The Billionaire Twin'S Baby

The Billionaire Twin'S Baby
Ancaman




"Mama." Suara itu terasa masuk ke telingannya hingga membuat perempuan yang berdiri di depan pintu kamar mandi menyadari jika ini benar-benar nyata.


Wanita di depannya ini adalah mantan menantunya yang begitu dia benci. Mata yang tadinya membelalak tanpa sadar meneliti penampilan dari atas sampai bawah. Sungguh dia tak menyangka jika akan bertemu dengan Galexia, yang sepertinya sudah berubah dari terakhir mereka bertemu.


Namun, tak mau dianggap rendah. Pandora, ibu dari Galaksi menatap rendah ke arahnya. Tersenyum mengejek seakan dirinya masih berada di atas perempuan tersebut. Tangannya terlipat di depan dada dengan aura sombong yang semakin menguar dari dalam dirinya. 


"Lihat! Siapa disini?" ucapnya setelah keheningan menyapa mereka. 


"Mama, apa kabar?" tanya Galaxia setelah menetralkan keterkejutannya. 


Sungguh ibu dari si kembar ini benar-benar tak percaya melihat Pandora berdiri di depannya. Dengan waktu yang begitu singkat, dan dirinya masih belum pulih dari traumanya. Jujur dirinya belum siap, tapi ternyata Tuhan memiliki kehendak lain. Hingga membuatnya bisa bertemu dengan masa lalunya kembali.


"Jangan pernah panggil dengan kata itu lagi. Kau bukan menantuku, dan tak akan pernah lagi!" serunya memicingkan mata.


Galexia hanya bisa diam. Dia menyadari jika ternyata kebencian Pandora masih melekat dalam dirinya. Padahal hubungan mereka sudah lama terputus. Namun, satu hal yang Sia dapatkan. Jika orang sudah membenci kita, walaupun kita sudah tak pernah berjumpa. Maka benci itu akan tetap melekat.


"Well, kau embat laki mana lagi yang mau mengurusmu sampai berpenampilan seperti sekarang?" tanya Pandora dengan pandangan mengejek. "Sepertinya kau sudah menjual tubuhmu hanya untuk hidup enak seperti diriku." 


"Mama," sahut Galexia tak terima. "Aku gak pernah menjual tubuhku hanya untuk hidup. Lebih baik aku miskin daripada…." 


"Usttt!" potong Pandora cepat. "Jangan munafik dihadapanku, Sia. Aku begitu mengerti bagaimana perempuan sepertimu ini hidup." 


"Kau akan melekat pada lelaki kaya raya dan melayaninya untuk menumpang hidup. Setelah pekerjaanmu selesai, maka kau akan dibuang dan mencari target baru, 'bukan?  Ucapnya dengan tawa merendahkan. "Sepertinya menceraikanmu adalah tindakan yang tepat untuk putraku." 


Sia menatap Pandora dalam diam. Sungguh perkataan wanita tua di hadapannya ini begitu menyakiti harga dirinya. Namun, mengingat jika Pandora adalah nenek dari kedua anaknya, membuat rasa hormat dalam diri Sia masih ada. 


Tapi jika dia tetap diam, apakah Pandora akan berhenti menghinanya?


Jika dirinya tetap lemah seperti ini, apakah dirinya sudah siap jika suatu hari nanti bertemu dengan sosok yang menjadi alasannya ada di titik ini? 


Menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Sia mulai menenangkan pikirannya. Dia tak mau perkataan Pandora memancing emosinya dan berakhir dengan pertengkaran.


"Apa Tante ingin ke kamar mandi?" tanya Sia mengalihkan perhatian Pandora.


"Cih! Kau ingin mengelak bukan?" serunya mendekati Sia dengan mata tajamnya. 


Sia sedikit gugup, hingga tanpa sadar kakinya melangkah ke belakang hingga tubuhnya terpojok terkena pintu. 


"Aku yakin kau datang ke New York hanya ingin mengejar putraku 'kan? Iya 'kan!" teriak Pandora di depan wajah Sia.


Sia membelalakkan matanya. Nafasnya naik turun seakan dirinya sesak nafas. Kebenaran yang baru saja dia dengar sungguh membuatnya begitu terkejut. Jadi selama ini, mantan suaminya ada disini. Di negara yang menjadi tempat tinggalnya beberapa hari ini.


"Jadi Galaksi ada di…" 


"Ya dia ada disini!" sahut Pandora menyela. "Dan kau jangan berpura-pura bodoh. Aku tau kau sudah mengetahui dimana anakku." 


Sia menggeleng cepat. Dia benar-benar tak tahu keberadaan Galaksi selama ini. Setelah dirinya diusir, Sia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauhi masa lalunya. Dia sudah bertekad tak akan mencari kabar apapun tentang mantan suaminya. 


