The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Pernyataan Lyra




Akhirnya saat Galaksi sampai di lokasi, ternyata pria itu sudah duduk tenang dengan dijaga ketat oleh orang-orangnya. Namun, dia bisa melihat pakaian pria itu berantakan seperti bekas berkelahi.


Dia mengedarkan pandangannya sampai matanya melihat  seorang perempuan dewasa dengan bayi yang ada dalam gendongannya. Galaksi menatap mereka tanpa ekspresi dengan pikiran dan ide yang mulai terencana dalam otaknya. 


"Berikan kepadanya!" kata Galaksi dengan tegas.


"Apa ini?" kata pria dengan wajah ketakutan.


"Lihatlah! Maka kau akan tau apa isinya," kata Galaksi dengan tegas.


Pria itu segera mengambil tablet yang ada di meja. Lalu memutar video yang ada disana dengan tangan gemetaran. Dia tak menyangka jika kejahatan yang dia lakukan ternyata meninggalkan barang bukti.


"Siapa kau?" 


Galaksi tersenyum miring. Dia mengangkat satu kakinya dan menumpu di kakinya yang lain dengan punggung bersandar.


"Kau tak perlu tau siapa aku. Aku kesini hanya ingin mengajak bekerja sama! Kalau kau tak mau, ucapkan selamat tinggal pada istri dan anakmu." 


"Jangan! Jangan sentuh mereka!" kata pria itu dengan wajah penuh ketakutan.


"Berarti kau setuju dengan tawaranku?" 


"Ya, Tuan. Tapi tolong jangan sakiti keluargaku," pintanya dengan berlutut. 


"Aku tak akan menyakiti keluargamu, jika kau menurut dengan perintahku!


"Baik, Tuan." 


"Bagus. Katakan siapa bosmu?" 


Pria itu gemetaran. Namun, tak ada pilihan lain. Dirinya tak bisa berbohong jika ingin keluarganya selamat.


"Tuan Atlas." 


Galaksi terdiam. Dia merasa asing dengan nama tersebut. Baru kali ini dirinya mendengar nama itu untuk pertama kalinya. 


"Apa kau tau kenapa dia menyuruhmu menembak wanita itu?" 


"Tuan Atlas hanya bilang, jika wanita itu adalah sebuah ancaman," kata pria itu dengan jujur. 


"Apa yang kau tau tentang Tuanmu itu?" tanya Galaksi dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Aku tak tahu apapun tentangnya, Tuan. Dia hanya mengatakan jika semua pekerjaan berhasil, aku akan mendapatkan bayaran yang besar."


Tangan Galaksi mengepal. Dia tak tahu harus mengatakan apalagi. Hingga sebuah ide muncul di kepalanya dan membuat Galaksi menatap pria itu dengan tajam.


"Jadilah mata-mataku di tempat Tuanmu itu dan sampaikan semua yang terjadi disana kepadaku. Kau mengerti?" 


"Baik, Tuan. Baik," sahut pria itu dengan kepala menunduk.


"Keluargamu akan menjadi jaminan. Jika kau berkhianat, maka hari ini adalah hari terakhir kau bisa menemuinya."


****


Akhirnya setelah menuntaskan satu masalah dan dia yakin pria itu bisa diandalkan. Galaksi mulai menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah. Waktu sudah hampir pagi, dan tubuhnya terasa begitu lelah.


Namun, saat mobil Galaksi baru saja memasuki halaman rumahnya. Sebuah dering panggilan membuatnya mengernyitkan alis. Dia bertanya-tanya siapa sosok yang mengganggunya di malam yang hampir pagi ini.


Keningnya semakin berkerut saat nama Star ada disana. Hingga rasa penasaran membuatnya segera menerima panggilan itu.


"Ada apa, Star?" 


"Ada seseorang yang ingin berbicara dengan Anda, Tuan," kata Star dari seberang telepon. 


"Siapa?" tanya Galaksi dengan jantung berdebar.


"Nyonya Lyra, Tuan. Ibu dari Nona Inggrid."


Galaksi terdiam. Namun, kepalanya terus memutar tentang maksud wanita yang sudah lama tak berjumpa dengannya. Terakhir kali mereka bertemu saat malam perjodohan dan dirinya mengusir mereka dari rumah.


"Baiklah. Berikan pinselnya pada dia."


Akhirnya Galaksi mulai melepaskan seat belt yang digunakan lalu mulai menyandarkan punggungnya. Kepalanya sedikit berdenyut mungkin karena efek dirinya tak tidur. Hingga tak lama, terdengar suara perempuan yang begitu dia tunggu dari seberang telepon.


