga saat mereka hampir sampai di depan pintu tempat tadi disekap, keduanya spontan bergeser dan segera mendorong tubuh ketiga preman tersebut.


"Hahaha." Tawa keduanya pecah.


Mereka seakan mendapatkan hiburan seperti melihat tumpukan karung yang ditata.


"Kapok. Salah siapa cali gala-gala, wlekk." Venus memeletkan lidahnya.


Kemudian tangan mungilnya mulai ditarik Mars dan mengajaknya keluar dari sana. Tanpa menunda apapun lagi, keduanya spontan berlari dari sana. Mata mereka celingukan sampai saat keduanya hampir sampai di gerbang rumah itu. Sebuah kendaraan dengan lampu mobil berhenti didepan mereka membuat keduanya menutup mata karena terasa begitu silau. Lekas keduanya saling berpegangan tangan karena takut jika sosok itu merupakan salah satu dari mereka yang ada di dalam.


Hingga sebuah suara yang dikenal, membuat keduanya lekas membuka mata dan melihat sosok sang ayah berdiri disana.


"Papa," teriak keduanya yang langsung memeluk tubuh Galaksi dengan erat.


Mereka begitu bahagia saat merasakan kehadiran ayah kandungnya disana. Keduanya merasa aman dan tenang saat melihat sosok Galaksi disana. 


"Kalian baik-baik aja, 'kan?" tanya Galaksi melepaskan pelukannya dan meneliti kondisi kedua anaknya.


"Kami baik-baik saja, Pa." 


Galaksi spontan memeluk kedua anaknya lagi. Dia bahagia melihat Mars dan Venus tak terluka sedikitpun hingga pelukan mereka harus terlepas saat mendengar teriakan dari penjahat-penjahat yang berhasil lepas dari jebakan si kembar.


"Ayo kita pergi, Papa!" Belum sempat keduanya menarik tangan Galaksi. Pria-pria itu sudah ada dihadapan Galaksi.


Wajah mereka begitu marah saat melihat sosok si kembar yang menurut para penjahat begitu nakal.


"Serahkan anak itu pada kami!" 


"Jangan harap!" 


Galaksi langsung mendorong kedua anaknya menjauh. Dia mulai menghadapi ketiga preman itu dengan tangan kosong. Ilmu bela diri yang selama ini dia miliki akhirnya berguna juga.


Galaksi menendang dan memukul wajah mereka satu-satu sampai ketiganya terkapar di jalan. Ayah dari si kembar benar-benar terlihat seperti superhero di mata kedua anaknya.


Satu persatu penjahat itu mulai terkapar dan membuat si kembar berteriak heboh.


"Yeyy. Papa hebat!" 


Nafas Galaksi terengah-engah. Namun, melihat wajah bahagia kedua anaknya, dia merasa semua lelahnya terbayarkan. Pria itu segera meraih kedua tangan mungil anak-anaknya dan mengajak mereka ke tempat mobilnya berada.


Tanpa Galaksi sadari. Jika diantara penjahat tersebut. Terdapat seorang pria yang masih kuat untuk meraih pistolnya dan mengarahkannya pada 3 punggung itu. Bersamaan dengan itu, Mars yang melihat ke belakang spontan membelalakkan matanya.


Dor!


"Papa!" 


~Bersambung~


Akhhh nah aksi si kembar gak menimbulkan banyak pertanyaan, 'kan? dah kujelasin secara rinci hehehe.


Btw tembakan tadi kena siapa yah? Intinya bab perjuangan dimulai dari sini ya guys.


Udah jangan lupa klik like, komen dan vote yah sebagai tanda kalian support karya ini.


Hari ini kalau aku telat update maaf yah. Aku mau keluar soalnya 40 harinya suaminya adiknya papaku.


Yok gas likenya biar aku update lagi!