"Jangan munafik! Aku sudah tau wanita sepertimu, Sia!" seru Pandora dengan keras.


Tanpa diduga, tangan Pandora langsung menjambak rambut Sia. Menariknya kuat hingga perempuan itu mengaduh. Seakan Pandora melampiaskan kebenciannya selama ini dengan menarik rambut Sia dengan erat.


"Sakit, Tante," desis Sia pelan dengan menahan rambutnya.


Sungguh dirinya tak siap dengan gerakan Pandora yang tak terduga. Dia kalah cepat hingga Sia hanya bisa menahan rambutnya yang dijambak oleh mantan mertuanya ini.


"Jangan pernah bermain-main denganku, Sia," ucap Pandora dengan wajah bengis. "Aku sudah bersusah payah membuatmu pergi dari kehidupan anakku dan sekarang kau ingin kembali, 'heh?" 


"Aku benar-benar tak akan kembali, Tante. Aku benar-benar tak tahu jika anak Tante ada disini." 


"Halah!" 


Dug.


Tanpa rasa bersalah. Pandora menghantamkan kepala Sia pada pintu kamar mandi hingga membuat wanita itu semakin memohon. Dengan wajah puas, Pandora melepaskan rambut Sia dengan kasar.


"Ini akan terjadi kedua kalinya, jika kau Sia, berani muncul di hadapan putraku. Mengerti!" bentak Pandora di hadapan Sia.


Sia mengangguk dengan air mata yang mengalir di sudut matanya. Sungguh dia mengira Pandora tak akan mengganggunya lagi setelah perpisahannya 6 tahun yang lalu. Tapi ternyata semua praduganya salah. Wanita itu tetap mengancamnya meski dirinya sudah tak ada ikatan apapun lagi.  


"Ingat kata-kataku ini. Aku tak akan segan-segan membuatmu semakin hancur jika berani kembali pada Galaksi. Mengerti!" 


"Iya, Tante." 


Setelah mengatakan itu, Pandora mendorong Sia agar keluar dari kamar mandi. Lalu dia segera masuk dan meninggalkan Sia yang sudah berpenampilan acak-acakan. Air matanya masih mengalir dan rambutnya berantakan karena ulah Pandora. Hingga mau tak mau, Sia harus merapikannya.


Dia tak mau anak-anaknya mengetahui atau melihat kondisinya saat ini. Dia tak ingin mereka semua curiga dan membuatnya terpaksa memasuki bilik yang lain untuk merapikan penampilannya.


Sebelum itu, Sia meletakkan tasnya di gantungan. Lalu dia memilih duduk di kloset sambil menghapus air mata yang masih mengalir di kedua pipinya. Dia ingin saat keluar dari kamar mandi, emosinya sudah tenang dan keadaan sudah kembali seperti semula.


Namun, pikirannya ternyata kacau balau. Dia mengingat mantan suaminya yang ternyata ada disini. Ketakutan-ketakutan itu kembali muncul ketika mengingat wajah Mars dan Venus.


"Bagaimana jika dia menemukanku dan anak-anak?" tanya Sia pada dirinya sendiri.


"Apakah dia akan menjauhkan Mars dan Venus dariku? Itu tak boleh terjadi. Itu tak boleh!" Sia menggeleng.


Namun, pikirannya buyar ketika mendengar suara gedoran pintu dengan diiringi panggilannya. Saat menyadari suara siapa itu, Sia memilih membuka sedikit pintu kamar mandi tanpa menyembulkan kepalanya.


"Apakah kamu baik-baik saja, Sia?" 


"Iya, Mama. Sia baik-baik saja. Perut Sia hanya kurang nyaman mangkanya lama." 


"Ya udah. Yang penting kamu baik-baik saja," sahut Mama Alya dengan tenang. "Kamu cepat keluar yah. Anak-anak udah nungguin kamu." 


Sia mengacungkan jempolnya. Lalu dia kembali menutup pintu setelah memastikan Mama Alya pergi dari kamar mandi. Dirinya menghela nafas berat untuk mengurangi segala beban berat yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Aku harus menjaga anak-anak sendiri dan memastikan bahwa mereka tak akan pernah bertemu dengannya lagi disini." 


~Bersambung~


Sia mah emang terlalu baik banget orangnya. Kalau aku jadi kamu, udah kutendang si Mak Lampir, Sia. Hiks kasihan kan kepalamu sakit.


Kesyel juga aku nulis part ini. Pen kuhempas aja si Pandor, hihi. Tapi kalau gak ada dia, pembacaku juga gak bakal ikut kesel, hehe.


Mau update lagi gak?


Kalau mau aku nunggu likenya tembus 200 like.


Oh ya minta tolong dong, yang belum like di bab 21. pliss like. Biar likenya seimbang.


Ini hari senin, jangan lupa vote poin, koin dan vochernya untuk si kembar. Terima kasih.