"Ada apa, Tante. Apa ada hal yang begitu penting sampai Tante mengunjungi asisten pribadiku?" tanya Galaksi to the point.


"Sebenarnya ada yang ingin Tante katakan padamu, Nak. Ini menyangkut Inggrid dan Papanya," ucap Lyra dengan suara penuh keraguan.


"Jika Tante ingin membahas soal perjodohan. Maka aku…." 


"Bukan!" sela Lyra cepat.


"Lalu?" 


"Apakah kamu mengetahui jika Papanya Inggrid sebenarnya Kakak dari papamu?" 


Jantung Galaksi berdegup kencang. Tubuhnya mematung dengan pikiran terus berputar memikirkan apa maksud dari ibu rekan kerjanya itu.


"Apa maksud, Tante?" 


"Sebenarnya Papanya Inggrid adalah Kembaran Papamu, Galaksi. Dia selama ini menyamar dengan memakai rambut palsu dan merias sedikit wajahnya agar terlihat berbeda," kata Lyra dengan nada bicara serius. "Yang lebih mengejutkannya lagi, dia ingin menikahkan Inggrid denganmu agar hartamu bisa Atlas kuasai."


"Apa!"


Galaksi merasa jantungnya seakan sesak. Kenyataan yang baru dia dengar tentu mengejutkannya. Apalagi nama yang disebutkan oleh Lyra adalah nama yang sama dengan pembunuh Alula.


Kepingan-kepingan kejadian kembali berputar. Hingga Galaksi menyusun satu per satu dan mulai menebak apakah dalang dari semua ini adalah nama yang sama.


Apakah pria itu biang dari semua kejahatan yang menimpa keluarganya. Apa pria itu yang menyuruh Alula menyekap mamanya dan membunuh Alula karena wanita itu tahu tentangnya. 


Jika dia benar-benar biang dari semua masalah. Aku akan membalas semua perbuatannya kepadaku dan anak-anakku.


"Galaksi...Galaksi…." panggil suara Lyra yang mengejutkan pria itu.


"Apa Tante serius?" 


"Iya, Nak. Tante baru bisa mengatakan ini padamu karena harus bersusah payah keluar dari rumah penuh penyiksaan itu," kata Lyra dengan suara menahan tangis. "Banyak rahasia kejahatan yang mereka simpan berdua, Nak." 


Galaksi menghela nafas berat. Dia mencoba menenangkan pikirannya. Dirinya tak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Namun, tiba-tiba kepalanya mengingat tentang rumah lama papanya. Rumah masa kecil papa dan keluarganya yang masih dijaga oleh para pelayan disana.


Mungkin rumah itu bisa menjadi petunjuk tentang pria bernama Atlas, batinnya berkecamuk. 


"Apa ada lagi yang Tante tahu?" kata Galaksi mencoba mengorek sesuatu.


Tak ada suara apapun disana. Hanya ada helaan nafas berat dari seberang sana.


"Tante?" 


"Ya?" sahut Lyra dengan tersendat.


"Apa ada lagi?" tanya Galaksi dengan suara begitu serius.


"Ada." 


"Apa itu, Tante?" Galaksi begitu penasaran. 


Bahkan tanpa sadar tangan Galaksi mencekram setir kemudi dengan kuat untuk melampiaskan rasa penasarannya yang tinggi. 


"Tante pernah dengar, Atlas berbicara dengan Inggrid bahwa mereka akan menuju sebuah rumah dimana ada orang yang disekap disana." 


Disekap? Gumam Galaksi dalam hati. 


"Tante tak tahu siapa mereka, tapi yang pasti Atlas pernah bilang jika keberadaan mereka tak boleh sampai diketahui oleh Galexia dan Cressida." 


Deg.


Jantung Galaksi semakin berdetak kencang. Bahkan tanpa sadar tangannya berkeringat dingin. Kenapa pria yang mengancam keluarganya juga membawa nama mantan istrinya.


Ada apa dengan semua ini? Apa hubungan Atlas dengan sang mantan istri. Hingga pria itu begitu mengganggu kehidupan dirinya dan Galexia.


"Apa Tante tahu kenapa nama-nama itu tak boleh tahu keberadaan sandera milik Atlas?" 


"Iya, karena Atlas bilang ke Inggrid jika mereka adalah kedua orang tua Galexia dan Cressida." 


~Bersambung~


Nah ini loh, yang tanya kemarin hubungannya apa. Next bab flashback terakhir. Sabar yah, aku pasti bongkar semua. Habis itu tinggal manis oh manis.


Pertanda mau tamat yak haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote biar aku semangat update lagi.